Hening perpisahan

Angin malam berhembus pelan menepuk-nepuk wajah yang telanjang tanpa masker. Matamu menatap lurus membelah jalan raya yang gelap menghitam, menyaru warna aspal. Aku bersembunyi di balik punggungmu yang bidang. Dari belakang, aku bisa menatap ekor rambutmu yang telah memanjang dan hendak mencium tengkukmu.

Ingin rasanya mengalungkan tangan ke pinggangmu, melawan dingin. Lama sejak pertemuan terakhir itu, kita tak pernah lagi saling menyapa. Sesekali, kita berkirim pesan lewat Whatsapp. Sekadar berbasa-basi hingga keki. Jauh di lubuk hati, aku tidak pernah membencimu. Bahkan setelah peristiwa itu, aku tetap mengasihimu. Kasih yang mungkin lebih besar daripada keinginan untuk memilikimu lagi. Aku hanya ingin selalu melihat senyummu mengembang di balik wajahmu yang pualam. Aku hanya ingin melihatmu mencapai mimpi-mimpimu. Meski bukan aku, seseorang yang menjadi penyemangat di sampingmu.

Aku menyebar pandangan ke jalanan Jakarta yang selalu sibuk. Kendaraan masih berlalu-lalang meski sudah larut malam. Lampu lalu lintas hanya menjadi pajangan. Merah-kuning-hijau, terobos saja. Kafe-kafe maupun warung burjo indomie masih dipadati para anak asuhan rembulan. Mereka tertawa cekikikan melawan malam kelam. Mereka menolak kesepian di kamar kosan. Lebih baik berteman susu jahe hangat dan indomie telur kari ayam, daripada menyerah pada kemunafikan. Kata Soe Hok Gie yang sudah kecanduan micin.

Aku masih menunggu kata-kata meluncur dari mulutmu. Tapi kita tetap terus terdiam. Sepi yang mengunci meski kita sudah berbelok dari gang besar ke gang sempit beberapa kali. Aku ingin berbicara memecah kesunyian itu. Tapi gengsi. Malas.

Deru mesin sepeda motor empat tak 110 cc, buatan Jepang terus memburu. Meraung-raung menahan beban lebih dari 100 kilogram jika berat badan kita ditotal jadi satu. Ditambah lagi dengan berkilo-kilo kenangan yang sangat membebani. Sepeda motor ini seolah bergerak lebih pelan. Bannya kempes, tak sanggup menahan muatan dan kenangan yang belum sempat ditorehkan.

Tidak seperti biasanya, kau akan memelankan laju sepeda motor, membuka masker atau kaca penutup helm. Lalu, tiba-tiba, dengan kasar menarik tanganku untuk digenggam. Kau akan bersiasat meyakinkan segala ragu dan takutku. Ya, aku pernah berada di sana. Mabuk dan lupa diri. Memberi kesempatan pada rasa penasaran untuk memuaskan dahaganya. Hidup itu sangat cair dan semesta bergerak. Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, namun layak diberi kesempatan. Untuk apa? Menorehkan sedikit kenangan untuk dikunci di dalam ingatan.

Laju sepeda motor sedikit memelan ketika memasuki gang ke arah rumahmu. Tiba-tiba kamu berbalik ke belakang, membuka satu kalimat yang memecah segala kebuntuan.

“Yakin tidak mau mampir?,” bujukmu.

“Enggak. Besok kerja. Takut khilaf,” jawabku.

“Yang terjadi, ya terjadilah,” kilahmu.

“Bodo amat,” sergahku.

Pedal rem belakang diinjak. Kita sudah sampai di depan rumahmu. Mesin motor tidak dimatikan, hanya kamu menetralkan giginya. Kamu turun, secepat mungkin, untuk menyambut wajahku. Aku masih tertunduk, malu. Seluruh lidah tercekat, padahal aku ingin bercerita banyak. Sebelum bertemu, aku sudah ingin memberondongmu dengan banyak pertanyaan. Tapi, semua itu tak pernah terucapkan. Aku sibuk membangun benteng kokoh supaya tidak tunduk di depan hegemonimu. Pride seorang perempuan harus terjaga dengan penuh kehormatan. Tidak baik menawarkan mabuk untuk kali kedua.

Sebenarnya, aku punya satu rahasia yang harus segera terungkap malam itu. Tapi, aku memilih segera pergi dan melambaikan tangan. Tidak baik menerka-nerka perasaan orang. Yang kelar, tak perlu dikejar. Sudah terlalu banyak ruang dramatisasi, dan glorifikasi.

Aku pun memutar motor di antara gang depan rumahmu yang tak terlalu lebar. Pamit. Benar-benar pamit untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan tak berujung dalam lorong gelap malam. Esok, kita akan berjumpa lagi dengan pagi. Pagi, yang tak akan pernah ingkar janji karena selalu menghadirkan matahari.

 

Kebon Jeruk,

02.26

Advertisements

Anies dan Musuh Imajinernya

“Politik itu seperti jarum akupuntur, apabila ditancapkan pada titik yang benar, dia akan mengatasi masalah. Namun, jika ditusukkan pada titik yang salah, dia justru akan merusak semuanya.”

Kalimat itu pernah saya dengar dari seorang dosen tata kota dan real estate Universitas Tarumanegara. Kala itu, saya sedang berdiskusi dengannya soal pemimpin dan masalah perkotaan. Dia termasuk akademisi yang cerdas karena bisa menjelaskan masalah rumit menjadi mudah dicerna. Maklum, IQ saya melati. Saya alergi dan sulit mencerna kalimat ambigu, dan abstrak yang memusingkan.

Sebagai pewarta desk metropolitan, saya memang dituntut untuk menerjemahkan kebijakan politik seseorang dalam sesuatu hal yang konkret dan riil. Masalah yang kami kulik adalah permasalahan sehari-hari mulai dari bangun tidur, sampai warga tertidur lelap lagi. Mulai dari trotoar rusak, antrean bus dan KRL yang padat, pencopetan, penjambretan, pembegalan, hingga kebakaran. Sulit bagi kami untuk menerjemahkan kalimat politikus yang berbunga-bunga nan ambigu.

Beberapa hari ini, saya mendapatkan kesempatan untuk meliput kegiatan gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta. Mas Anies Baswedan dan Bang Sandiaga Uno. Mereka adalah nakhoda baru ibu kota Jakarta. Mereka yang diharapkan mampu membenahi seabreg silang sengkarut masalah khas Jakarta. Seluruh asa tentang mengatasi kemacetan, banjir, ketimpangan ekonomi, serta pembangunan yang lebih mengutamakan dampak lingkungan ada di pundak mereka. Plus, selama masa kampanye mereka juga telah mengumbar banyak janji mulai dari rumah dengan DP 0 persen–belakangan direvisi jadi DP Rp 0, menolak reklamasi–belakangan direvisi menjadi tidak melanjutkan reklamasi, hingga pemberdayaan ekonomi kecil OKE OCE.

Saya pun mencoba tetap objektif, meski selentingan tentang Anies sudah banyak beredar di kalangan wartawan. Saya mencoba untuk menghapuskan kooptasi di kepala demi bersikap kritis, skeptis, dan optimistis kepadanya. Namun, prasangka baik saya itu langsung gugur di minggu pertama saya meliputnya. Anies sudah menunjukkan sifat aslinya meski baru beberapa jam setelah dilantik.

Politik identitas dan kemesraan dengan kelompok fundamentalis

Kontroversi itu muncul saat ia menggunakan kata-kata “pribumi” dalam pidatonya politiknya di depan warga. Dalam pidatonya itu, Anies berimprovisasi dari naskah tertulis yang ia konfirmasi ditulis sendiri. Isi pidato langsung yang keluar dari mulutnya malam itu adalah “Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di Jakarta. Selama ratusan tahun. Betul, enggak? Di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh, tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Dan karena itu, bila kita merdeka janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu, kita semua pribumi, ditindas dan dikalahkan. Kini, telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta seperti dituliskan pepatah Madure. “itik se atelor, ajam se ngeremme”. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras merebut kemerdekaan, kita yang bekerja keras mengusir kolonial, kita harus merasakan manfaat kemerdekaan.”

Saya yang hadir di lapangan blok G Balai Kota saat itu, sudah merasa jengah dengan kata-kata yang ia ungkapkan. Alih-alih berpidato untuk warga Jakarta, Anies berpidato seolah sedang membaca artikel ilmiah untuk pidato kepresidenan. Rupanya, ia yang memakai seragam putih-putih, didampingi oleh istri dan dan putrinya itu, hatinya sudah tidak di Jakarta. Ia membidik arena perang kekuasan yang lebih luas yaitu istana megah yang ada di sebelah utara Balai Kota.

Alih-alih meyakinkan warga dengan janji politiknya–ia menolak menggunakan kata program kerja, ia justru beretorika. Padahal, konstituennya yaitu warga Jakarta menunggu 23 janji politik direalisasikan. Saya pun tidak memilih angel pidato soal pribumi untuk dikirimkan ke kantor. Sebagai wartawan metropolitan tulen, saya mengutip kalimat-kalimat paling konkret yang diucapkan malam itu. Ia sempat menyinggung soal kebijakan pemerintahannya akan lebih mendengarkan suara warga terutama miskin kota, ia akan menghidupkan majelis kota, forum musyawarah kota, dan sebagainya. Dalam membangun kota, ia juga akan lebih berwawasan lingkungan. Ia menyebutkan bahwa pengelolaan teluk akan didasarkan pada kepentingan warga bukan korporasi dan privatisasi. Itulah yang saya tangkap dari omongannya dan akan terus saya tagih demi membangun Jakarta yang lebih humanis. Jakarta seperti yang Anies-Sandi cita-citakan yaitu maju kotanya, bahagia warganya, sesuai sila ke-5 Pancasila.

Saya tidak akan membahas panjang dan lebar soal kontroversi penggunaan kata pribumi ini. Banyak media mainstream, blog, dsb yang sudah membahas itu. Anies, mungkin akan dengan mudah berkelit soal penggunaan kata itu. Ruang untuk berkelit memang banyak dan mungkin dilakukan. Namun, apakah Anies bisa menjawab soal spanduk yang dibentangkan pendukungnya beberapa jam sebelum acara pelantikan dimulai?

photo_2017-10-20_16-46-25

Spanduk ini masih dipasang di posko yang terletak di Tugu Tani, sehari setelahnya. Posko di Tugu Tani ini sudah terkenal di kalangan wartawan digunakan sebagai basecamp ormas Islam saat aksi simpatik tanggal cantik. Apakah Anies masih mau mengelak soal politik identitas yang sedang dia mainkan?

Salah satu blog yang mengulas tentang kontroversi penggunaan kata “pribumi” dan menurut saya obyektif, jernih, adalah yang ditulis mantan editor The Jakarta Post ini, mbak Evi Mariani. Dia adalah jurnalis yang selama ini banyak mengikuti isu tentang kesejahteraan warga miskin kota. Saya menaruh hormat pada beliau yang tetap jernih melihat fenomena itu:

http://islambergerak.com/2017/10/pribumi-anies-baswedan/

Pendemo reklamasi dicuekin

Kekecewaan pun berlanjut pada hari pertama mereka mulai bekerja. Sejak dilantik, Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, serta ormas lain yang menolak reklamasi berdemo di Balai Kota. Siang itu, kelompok AKAR kembali berdemo di Balai Kota. Mereka menagih janji Anies yang akan menolak kebijakan reklamasi pemerintah pusat. Masa pun berorasi dan memasang spanduk di halaman luar Balai Kota. Pintu gerbang ditutup rapat dan dijaga aparat. Tak berapa lama, tujuh perwakilan warga diminta untuk masuk ke pendopo. Mereka diminta menunggu sampai Anies selesai menemui tamu dubes Korea, dan biro hukum. Karena menunggu terlalu lama dan tidak ada kepastian bertemu Anies, warga pun memilih pulang dan membubarkan diri.

Cerita ini mirip dengan Jokowi yang tidak pernah mempersilakan peserta aksi Kamisan–mereka yang menuntut penuntasan HAM berat, masuk ke Istana. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang menuntut keadilan atas hilangnya nyawa anak-anak dan saudara mereka dengan percuma itu tak pernah disambut Jokowi. Anies mungkin sudah mempersilakan pendemo tolak reklamasi masuk ke pendopo Balai Kota. Namun, kenapa dia tidak segera mempersilakan mereka masuk dan berdialog tentang aspirasi mereka?

Anies tampaknya akan terus beretorika yang membuat saya pusing. Sulit membayangkan Anies dan ide-ide besarnya bisa praktis, efektif, dan efisien diterapkan di dunia nyata. Menurut hemat saya, Anies akan mendulang keuntungan politik jika ia mau menerima pendemo reklamasi. Meskipun entah tindak lanjutnya apa, tentu dia akan dianggap gubernur pro nelayan pesisir utara Jakarta yang pertama kali beraudiensi dengan warga di Balai Kota. Namun, ternyata dia malah sibuk dengan retorika dan pencitraan.

Usai warga membubarkan diri, tak lama Anies-Sandi keluar. Mereka salat berjamaah bersama di Masjid Fatahillah. Mereka lalu melanjutkan dengan blusukan naik bus wisata. Saat naik bus wisata itu, kami rombongan gubernur, dan warga diikuti oleh seorang pengendara sepeda motor. Dia menerobos Jalan MH Thamrin yang sudah jelas-jelas dilarang untuk sepeda motor. Pengemudi sepeda motor itu mengibarkan bendera panji Islam. Di sepeda motornya juga terpampang stiker berwarna hijau bertuliskan “Pribumi”.

https://metro.tempo.co/read/1025569/bus-anies-sandi-dikuntit-motor-fans-berbendera-dan-stiker-pribumi

photo_2017-10-20_16-44-54

Tampaknya, Anies akan terus beretorika dan menciptakan musuh imajiner bernama “pribumi” dan “non pribumi”. Retorika rasisme itu apakah tetap akan ia gunakan untuk: 1. Menutupi kelemahannya yang hanya berkutat pada tataran konsep, bukan tataran praktis. 2. Menggalang dukungan publik karena siapapun yang menentang Anies artinya adalah anti pribumi dan anti Islam?

Saya tetap akan menunggu kiprahnya selama 5 tahun ke depan. Semoga Anies tidak hanya berkutat pada retorika dan musuh “imajiner” yang dia ciptakan entah untuk “tuan” atau “dirinya” sendiri di 2019. Semoga dia benar-benar pemimpin amanah, yang tidak disetir oleh elite dan bohir untuk memuluskan jalan politiknya. Klise, jika rakyat kecil hanya selalu menjadi komoditas dan diperhitungkan suaranya hanya saat pemilu. Kami perlu pembeda! Bukan retorika.

photo_2017-10-20_16-46-42

 

Mencari pagi di tanah para dewa

Jika ditanya siapa yang berjasa pada kehidupan di bumi ini? Jawabannya adalah matahari. Kehidupan di mulai dari secercah sinar matahari, dan akan kembali padam ketika ia sudah tak terbit lagi. Mungkin itulah sebabnya, orang Jepang dan orang kuno dahulu menyembah matahari. Jasa matahari memang sangat luar biasa dalam sejarah bumi. Itulah juga mengapa, mungkin, narasi tentang matahari tak pernah padam. Ada penggila matahari terbit, terbenam, senja, bahkan hingga kegelapan malam. Matahari menginspirasi para penyair untuk menafsirkan tetanda dan konsekuensi alam semesta. Sungguh indah, ciptaanMu, Tuhan.

Saya sendiri, sering mengumpamakan kepribadian diri laksana malam. Mungkin karena saya memang bukan a morning person. Saya lebih nyaman dengan suasana tenang dan teduh malam. Mungkin, beberapa orang memang nyaman dengan keadaan seperti itu.

Karena sedikit menyukai fotografi, saya pun gemar berburu senja. Senja seolah menjadi ritual pergantian dari panas terik matahari, ke masa-masa yang saya tenangi. Gelap, tenang, dan semua rahasia-rahasia akan terungkap di malam hari. Bintang dan bulan pun bersinar terang, saat semuanya tertutup lukisan gelap.

Namun, entah mengapa, akhir-akhir ini, saya sedang jatuh cinta dengan pagi. Saya ingin memenangkan pagi, meskipun kemungkinannya sangat tipis. Namanya juga kebiasaan menahun, mana bisa diubah dengan seketika? Saya pun harus belajar membiasakan diri untuk bangun di pagi hari. Bangun di pagi hari itu ternyata enak dan segar. Tapi, tanpa bantuan kafein, saya biasanya akan kembali mengantuk. Makanya, stok kopi sachet selalu tersedia di rak makanan untuk mengganjal mata yang sepet di pagi hari, he..he..he..

Kecintaan saya pada pagi pun membawa saya untuk menziarahinya. Konon, melihat matahari terbit paling magis adalah di atas gunung. Tapi, apakah fisik saya mampu? Ah, rasa-rasanya dengan ritme kerja yang seperti ini, saya juga tidak akan bisa berlatih menggenjot fisik untuk naik gunung. Apalagi, agenda di desk saya sedang sibuk-sibuknya dengan pilkada DKI. Mana mungkin? Cuti saja sulit.

Akhirnya, saya memilih Dieng untuk mengejar matahari terbit. Berdasarkan browsing-browsing dan melihat-lihat Instagram, saya mantap untuk melihat matahari terbit dari Bukit Sikunir. Ah, tapi ini kan masih bulan hujan? Sepertinya kemungkinan untuk melihat matahari terbit sangat kecil. Hari-hari lebih banyak diliputi mendung. Tapi bagaimana dong? Keinginan untuk mengecup hangat sinar mentari pagi dari bukit sudah membuncah. Saya tak ingin menghalangi kehendak ini. Saya harus menuruti ke mana kaki melangkah. Apalagi, saya memang sedang butuh penyegaran.

Ya sudah, akhirnya, di awal Februari lalu, tepatnya tanggal 3-5, saya memutuskan pergi bersama teman saya, Yanti. Kami masih bekerja hingga hari Jumat malam, saat kami memutuskan pergi dengan ELF bersama teman-teman dari penyelenggara open trip. Awalnya, saya sempat ingin membatalkan perjalanan itu karena masih ada tugas menulis feature yang belum selesai. Narasumbernya agak susah ditemui karena izin wawancara saya ajukan mendadak. Tapi, di menit-menit terakhir, saya membulatkan tekat untuk berangkat. Toh, wawancara bisa dilakukan lewat email atau whatsapp. Jika bahan kurang, saya masih bisa menelepon orang tersebut. Woles saja lah… 😀

****

Di hari pertama di Dieng, rombongan kami cukup beruntung karena pagi dan siang hari cukup cerah meski berbalut mendung. Sekitar pukul 14.00, kabut gunung sudah mulai turun, mendung cukup tebal memayungi Dieng. Wah, tampaknya sore hari bakalan hujan nih!

Benar saja, di lokasi ketiga, Candi Arjuna, kami kehujanan. Kami hanya sempat berkeliling sebentar di kompleks peninggalan peradaban terbesar Hindu di Jawa itu. Kami lalu harus berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Pilihan jatuh ke kedai kopi kecil di luar kompleks candi. Kami membeli gorengan panas. Ada tempe, cireng, dan jamur goreng untuk menjadi teman kopi lokal Dieng. Kami sangat bersyukur karena teman-teman di kedai kopi itu sangat baik. Mereka menyuguhkan kopi yang enak, cerita tentang kopi yang lengkap dan memikat, serta kehangatan yang luar biasa.

Saya pun sempat meminjam laptop plus sambungan wifinya untuk mengerjakan tugas dan membuka email. Kami berkumpul bersama teman-teman lain, ngejam dan akustikan. Puluhan lagu kami nyanyikan dengan gelak tawa yang membahana. Hujan badai di luar sana sejak sore sampai tengah malam pun terlalui dengan mulus dan bahagia. Teman baru dari Korea Selatan, Kim Junki pun puas tertawa, cerita, dan bernyanyi bersama kami. Kim harus pulang duluan ke home stay karena dia membawa kunci kamar. Teman lain yang tidak ikut ngopi pun keleleran karena tak mendapatkan kunci kamar. Saya, Yanti, dan tour leader, Adhi memutuskan bertahan sampai tengah malam. Pukul 22.30, kami baru beranjak pulang dari kedai kopi. Kami pulang setelah menyantap nasi goreng dan bercerita tentang seluk-beluk kopi.

****

Malam pun kian menua. Teman-teman di home stay sebagian sudah beristirahat karena harus bangun dini hari untuk melihat matahari brojol. Sudah nyaris tengah malam. Air dieng sangat dingin, tapi saya tetap memutuskan untuk mandi. Bau badan kecut sekali karena seharian berkeliling dan belum mandi. Usai mandi, saya pun menggigil kedinginan. Tidur tak nyenyak, berujung demam dan kembung di perut. It’s perfect to ruin the plan!

Jam 3 dini hari, Adhi mulai membangunkan kami. Saya terkesiap, belum begitu siap membuka mata. Tapi, karena memang sudah diniati untuk melihat matahari terbit, saya bangun juga dan mencuci muka. Teman-teman sudah menunggu di luar.

Sampai di titik pendakian, semua orang menggigil kedinginan. Angin berhembus kencang membuat nyali kami menciut. Apalagi si Kim yang hanya membawa jaket tipis dan celana pendek. Beruntung dia gendut dan banyak makan, jadi cadangan lemaknya membantu untuk menghangatkan badannya. Bwahaha!

Saya membeli sarung tangan baru. Teman seperjalanan juga memberikan tolak angin dan koyo untuk ditempel di hidung. Sebenarnya, kami harus mendaki hingga satu jam perjalanan menuju pos tiga. Karena jalan licin, dan kemungkinan melihat sinar matahari kecil, tour leader meminta kami sampai di pos satu saja. Berjalan kaki 20 menit di pagi hari membuat napas saya habis. Saya nyaris tidak kuat dan ingin menyerah. Teman-teman semua sudah di depan. Saya tertinggal jauh. Namun, saya terus meyakinkan pikiran, satu langkah lagi, satu langkah lagi. Akhirnya, saya sampai di pos satu dan bergabung bersama teman-teman. Subhanalove! Takbiir!

Lelah mendaki bukit selama 20 menit pun tidak berbanding lurus dengan nasib baik bisa melihat senyum pagi yang merekah. Pagi tetap saja muram tertutup gumpalan awan-awan putih yang mirip kembang gula. Sudah pukul 05.30, matahari tak juga nampak. Ya sudah, mungkin memang belum berjodoh dengan pagi. Esok akan kita coba kembali di belahan dunia lain yang lebih indah. Tetap bersabar, ini adalah perjuangan. Mungkin memang mengecewakan, tapi ini adalah ujian 🙂

Selamat pagi, pagi. Aku akan bersabar menunggumu tersenyum merekah dan memberikan kehangatan. Semalam, aku meringkuk kedinginan diterpa demam dan gelisah rindu. Tapi, kau masih juga malu-malu. Kau belum berani bertaruh untuk mendekapku penuh. Tidak apa-apa, pelan-pelan aja. Aku pun takut terbakar terik panas cahayamu.

sunrise-dieng-2sunrise-dieng-1

 

Palmerah,

00.40 am

 

 

 

Cek Toko Sebelah, Lemantun, dan Anak Gagal Penyayang Orangtua

Sudahkah Anda nonton film “Cek Toko Sebelah” karya komika Ernest Prakasa? Jika belum, ada baiknya luangkan waktu untuk menontonnya. Karena menonton film ini, kita tidak hanya akan dibuat ketawa geli, tetapi juga terharu yang mengharu biru.

Berawal dari resensi film dari teman di Facebook, rekan sejawat di kantor, dan beberapa orang lainnya, saya mantap untuk menonton film itu, Januari lalu. Sebelum menonton, saya sangat excited, tapi tetap meletakkan ekspektasi serendah mungkin. Benar juga, di adegan awal, kita sudah terpingkal-pingkal dengan kemunculan Kaesang Pengarep, anak bungsu presiden kita Joko Widodo. Kaesang muncul sebagai cameo, sopir taksi, yang menabrak Ko Yohan (Dion Wiyoko) dan Ayu (Adinia Wirasti) yang mengendarai sepeda motor.

Koko Yohan nan tampan hilang kendali karena ditabrak saat belok di tikungan. Kaesang sang sopir taksi pun turun dengan wajah bingung. Sebuah bogem mentah nyaris mendarat di pipinya jika tidak dihalangi oleh mbak Adinia yang memesona.

“Lu pikir, negara ini punya bapak lu apa?,” tukas Koko Yohan, emosi.

Oh iya, awalnya kita belum tahu ding kalau sopir taksi itu Kaesang. Baru setelah Koko Yohan marah-marah, kamera mengarah ke Kaesang. Zoom in. Spontan tawa pun meledak seantero bioskop Plaza Senayan. Tawa kian berderai saat Kaesang mengucapkan,

“Saya tahunya hanya kerja..kerja..dan kerja,” sambil menggaruk-garuk kepalanya.

(*lu emang ngehek sih Nest!, bwahaha!)

Kelucuan semakin bertambah dengan kehadiran komika-komika Stand Up Comedy lain seperti Babeh, Dodit Mulyanto, dan perempuan berjilbab dengan tawa aneh (*saya lupa namanya). Hahaha.

Mungkin, film yang diangkat Ernest ini begitu menarik karena dekat dengan kehidupannya. Ya, secara umum film ini mengangkat tentang kehidupan keluarga Tionghoa yang memiliki toko kelontong. Toko berdekatan dengan toko lainnya sehingga persaingan cukup ketat. Si pemilik toko, Ko Afuk memiliki dua orang anak, Yohan dan Erwin. Dia ingin salah satu dari anaknya itu mewarisi usaha tokonya. Namun, untuk mewujudkan keinginannya itu ternyata tidak mudah.

Anak pertamanya, Yohan, nasibnya kurang beruntung karena trauma berat setelah ditinggal ibunya meninggal. Ko Afuk kurang percaya pada anak pertamanya itu karena menikah dengan Ayu, perempuan yang kurang ia sukai. Namun, sejatinya, di balik keberantakan hidupnya, Yohan adalah sosok yang selalu peduli dengan keluarganya. Dia selalu ada saat papanya sakit.Berbeda dengan Erwin yang selalu sibuk dengan bekerja dan mengejar karir. Erwin bahkan tidak datang saat perayaan Natal dan ulangtahun papanya. Pada saat papanya sakit pun, Erwin selalu terlambat datang. Egois, kamu Ko! #eh

Yohan juga rajin mengunjungi makam ibundanya. Saat berziarah, dia selalu menumpahkan perasaan atau “curhat” tentang masalah sehari-hari yang dia hadapi. Yohan merasa sangat kehilangan ibunya, karena ibunya lah yang paling memahami dia. Emosi Yohan juga kerap tidak terkontrol karena merasa bersalah lantaran tidak bisa membahagiakan ibunya semasa hidup. Bagian ini memang paling menyentuh. Sejenak, kita jadi kangen dengan orangtua di rumah. Memikirkan apakah mereka sehat, baik-baik saja, dan sedang merindukan kita dalam hangat doanya?

Sementara anak kedua, Erwin, karirnya sangat cemerlang. Dia belajar dengan sangat rajin, lulus cumlaude di universitas luar negeri. Namun, Erwin lebih banyak menghamba pada ego. Meskipun demikian Ko Afuk menilai Erwin lebih bisa diandalkan untuk mewarisi toko. Keinginan itu pun terbentur dengan pergolakan Erwin yang bercabang. Di satu sisi, dia sedang dipromosikan untuk naik jabatan di perusahaan asing di Singapura. Lalu, kekasihnya Natalie (Gisella Anastacia) juga tidak setuju jika Erwin hanya berakhir sebagai pedagang kelontong. Tak terbayang nasibnya harus menjadi cici-cici berdaster yang pekerjaannya menghitung hutang dan belanjaan. Natalie itu perempuan urban, sosialita, dan metropolis banget laah.. 😀

Setelah tertawa ngakak hingga tersedak. Film ini tiba-tiba mengaduk emosi kita dengan kesedihan yang dekat dengan kita. Setiap keluarga tentu memiliki kitab masalah sendiri-sendiri. Akan tetapi, pasti ada persamaan di mana suatu ketika keinginan kita berbeda dengan orangtua. Di situlah kita harus bernegosiasi, berkompromi, dan berkomunikasi untuk mencapai win win solution.

Film ini memang drama komedi. Sepanjang film, kita juga dibuat banyak tertawa dengan hal-hal konyol yang dilakukan terutama oleh karyawan-karyawan Ko Afuk. Latar film yang hanya toko sederhana yang menjual shampoo, ciki-ciki, gula, kecap, beras, sangat dekat dengan kita. Semua orang tentu saja pernah berbelanja di toko kelontong. Bahkan seharusnya kita lebih banyak berbelanja di toko kelontong untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan.

Ibu-ibu Batak yang galak dan sering berhutang. Karyawan-karyawan toko yang saling naksir dan merayu. Pertalian antara pedagang kelontong, tukang roti keliling, dan pedagang-pedagang eceran sangat riil. Jauh dari hiperrealitas yang selama ini menjadi komoditas utama film layar lebar Indonesia. Ini mungkin yang membuat film ini tembus hingga dua juta penonton.

Salah satu adegan misalnya, saat Ko Afuk berbahagia, ia ingin mentraktir anak buahnya pizza. Tukang roti keliling yang saban hari mangkal di depan toko Ko Afuk langsung protes. “Pizza..pizzaa, nih roti masih banyak!,” sembur pedagang roti. Ko Afuk pun tidak jadi membeli pizza dan malah memborong roti keliling. Pedagang roti keliling semringah. Karyawan toko menggerutu, tak jadi bahagia. “Roti lagi, roti lagi, bosen….” gerutu mereka dengan muka masam.

0e539292_cek-toko-sebelah-cover

Saya tak akan menceritakan seluruh film karena itu hanya akan menjadi spoiler bagi kalian. Intinya, saya suka dengan film yang emosional dan dekat dengan kehidupan sutradaranya. Berkarya dengan hati, tentu akan membekas dan berkesan di hati penonton.

******

Kualitas film ini hampir sama dengan film Lemantun, karya Wregas Banutheja. Film Wregas lebih drama lagi karena berlatar kehidupan desa di Jawa. Tentu, saya yang Jawa tulen dan medhok ini sangat menghayati ceritanya. Di film Lemantun, Wregas juga menceritakan tentang pakdhenya, yang menjadi orang paling kurang beruntung sekeluarga. Kakak dan adik-adiknya sukses menjadi dokter, pengacara, dan sebagainya. Namun, sang pakdhe itu hanya berjualan bensin di depan rumah. Meskipun kurang sukses di karir, pakdhenya itu sayang sekali dengan ibunya. Di saat seluruh anaknya sibuk dengan kehidupan pribadi masing-masing, hanya pakdhenya yang setia menjaga ibunya.

Pada saat apresiasi film di Kineclub, Taman Ismail Marzuki pun, Wregas bercerita bahwa ide film itu muncul saat silaturahmi Lebaran di kampungnya di Yogyakarta. Setelah film itu jadi, dan ditayangkan, pola pikir pakdhenya pun berubah. Ada keinginan untuk bangkit dan memperbaiki nasib. Menurut saya, sebuah karya apapun itu, yang baik memanglah yang bisa menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik lagi. Bravo. Goodjob, Wregas!

lemantun-4

Tampaknya, produser Indonesia memang harus sering-sering melirik karya yang dekat dengan seniman pembuatnya. Karya yang ditelurkan dari ide orisinil dan dari hati. Dengan demikian, film Indonesia akan semakin berkualitas. Tahun 2017 ini, buktinya, sudah banyak muncul film-film Indonesia berkualitas yang viral dan banyak diperbincangkan di lini masa. Istirahatlah Kata-Kata, Cek Toko Sebelah, untuk menyebut beberapa nama. Bangkitlah perfilman Indonesia! Cheers!

 

Palmerah

15.47 pm

 

 

Para Pencinta kebebasan

Menjadi lajang hingga usia akhir 20-an. Kita bebas menafsirkan apakah ini sebuah bentuk kesepian atau kebebasan. Ya, kesepian karena setiap malam yang letih, sepulang kerja, kita hanya berteman suara televisi yang berisik dan secangkir teh panas Chamomile di tangan. Dunia terasa hampa, sunyi, tanpa ada manusia di sebelah yang bisa diajak bercengkerama atau tertawa hingga perut kram, lalu pulas terlelap.

Paling banter, kita akan membuka-buka sosial media di ponsel sampai mata sepet dan terlelap. Atau, saat gairah membaca sedang membuncah, kita akan tekun membaca buku. Membaca dan menuntaskan sebuah buku yang berakhir pada tanda tanya. Memikirkan hal yang seharusnya tak perlu kita pikirkan. Alhasil, meski malam sudah menua, dan jam menunjukkan pukul tiga dini hari, mata masih terus terjaga.

Ya itulah, hari-hari kesepian para lajang.

Namun, dalam dimensi lain, menjadi lajang adalah sebuah kebebasan yang hakiki. Kita belum direpotkan oleh berisik manusia di sebelah yang tidak puas dengan ini-itu. Kita tidak perlu berkompromi apakah sebaiknya lampu dinyalakan atau dimatikan saat tidur? Apakah kamu lebih suka AC menyala, atau AC mati? Apakah harus berbagi selimut? Apakah harus malu saat ingin kentut dengan sangat keras? Hahaha…

Ya, menjadi lajang terkadang membuat kita terbuai dengan nikmatnya kebebasan. Lalu tiba-tiba kita lupa bahwa merajut dan mempertahankan sebuah hubungan adalah syarat untuk dicap sebagai manusia normal di masyarakat. Ya, masyarakat akan menganggapmu sebagai manusia seutuhnya ketika sudah berkeluarga dengan lawan jenis.

Aku sendiri sudah memiliki partner yang membuat nyaman. Dia tidak mengekang, justru sangat membebaskan. Dunia kita berbeda dan kita hanya perlu sedikit menyesuaikan diri. Hubungan yang sudah lama yaitu lebih dari 10 tahun, membuat kita sudah mengetahui baik-buruk masing-masing. Aku yang selalu menghabiskan waktu sangat lama saat mandi. Dia yang pandai membuat kopi. Aku yang pemalas. Dia yang penyabar. Apa lagi yang kalian cari?

Belakangan, lewat seorang teman, aku baru tersadar. Mencintai kebebasan tidaklah sama dengan berbuat sesuka hati. Mencintai adalah berkompromi dan menundukkan ego hingga serendah mungkin. Tapi, jika kamu pura-pura mencintai, mungkin cintamu masih dalam tahapan mengekang. Mengekang dia untuk tidak bertemu orang-orang yang kamu benci, mengekang dia untuk mengerjakan hobinya, mengekang dia untuk mengambil waktu sendiri dan berkontemplasi, mengekang dia untuk selanjutnya membuat dia merasa terpenjara dalam keabsolutan dan kefasisan cintamu. Norak!

Setiap orang tentu saja akan mencintai kebebasan. Sesekali, kemelekatan atau posesivitas dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa kita peduli dan melindungi orang yang kita cinta dari bahaya. Namun, tentu saja kadarnya perlu diperhatikan. Komunikasi adalah satu kunci untuk mencapai semua itu. Jangan gengsi bertanya, apakah pasangan nyaman dengan perkataan kita, dengan sikap kita, dengan keputusan kita? Ya, berkomitmen adalah usaha keras dan belajar setiap hari. Perlu trial and error setiap hari untuk mencapai komposisi yang pas. Kalaupun kita terjerembab pada jurang kekecewaan, itu pasti karena ekspektasi terlalu tinggi. Nothing’s hurt, but our expectation.

Menurut hemat saya, mencintai kebebasan berarti membiarkan diri dan orang lain yang dicintai dengan bebas. Ini tidak sama dengan antikomitmen atau pun selingkuh sesuka hati ketika ekspektasi tak terpenuhi. Itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Mencintai itu bukan jalan pintas. Mencintai adalah kerja keras dan pembelajaran setiap hari untuk berkompromi dan menundukkan ego. Jika ego masih besar, jangan dulu bercita-cita sukses berkomitmen. Karena berkomitmen itu sulit, maka tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang dengan kesabaran dan ketekunan lah yang bisa berkomitmen sepenuh hati.

Ketika kemelekatan kita pada sesuatu atau seseorang terasa begitu membebani, membebaskan membuat cinta terasa lebih ringan, tulus, dan mengalir seperti air. Kita cukup cinta saja, tidak perlu jatuh karena itu sakit. Mencinta adalah membebaskan orang yang kita cinta, supaya dia mencintai kita dengan penuh kesadaran, rasionalitas, ikhlas, tulus, dan tanpa beban. Ya, aku mencintamu dengan segala rasionalitas otakku! 🙂

 

 

Menuju Entah Berantah

“Dia datang saat hujan reda

Semerbak merekah namun sederhana

Dia bertingkah tiada bercela

Siapa kuasa?

Dia menunggu hingga ku jatuh

Terbawa suasana

Dia menghibur saat ku rapuh

Siapa kuasa?

Dan kawan

Bawaku tersesat ke entah berantah

Tersaru antara nikmat atau lara

Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya

Dia bagai suara hangat senja

Senandung tanpa kata

Dia mengaburkan gelap rindu

Siapa kuasa?

Dan kawan

Bawaku tersesat ke entah berantah

Tersaru antara nikmat atau lara

Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya…”

***

Hai Banda Neira. Ananda dan Rara Sekar… Tahun ini mungkin adalah tahun pahit bagi kami, para penggemarmu. Berita bubarnya duo band berkualitas ini bak petir di siang bolong. Kalian memilih untuk mengambil stasi, karena Sekar memilih untuk melanjutkan studi di luar negeri. Kalian mematahkan hati kami, tepat saat tahun 2016 berakhir. Huhuhu…

Aku sangat patah hati karena sejujurnya beberapa pekan terakhir, aku senang sekali memutar lagu kalian. Musiknya syahdu, easy listening, empuk didengar saat jari menari di atas tuts komputer. Meski memeras otak untuk menulis dengan jelas dan mudah dipahami, sejenak imajinasi berlari-lari mengeja perasaan di dalam hati. Duileee…

Tahun 2017 ini, aku tidak membuat resolusi. Untuk apa resolusi dibuat dengan megahnya hanya untuk diingkari? Ya juga ya? Sudah terlalu banyak wacana dan angan-angan di kepala, saya berharap 2017 adalah tahun aksi. Saya harus banyak berkarya, bertamasya, dan tentu saja bercinta. Eh, kalian manusia bercakrawala sempit! Jangan sok gagap dulu dengan kata bercinta. Bercinta itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan manusia. Apalagi di saat hoax-hoax dan virus saling membenci sedang memenuhi ruang udara dan nyata jagat Jakarta. Bercinta adalah solusi efektif, riil, dan efisien.

Apakah bercinta itu monopoli lawan jenis? Tentu saja tidak. Saya memilih term bercinta untuk mencintai kawan, rekan sejawat, teman kos, tetangga, narasumber, hingga setiap orang yang kalian temui di jalan. Tak perlu tenaga ekstra, mencintai sesama cukup dilakukan dengan tersenyum tulus pada siapa pun yang kalian temui. Ya, mana tau dengan tersenyum manis kalian bertemu dengan jodoh kan? Hihihi 😀

Harapan saya di 2017 ini tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin berjalan lebih jauh, dan menyelam lebih dalam. Saya ingin mencecap sari-sari kehidupan yang menempel di seluruh sudut kota di bumi ini. Saya ingin mencium bau kehidupan. Saya ingin mempertebal kaca mata untuk lebih luas melihat cakrawala. Kalau Tuhan mengizinkan, saya juga ingin menimba ilmu lebih dalam di bidang jurnalistik. Bidang yang menempa dan membesarkan saya selama lima tahun terakhir.

Saya percaya manusia digerakkan oleh harapan. Berharap, bukan berekspektasi. Karena ekspektasi tinggi hanya akan menjatuhkan kita dari gedung tinggi berlantai 28. Hadapi setiap detak jantung dan embusan napas 2017 dengan syukur. Jadilah manusia sederhana yang selalu bersyukur atas karunia-Nya.

Dengan memasang ekspektasi serendah mungkin, saya justru memunguti bahagia-bahagia di langkah pertama 2017. Awal yang bagus untuk mengawali petualangan. Tentu saja, saya tetap bersiap untuk gerimis, hujan deras, hingga badai yang kembali akan memporak-porandakan sendi kehidupan. Siap bahagia, juga siap bersedih. Mereka adalah pasangan penyeimbang.

Hei 2017, 17 angka keberuntunganku. Semoga itu pertanda menuju 365 hari penuh keberuntungan. Mengutip puisiwan kesayangan, Jokpin, tahun ini saya ingin melihat lebih banyak matahari brojol dan senja koprol dari belahan pulau, bahkan benua yang berbeda. Matahari tidak akan pernah tenggelam di lautan cinta Lentera Dewi. Tsahh..

Tangan ini selalu siap digenggam untuk diajak ke entah berantah. Meski konsekuensinya harus tersaru antara nikmat dan lara… Ajak aku berjalan lebih jauh, dan menyelam lebih dalam. Bersama kita menuju ke entah berantah. Dunia penuh tanda tanya dan jurang untuk memilikimu sekali lagi. Kok mendadak jadi Rangga?

Asu-dahlah… Pada akhirnya, mas Jokpin panutanku, saya juga hanya ingin selalu menjadi bahagia dengan menjadi hati yang sederhana. Hati yang seluas cakrawala.

biografi-banda-neira-band-lorong-musik-dot-com

Sawit yang berdampak pahit

Manusia primitif, hanya mengambil sesuatu dari alam sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Mereka menakar kemampuan perut dan mengambil hasil bumi untuk mengenyangkannya. Justru, manusia modern yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki harta dan kuasa yang bersifat tamak. Mereka tak henti mengeksploitasi bumi dan memperkaya diri. Hingga bumi kini perlahan hancur dan sakit kritis…

Sebuah tayangan apik di channel BBC Earth beberapa waktu lalu, menggambarkan dengan komprehensif bagaimana manusia, budaya, perkembangan ilmu ekonomi, dan teknologi, dan peradaban manusia saling bersekongkol membinasakan alam. Awalnya, masyarakat primitif begitu dekat dan menghargai alam. Mereka mengambil sesuatu yang ada di alam yaitu tumbuhan dan hewan sesuai kemampuan sistem pencernaan mereka. Sebelum berburu kelelawar dan tikus, misalnya, mereka berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan. Mereka berjanji akan merawat segala sesuatu yang dikirimkan Tuhan sebagai alat untuk bertahan hidup.

Manusia-manusia primitif dengan segala ritualnya, terkadang lebih mampu menghargai alam. Mereka menjaga hutan, sungai, dan laut. Mereka sadar, jika alam tercemar mereka tak lagi bisa makan. Namun, manusia primitif yang hidup dan tumbuh besar dengan tradisi dan ritual itu kini dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Mereka dianggap peninggalan arkaik yang kolot, tidak peka dengan zaman.

***

Lalu, lahirlah sistem pertanian dan manusia mulai mengenal penyimpanan bahan pangan. Mereka menanam padi yang rakus air di tempat-tempat yang dulunya hutan, rawa, lahan gambut. Hutan-hutan hijau dan perdu ditebang, lalu dialihfungsikan sebagai lahan pertanian. Manusia, kini tak lagi mengambil kekayaan alam sesuai yang bisa mereka makan. Mereka mulai mengeksploitasi dan mengeksplorasi alam.

Di situlah dimulainya kehancuran bumi dan alam seisinya…

Sistem pertanian pun didesain dalam skala masif untuk mencukupi kebutuhan pangan jutaan warga di dunia yang beranak-pinak. Lalu, orang-orang yang memiliki kuasa dan harta berpikir bagaimana mereka bisa menjadi perantara penyedia bahan pangan itu. Industrialisasi pun bergulir. Tak hanya di bidang pertanian, perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, dan berbagai komoditas lain tak luput dari radar industrialisasi itu.

Di Indonesia, perkebunan kelapa sawit menjadi industri minyak nabati yang paling banyak merusak lingkungan. Hutan-hutan dikonversi menjadi perkebunan sawit. Pembukaan lahan serta peremajaan tanaman sawit dilakukan dengan membakar hutan. Triliunan rupiah hangus setiap tahunnya. Jutaan orang terpapar asap pembakaran hutan. Sebagian lainnya (banyak) bahkan meninggal dunia karena tak tahan dengan racun asap yang berbulan-bulan menyiksa mereka. Di mana rasa keadilan berada ketika udara segar pun tak lagi bisa dihirup bebas?

Di Sumatra Barat dan Kalimantan Tengah, saya melihat hamparan kebun kelapa sawit membentang di kaki-kaki bukit-bukit perdu yang asri dan di lahan gambut yang basah. Tak jarang, pemilik perkebunan sawit itu adalah perusahaan asal Malaysia dan Singapura. Mereka menjajah tanah-tanah kita dengan menancapkan kukunya pada perusahaan dalam negeri.

Tahun ini Indonesia jadi produsen CPO terbesar di dunia, mengalahkan Malaysia. Tahun 2015 produksi kelapa sawit mencapai 31,28 ton per tahun dengan nilai 11,58 juta US Dollar. Namun, jumlah perkebunan paling banyak adalah milik swasta 5,9 juta hektare; rakyat dan plasma 4,5 juta ha; disusul perkebunan negara 750 ha. Industri sawit juga diklaim menyerap 5 juta kepala keluarga yang mendorong pertumbuhan ekonomi baru dan pemerataan pembangunan. Kementerian Pertanian pun begitu bangga dengan pencapaian ini. Alih-alih mencari solusi atas permasalahan lingkungan yang berkelindan, mereka menganggap industri sawit terlalu seksi dan politis. Banyak orang berkepentingan di balik bisnis minyak nabati itu. Negara-negara maju di Eropa seperti Perancis pun sudah mulai menolak ekspor crude palm oil (CPO) dan produk-produk turunannya. Mereka menilai produk ini tidak ramah lingkungan. Orang-orang Eropa lebih mendukung produk minyak nabati yang mereka hasilkan yaitu minyak biji bungan matahari, minyak kedelai, dan kacang-kacangan lainnya.

Sedihnya lagi, industri kelapa sawit ini tumbuh dan dibayang-bayangi oleh dampak negatif soal pangan, lingkungan hidup, kesehatan dan energi. Pembukaan lahan-lahan baru masif dan tanpa kendali. Triliunan rupiah hangus setiap tahunnya. Mungkinkah Indonesia bisa mencontoh negara tetangga yang menerapkan ekonomi hijau dengan program zero burning, mengatur peruntukan lahan dan pengelolaan komoditas berdasarkan kawasan, tidak menanami lahan gambut, dan menerapkan integrated pest management (IPM)?

Soal aturan peruntukan lahan aja Indonesia ketinggalan zaman. Dari jaman penjajahan Belanda sampai sekarang tidak punya aturan soal zonasi kebun sawit. Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) digadang-gadang meski banyak pelanggaran di lapangan. Mampukah kita menerapkan ekonomi hijau dan mengejar ketertinggalan itu? Hmmmm… We’ll see how the government rule the law! Karena penegakan hukum adalah koentji.

DSCF4531DSCF4546

“Too Heavy to Carry”

Melibatkan diri, pada sebuah hubungan lawan jenis (relationship), sungguh bukan perkara mudah. Rumit dan membutuhkan usaha yang konsisten dan berkelanjutan. Seorang teman mendadak curhat kepadaku, tentang kedekatannya dengan lawan jenis. Ia tertarik dengan pria itu, tetapi merasa ragu untuk memutuskan apakah hubungan itu akan berlanjut ke arah yang lebih serius atau tidak?
“Yaelah..kan baru kenal, ngapain juga dipikirin. Nikmatin dulu aja, jalanin dulu aja…,” ujarku, normatif.
Tiba-tiba, temanku yang gemar berpikir rumit itu berkata: “Untuk urusan lain, aku sudah sangat berusaha. Aku malas berusaha keras lagi untuk sebuah relationship,” ujarnya sambil meringis geli.
Ketika percakapan itu terjadi, sebenarnya saya tidak terlalu ngeh dengan ucapan itu. Tapi, lalu pelan-pelan aku berpikir dan mencerna omongan itu. It’s so me!
Beruntungnya, aku (berhasil) menemukan seseorang yang sederhana, mau memahami, dan tidak ribet. Karena, pada dasarnya aku juga orang yang less effort dalam suatu hubungan, mendominasi, kadang apatis dan semau gue. Mungkin, semua sifat itu perlu legitimasi dan cover both side dari yang merasakan perlakuanku selama 10 tahun terakhir ini :))

***

Terlahir, bukan dengan sendok perak di mulut, membuatku harus selalu bekerja keras untuk mencapai sesuatu. Dari kecil, gue udah ambitchious! Hahaha…
Untuk beberapa hal, aku selalu pengin jadi yang terdepan crême de la crême, apalah..apalah..
Aku bekerja keras untuk bisa sekolah, ke perguruan tinggi dan merangkak meniti karier. Nggak tahu juga kenapa bisa terjerembab di dunia jurnalis, mungkin karena dari kecil hobi curhat di buku harian. Sampai akhirnya sekarang bisa menempa diri di media yang katanya bonafide ini. Alhamdulillah, idealisme bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan. Sebuah kemewahan di era tamak seperti ini, di mana terkadang, maaf, orang melacurkan intelektualitasnya hanya demi bertahan hidup atau bertahan dengan gaya hidup wah. Aih, jadi ngelantur…
Mungkin, capaian sekarang belum bisa jadi parameter kesuksesan hidupku. Tapi, paling tidak aku sudah berada di jalan yang benar karena memilih karier penuh pertentangan batin. Sesekali, kita ingin keluar dari jalur merasakan sensasi alam yang berbeda. Tapi, kemudian seketika kita terhenyak dengan sebuah tanya: tanpa aku dan profesiku sekarang, aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan siapa diriku lagi? Duh, pelik.
Lalu kemudian, meniti anak tangga pencapaian-pencapaian itu memang membutuhkan usaha ekstra. Tak mudah memang, bersaing dengan jutaan generasi Y atau milenial ini. Berbagai kompetensi harus kita miliki, kepercayaan diri, dan bagaimana membawa diri di iklim organisasi. Walah, malah soyo nggladrah 😥
Lalu, setelah melewati perjalanan terjal itu, hebat kalau Anda masih menggebu-gebu dan bertotalitas dalam suatu hubungan. Berani taruhan, seseorang yang berhubungan dengan workaholics plus ambitchious pasti akan lebih banyak mengalah. Apalagi, ritme pekerjaan ini sulit ditebak. Kita harus tahu betul kapan saatnya kita harus berhenti dan mendapatkan kehidupan pribadi. Sebuah kemewahan bernama privasi dan sosialisasi. Sampai di sini, saya merasa lebay… Hahaha

***

Lalu, pada akhirnya, situasi membiarkan kita bertumbuh menjadi pribadi yang effortlessly berjuang untuk keberhasilan sebuah hubungan. Kita menghamba pada orang yang membuat kita nyaman, dewasa, dan pengertian terhadap segala sesuatu yang harus kita jalani. Segala macam kriteria cuma jadi macan kertas. Lagi pula, apa bargaining position dari keseksian bernama intelektualitas yang enggak bisa bikin orgasme? Hahaha… (If only I am one of them)
But, we are precious as we are. Kehadiran kita mungkin hanya seperti selembar daun kering yang jatuh kala tertiup angin. Kecil dan tidak bermakna. Namun, bagi seseorang mungkin kita adalah degup jantungnya, energi hidupnya, dunianya. Lalu, kalau sudah menemukan orang sesederhana itu, masih pantaskah berkata: kalau dari pilihan, kamu itu aku lihat sangat sederhana banget deh?
Sederhana terkadang terlalu rumit untuk dikuliti satu per satu. Itu ada di dalam diri kita, hanya kita yang mampu merasakannya. Lalu, apakah membangun hubungan dengan seseorang menjadi sebegitu berat dan rumitnya? Jika tak mau hubungan transaksional berdasar kulit dan cangkang, ada baiknya melihat jauh ke dalam diri. Melihat intisarinya, substansinya.

Lalu, berjuang demi sebuah hubungan tak lagi akan sebercanda itu. Is it? Is it too heavy to carry? The choice is all yours. Goodluck, then. 

 

Monolog dini hari, 

Gelora, 4 April 2016

Jakarta..Jakarta

Tak terasa, sudah dua tahun lebih aku tinggal di Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini. 1 November 2013 lalu, aku resmi membawa koper kehidupanku ke sini. Ke kota yang lebih buruk dari kota tempat tinggalku sebelumnya, Solo. Sebuah keputusan besar di antara keyakinan dan keraguan. Mungkinkah aku bisa bertahan di kota yang seksi tapi penuh sengkarut masalah ini?

*

Jakarta itu mirip buah durian. Siapa yang cinta, akan cinta dengan fanatik. Begitu juga sebaliknya dengan yang membenci. Sebelum memutuskan pindah haluan ke metropolutan ini, aku jauh-jauh hari sudah bertanya-tanya pada teman-temanku yang lebih dulu bekerja di sini. Jawabannya beragam. Terkadang, aku mendengar keluh-kesah dari para sahabatku tentang kebengisan ibu kota. Sebagian besar teman kuliahku memang bekerja di media bonafide, atau PNS Kementerian di Jakarta. Mereka melangkah dengan pasti setelah mendapat gelar sarjana.

Namun, ada salah satu teman yang membuatku tertantang untuk menakhlukkan Jakarta. Kira-kira begini, dia bilang sekalipun Jakarta macet (setiap hari), dan banjir (setiap musim hujan), dia suka kota ini. Baginya, Jakarta adalah lautan mimpi. Orang bisa memilih bekerja dengan jenis pekerjaan yang beragam, dan membangun karier dari enol. Setiap orang di Jakarta, apalagi early workers, pasti sedang berupaya untuk mengubah nasib. Pada akhirnya, semua ketidaknyamanan tinggal di kota ini, akan dikesampingkan. Mimpi dan usaha mereka untuk menjadi seseorang, meraih sesuatu, memperjuangkan hidup dan harga diri, lebih besar dan membuncah.

Aku manggut-manggut saja dengan isi Blackberry Messenger yang dikirim kawanku kala itu. Dia salah satu kawan yang berpandangan cukup berbeda dengan teman lain. Banyak di antara kawan lain, sebenarnya sama sekali tidak suka tinggal di Jakarta, tetapi keadaan memaksa mereka. Beberapa, telanjur menandatangani kontrak dinas yang baru selesai 5 tahun ke depan.

*

Di novel Critical Eleven karya Ika Natassa, Anya (karakter perempuan utama) mengatakan, Jakarta’s so powerfull. It changes people, it breaks people, it makes people, it shifts values, every single second it comes in touch with them. Saking kuatnya, siapapun yang pernah bersentuhan dengan kota ini tak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus meredefiniskan semua tentang diri mereka sendiri. Meredefinisikan makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters, and what doesn’t. (Critical Eleven, halaman 143).

Anya juga bilang, ibarat sebuah pasangan, Jakarta itu pasangan yang abusive, yang selalu menyiksa, yang membuat kita berulang kali mempertanyakan arti kasih sayang dan cinta, yang menguji kesabaran setiap kali dia memukul kita berulang-ulang, tapi kita tetap tinggal, kita tidak lalu lantas pergi.

Sedangkan tokoh Ale (pemeran utama laki-laki) menyebutkan di Jakarta, semua orang sedang berada in the state of trying (masa perjuangan). Berjuang mendapatkan rumah, berjuang mendapatkan pekerjaan, berjuang mendapatkan uang, berjuang mendapatkan diskon lebih baik, berjuang bertahan, berjuang pergi, dan berjuang menjalankan sesuatu dengan baik. Menurutnya, Jakarta itu a labyrinth of discontent. Semua orang berusaha untuk keluar dari labirin itu. Lucunya, ketika kita hampir menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, menarik kita kembali ke dalam labirin, kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It’s the hustle and bustle of this citu that we live for. Comfort zone is boring right? (Critical Eleven, halaman 11).

*

Setahun pertama tinggal di Jakarta, tak membuat saya seketika jatuh cinta dengan kota ini. Saya masih sering memimpikan Solo, kota kecil yang nyaman di Jawa Tengah, tempatku menghabiskan 7 tahun masa kuliah dan awal bekerja.

Hari-hari pertama di Jakarta, saya selalu menutup hidung ketika berjalan di sepanjang kali yang lebih mirip kolam comberan. Tak ada riak, airnya hitam dan bergerak malas. Jangan tanya baunya, untuk pendatang baru yang hidungnya masih tajam, ingin muntah rasanya sepanjang jalan dengan bau comberan itu!

Hal lain yang tak kalah seksi di Jakarta adalah kemiskinan dan kriminalitas. Hampir setiap hari ada kejadian kriminal. Entah itu copet, jambret, rampok, hingga pembunuhan. Ya, angka kriminalitas di Jakarta lebih tinggi daripada di Tokyo meskipun luas wilayah dan jumlah penduduknya hampir sama. Itu semua karena jurang kesenjangan sosial yang terlampau dalam.

Sesekali, wajah Jakarta terlihat ayu rupawan dengan jalan yang lebar dan bersih, perkantoran elite di Sudirman-Thamrin, rumah-rumah elite, dan taman-taman asri bermartabat. Tapi di sisi lain, kau bisa menemukan kampung yang bau busuk karena dipenuhi sampah dan saluran got yang mampet. Rumah-rumah sempit dari tripleks dan kayu yang lembab dan berdempet-dempetan. Penghuninya tak peduli dengan estetika dan kenyamanan. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana mencari uang untuk dikirim ke kampung halaman. Kenyamanan jadi perkara non-elementer.

*

Lalu, apakah setelah dua tahun tubuh dan hati saya mulai menyatu dengan Jakarta? Belum. Saya susah jatuh cinta dengan Jakarta. Tapi, saya menikmati setiap inchi keseksiannya. Kemacetan, polusi, kemiskinan, kekumuhan, kebengisan, kesemrawutannya, tata kotanya, sejarahnya, kulinernya, tempat nongkrongnya, orang-orangnya. Semua itu tak pernah membuat saya puas. Saya beruntung bisa belajar banyak tentang seluk-beluk Jakarta setahun terakhir ini. Jakarta membuat saya terkesima dengan segudang masalahnya.

Pacar saya, yang dulu bersumpah serapah membenci Jakarta, dua bulan terakhir telah tinggal di Depok. Dia mulai menata hidup di sini untuk berkomitmen lebih serius dengan saya. Sebuah keajaiban sebetulnya, karena bertahun lalu, dia sudah bersumpah serapah untuk tidak mau tinggal di Jakarta. Sebelum tinggal di Depok, dia sering mengunjungi saya pada bulan-bulan tertentu. Saya paham betul, dia tidak nyaman dengan kota ini. Tapi, ketidaknyamanan itu seketika lenyap karena ada saya, perempuan yang dia kasihi, hehehe..

Perasaan saya pada Jakarta belum final. Barangkali, suatu ketika saya bisa jatuh cinta tanpa ampun dengan kota ini. Sekarang, paling tidak Jakarta sudah menjadi bagian sejarah dari hidup saya. Sebuah buku dengan coretan penuh cerita di setiap sudut kotanya. Jakarta tak akan pernah menjadi kota yang sama lagi, sejarah kita terukir di sana…

Baik-baiklah Jakarta, karena banyak orang membenci dan mencintaimu tanpa ampun!

BUNDERAN HI

Courtesy: Google

 

 

 

 

 

Pagi yang Takkan Terlupa

Suatu pagi yang takkan pernah kulupakan. Sebuah panggilan datang dari gedung puskesmas yang berdiri di depan Kali Cibubur yang hitam dan bau. Puskesmas yang tetap tegar berdiri meski setiap hari harus menatap potret kekumuhan kecamatan terpadat se-Asean versi Badan Pusat Statistik (BPS) 2010.

Tak seperti biasanya, pagi itu Sabtu (15/7), aku bangun lebih awal. Nyaring suara alarm yang biasanya tak berhasil membuatku bergeming, kali ini terdengar 100 kali lebih nyaring. Selain alarm, telepon dari seorang bapak muda yang gusar ikut menyadarkanku dari mimpi Sabtu pagi yang gerah itu…

Segera setelah terbangun, aku mandi, memilih kaos bergambar garis horizontal, dan jaket jeans. Tak lupa, perona bibir berwarna merah maroon kuoleskan ke bibir. Ini hari Sabtu, saatnya tampil bersosialisasi, hi..hi..hi!

*

Jam 08.00 aku sudah sampai di lobi Puskesmas Tambora. Heran juga, penyakit tak mengenal hari libur. Meski akhir pekan, aktivitas di Puskesmas Tambora sudah berdenyut kencang. Bangku besi yang dingin di ruang tunggu nyaris penuh. Belasan pasien menunggu giliran untuk berobat atau mengambil obat.

Salah satu di antara mereka adalah Ridwan Arifin. Matanya menatap
gusar. Setiap menit, ia memandangi layar di ponselnya yang berwarna putih. Sebuah ponsel dengan fitur biasa untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Meski datang sejak pagi, Ridwan belum boleh menjenguk istrinya Rihat (28) dan anak keduanya.

Anak laki-laki bernama Muhammad Ali itu baru saja lahir di tepi jalan Gang Songsi 3 RT 04 / RW 06 Tanah Sereal, Tambora Jakarta, Kamis (13/8/2015) siang. Persalinan dibantu oleh seorang dukun beranak tanpa peralatan medis memadai. Beruntung, kondisi Rihat dan anaknya sehat. Setelah melahirkan di jalan, Rihat dan anaknya dibawa ke Puskesmas untuk mendapat perawatan medis.

Di Puskesmas, Rihat mengaku dibersihkan luka-lukanya setelah
melahirkan. Ia tidak mendapatkan jahitan. Menurut petugas Puskesmas, Rihat dan bayinya harus dirawat selama minimal tiga hari. Ini untuk memantau kondisi kesehatan dan memastikan tidak ada pendarahan. Jumat sore, Ridwan sebenarnya ingin membawa pulang istri dan bayinya.

Namun, bidan dan perawat melarang dengan alasan pasien tidak boleh
dibawa pulang pada malam hari. Selain itu, Rihat baru dua hari
menginap di Puskesmas, kondisi kesehatannya harus dipantau.
Permasalahan yang lain, Ridwan tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan Rp 310.000.

“Kemarin saya belum punya uang. Rencananya saya mau ngutang atau jual apa gitu,” ujar Ridwan, pria bertato yang mengenakan jersey klub sepak bola berwarna emas itu.

Ridwan yang kurang pandai berbicara itu terlihat gugup. Pun saat ia
menyampaikan kondisi keuangannya kepada perawat. Ia mendapat jawaban ketus, tanpa seulas senyum pun dari bidan puskesmas. Bidan itu berbicara seperlunya.

Dengan tatapan tajam, ia menjelaskan berapa biaya yang harus dibayar Ridwan. “Nanti ya pak, setelah pukul 10.00 ibu baru bisa dijenguk. Sekarang belum boleh,” ujar bidan berjilbab yang memakai kaca mata itu.

Saya, yang kebetulan ada di lokasi lalu bertemu dengan mantan kepala
tata usaha puskesmas itu, Ahmad Rifai. Rifai memanggil saya duluan.
Dia mengenal saya karena sudah beberapa kali wawancara di puskesmas itu. Dia berbasa-basi, bertanya mengapa saya ada di puskesmas itu?

Singkat cerita, saya akhirnya berdiskusi tentang kondisi Ridwan kepada Rifai. Saya bertanya, bukankah setiap perempuan hamil mendapat jaminan persalinan dari Kementerian Kesehatan sebesar Rp 500.000? Mengapa Ridwan harus membayar? Padahal dia warga miskin. Mungkin, saat itu gajinya sebagai karyawan di pabrik sablon rumahan sudah terkuras untuk keperluan lain.

Rifai menjawab, biaya itu dibebankan karena Ridwan tidak memiliki BPJS Kesehatan. Ridwan tercatat sebagai warga Bogor, Jawa Barat. Ia baru mengontrak selama tiga bulan di Tanah Sereal, Jakbar. Saya kemudian bertanya lagi, mungkin tidak Ridwan membayar gratis biaya persalinan?

Rifai menjawab, mereka bisa membayar gratis asal ada surat keterangan domisili dan surat keterangan tidak mampu dari RT/RW setempat. Kenapa tidak diinformasikan dari kemarin pak? Seloroh saya sambil tertawa kecil. Rifai, seperti umumnya pelayan publik lain selalu
menaruh curiga pada orang miskin. Kalau bisa ditekan dan dimanipulasi kenapa tidak? Kalau informasi bisa ditutupi kenapa tidak?

*
Berbekal informasi dari saya, Ridwan pun sigap mengurus surat
keterangan di RT dan RW. Surat itu lalu diserahkan kepada petugas
administrasi dari puskesmas. Dengan muka masam, tanpa secercah senyum pun, perempuan berbeda yang juga memakai jilbab dan kaca mata memproses permintaan Ridwan. Saat ditanya pun, ia hanya menjawab dengan singkat dan lugas.

Rihat dan Muhammad Ali akhirnya bisa keluar dari puskesmas dengan
biaya gratis. Wajah mereka tampak semringah. Bersamaan dengan mereka keluar, tetap tidak ada senyum ramah dari para petugas puskesmas. Sandal Rihat hilang. Ridwan membelikan sandal swallow berwarna putih untuk dipakai istrinya itu. Mereka lalu pulang ke rumah dengan mengendarai bajaj berwarna biru.

Sejenak, pikiran saya menerawang. Katanya Indonesia sudah merdeka, sudah 70 tahun bahkan. Dan, ironisnya kasus ini terjadi di ibu kota negara yang memiliki APBD Rp 69,28 triliun. Di mana rasa empati para petugas puskesmas sampai-sampai menyembunyikan informasi kalau pasangan ini bisa membayar dengan gratis? Ini membuat saya bersyukur bisa bangun pagi dan berada di tempat itu, hari itu. Saya ditemani rekan jurnalis lain, Dini Tempo dan Jessi Trans 7.

Sebelum mempertanyakan lebih lanjut arti kemerdekaan, saya tersadar jika rakyat miskin, selalu jadi kaum marjinal yang terus direduksi peranannya hanya sebatas konstituen yang hanya dipakai suaranya untuk kepentingan politik kekuasaan. Lalu, apa artinya merdeka kalau pelayanan kesehatan masih setengah hati bagi warga miskin? Masih pantaskah pejabat bermuka masam dipekerjakan dan dibayar dengan pajak hasil keringat rakyat?

Ah, saya tak perlu gusar di pagi yang indah itu. Meski tak dapat senyum ramah para petugas kesehatan, toh saya melihat dua cercah raut muka dengan senyum seikhlas embun yang menyejukkan pagi 🙂

IMG_20150815_102708.jpg

Rihat dan suami

IMG_20150815_100450

saya dan jabang bayi

IMG_20150815_100847

Dini dan jabang bayi

IMG_20150815_101135

Kita selpi-selpi 😀