Rouge ร  lรจvres ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹

Perempuan itu terlihat paling cantik saat ia sedang jatuh cinta. Ibarat bunga, mereka mekar merekah, menebar wangi ke seluruh penjuru mata angin. Ia ingin selalu terlihat manis. Mereka yang tidak suka dandan, mendadak gemar memakai lipstik. Bibirnya merah, merona, merekah, basah, dan setengah terbuka. Tsaahh…

Beberapa bulan lalu, Luna gemar sekali berbelanja lipstik saat mampir ke mal. Meski sudah berkeliling ke gerai pakaian, sepatu, tas, dan pernak-pernik, Luna selalu menghabiskan waktu di gerai kosmetik. Memilih, mencoba-coba lipstik segala rupa. Ia poles lipstik itu di bibirnya yang tebal di depan kaca cembung. Bibirnya setengah terbuka saat jarinya gemulai memoleskan pulasan warna itu menutupi bibirnya yang bergaris-garis. Jika warna lipstik sudah terpoles rapi, ia akan memonyongkan bibirnya di depan kaca. Red lips don’t care! Tapi, sebenarnya ia hanya memilih dan membeli lagi aneka gradasi warna merah. Ia pilih warna yang terang dan menyala.

“Lu perasaan dari kemarin belanja lipstik mulu deh?,” ujar Dee, teman karib Luna.

“Iya nih, gue lagi demen koleksi lipstik. Nggak tau kenapa, lagi seneng dandan,” timpal Luna dengan senyum dimanis-manisin.

***

Malam itu, usai makan dan berbelanja bersama teman-temannya, Luna janji akan bertemu dengan Alan di sebuah kedai kopi. Alan memang gemar mengajak Luna untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kalau sudah bertemu, mereka akan menghabiskan waktu sampai subuh. Membahas hal penting sampai remeh-temeh. Makin malam, obrolan makin panas. Makin lama mengobrol, mereka akan saling jujur dan menguliti perasaan masing-masing. Awalnya, ritual itu biasa aja, tak ada makna yang tertinggal. Tapi, jujur pada pribadi masing-masing itu terkadang memang berbahaya. Karena berada di dekat orang yang membuat kita nyaman, tak sadar kita jadi posesif. Entah itu perasaan sayang, cinta, atau sekadar peduli? Ya, Luna sangat peduli pada Alan. Peduli adalah kata yang tepat. Karena rasa-rasanya terlalu megah jika itu harus diartikan sebagai jatuh cinta.

Seperti biasa, Luna gemar memesan bir banci. Malam itu, sepiring penuh keripik jagung Mexico dan bir dingin rasa jeruk kesukaan Luna terhidang di meja. Keringat dingin menetes-netes dari botol bir. Kuah daging cincang kental mengendap di atas tumpukan keripik jagung. Luna mengambil sehelai keripik, lalu mencocolnya dengan sambal daging cincang yang dimasak dengan pedas paprika. Bunyi kriuk..kriuk, berorkestra di mulutnya saat ia mulai menguyah.

Alan dan Luna mengobrol dengan serius, tertawa, saling mencubit. Mata mereka beradu, antusias saat menumpahkan sampah curahan hati masing-masing. Anjrit, anjay, anjas, amsyong, asu! Pekik mereka mengutuk kekonyolan-kekonyolan hidup.

Jika sudah bosan, mereka akan nyinyir dan mengomentari segala sesuatu yang ada di dekat mereka. Lalu kelam malam semakin menua, dan mereka malas pulang. Mereka malas menghadapi kenyataan Jakarta keesokan harinya.

Obrolan malam itu pun menjadi ritual mereka. Luang atau senggang, mereka harus menyisakan sedikit waktu untuk sekedar menyesap bir dan menguyah keripik jagung Mexico. Sesekali, usai gajian, minuman akan naik kelas menjadi wine. Red wine. Tunggu sampai kejujuran-kejujuran meluncur dari mulut mereka. Terlalu banyak omong kosong di dunia ini. Tapi Luna suka mendengar semua keluh kesah dan omong kosong Alan. Luna lebih banyak diam dan mendengarkan. Luna bukanlah tipe orang yang membuka keran curahan hatinya kepada semua orang.

***

Di suatu malam yang lain, Luna berdandan cantik. Baju fuschia, kalung keemasan, dan lipstik merah. Ah, ini terlalu menor. Ia hapus lagi lisptik itu dengan tisu. Lalu ia tebalkan lagi polesannya. Aduh, terlalu merah dan menyala, norak, kaya emak-emak. Begitu terus sampai telepon berdering karena Alan telah menunggunya di sebuah kafe di mal di jantung kota.

Mereka datang ke kafe baru dan tidak hafal dengan menu makanan dan minumannya. Bir banci dingin yang kerap dipesan Luna tidak tersedia. Luna pun mati gaya. Ah, dia memang terlalu pengecut untuk sekadar mengganti menu minuman yang tak biasa. Dia terlalu main aman dengan kegemarannya, comfort food, comfort drink, comfort man. Tipikal seseorang yang terlalu banyak mikir dan tak berani mengambil risiko tinggi.

“Lun, bir kesukaan lo nggak ada nih!,” cetus Alan.

“Yah, adanya apa dong? Nggak asyik nih,” jawab Luna yang sudah duduk di salah satu kursi. Cahaya di kafe itu remang-remang. Luna tampak berkilau.

“Adanya kopi, es teh, nggak ada es cendol atau wedang jahe!,” tukas Alan.

“Sueee lo ya, ya udah pesenin gue bir seadanya. Lagi galau, butuh dosis bir banyak,” cerocos Luna.

“Oke, nggak usah banyak complain, gue pesenin seadanya ya,” desak Alan.

“Sip,” timpal Luna sambil mengacungkan jempol.

Malam itu, mereka menyesap Corona. Bir kesukaan Dominic Toretto di film Fast and Furious. Bir yang lebih pahit daripada es cendol. Luna yang tidak terbiasa dengan bir pahit pun meringis saat menenggak bir itu langsung dari botolnya. Minum bir memang lebih enak beradu mulut dengan bibir botol.

Corona dingin malam itu boleh pahit. Tapi, bersama teman yang membuatnya nyaman, Luna lupa apa itu rasanya pahit. Sesekali hidup jangan membanci. Minumlah bir dan kopi pahit. Jangan terlalu tergantung pada susu, latte, frappe, dan rasa buah yang mengaburkan rasa asli minuman. Luna belajar memilih dan bersikap. Ah, alkohol memang tidak pernah menyelesaikan masalah, apalagi es cendol…

bintang2

Palmerah,

01.00 am

Advertisements