Kata-Kata Bernyawa Tak Pernah Beristirahat!

“Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!”

-Bunga dan Tembok, Wiji Thukul, 1987-1988-

****

Musikalisasi puisi karya penyair pelo asal Solo itu mengalun pilu dan menusuk hingga ke relung hati. Kekuatan kata-kata itu mengalun bersama derap suara sapu Sipon (istri Wiji Thukul) yang bergerak. Lengkingan kata-kata itu mendobrak alam bawah sadar yang selama ini dimanjakan oleh manisnya reformasi dan demokrasi. Selama ini, kita nyaris terlelap lupa bahwa demokrasi direbut dari tangis, darah, dan nyawa yang tak pernah diketahui di mana kuburannya. Namun, seperti namamu Thukul, kata-katamu tak pernah binasa! Kekuatan katamu justru semakin digdaya di saat barisan kacang ijo (tentara) kembali masuk ke pusaran politik, hari ini.

Saya mengagumi Wiji Thukul karena kejeliannya melihat muramnya dunia akar rumput dan marjinalitas. Puisi Thukul jauh dari sedu-sedan percintaan dan kesepian. Puisi Thukul menyuarakan penindasan, ketimpangan sosial, gelandangan, tikus got, hingga buruh pabrik dengan upah murah. Puisi Thukul bernyawa karena dia bisa menangkap dalamnya kepedihan sekaligus kelenturan warga biasa. Tukul menyulap jalan-jalan kota, tikus got, pengemis, gelandangan, dan buruh pabrik menjadi alat perlawanan. Ketika semuanya diam di bawah tirani tentara, puisinya menari-nari mendobrak kesadaran dan empati kita. Itulah kenapa sebelum dia bersembunyi di Pontianak, Kalimantan Barat, ia sukses mengumpulkan sastrawan dan mahasiswa di Sriwedari, Solo. Semangatnya membakar sastra yang tak bisa dibungkam oleh kejamnya penindasan. Thukul membangkitkan jiwa yang haus kemerdekaan dan keadilan.

Istirahatlah kata-kata. Film ini dibuat untuk mengingatkan kita pada tokoh reformasi yang tak pernah masuk dalam pelajaran sejarah. Cerita tentang Thukul hanya kita dapatkan dari ulasan majalah, buku-buku, dan artikel lepas. Sosok Thukul dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan dan aktivis. Namun, saya tidak yakin hipster kekinian tahu siapa sosok Wiji Thukul.

Menyedihkan sekali, saat saya menonton film ini di Taman Ismail Marzuki, Selasa (24/1) malam, beberapa pemuda-pemudi hipster, tertawa geli bahkan saat adegan sedang tidak lucu. Para generasi milenial agen perubahan itu sampai harus diperingatkan oleh penonton lain karena berisik tertawa. Saya dan teman nonton menduga, para hipster ini tertawa karena ekspresi wajah Gunawan Maryanto (pemeran Thukul) yang lucu. Hipster yang terbiasa melihat wajah cantik-tampan dengan kemampuan acting pas-pasan pun minim apresiasi. Saya yakin mereka juga asejarah sehingga tidak bisa menangkap kesunyian, dan kepedihan yang terekam nyata di film ini. Hvft! Kzl!

****

Tapi tenang saja, kalian generasi milenial tidak sendirian. Tahun 2009, saat magang sebagai wartawan di media online Voice of Human Rights (VHR), saya pun belum mengenal baik sosok Thukul. Suatu ketika, pemimpin redaksi VHR mas Raharja Waluya Jati, menanyai saya tentang Thukul. Saya pun hanya garuk-garuk kepala dan sok tahu tanpa memberikan jawaban yang jelas. Setelah mas Jati berlalu, saya langsung tekun browsing di laptop tentang siapa Thukul. Saya merasa kuper dan terbelakang karena 2,5 kuliah di Solo tapi tidak mengenal baik Thukul.

Lalu, tahun 2012 saya membaca habis kisah dan puisi-puisi Thukul. Hingga saat ini, Thukul hilang. Keluarga dan orang tercintanya tak pernah tahu kapan ia meninggal dan di mana kuburannya? Mereka terus melanjutkan hidup dengan mimpi buruk dan pertanyaan yang tak pernah terjawab. Ke mana Wiji Thukul? Dia masih hidup atau sudah mati?

Menonton film ini, saya sangat dimanjakan dengan sinematografi yang ciamik. Pengambilan angel kamera dan pencahayaan menginspirasi kami, penggemar fotografi. Puisi-puisi Thukul yang menggema dalam kesunyian pelarian dan persembunyian menggugah hati. Kemampuan acting para pemerannya termasuk Marissa Anita sebagai istri Wiji Thukul pun tak diragukan. Dia mendadak menjadi perempuan Jawa yang sederhana, agak kikuk, ringkih, tetapi hatinya sangat teguh.

Percakapan terakhir Sipon dan Thukul di rumahnya, setelah Sipon mengamuk karena dituduh lonthe oleh tetangganya terngiang di kepala saya. Saya ikut merasakan kepedihan menjadi istri seorang buron pemerintah. Saat itu, sembari terisak, Sipon mengatakan kepada Thukul yang sedang duduk bergeming di kursinya.

“Mas, aku tidak ingin kamu pergi. Aku juga tidak ingin kamu pulang. Aku hanya ingin kamu ada….”

Saya nyaris menitikkan air mata mendengar kata-kata itu. Di mata saya, ucapan itu menyiratkan makna mendalam, baik perasaan Sipon kali itu, maupun pada situasi sekarang. Jika dikontekskan dengan saat sebelum Thukul hilang, Sipon adalah perempuan berhati teguh yang mencintai suaminya dengan ikhlas. Ia ingin suaminya menjadi orang biasa saja yang tidak dikejar-kejar rezim dan tentara. Namun, ia juga mendoakan supaya perjuangan suaminya tidak berhenti. Dalam kekalutan dan kebingungan pada situasi, kata-kata Sipon mengguratkan kepedihan yang menusuk seperti belati.

Adapun pada situasi hari ini, jelas, Sipon dan kedua anak Thukul, Fitri dan Fajar ingin bapaknya tidak pergi. Mereka ingin pejuang demokrasi itu ada di dekat mereka. Mereka ingin menemukan jejak Thukul yang binasa bersama kata-kata. Hingga saat ini, kasus Thukul masih gelap. Apakah dia diculik dan dibunuh oleh kacang ijo dalam pelariannya? Pemerintah terus bungkam dan bergeming. Mereka membisu, dan kalau bisa berharap ada amnesia massal supaya borok dan dosa lama tak dikorek-korek lagi.

Namun Thukul, di mana pun kamu berada. Engkau tak perlu bersedih dan risau. Hari ini, dan detik ini, kata-katamu tak pernah tidur dan binasa. Mereka telah meniupkan nyawa dalam setiap puisimu. Keberpihakanmu terhadap akar rumput kembali bangkit. Kata-katamu terus menghimpun tuntutan-tuntutan bagi mereka yang miskin, papa, dan dihancurkan.

Wahai Wiji Thukul. Kata-kata jangan pernah beristirahat. Kata-kata harus menyembur-nyembur. Kata-kata jangan membisu. Kata-kata harus terus melawan setiap bentuk penindasan dan ketidakadilan!

wiji-thukul

Photo courtesy: Rappler Indonesia. 

Gelora,

1.07 am

Advertisements

Wregas Bhanutedja dan Karya yang Jujur

Sekian lama kita dicekoki dengan tontonan hiper realitas yang membuat kita semakin menjauh dari akar budaya? Sinetron di televisi adalah pihak yang layak disalahkan atas degradasi kebudayaan itu. Mereka menyuguhkan tontonan yang tidak realistis. Seorang direktur muda, bermobil, berpakaian parlente, dengan paras rupawan yang membuat semua perempuan cantik meleleh. Perempuan-perempuan cantik, modis, yang urusannya hanya sebatas jatuh cinta, selingkuh, dan mengurusi hati. Tak ada yang menceritakan jatuh bangunnya perjuangan mendapat kesuksesan. Semua itu instan. Dan mendorong generasi muda untuk malas berpikir, konsumtif, dan terombang-ambing.

***

Dunia layar lebar tak jauh lebih baik dibandingkan dengan layar sinetron. Lebih banyak film menayangkan hiper realitas pula. Segala yang tampan, cantik, hidup mudah dan urusannya cuma sebatas hati dan cinta tetap jadi komoditas unggulan. Lalu, karena masyarakat kita sebagian masih irasional, tontonan drama horor dengan bumbu seks laris manis di pasaran. Meskipun demikian, ada pula beberapa film bermutu seperti Laskar Pelangi, Perempuan Punya Cerita, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Rectoverso, The Raid, Pendekar Tongkat Emas, untuk menyebut beberapa judul. Namun, tema-tema cerita itu cenderung sama dan seringkali dibuat latah oleh tren. Penonton pun bisa menebak arah tren film ke depan dengan judul-judul yang muncul di bioskop. Usai film Laskar Pelangi misalnya, mendadak muncul film-film bertema motivasi dan pendidikan bertebaran. Sineas seolah gagal menemukan ide segar baru untuk memuaskan penonton.

***

Wregas Bhanutedja (23), namanya baru saya kenal setelah film pendeknya berjudul Prenjak: in The Year of Monkey menang di Festival Film Cannes di Prancis. Tema film yang sangat berani yakni tentang seksualitas, transaksi seksual, dan posisi jender di struktur sosial masyarakat Jawa membuat film ini begitu spesial. Soal seksualitas, negara ini memang masih gagap nggak ketulungan.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160520_majalah_penjak_menang_cannes

Alat kelamin selalu jadi barang glamour yang tabu untuk dipergunjingkan. Padahal, apa susahnya menyebut penis dan vagina. Terkadang, kedua alat kelamin itu memang bisa menjadi barang yang glamour dan menggoda. Tetapi, kadang keduanya hanyalah alat yang lemah dan biasa saja. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Dalam hal ini, masyarakat kita masih terlalu “fragile” untuk mendudukkan perkara kelamin. Urusan kelamin tak pernah dijelaskan secara gamblang hingga muncul berita di halaman utama tentang kekerasan seksual yang marak. Internet dan kemajuan teknologi disalahkan. Entah siapa yang harus bertanggung jawab.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160523_majalah_prenjak

Prenjak movie

Sabtu, 29 Mei 2016 lalu, saya berkesempatan menonton karya-karya Wregas. Dia ternyata sudah membuat banyak film pendek di antaranya Senyawa, Lembusura, The Floating Chopin, Lemantun, dan Prenjak. Semua filmnya berbahasa Jawa. Wregas seolah ingin menunjukkan identitasnya sebagai etnis Jawa dan akar budaya yang kuat dari kampung halamannya di Jogja. Ide dan cerita yang dia buat pun sangat dekat, sederhana, dan sarat makna. Saya menangis waktu menonton film Lemantun. Ini favorit saya. Cerita, alur, penokohan, dan ilustrasi musiknya kawin-mawin sehingga film itu sangat berkesan.

Saya tak akan membahas soal sinematografi karena memang tak menguasai bidang itu. Namun, saya akan bicara soal karakter, cerita, dan ideology yang ingin disampaikan Wregas. Menurut saya, tak banyak generasi muda seusianya yang berani mengambil pilihan itu. Pemuda yang belum genap setengah abad ini mencuri hati kita dengan kesederhanaan dan kejujurannya. Persis seperti Andrea Hirata yang jujur mengisahkan masa kecilnya di sekolah sederhana yang menjadikannya penulis hebat seperti saat ini. Karya yang baik adalah karya yang jujur. Tak perlu ndakik-ndakik untuk menyaingi sineas lain di dunia seperti Stephen Spielberg, Quentin Tarantino, James Cameron maupun Alejandro Iñárritu. Lagipula, apa spesialnya kalau kita cuma bisa mengimitasi budaya mereka? Bukannya negara lain justru ingin melihat kearifan lokal dan keragaman budaya kita? Mungkin selama ini kita sibuk mencontoh, membanding-bandingkan budaya kita dengan budaya lain, sehingga kita lupa pada budaya sendiri.

***

Bagi saya, Wregas layak disandingkan dengan penulis kesayangan Ahmad Tohari. Wregas meramu cerita dan gambar bergerak yang mengingatkan tentang memori masa kecil kita di kampung. Mungkin kedekatan emosional bisa saya rasakan karena saya juga berasal dari etnis Jawa. Sepanjang film diputar, saya tertawa terpingkal-pingkal dan sesekali memekikkan kata “asyu”. Film ini sangat riil.

Penokohan dalam film ini pun sangat natural. Mirip dengan tokoh-tokoh yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tak mengandalkan tampang kinclong untuk menguras emosi kita. Mereka adalah orang-orang di sekitar kita, seperti om, tante, simbah, dan keluarga kita. Ini yang membuat film ini terasa sangat dekat dan membumi.

Ketika menonton film-film drama Jepang dan Korea, kita masih disuguhi sensasi malu, canggung, kikuk khas Asia saat dua orang lawan jenis berpacaran. Hal-hal seperti itu sangat ketimuran dan menunjukkan identitas budaya kita. Namun, alih-alih menjunjung tinggi kebudayan lokal, sinetron dan film box office kita justru kerap mencontek budaya Barat. Itu yang membuat film terasa jauh dan hiper realitas. Dan dalam hal itu, film berkontribusi mengaburkan identitas budaya kita. Kita semakin jauh dengan akar budaya kita dan pelan-pelan melupakannya.

WREGAS BHANUTEDJA

Kepada penonton, Wregas blak-blakan mengaku bahwa film-film yang ia produksi terinspirasi pada sesuatu yang pernah ia alami maupun cerita dari orang-orang terdekat. Ia hanya mau membuat film dari sesuatu hal yang dia pahami. Cerita di film Lemantun misalnya, merupakan kisah nyata dari keluarganya. Di film Prenjak itu merupakan pengalaman temannya sewaktu SD di Alun-Alun Yogyakarta. Di film lain, seperti Floating Chopin, ia mengkritik berbagai aspek seperti gaya hidup anak muda, kebudayaan di Bali, lewat kekonyolan-kekonyolan dialognya bersama Ersya.

“Saya tidak mungkin membuat film science fiction atau perang-perangan misalnya, karena saya belum pernah mengalaminya. Saya hanya membuat sesuatu yang dekat dan saya tahu betul,” ujar Wregas.

Sudah saatnya anak bangsa dengan gagasan cerdas seperti ini diberi ruang. Jangan sampai pasar mendikte kita dengan selera rendah cinta-cintaan melulu. Bangsa kita selalu punya kreativitas dan taste yang tak kalah dengan yang lain. Kita sebagai generasi muda seharusnya belajar dari kejujuran dan kesederhanaan Wregas dan tim. Tak perlu ndakik-ndakik, yang penting jujur, sederhana dan sarat makna. Ada harapan untuk bangsa ini ke depan. Saatnya memanggungkan Indonesia. Karena Indonesia adalah negeri yang hebat!

 

Palmerah, 30 Mei 2016

1.14 am