Mau Jadi Pejuang atau Pecundang?

Akhir-akhir ini saya menjalani hari yang berat dan melelahkan. Setiap malam, mata sulit terlelap meski jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Sebenarnya, saya sedang baik-baik saja, meksi dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Gulana itu muncul karena saya baru saja memutuskan dengan penuh kenekatan untuk mengikat janji dengan seseorang di depan agama dan negara. Aduh, menuliskannya saja sudah membuat bulu roma ini berdiri…

Perjalanan yang saya lalui bersama pasangan sangat lama. Kami berpacaran putus-nyambung selama 11 tahun. Waktu yang sangat cukup hanya untuk mengenal watak, karakter, dan jalan hidup seseorang. Selama berpasangan, karakter hubungan kami cair, santai, dan tidak membelenggu. Kami membebaskan dengan sepenuh hati apa keinginan dan cita-cita pasangan. Kami jarang mengatur ingin A, B, dan C. Kami memiliki rencana bersama, tetapi rencana sendiri juga tetap harus berjalan on the track.

Sudah sangat lama sejak dia memberikan saya cincin dan melamar saya untuk menjadi pendampingnya. Saat itu, saya memilih sendiri cincin yang saya suka. Dengan kantongnya yang pas-pasan, dia memberanikan diri datang dari Jogja untuk mengajak saya ke toko mas di Jakarta. Di toko, saya dibiarkan memilih sendiri cincin mana yang saya suka. Proses membeli cincin pun tentu penuh dengan drama! ha..ha..ha

“Would you marry me?,” ujarnya setelah pulang dari toko mas.

Saya langsung mendorong tubuhnya menjauh, geli. Apa-apaan mau ngajak saya menikah dengan kondisi finansial yang kembang-kempis? Kalau mau mengajak susah tunggu dulu deh. Lebih baik kita selesai dengan diri sendiri, lalu baru berpikir untuk mulai berkompromi dengan oranglain.

“Yes…I don’t careeee….” umpat saya kepadanya.

Dia malah membalas dengan pelukan erat dan mencium pipi saya. Hahaha!

Seiring berjalannya waktu, ego pribadiku justru tidak mengendur tetapi semakin membara. Saya kerap pergi travelling sendiri, tanpa melibatkan persetujuan dia, dan memberitahu pada last minute. Saya tahu dia marah dan kecewa hanya dari melihat raut wajahnya. Namun, dia memang pria dengan dosis sabar dan pengertian yang berlebih. Dia tetap mengizinkan saya pergi dengan syarat saya berjanji untuk keep in touch setelah tiba di lokasi tujuan. Kerap dia marah jika lokasi yang saya datangi tidak ada sinyal. Beberapa teman dia kirimi pesan, lalu ngambek.

Waktu kemudian berlalu, dan kita sama-sama berjuang memperbaiki hidup, mengejar mimpi dan bertahan hidup. Sudah lewat dua tahun sejak cincin putih itu bertengger di jari tengah (*seharusnya jari manis) kiri tangan saya. Kami melanjutkan hidup dan berusaha memastikan semua baik-baik saja. Saya sepenuhnya mendukung dia saat dia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Di sela-sela kesibukan dan capek bekerja, saya juga membantu dia merintis usaha jagung bakar di pinggir jalan.

Saya tahu usaha dan upayanya untuk meyakinkan saya, bahwa dia adalah seorang partner yang baik, tak pernah mengendur. Saya kadang heran, apa yang membuat dia begitu mengasihi perempuan laknat ini. Saya tidak pernah menjanjikan apa-apa. Saya cenderung sibuk dengan isi kepala sendiri. Namun, saya juga tidak pernah benar-benar pergi jauh dari dia tak peduli berapa kali dia mengecewakan ekspektasi saya. Mungkin, itu yang namanya takdir Tuhan. Duilee

Lalu, cerita berawal saat libur Lebaran 2017. Kami pulang berdua, dan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Ingat, kami hidup di iklim Asia (*baca: Indonesia), di mana orangtua masih ikut campur dalam urusan domestik anaknya, meski anaknya sudah sepenuhnya hidup mandiri. Bapak saya, yang saya lihat keriputnya makin lama makin kentara, dengan serius menyidang kami berdua. Dia bertanya, apakah hubungan kami beruda hanya akan begini-begini saja? Saya diam membisu tak bergeming. Semua dijawab oleh dia, dengan gentleman dan bahasa yang tertata.  Di pojokan, saya tertunduk sambil menyeka air mata.

Di dalam hati, saya menggugat, kenapa orangtua tidak pernah bertanya apakah saya bahagia dengan hidup yang sekarang? Kenapa orangtua tidak bertanya apakah saya sudah selesai dengan diri sendiri? Kenapa..kenapa? Pilihan hidup selibat ini akan lebih mudah jika saya dalam keadaan jomblo. 11 tahun berpacaran dan tidak kunjung menikah? Hakim moral dan pengadilan masyarakat itu sungguh pedih dan nyata. Apalagi jika engkau hidup di desa.

Saya tak tahu bagaimana ceritanya, tiba-tiba seluruh pihak memojokkan saya. Mereka terkesan melihat saya sebagai perempuan pongah tak tahu diuntung. Saya perempuan yang tega membiarkan pasangannya menunggu penuh harap tanpa kepastian. Saya kejam dan arogan.

Lalu, tiba-tiba rencana pernikahan itu bergulir. Saya tidak punya ruang leluasa untuk kembali menawar, apakah memang saya sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga? Apakah kapal yang saya tunggangi sudah menemukan dermaga dan waktu yang tepat? Saya tidak diberi banyak kesempatan untuk menjelaskan. Tiba-tiba, rencana pernikahan itu bergulir, di saat saya sedang asyik jalan-jalan menikmati alam indah Sumba.

Keraguan terus melanda. Namun, banyak teman-teman yang sudah menjalani hidup rumah tangga memberikan dukungan dan nasihat. Mereka bilang menikah memang tidak mudah, tetapi, memulai sesuatu dengan niat baik pasti Tuhan akan memudahkan dan memberikan jalan. Halangan dan rintangan sesulit apapun, pasti akan dimudahkan oleh Allah SWT. Saya, dalam posisi sulit menerima hal-hal positif dan optimistis seperti itu. Saya sedang menghamba pada rasionalitas. Penuh perhitungan dan pertimbangan.

Namun, semesta sepertinya memang berkonspirasi untuk menjadikan pernikahan itu nyata. Saya nyaris meledak menangis ketika mendapati seluruh teman dekat mendukung rencana ini. Mereka seolah sudah menanti-nanti kabar bahagia ini. Padahal, di dalam diri saya masih banyak resistensi. Baiklah…

Satu-satunya keyakinan yang saya miliki adalah, laki-lakiku orang yang tidak memaksakan kehendak. Dia bisa diajak berdiskusi dan berkompromi. Ketika saya menyatakan beberapa syarat menikah, terms and condition, sebelum saya menikahinya, dia pun mau diajak bernegosiasi. Saya, justru pihak yang masih kerap mengedepankan ego dan kepentingan individu.

Saya juga melihat perubahan signifikan pasangan terutama dalam hal spiritualitas. Dia berubah menjadi sosok yang lebih “beriman”. Beberapa kali dia menohok pemikiran saya. Dan, dia tampak teguh dalam “iman” barunya ini. Dia mengatakan kalau dia menemukan kedamaian dan perasaan untuk terus menjadi pribadi yang baik. Apakah saya harus meninggalkan orang yang penuh kesadaran untuk menjadi seseorang yang lebih baik ini? Siapapun pasti tak tega.

Dalam beberapa hari lagi, saya akan mengingat janji bersamanya. Tapi, seperti saat blog ini ditulis, saya masih berada di Jakarta dan masih bekerja. Saya mengambil cuti mepet karena menurut saya pernikahan adalah tahapan biasa saja yang harus dilewati seseorang. Saya pun mengetes keluarga dan orang-orang terdekat, apakah mereka hanya mendesak, atau sepenuhnya berada di belakang saya untuk menyokong dan menguatkan saya? Semua persiapan pernikahan dikerjakan oleh keluarga inti. Saya hanya memberikan uang, dan menyiapkan undangan. Bahkan, sampai sekarang saya juga belum fitting kebaya pernikahan. Hahaha!

Untuk calon suami dan calon anakku, kalian mungkin tidak akan mendapatkan sosok perempuan sempurna keibuan yang akan melayani kalian setiap saat. Namun, aku akan terus berproses bersama kalian untuk menjadikan dunia abnormal ini menjadi lebih asyik dan bermakna. Kita pasti dipertemukan Tuhan dalam sebuah alasan. Dan, kita harus sama-sama kuat untuk saling mendukung. Keluarga kita mungkin bukan keluarga sempurna. Tapi kita akan tumbuh dan berkembang bersama dalam iklim kritis, bebas, memegang kendali tanggung jawab, dan kemandirian hakiki yang berbahagia. Aku tidak mau menjajikan apa-apa yang ideal dan dikonstruksikan dalam film-film dan sinetron. Movie is just a movie! Mari kita rayakan dan perjuangkan hidup yang banal ini dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!

Dan, perjuangan itu dimulai dari kesadaran bahwa kita memilih jalan ini, menjaga dan merawat jalan kita, dalam kesetiaan dan kasih yang berlimpah. Kita tak perlu khawatir berlebihan, karena apa yang diambil Tuhan, akan dikembalikan lagi dalam bentuk yang lain. Selama kita mau rendah hati dan bersyukur! Mari bergandengan tangan dan katakan kepada dunia bahwa kita bukan pecundang kehidupan! 🙂

C’est la vie, c’est ne pas facile! 

This is life, this is not easy!

 

Palmerah,

21.19 pm

 

photo_2017-11-20_21-20-17

 

 

 

 

Advertisements

Heartkeeper vs Heartbreaker

Where are you? My crazy boss make me crazy. Can you save me?”

Lampu ponsel Luna menyala seiring dengan pesan masuk dari Keenan. Jarang-jarang Keenan mengajak keluar di malam hari saat hari kerja. Biasanya, jika dia mengirim pesan seperti itu artinya memang K sedang ingin dilipur laranya. Jika tidak, K sedang ingin mengajak L menikmati soju, bir dingin, bersama sekotak penuh pizza atau sayap ayam goreng. L senang menghabiskan malam bersama K karena dia pandai memasak. Terkadang, saat L sedang galau, tiba-tiba K mengundangnya untuk datang ke apartemennya. L hanya diminta duduk diam sembari K meracik bahan dan bumbu-bumbu magic. Dan taraaa.. dalam sekejap, hidangan-hidangan sedap membuat mata L berbinar.

At work as usual. Do you wanna go somewhere tonight?” balas L.

K agak lama membalas pesan itu.

I dunno. Maybe you can cheer me up with some beers,” tulis K.

OK then, where? I can bring some beers,” L.

My place? I’ll cook something,” K.

Deal. About 9-10 pm, after work,” L.

Alright. See you soon,” K.

*****

L cepat-cepat mandi setelah tiba di rumah sepulang kerja. Rasa letih setelah seharian memeras otak ia abaikan untuk bertemu K. Usai mandi bebek secepat kilat, ia semprotkan parfum aroma bunga Moringa. Aroma kalem dan segar bunga miracle tree ini membuat L merasa lebih flawless. Sudah malam, capek, tentu tubuhnya butuh suntikan energi untuk mendengar cerita dari K. Selesai berdandan simpel, L memesan Uber.

On my way to your place” ketik L kepada K.

K tidak membalas.

Seperti biasa, sesampainya di apartemen K, L selalu mampir di minimarket yang ada di lobi. Ia membeli beberapa kaleng bir. K tidak suka nyemil. K lebih suka makan besar seperti pizza, ayam goreng, atau memasak sendiri cemilan-cemilan ajaib. Selesai berbelanja, L langsung memencet lantai 10, kamar 11 B, alamat apartemen K. L memencet bel.

“Hi…, seru L dengan muka sedikit kuyu”

K menyambut L dengan pelukan hangat.

“Taruh saja birnya di kulkas ya, aku sedang masak kue beras Tteokbokki,” ujar K semringah.

“Gegayaan lu, emang lu bisa masak Tteokbokki?,” cerocos Luna.

“All you need is just seat down while I’m cooking, dear” K.

“Whatever!” seloroh L sambil berjalan ke balkon apartemen. Di situ, L memilih menyalakan sebatang rokok. Asap rokok Sampoerna Mild merah, ia hirup dalam-dalam sembari melihat pemandangan sekeliling balkon apartemen. Lampu-lampu rumah dan proyek gedung yang belum jadi mengerlip seperti kunang-kunang. Bermandi gemerlap cahaya kota, malam mendadak manis.

Belajar dari mana lu masak Korea?,” teriak L dari balkon.

“Gue kan suka Soju. Nggak ada salahnya dong belajar masak ala Korea,” K.

Tidak ada guratan sedih dari wajah K. Mukanya hanya sedikit terlihat kelelahan. Mungkin karena tuntutan pekerjaan dari bosnya yang gila dan perfeksionis. Ironis dengan segala sedu-sedan yang dia kirim di Whatsapp, siang ini. L curiga, jangan-jangan malah dia yang akan banyak curhat malam ini.

“Gimana bos gila lu? Demanding banget ya?”

“Ya begitulah. Perfeksionis! Udah malem, malas gue cerita yang berat-berat. Kita makan dan ngebir aja,” ujar K, sambil membolak-balik isi wajan.

****

Taraaaa.. makanan siap! This is it Tteokbokki ala Mr Keenan.”

Sepiring kue beras dengan kuah saus berwarna merah tomat terhidang. Potongan-potongan kecil kue beras beradu dengan topping wijen dan mirip daun kemangi di atasnya. Ada aroma rumput laut, saus pasta pedas khas Korea, dan tepung ikan. Selain potongan-potongan kecil kue beras, K juga membubuhkan potongan-potongan tipis kue ikan. Ini menambah rasa gurih jajanan itu.

“Mana sini gue tes dulu enak nggak nih?” L.

“Hahaha.. jujur, ini enak K,” seloroh L sambil megap-megap kepanasan dan kepedasan.

“Hmmm.. lu tahu nggak sih, kalau di sini mungkin Tteokbokki itu seblak kali ya, dijual abang-abang, hihihi,” seperti biasa K selalu ceria. Always think simple, live for today, and doesn’t make things seriously.

“Tul uga, seblak! Gegayaan Tteokbokki- tteokbokki, hahaha…” kelakar Luna.

“Lu suka? (makanannya),” ucap K sambil menatap lekat mata L.

“Heem, suka nih, enaaak.”

Are you happy now?,” tanya K lagi melembutkan suaranya.

Why do you ask? I’m happy now, indeed,” L mencoba mengacuhkan.

****

K paham benar sifat overthinking, introvert , dan gloomy yang dimiliki L. K ingin selalu menghibur sahabatnya itu. K tidak mau L larut dalam pikiran dan masalahnya sendiri. Saat ada waktu, K menyempatkan diri untuk sekadar bercengkerama, bercanda, dan melupakan dunia. Sesederhana itulah hubungan keduanya.

Meski sebenarnya tidak berniat curhat, K hanya ingin bertemu dengan L. K ingin menyesap sebotol-dua-tiga botol bir atau soju dingin bersama L. Dan, hal itu selalu mungkin bagi L. K menganggap L adalah “my one call away”. Teman yang selalu bisa diajak “kuy” setiap saat.

Situasi pun selalu cepat berubah. Meski K yang meminta dihibur, L ujung-ujungnya yang curhat ke K. Paling banter, K hanya menyetelkan film-film kartun lucu dan konyol untuk ditonton. Bersumpah serapah bersama sambil tertawa ngakak.

I hate being alone. But, making relationship with someone sometimes make me confused” kata L, membuka sesi curhat.

Why you always hate being alone? We born and will die alone. Relationship is just an illusion, something in between,” kata K.

“Gue sedih karena kesepian, nggak ada teman saat kita lelah kerja seharian. Mau berkeluh-kesah sama siapa? Paling mainan HP sampe bego,” L.

“Gue rasa fine-fine aja sendirian. Kita jadi bisa punya banyak waktu untuk diri kita sendiri. Bebas menentukan pilihan dan punya otoritas penuh atas diri sendiri,” K.

“Elo bener, tapi, sendiri itu juga menyiksa kadang-kadang. Lu coba rasain deh,” L.

“Lebih baik gue sendiri, sepi. Daripada gue menyerah pada hegemoni orang yang cuma bisa nyakitin hati lu. Itu karena cowok yang lu suka, enggak suka balik ke elu. Cowok yang lu suka, cuma deketin lu ketimbang dia sendirian. Lu ngisi kekosongan doang,” berondong K.

Fuck you very much!,” L.

K menuang sebotol soju rasa anggur ke dalam mug ungu bermotif bunga. Dia sorongkan mug itu ke hadapan L, lalu menuang lagi untuknya sendiri. Suara mug beradu meninggalkan bunyi gemerinting. Cheers!

C’est la vie. Ne prenez pas la vie trop au sérieux, vous n’en sortirez jamais vivant!

Don´t take life too seriously, you´ll never get out alive,” bisik K kepada L.

balkon apartemen

 

Gambir,

4:11 pm

Monolog tengah malam

Jangan pernah sekali pun berpikir, puisi dan sajakku mengguruimu. Aku menulis bukan untuk menasehati dengan kalimat bijak bestari. Aku menulis untuk membebaskan diri. Kau tahu kan? Saat bertemu, kadang-kadang lidah tercekat gengsi sehingga tak satu pun kalimat mencuat.

Aku menulis untuk mengobati lukaku sendiri. Aku menulis untuk mengenang setiap inchi ingatan yang barangkali akan kupilih untuk dilupakan. Tak peduli kamu, atau siapapun yang membaca. Mereka hanya akan mencecapi kalimat yang muncul dari kerak hati ini. Kalimat bersayap yang ingin membebaskan diri dari belenggunya.

Andai, mencintai itu seringan tetesan air hujan. Jatuh dan menguap tanpa beban. Aku pasti akan melakukannya untukmu, dengan ikhlas. Tapi, mencinta itu ternyata seperti menanam bunga. Kita harus menebar benih, menyiram, dan merawat dengan ulet dan sabar. Ketika aku mungkin pernah sabar merawat benih itu, ternyata bibit cintamu memilih tumbuh liar tanpa diurus. Aku lelah, aku biarkan benihmu tumbuh liar dijemur matahari dan diguyur hujan! Benihmu tak mau dimanja, tak mau disayang-sayang dengan overprotektif. Yasudalah…

Lalu, tiba-tiba, setelah beberapa bulan, benih itu tumbuh subur dan nyaris berbunga. Aku tak sadar karena terlalu sibuk merawat tanaman lain yang lebih mudah dan mau dirawat.

Sejenak, dalam kesibukanku mengurus tanaman lain, kulihat kau mulai kuncup. Ada gradasi kuning menyembul di antara kuncupmu yang hijau segar. Aaah, tak sabar rasanya melihatmu mekar dan merekah dengan indah.

Lalu, tiba-tiba aku dikuasai amarah. Aku tidak sanggup melihat cinta kita merekah. Aku benci kamu yang tidak mau dirawat. Aku benci kamu yang sombong dan tak tahu diri. Aku benci melihatmu tumbuh dengan belaian angin di alam liar. Jalan yang kau yakini, dan kau pilih sendiri. Dan, aku menghargainya.

Aku tak lebih dari seorang perawat bunga yang terkadang merasa “sok tahu” tentang kebaikanmu. Kamu akan sehat kalau disiram air segar pagi dan sore. Kamu akan tumbuh segar jika diberi pupuk organik, bukan pupuk kimia. Ya, aku mungkin tak lebih dari perawat sok tahu!

Malam itu, aku memandangi kuncupmu lama. Aku perkirakan, bunga cinta akan merekah beberapa hari lagi. Aku pandang batang kuat yang ditumbuhi ranting-ranting kuncup berwarna hijau kekuningan. Matahari membentuk tubuhmu menjadi tegap dan kekar. Kau akan jadi bunga cinta yang memikat setiap kumbang yang melintas di halaman rumahku.

Namun, kebencian itu begitu menguasai kepalaku. Aku tidak mau kau mekar merekah cantik tapi lupa dengan perawatmu. Kuambil segelas teh panas Earl Grey yang sedang kuseduh di teras. Aku baru menikmatinya seteguk, sembari memandangmu lekat, dengan menyilangkan kaki di atas kursi.

Lalu, kusiramkan air mendidih itu ke tubuhmu! Kau tak juga berteriak kesakitan, hanya sedikit layu. Lalu aku belum puas, kuambil pisau di dapur, kukoyakkan ranum pucuk-pucuk kuncup bungamu. Rasa marah melenyapkan segala iba menjadi tega. Kau tahu? Aku yang memilih. Aku yang memilih dengan amarah tak pernah melihat benih cinta kita merekah dan berbunga!!!

Bangkai anggrek kuning tergeletak di antara pot dan tanah yang terserak. Benih cinta itu mati dengan kebengisan sayatan pisau dapur di sana-sini. Tak ada darah. Hanya sedikit tangis dari getah batang yang tercabik-cabik emosi perawatnya. Tragis, benih cinta kita, yang kurawat dengan segenap tangan dan kasih sayang, mati sebelum berkembang. Di tanganku sendiri. Jangan pernah meminta maaf. Ini pilihanku sendiri…

*****

*Lalu sayup-sayup terdengar lantunan lagu dari ponselku yang memutar lagu secara acak

*Dan aku menangis dalam hening

“Can’t Let Go”

Well you’re the closest thing I have
To bring up in a conversation
About a love that didn’t last
But I could never call you mine
‘Cause I could never call myself yours
And if we were really meant to be
Well then we just defied destiny
It’s not that our love died
Just never really bloomed
Well I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to
I can’t let go
I can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back
And then we saw our paths diverge
And I guess I felt okay about it
Until you got with another man,
And then I couldn’t understand
Why it bothered me so.
How we didn’t die we just
Never had a chance to grow

 

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past.
Without lifting a finger you’re holding me back.

And it might not make much sense
To you or any of my friends
Though somehow still you affect the things I do
And you can’t lose what you never had
I don’t understand why I feel sad
Every time I see you out with someone new
I can’t let go
No, I can’t let go
No, I can’t let go of you.

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back.

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past.

Gelora,
00.27 am

Musim Berganti, Hati (seharusnya) Tak Lagi

“Musim harus berganti musim agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu, agar air menguap untuk ke­mudian membeku, agar pohon tumbuh untuk kemudian rubuh, agar akar menyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk kemudian gugur, agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu, agar rumput meriap untuk kemudian kering, agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya, agar hari bergeser dari minggu ke sabtu, agar kau mengingat untuk kemudian melupa­kan-Ku, agar kau tahu bahwa Aku melaksanakan kehen­dak-Ku, agar kau sadar bahwa Aku memenuhi janji-Ku.

***
Agar kau senantiasa bertanya kenapa musim harus berganti musim, agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu, agar air menguap untuk kemudian membeku, agar pohon tumbuh untuk kemudian roboh, agar akar me­nyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk ke­mudian gugur, agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu, agar rumput meriap untuk kemudian kering, agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya, agar lahar mengeras menjadi batu, agar kau mengingat untuk kemudian melu­pa­kan-Ku”

-Surah Penghujan, Ayat 1, Sapardi Djoko Damono-

HUJAN DI JENDELA

Senen,

14.54

Berdua Namun Tak Satu Tujuan

Semudah apapun, mengucap kata pisah pada sebuah kisah tak pernah semudah itu, kawan. Ya, sejak awal, Luna tahu bahwa menaruh rasa pada Alan adalah sebuah kebodohan. Kegetiran yang tersaru dengan nikmat sebuah peluk hangat. Meski pelukan pada akhirnya hanya akan berubah wujud menjadi luka.

******

Sebuah pesan dikirim Luna kepada Alan saat ia sedang berjalan-jalan dengan dua sahabat perempuannya Berlian dan Senja. Akhir pekan itu, Luna memilih untuk mencari makan enak di Gandaria City. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Lia (*panggilan Berlian) dan Senja. Terlalu banyak kisah terlewatkan. Karena seperlingkar pertemanan, Luna berharap Alan datang  menyusul ke mall di bilangan Jakarta Selatan itu.

“Di mana lo?,” ketik Luna singkat di pesan Whatsapp.

“Maap, ijin dulu, nggak bisa merapat. Lagi pulang kampung,” balas Alan.

“Ngapain lo pulang kampung? Mau lamaran?! Subhanalove!,” timpal Luna.

“Iya, gue mau dilamar nih,” kata Alan.

Sembari berjalan mencari kedai asyik untuk makan, Luna terus berbalas pesan dengan Alan. Entah gerangan apa yang membuat tiba-tiba percakapan itu bermuara pada Alan merayu Luna. Tiba-tiba saja, seluruh perasaan nyaman yang terpendam lama itu tumpah seperti keran bocor. Luna sebenarnya tidak mau kehilangan momentum. Ya, biarkan saja. Kita bertemu pasti karena alasan, entah kamu akan menjadi berkat, atau hanya akan lewat sebagai pelajaran. “Mari mainkan peran kita, Alan!” desis Luna di dalam hati.

Tak butuh waktu lama bagi kedua karib ini untuk mengubah temen menjadi demen. Mereka sudah berkawan lama. Kejujuran konyol dari mulut Luna pun memantik segalanya. Bara itu hanya butuh sedikit pemantik untuk menyala.

Luna sadar dengan sepenuh hati, mencintai Alan bukanlah perkara mudah. Ia tahu betul bagaimana sejarah percintaan Alan. Namun, Luna hanya ingin memuaskan rasa penasaran perasaannya. Akan lebih mudah ketika kisah itu dimulai lalu disudahi, daripada seumur hidup mati penasaran. Luna pun sadar betul, dengan Alan, ia hanya akan menuliskan surat patah hati. Kisah mereka tidak akan pernah wangi bak cerita negeri dongeng. Dan, cerita mereka juga tidak akan pernah indah bestari seperti untaian kata motivator.

Tak sampai seribu malam, tak sampai seribu pelukan, tak sampai seribu ciuman. Hanya dramatisasi bulan hujan yang mendongkrak romantisme kota. Lalu, Maret mulai memanas, dan skandal persahabatan itu harus segera disudahi. Tak ada lagi kemesraan hujan yang membuat segalanya terasa sejuk dan menggoda. Cerita itu harus segera usai.

“Manusia itu hanya produk sejarah Lan. Kita akan terus hidup dengan kenangan-kenangan yang kita pilih. Entah itu manis atau pahit. Dan ternyata, kamu tidak semanis yang aku pikirkan,” kata Luna dengan getir.

“Lu berharap kita jadi apa Lun? Nggak usah kebanyakan mikir. Gue nggak akan bisa jadi laki-laki bak negeri dongeng sesuai impianmu…,” tegas Alan kesal.

“Iya memang. Kesalahan tidak pernah ada di kamu, Lan. Aku terjebak dengan ekspektasiku sendiri. Kamu terlalu pongah dan bangga dengan kemampuanmu mematahkan hati perempuan,” kata Luna.

*****

Luna, jangan pernah lagi menengok ke belakang. Jika benar manusia itu produk sejarah, kamu telah memilih ketulusan dan kebaikan untuk dikenang Alan, jika dia masih punya hati. Alan juga telah memilih jalannya sendiri, menjadi laki-laki pongah, yang memilih selalu berbahagia dengan seribu pesona yang tidak akan pernah memuaskan dahaganya. Terkadang, orang memang hanya datang untuk memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang paling kamu inginkan, adalah sesuatu yang lebih baik jika kamu tidak bersamanya.

“Kata falsafah orang Jawa, garwa itu sigaraning nyawa. Apa jadinya jika jiwa itu kita belah-belah menjadi tujuh seperti rambut saat berjalan di Sirotol Mustaqim, Lan?,” ujar Luna dengan sisa keteguhan dan keberanian.

“Lu tidak usah menghakimi gue. Kalau lu nggak siap mendengar kenyataan hidup gue yang seperti ini ya sudah, nggak usah berisik,” timpal Alan.

“Lu memang nggak akan pernah tahu artinya empati dan tanggung jawab, Lan. Lu pikir lu bisa bertualang sesuka hati lu seperti itu? Menjaga komitmen entah itu untuk kekayaan, atau romansa itu menunjukkan seberapa kuat lu menjaga janji. Bagaimana lu mengatur diri lu sendiri. Dan yang paling penting, bagaimana lu menghargai diri lu sendiri sebagai manusia! Lu bukan binatang yang berpikir!!!,” bentak Luna.

“Lu ngomong aja sama diri lu sendiri Lun! Nggak usah ceramahin gue!,” jawab Alan dengan mimik muka emosi dan kesal.

“Ok. Nggak papa, Lan. Lu memang nggak akan pernah ngerti, nggak akan,” timpal Luna.

Dua kaleng bir dingin rasa lemon kesukaan Luna tergeletak di lantai. Meski dia sangat menggandrungi bir dingin itu, mendadak ia kehilangan selera. Segera ia bergegas, pergi dan meninggalkan Alan dengan segala pongahnya.

“Mungkin gue memang bukan siapa-siapa buat lu, Lan. Tapi, suatu ketika lu harus memperlakukan oranglain dengan lebih baik,” cerocos Luna sembari menyambar tas dan pergi meninggalkan Alan dalam diam.

Melepaskan memang tidak pernah mudah. Namun, melepaskan dengan separuh penasaran yang sudah terbayar, sedikit menyusutkan lara. Barangkali, sekarang dan seterusnya, Alan dan Luna akan selamanya berpuasa meminum bir, sembari caling mencibir. Yang kelar, tak perlu dikejar. Mungkin, Luna hanya sudah sampai di tujuan yang ia cari 🙂

 

Gelora,

1.22 am

Para Pencinta kebebasan

Menjadi lajang hingga usia akhir 20-an. Kita bebas menafsirkan apakah ini sebuah bentuk kesepian atau kebebasan. Ya, kesepian karena setiap malam yang letih, sepulang kerja, kita hanya berteman suara televisi yang berisik dan secangkir teh panas Chamomile di tangan. Dunia terasa hampa, sunyi, tanpa ada manusia di sebelah yang bisa diajak bercengkerama atau tertawa hingga perut kram, lalu pulas terlelap.

Paling banter, kita akan membuka-buka sosial media di ponsel sampai mata sepet dan terlelap. Atau, saat gairah membaca sedang membuncah, kita akan tekun membaca buku. Membaca dan menuntaskan sebuah buku yang berakhir pada tanda tanya. Memikirkan hal yang seharusnya tak perlu kita pikirkan. Alhasil, meski malam sudah menua, dan jam menunjukkan pukul tiga dini hari, mata masih terus terjaga.

Ya itulah, hari-hari kesepian para lajang.

Namun, dalam dimensi lain, menjadi lajang adalah sebuah kebebasan yang hakiki. Kita belum direpotkan oleh berisik manusia di sebelah yang tidak puas dengan ini-itu. Kita tidak perlu berkompromi apakah sebaiknya lampu dinyalakan atau dimatikan saat tidur? Apakah kamu lebih suka AC menyala, atau AC mati? Apakah harus berbagi selimut? Apakah harus malu saat ingin kentut dengan sangat keras? Hahaha…

Ya, menjadi lajang terkadang membuat kita terbuai dengan nikmatnya kebebasan. Lalu tiba-tiba kita lupa bahwa merajut dan mempertahankan sebuah hubungan adalah syarat untuk dicap sebagai manusia normal di masyarakat. Ya, masyarakat akan menganggapmu sebagai manusia seutuhnya ketika sudah berkeluarga dengan lawan jenis.

Aku sendiri sudah memiliki partner yang membuat nyaman. Dia tidak mengekang, justru sangat membebaskan. Dunia kita berbeda dan kita hanya perlu sedikit menyesuaikan diri. Hubungan yang sudah lama yaitu lebih dari 10 tahun, membuat kita sudah mengetahui baik-buruk masing-masing. Aku yang selalu menghabiskan waktu sangat lama saat mandi. Dia yang pandai membuat kopi. Aku yang pemalas. Dia yang penyabar. Apa lagi yang kalian cari?

Belakangan, lewat seorang teman, aku baru tersadar. Mencintai kebebasan tidaklah sama dengan berbuat sesuka hati. Mencintai adalah berkompromi dan menundukkan ego hingga serendah mungkin. Tapi, jika kamu pura-pura mencintai, mungkin cintamu masih dalam tahapan mengekang. Mengekang dia untuk tidak bertemu orang-orang yang kamu benci, mengekang dia untuk mengerjakan hobinya, mengekang dia untuk mengambil waktu sendiri dan berkontemplasi, mengekang dia untuk selanjutnya membuat dia merasa terpenjara dalam keabsolutan dan kefasisan cintamu. Norak!

Setiap orang tentu saja akan mencintai kebebasan. Sesekali, kemelekatan atau posesivitas dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa kita peduli dan melindungi orang yang kita cinta dari bahaya. Namun, tentu saja kadarnya perlu diperhatikan. Komunikasi adalah satu kunci untuk mencapai semua itu. Jangan gengsi bertanya, apakah pasangan nyaman dengan perkataan kita, dengan sikap kita, dengan keputusan kita? Ya, berkomitmen adalah usaha keras dan belajar setiap hari. Perlu trial and error setiap hari untuk mencapai komposisi yang pas. Kalaupun kita terjerembab pada jurang kekecewaan, itu pasti karena ekspektasi terlalu tinggi. Nothing’s hurt, but our expectation.

Menurut hemat saya, mencintai kebebasan berarti membiarkan diri dan orang lain yang dicintai dengan bebas. Ini tidak sama dengan antikomitmen atau pun selingkuh sesuka hati ketika ekspektasi tak terpenuhi. Itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Mencintai itu bukan jalan pintas. Mencintai adalah kerja keras dan pembelajaran setiap hari untuk berkompromi dan menundukkan ego. Jika ego masih besar, jangan dulu bercita-cita sukses berkomitmen. Karena berkomitmen itu sulit, maka tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang dengan kesabaran dan ketekunan lah yang bisa berkomitmen sepenuh hati.

Ketika kemelekatan kita pada sesuatu atau seseorang terasa begitu membebani, membebaskan membuat cinta terasa lebih ringan, tulus, dan mengalir seperti air. Kita cukup cinta saja, tidak perlu jatuh karena itu sakit. Mencinta adalah membebaskan orang yang kita cinta, supaya dia mencintai kita dengan penuh kesadaran, rasionalitas, ikhlas, tulus, dan tanpa beban. Ya, aku mencintamu dengan segala rasionalitas otakku! 🙂

 

 

Writing to remember

story-is-the-most-powerful-thing-to-send-message

–Photo courtesy: Budiman Hakim’s fb–

Maybe he is right. Story is the most powerful tool to send messages. But, I keep writing stories to remember how we spent nights and days together. How we shared, laugh, and count on each other. Someday, we’ll get older and forget everything. But stories still remain. It’s the way I remember you. The way I heal. The way I feel time. It maybe means nothing to you. But at least, u’r presence, u’r smile, u’r happiness keep me writing…

Hello, it’s me.

Nyanyi Sunyi di Ujung Hati

Sometimes, thing’s better left unsaid. Falsafah Jawa tulen yang penuh pertimbangan, penuh kehati-hatian, seperti sifat jurnalisme kepiting. Mundur teratur saat sudah terjepit.

Dia, perempuan yang memilih mencintaimu dari cara yang paling sunyi. Bernyanyi dalam kedalaman sajak dan puisi. Mungkin benar, beruntunglah mereka yang dicintai seorang penulis. Karena tak peduli apakah jalan ceritanya berakhir suka maupun duka, nama dan kisahmu akan abadi dalam karyanya. Platonik. Khas kamu.

Jika jatuh cinta itu merupakan keputusan politik, kau tak akan membiarkan perasaan itu menghegemoni. Kau adalah pecatur waras yang masih bisa mengendalikan bidak-bidak langkah dalam pertarungan asmaramu. Kau adalah pelaut ulung yang tak membiarkan kapalmu tambat di dermaga yang salah. Salah tempat perahumu akan rusak dan tak bisa berlayar ke tengah samudra lagi. Salah waktu kau akan merusak terumbu karang dan organisme yang hidup di sekitar dermaga.

Kemudian nyeri itu semakin terasa saat kau mengingat isyarat-isyarat yang saling kalian kirimkan. Kalian memang aktor paling ulung, berkelindan dalam kecamuk hasrat. Kau muda, tapi hatimu bijaksana. Sudahlah, jatuh cinta itu sebenarnya sangat sederhana. Yang megah hanyalah tafsir-tafsirnya.

Tapi, kau suka jatuh cinta. Meski berkali-kali patah hati. Kau jatuh cinta lagi dan lagi, seolah tak pernah tersakiti. Kau halau semua nyeri yang terasa. Kau terus berjalan dengan tawa yang nyaring. Jatuh cinta dan patah hati sama-sama meniupkan energi. Energi untuk menulis dan menulis lagi. Menumpahkan segala nyeri. Melangkahkan kaki ke mana nyeri itu mencari. Dia mencintaimu dengan jalan ninjanya yang paling sunyi. Hanya dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang telah membuatnya tiada…

*****

“kita berdua hanya berpegang tangan
tak perlu berpelukan
kita berdua hanya saling bercerita tak perlu memuji

kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
kita berdua tak hanya menjalani cinta tapi menghidupi

ketika rindu mengebu-gebu kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja

kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
ketika rindu mengebu2 kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja

saat cemburu kan membelenggu cepat berlalu jatuh cinta itu biasa saja
jatuh cinta itu biasa saja

jika jatuh cinta itu buta
berdua kita akan tersesat
saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap”

(Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta Itu Biasa Saja)

Kumainkan lagu ini. Kuhabiskan malam ini. Hingga melankoli tak akan tumbuh lagi di dasar-dasar hati yang telah lama mati.

Gelora,

26 November 2016

02.10 am

What if?

Hari ini, tidak terjadi apa-apa, biasa saja. Aku liputan di tempat baru, bertemu teman-teman baru. Mengejek dan tertawa bersama. Alangkah serunya!

Aku makan pecel di Taman Situlembang. Bersama seorang karib dan beberapa wartawan lain. Ada pare di dalam campuran sayuran, tapi tidak pahit, aku suka. Aku mengunyah makanan berserat itu sambil menikmati sepoi angin taman. Angin menerbangkan angan ke padamu, kerinduan yang telah berkarat. Lalu aku menatap air mancur, geli. Dan aku berteriak kepada teman-teman yang sedang mengetik berita: “hei, lihat air mancurnya menyala!” Dan mereka hanya mengiyakan tanpa perhatian. Aku seperti orang konyol.

Tapi lebih konyol lagi situasi Jakarta saat ini. Di saat kafe-kafe dan gerai di mal mahal masih ramai, negara heboh seolah mau perang. Sedih. Tentara berpolitik lagi. Siapa yang mengundang? Tak bisakah sipil memerintah dengan tenang meski sense of threat and securitynya lemah?

Dan bukan hanya aku yang konyol. Semua orang konyol. Di warung-warung kopi dan indomie, orang berbisik-bisik seolah paling tau situasi terkini. Mereka gamang. Orang demo lagi di negara demokrasi.

Dan es jeruk di Monas Timur asam dan sangat mahal. Rp 8.000 per gelas. Mungkin sewa lapak di dekat Istana lebih mahal. Kambing. Kubayar juga, demi roda ekonomi kerakyatan. Besok-besok aku akan bawa bekal air putih lebih banyak untuk berhemat.

Lalu teman-teman mengeluh, mau makan hanya ada menu Indomie. Jika tak menelan mi lilin campur micin itu, mereka harus bayar mahal lagi untuk makan di Hokben, McD atau, KFC. Kan kambing. Fiuuhhh… Metropolutan. Money speaks louder than everything.

****

Aku berusaha menyelesaikan tulisan di kantor dengan cepat. Mengambil makanan gratisan dari seseorang yang sedang berulangtahun. Nasi, capcay, dan empat tusuk sate. Kenyang.

Pulang dan mandi. Nyetel Spotify lagu All I Ask dan Everglow. Aku bengong sendiri seperti orang bodoh. Speechless dengan lirik lagunya. Tiba-tiba nangis. Nggak jelas. Nggak paham juga apa yang kutangisi selain kepengecutanku sendiri.

Bagaimana jika siklus hidup ini hanya akan berputar dan tak berarti apa-apa? Karena ternyata dunia terlalu padat dan berisik? Masih tidak ada apa-apa. Dan aku baik-baik saja. Apakah kita benar-benar sendirian? Seharusnya kita saling menemani…

Palmerah,

22 November

00.48 am

Menunggu Kado Terindah

“Lihatlah, setiap orang memasang halte di tempat persinggahan. Menunggu dan menanti tak henti-henti. Mengangankan masih ada bus yang bakal datang membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali. Salam bagimu, peziarah muda. Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. Ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari,” -Perjalanan Pulang, Joko Pinurbo, 1991-

Kita adalah peziarah muda. Datang untuk mencari, belajar untuk menetap, dan terus melakukan pencarian primordial bernama kebahagiaan. Ya, ada sebuah kebun di dunia ini, di mana sebuah kado terbaik disembunyikan untuk kita, peziarah muda. Kita semua para peziarah muda akan lebih dulu tersesat, terantuk, terseok-seok saat berpetualang di dalam kebun yang indah. Jiwa muda kita tentu akan menggerakkan kaki ini, tanpa lelah bertualang ke dalam dan lebih dalam lagi. Karena pada dasarnya, ada banyak ilusi jebakan di dalam kebun itu. Hanya peziarah muda yang sabar dan tekun niscaya menemukan kado terindah itu.

***

Mula-mula, kita akan dibuat kagum oleh kado-kado yang tak sengaja ditemukan di tengah perjalanan kita mencari doorprize “tersembunyi” itu. Kita mungkin bertemu dengan si jempol. Jempol menuntun kita untuk mencari sesuatu hal yang “penting”. Jempol bisa menggandakan diri, seperti uang yang digandakan Kanjeng Dimas, dengan sangat cepat. Hahaha. Jempol memberikan kekuatan untuk membuat semua orang merasa seperti merekalah pusat perhatian di seluruh dunia. Tapi, begitu kita mendekat dan hampir sampai pada si jempol, jempol menghilang dengan cepat. Jempol mengalihkan perhatian ke mana-mana tanpa fokus yang jelas.

Kita kecewa, terluka, tapi berusaha bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Lalu masuk ke bagian dalam kebun, kita akan menemukan si senyum. Senyum menyuntikkan semangat positif dalam hidup. Peziarah muda dengan mudahnya terkecoh dan memercayai kalau seluruh dunia menyukainya. Bagaimana pun, saat peziarah muda mendekat, dia melihat wajah asli si senyum. Si senyum ternyata tidak sebersahabat wajah yang coba ia tunjukkan di depan umum. Di balik senyumnya yang hangat dan merekah, senyum menyembunyikan wajah tak bersahabatnya. Senyum tak lebih dari topeng yang dibuat untuk menyembunyikan perasaan aslinya. Perasaan asli yang sebenarnya kopong, tak berarti apa-apa. Nothing.

Kita kecewa, tersakiti, tetapi bangkit dan mengobati sakit itu pelan-pelan.

Peziarah muda kembali masuk ke dalam kebun. Dan, lagi-lagi ia menemukan sesuatu yang lebih menggoda. Apa itu? Cinta. Banyak benda mendekat dan berubah bentuk menjadi hati representasi cinta. Hati memberikan perasaan hangat, damai, dan merasa dicintai. Ini membuat peziarah muda merasa seluruh dunia berada di pihaknya. Namun, saat kita berusaha menjaga dan mempertahankan hati? Hati patah dan hancur berkeping-keping. Hati tak lebih dari hujan di musim kemarau. Mudah diberikan, mudah pula dilupakan.

Kita kecewa, masygul, tapi tidak putus asa. Kita dorong kaki-kaki muda penuh energi itu untuk menerobos ke dalam kebun. Barangkali, jika beruntung, kita menemukan sesuatu hal yang tidak biasa, yang mungkin sering dilewatkan oleh peziarah lain.

***

Dia adalah si penyumbat. Penyumbat terlihat seperti tidak berharga sama sekali, karena dia hanya diam dan tidak menawarkan apapun kepada peziarah. Peziarah muda yang penasaran mencoba menarik si penyumbat. Saat menarik penyumbat dengan kuat, tiba-tiba, dia terputus dari kebun yang telah memberikan banyak pengalaman hidup. Untuk sementara waktu, segalanya terasa suram dan membosankan. Bagai hidup segan mati pun tak mau karena peziarah muda terputus dari segala aktivitas yang membuatnya “hidup”.

Lalu perlahan-lahan, dia menyadari sesuatu. Wajah teman, wajah anak-anak, wajah keluarga, dan binatang peliharaan kesayangan. Orang-orang yang menungguinya pulang saat dia terlalu sibuk mengumpulkan jempol, senyum, dan cinta. Saat kamu menyadari sudah terlalu lama dan terlalu jauh tersesat dalam kebun pengalaman. Cobalah sesekali, pergi dan tinggalkan kebun itu. Lalu, bersiaplah untuk memberi dan menerima hadiah terbaik dan sangat berharga dalam hidup ini. Perhatian tulus, penuh, dan tidak rapuh.

Sumber: diterjemahkan dari postingan akun Steller penulis favorit nomor satu di dunia, Dewi Lestari.

Salam hormat dari Dian Dewi Purnamasari.

Palmerah,

21 November 2016

22.16 pm