Takluk pada Pesona Sumba

Awan putih tergambar kontras di antara latar belakang langit biru bersih. Awan itu bergumpal-gumpal, dan berarak pelan. Membuatku sesekali menerka bentuk binatang apa yang sedang dilukis langit.

Karpet rumput berupa padang savana berwarna cokelat meliuk-liuk di antara perbukitan gersang. Awan-awan putih bersih sedari tadi berjingkat-jingkat di atas punggung bukit. Bayangan awan membuat punggung savana sebagian gelap, sebagian terang. Gradasi warna cokelat, biru, dan putih bentang alam di depan mata membuat napas sejenak berhenti. Sumba, begitu saja sudah sangat memesona. Dan mataku memandanginya lekat.

Saya bersama travelmates Dyah, Lya, dan Desy memilih mengambil jeda untuk beribadah alam di bulan Agustus. Agustus masih kemarau. Bukit-bukit savana yang semula hijau menguning bahkan menyokelat. Sumba mendidih di siang hari. Namun, udara bersih di pulau ini membuat kami nyaman saja. Apalagi, angin cenderung berhembus kencang sehingga cuaca terasa tidak terlalu terik.

photo_2017-09-28_00-57-34

Sepanjang perjalanan menuju destinasi yang telah kami tentukan, kami hanya bisa berdecak kagum. Tidak salah memilih tanah para arwah ini untuk dikunjungi. Bentang alamnya sangat menggoda. Apalagi, bagi kami pencinta foto alam landscape. Hell-O! Eyegasm overload, hahaha…

photo_2017-09-28_00-58-20

Ini merupakan perjalanan perdana saya bersama geng ngetrip cinta. Ya, tiga sahabat itu sudah beberapa kali ngetrip bareng. Bahkan, mereka juga punya kelompok arisan ngetrip. Saya anak baru nih, yang kebetulan diajakin teman-teman les renang saya itu untuk ikutan ngetrip.

Sebelum berangkat ke Sumba, kami beberapa kali bertemu untuk membahas transportasi, penginapan, budget, hingga itinerary saat berada di Sumba. Tiket berangkat sudah dikantongi berbekal promo dari Garuda Travel Fair. Persiapan-persiapan lain masih perlu dimatangkan. Jujur, saya banyak pasif di grup WA maupun pertemuan rutin pra-keberangkatan. Apalagi kalau bukan karena pekerjaan yang mendera? Hehehe. Walhasil, saya sebenarnya lebih banyak terima beres dari hasil riset kawan-kawan lain. Saya makmum saja, hihihi. Kontribusi terbesar saya adalah membelikan tiket pulang dari Bali ke Jakarta. Selebihnya, saya lebih banyak meng-acc keputusan teman-teman. Paling banter memberikan sedikit saran kepada mereka.

Singkat cerita, kami berangkat medio Agustus. Di perjalanan menuju bandara, saya masih mengetik berita untuk dikirim ke email editor. Saya cuma tidur dua jam karena harus packing mendadak sembari mengebut semua deadline pekerjaan. Sudah biasa, bosque…

Kami mendarat di Sumba Barat. Bang Joni, sopir rental mobil yang kami sewa menjemput kami di bandara Tambolaka. Bang Joni ramah, sabar, dan tahu bagaimana menyervis wisatawan. Tanpa diminta, dia selalu menawarkan diri untuk memotret kami berempat. Hihihi.

Dari bandara, kami menuju kampung adat Rotenggaro. Kampung adat ini berada di tepi pantai Pero, Sumba Barat. Rumah adat dengan atap tinggi terlihat dari kejauhan. Kami berjalan pelan-pelan mendekati warga dan rumah adat. Ada banyak tahi kambing dan babi di rerumputan yang kami injak. Tatapan dan senyum warga lokal menyambut kedatangan kami.

Di tujuan pertama ini, kami agak kaget dengan sikap warga setempat yang sedikit intimidatif. Padahal, kebudayaan dan rumah adat mereka sangat menggugah rasa ingin tahu kami. Tidak ada yang menjelaskan mengapa desain atap rumah mereka memanjang menantang langit. Mengapa mereka meletakkan kubur batu di depan rumah? Anak-anak kecil, dan pria dewasa penjual kalung dan gelang justru membuntuti ke mana arah kaki kami melangkah. Membuat kami jengah.

“Ibu, minta uang ibu untuk beli permon to?,” ucap mereka sambil menarik-narik ransel saya.

“Permon, apa itu permon?,” tanya saya sembari tersenyum.

Permon ternyata adalah sebutan mereka untuk permen atau gulali.

Teman saya Lya dan Desy yang memang sudah bersiap membawa kertas lipat dan origami langsung sigap membuka isi tas mereka. Anak-anak mengerubungi mereka. Dengan sabar, Desy membagikan kertas dan memberikan instruksi kepada anak-anak. Ia mengajari anak-anak melipat kertas warna-warni menjadi kupu-kupu, burung, dan mainan lainnya. Saya yang selalu membawa kamera, memilih mengeksplor dan membidik lensa ke setiap sudut tempat. Sesekali, keriangan Desy dan Lya saat mengajari anak-anak pun saya abadikan.

Di rumah adat Rotenggaro ini, kami bisa melihat dari dekat rumah asli orang Sumba. Rumah panggung yang terbuat dari struktur bambu berwarna kuning gading dan atap dari alang-alang. Bagian bawah digunakan untuk kandang babi. Di atas, ada dapur, ruang tidur dan ruang tamu. Sayang, kami tak sempat masuk ke dalam rumah. Warga lokal juga menjual kain tenun Sumba. Kain tenun Sumba Barat lebih sederhana motifnya dibandingkan kain tenun Sumba Timur. Namun, cara warga menawarkan sedikit mengintimidasi sehingga kami agak ketakutan menawar. Kain yang dijual pun agak kotor terkena bercak-bercak daun sirih yang mereka kunyah. Kami memutuskan pergi tanpa membeli suvenir apapun meski sudah berkali-kali dipaksa. Sumba Barat memesona tetapi belum siap pada gelombang wisatawan. Mereka belum terlatih bagaimana memperlakukan wisatawan dengan ramah.

Kami lalu bergeser ke Pantai Pero untuk melihat senja. Senja di Sumba menakjubkan. Baru hari pertama saja kami sudah dibuat berdecak kagum pada suguhan guratan jingga matahari terbenam. Puas melihat senja, kami menuju penginapan di Rumah Budaya Sumba. Penginapan bersih dan nyaman ini milik Pater Robert.

Selama di Sumba Barat, kami selalu makan malam di restoran Gula Garam. Restoran ini terbaik seantero kota. Pemiliknya adalah bule Prancis yang beristrikan perempuan Jawa. Menu masakan di restoran ini lengkap banget. Mulai dari masakan Barat, Chinese, hingga rawon maupun soto. Oya, pizza di Gula Garam layak dicoba. Pizzanya tipis dengan toping sayuran maupun daging. Karena teman-teman kami vegetarian, kami pun lebih sering memesan menu seafood dan toping sayuran. Restoran ini juga menyediakan bir, es krim, serta minuman-minuman hangat.

photo_2017-09-28_01-10-37

Secara umum, perjalanan kami ke Sumba lebih fancy dan bergaya koper. Duile. Saya hanya mengikuti suara terbanyak dari kawan-kawan saya, karena saat persiapan saya kan lebih banyak pasif, hahaha!

Kami tinggal di Sumba selama lima hari. Kami menjelajah Sumba Barat, Sumba Barat Daya (Tarimbang), lalu berpindah ke Sumba Timur. Di Pantai Tarimbang, kami menginap di Marthen Guest House. Satu-satunya penginapan oke di tempat itu. Tidak ada sinyal internet sama sekali di tempat ini. Saat malam, lampu benar-benar padam karena sumber listrik hanya berasal dari genset. Tak mengapa karena kami tidur di bawah hamparan gemintang di atas langit. Lebih baik kami menjauh dari ponsel daripada fokus masih ke sosial media dan ponsel.

Selain ke rumah adat Rotenggaro, Pantai Pero, di Sumba Barat kami juga mengunjungi Danau Weekuri, Pantai Mandorak, Tanjung Maladong dan Pantai Bwanna. Keesokan harinya, kami sudah harus bergerak ke Sumba Barat Daya dan Sumba Timur. Di perjalanan menuju Pantai Tarimbang, kami datang ke kampung adat Praijing, lalu ke air terjun Lapopu.

***

Yang membuat kami miris adalah keelokan alam Sumba sangat ironis jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat di sana. Masyarakat di Sumba Barat terutama masih sangat miskin. Rumah-rumah mereka berada di tepi jalan dengan bangunan yang sangat sederhana. Bentuknya mirip dengan rumah honai papua. Namun, rumah panggung itu terbuat dari bambu beralaskan alang-alang. Saat kami melintas terlihat orang-orang sedang duduk di panggung yang ada di bagian luar rumah. Mereka mengobrol sembari menguyah sirih dan pinang. Anak-anak yang bertelanjang kaki dan dada bebas berlarian di lantai tanah di depan rumah.

Sebelum berangkat ke Sumba, teman saya Callista sempat berkata beberapa turis asing trauma pergi ke sana karena banyak diikuti anak-anak. Anak-anak meminta uang untuk membeli permen, pena, buku, dan keperluan sekolah lainnya. Mereka akan mengikuti ke manapun kami melangkah. Dengan wajah memelas, mereka mulai akan merajuk meminta uang untuk membeli keperluan mereka.

Saya dan travelmates pun sepakat tidak akan memberikan mereka uang untuk mendidik mental mereka. Alih-alih memberikan uang, kami memberikan permainan kepada mereka serta buku cerita. Mereka antusias mengikuti kelas origami singkat dan dibacakan buku dongeng. Setelah itu, mereka tetap tak lupa meminta uang lagi. Hadehhh.. wkwkwk :p

Iman saya lemah saat bertemu lima orang bocah di Pantai Mandorak. Pantai itu sepi, hanya ada kami berempat. Anak-anak mengikuti kami tapi tidak terlalu mengintil. Mereka duduk di kapal yang ada di pantai. Saya terus berlalu lalang mengambil foto dan video. Setelah selesai, kami bergeser ke balai-balai untuk makan siang. Botol sunblock yang kami bawa tertinggal di kapal. Anak-anak itu pun berteriak “Bu, ini ada yang ketinggalan!,” seru mereka.

Melihat wajah mereka yang tulus dan semringah, saya langsung tersentuh. Saya akhirnya memberi mereka uang untuk dibagi bersama-sama. Saya sudah berpesan supaya mereka jangan bilang kepada siapapun. Namun, pesan hanya tinggal pesan. Anak-anak lain semakin banyak yang datang dan merengek. “Bu, minta uang bu untuk beli pena dan buku di sekolah to?,”.

photo_2017-09-28_01-32-39

photo_2017-09-28_01-32-47

photo_2017-09-28_01-32-42

Semoga kelak, saat kembali lagi ke Sumba, pulau ini sudah berbenah. Warga bisa diberdayakan untuk berjualan makanan di tempat wisata, menjual suvenir, menjadi tourist guide, dsb. Menurut penuturan bang Joni, pariwisata Sumba terus berkembang dari tahun ke tahun. Apalagi, ada Nihiwatu, resort kelas atas yang sangat terkenal setelah dinobatkan sebagai the best resort oleh salah satu majalah perjalanan. My trip, your rejeki! Semoga orang Sumba yang ramah dan baik hatinya siap dengan gelombang wisatawan yang datang dan pergi ke kota itu. Jangan sampai NTT menjadi singkatan dari Nanti Tuhan Tolong yaa..

Humba Ailulu, kami rindu alam Sumba… uwuwu…

photo_2017-09-28_01-32-25

Kebon Jeruk,

01.50

Advertisements

Perjalanan, Kebebasan, dan Kemerdekaan

Pagi yang cerah di Sanur, Bali, akhir Agustus lalu. Saya dan tiga orang teman seperjalanan berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer dari penginapan untuk mencari sarapan di Warung Mak Beng. Warung Mak Beng ada di pinggir pantai Sanur. Lokasinya dekat dengan loket-loket yang menjual tiket penyeberangan ke Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan.

Lama tidak berkunjung ke Pulau Dewata, kami berempat sepakat bahwa Sanur lebih asyik daripada Kuta. Penginapan yang kami pilih secara acak, karena budget sudah menipis sepulang dari Sumba pun ternyata menyuguhkan kejutan. Pertama, di belakang penginapan ternyata ada pasar malam (night market) dengan menu kuliner beragam dan murah. Ada nasi goreng, bakmi goreng, capcay, bakso, mi ayam, siomay, nasi padang, gorengan, dll. Yang paling asyik adalah, pasar di Bali bebas menjual menu bir dengan harga murah. Untuk bir botol kecil yang biasa dijual Rp 40.000 di kafe-kafe di Jakarta, di Bali cukup Rp 25.000 saja. Bagaimana tak bahagia? Hihihi.

Selain menu kuliner yang beragam pasar ini juga menyediakan banyak suvenir khas Bali misalnya baju pantai, daster, pernak-pernik seperti dream catcher, gelang, kalung, patung Buddha, sabun, hingga lilin aroma terapi.

***

Sepanjang perjalanan dari penginapan ke warung Mak Beng, kami memilih rute yang melewati hotel-hotel di tepi pantai. Sekitar pukul 07.30, orang-orang jogging dan bersepeda di tepi pantai. Masyarakat lokal beritual menaruh sajen pada patung Hindu yang ada di pinggiran jalan. Resto hotel bintang lima di tepi pantai dipadati orang-orang yang sedang sarapan. Bali sangat semarak dan siap dengan pariwisatanya. Turis-turis baik dari Eropa maupun Asia menjejali pantai Sanur. Wajah mereka tampak rileks dan bersuka cita.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama sarapan di Warung Mak Beng. Saya jarang ke Bali. Sementara tiga orang teman lain, Diah, Desy, dan Lya lebih sering ke Bali. Mereka sudah beberapa kali makan di warung Mak Beng. Menu yang ditawarkan pun sederhana tetapi sangat endes endolita. Sepiring nasi putih, sop ikan dengan kuah kekuningan yang dicampur dengan timun segar, serta sepotong ikan goreng garing. Sambel terasi goreng di warung ini cukup nampol. Harga sepaket menu sarapan berat ini Rp 45.000. Dari harga itu, kalau tidak salah kami juga mendapat teh tawar hangat.

Pulang dari sarapan di Mak Beng, kami kembali berjalan kaki menyusuri jalan Sanur. Ada sebuah kedai kopi kecil yang menarik mata kami untuk berkunjung. Namanya adalah Kedai Kopi Toko. Kedai kopi mungil ini sangat kekinian. Bagian depan kedai didesain dengan interior warna cokelat kayu, putih, dan ornamen hijau dari tanaman rambat. Suasana kedai yang mungil dengan interior biru-turquoise ala pantai membuat kami betah berlama di sana. Sebelum kami datang, sudah ada sekeluarga yang sedang menyantap sarapan di sana. Ada seorang kakek, nenek, ibu, dan bocah laki-laki kira-kira umur 5-6 tahun. Mereka terlihat memesan burger, kentang goreng, kopi, dan jus.

photo_2017-09-23_23-56-58

Kami langsung mengambil posisi di kursi yang kosong. Kursi itu tepat di depan barista dan coffee machine. Memang, ruangan kedai kopi ini sangat sempit. Paling-paling hanya cukup untuk delapan orang saja. Sepuluh orang itu sudah berdesak-desakan. Di bagian luar, juga ada sebuah meja dan empat buah kursi untuk mereka yang ngopi sambil merokok. Setelah beberapa saat, datang rombongan bule duduk di kursi bagian luar.

Pemilik Kopi Toko Bali ini ternyata adalah suami-istri asal Jakarta. Mereka memilih berbisnis di Bali karena kota ini dinilai lebih manusiawi, hahaha. Mungkin, pasar kopi di Jakarta lebih menjanjikan. Apalagi, warga kota itu memang keranjingan kafein untuk membuat mereka tetap waras dan terjaga di kota yang tak pernah tidur itu. Namun, di Bali pun ternyata bisnis kedai kopi sedang sangat menjanjikan. Makanya, pasangan itu lebih memilih untuk memulai usahanya di Bali.

Menu di kafe ini pun cukup lengkap. Kopi berat mulai dari espresso, atau yang lebih ringan latte, cappucino ada. Yang tak suka ngopi, ada teh dan jus segar. Pagi itu, saya memilih es caramel latte. Perut saya yang sensitif kopi sudah cukup aman karena sebelumnya sudah terisi nasi-sop-ikan goreng Mak Beng. Setelah berjalan kaki sekitar 1 kilometer, keringat lumayan bercucuran. Es kopi tampaknya cocok untuk menemani kami berempat ngobrol.

photo_2017-09-23_23-56-51

“Dari mana mbak? Kok kayaknya bukan orang Bali,” tanya kakek yang duduk di sebelah kami. Mungkin di kakek penasaran, empat orang perempuan ini heboh banget, foto-foto terus dan cerewet, hihihi.

“Oh, iya pak. Kami dari Jakarta. Baru liburan di Bali, he..he..he,” jawab kami.

“Wah, seru juga ya liburan di Bali. Hanya ke Bali saja?,” ujar kakek ditimpali anak perempuannya yang berkulit cerah dan berambut ikal.

“Kami baru pulang dari Sumba sih. Terus lanjut ke Bali, tiga hari dua malam,” jawab kami.

“Oh Sumba? Bagus ya di sana?,” tanya kakek antusias.

“Bagus banget!!! Pantainya, landscape alamnya, budayanya, semuanya bagus. Enggak nyesel deh ke sana. Apalagi habis dari Sumba bisa ke Bali,” jawab kami.

“Menarik juga ya? Saya diajak sama teman-teman malah travelling ke Natuna, Batam. Apa ya yang menarik di sana?,” kata si kakek.

“Di Natuna, pantainya cakep juga kok. Kepualauan Anambas, itu yang baru-baru ini booming di kalangan traveler. Kalau suka snorkling dan diving pasti puas ke sana,” jawabku.

“Ah, tapi ke Sumba kayaknya lebih asyik. Pulang dari Sumba saya bisa ke Bali. Ini kan anak saya (*sambil nunjuk anak perempuannya) tinggal di sini sama suaminya,” kata si kakek.

“Nah, itu lebih menarik, pak,” timpalku.

“Tapi kalau ke Sumba ya siap-siap saja, bawa buku, permainan atau permen. Soalnya di sana masyarakatnya masih miskin banget. Terutama di Sumba Barat. Kita akan diikuti anak-anak yang merengek meminta uang, permen, dll. Mereka bilang mau minta uang untuk beli buku, pena, dsb. Kemarin, untungnya kami bawa buku, origami, dan permen, jadi kami alihkan perhatian anak kalau sudah merengek minta uang,” kata saya.

“Oh ya, tuh lihat kamu tuh masih beruntung, bisa enak sekolah beli mainan. Kamu harus berbagi sama teman-teman di Sumba,” ujar kakek menasihati cucunya yang sedang makan burger sembari asyik dengan mainannya.

“Kalian masih muda-muda, jalan-jalanlah sepuasnya sebelum menikah,” ujar anak perempuan si kakek tiba-tiba menimpali.

Aku masih ingat betul ekspresi matanya saat mengucapkan kata-kata itu. Like, she really mean it. Yang kutangkap, itulah ekspresi tersirat ketika seorang perempuan sudah memutuskan untuk menjerumuskan diri pada bahtera pernikahan. Mereka tak lagi menjadi individu merdeka yang bebas menentukan apa yang mereka mau. Dunia mereka telah disibukkan dengan berkompromi pada suami, si kepala rumah tangga, dan mengurus anak. Kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih melakukan A, B, C bukan lagi sepenuhnya otoritas mereka. Seluruh ego harus ditundukkan dengan tugas dan tanggung jawab baru sebagai istri juga ibu.

“Iya, setiap tahun kami coba untuk menabung lalu memilih tempat mana yang ingin kami kunjungi. Semoga setiap tahun ada kesempatan jalan-jalan,” ujar kami.

Saya pun mendadak baper dengan omongan perempuan itu. Ingin rasanya mengambil waktu lebih lama lagi merayakan kebebasan dan kemerdekaan hakiki sebagai perempuan mandiri. Bebas pergi ke mana saja, kapan saja, asal seluruh kewajiban sudah dipenuhi. Rasa-rasanya saya belum puas mengajak kaki berjalan-jalan. Mengajak kamera kesayangan merekam momen-momen yang membuat napas sejenak berhenti karena keindahan alam yang kami lihat.

photo_2017-09-23_23-56-54

Tapi kembali lagi, hidup adalah soal memilih. Hari ini saya, hanya untuk sekadar mau makan apa, mau masak apa, kita harus memutuskan pilihan. Apalagi untuk sebuah keputusan besar menikah, membenamkan diri pada kebersamaan dan kompromi dua kepala beda selera. Kalau dibayangkan terus, rasanya menyeramkan.

Perempuan di paruh waktu, dalam gempuran dunia patriarki dan konstruksi sosial. Apakah mereka masih punya “privilege” dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidupnya ke depan? Bagaimana jika hal yang paling menyenangkan hatinya adalah berjalan-jalan, bertemu orang baru, dan mencecap seribu-satu aroma kota di dunia? Bagaimana jika hanya kehilangan haknya itu dia merasa sedih tak berdaya. Pernikahan mungkin penting, tapi tidak harus sekarang bukan? Semoga pilihan orangtua, meskipun mereka tak akan menjalani hidup anak-anaknya membawa doa penuh hikmah dalam kehidupan anaknya ke depan.

Besok mau makan apa?

Besok mau ke mana?

Besok mau jalan-jalan ke mana?

Hidup penuh ketidakpastian. Yang sudah pasti itu adalah kematian dan perpisahan. Jangan lupa ngopi!

photo_2017-09-23_23-57-02

 

Kebon Jeruk,

01.15

 

 

Mencari pagi di tanah para dewa

Jika ditanya siapa yang berjasa pada kehidupan di bumi ini? Jawabannya adalah matahari. Kehidupan di mulai dari secercah sinar matahari, dan akan kembali padam ketika ia sudah tak terbit lagi. Mungkin itulah sebabnya, orang Jepang dan orang kuno dahulu menyembah matahari. Jasa matahari memang sangat luar biasa dalam sejarah bumi. Itulah juga mengapa, mungkin, narasi tentang matahari tak pernah padam. Ada penggila matahari terbit, terbenam, senja, bahkan hingga kegelapan malam. Matahari menginspirasi para penyair untuk menafsirkan tetanda dan konsekuensi alam semesta. Sungguh indah, ciptaanMu, Tuhan.

Saya sendiri, sering mengumpamakan kepribadian diri laksana malam. Mungkin karena saya memang bukan a morning person. Saya lebih nyaman dengan suasana tenang dan teduh malam. Mungkin, beberapa orang memang nyaman dengan keadaan seperti itu.

Karena sedikit menyukai fotografi, saya pun gemar berburu senja. Senja seolah menjadi ritual pergantian dari panas terik matahari, ke masa-masa yang saya tenangi. Gelap, tenang, dan semua rahasia-rahasia akan terungkap di malam hari. Bintang dan bulan pun bersinar terang, saat semuanya tertutup lukisan gelap.

Namun, entah mengapa, akhir-akhir ini, saya sedang jatuh cinta dengan pagi. Saya ingin memenangkan pagi, meskipun kemungkinannya sangat tipis. Namanya juga kebiasaan menahun, mana bisa diubah dengan seketika? Saya pun harus belajar membiasakan diri untuk bangun di pagi hari. Bangun di pagi hari itu ternyata enak dan segar. Tapi, tanpa bantuan kafein, saya biasanya akan kembali mengantuk. Makanya, stok kopi sachet selalu tersedia di rak makanan untuk mengganjal mata yang sepet di pagi hari, he..he..he..

Kecintaan saya pada pagi pun membawa saya untuk menziarahinya. Konon, melihat matahari terbit paling magis adalah di atas gunung. Tapi, apakah fisik saya mampu? Ah, rasa-rasanya dengan ritme kerja yang seperti ini, saya juga tidak akan bisa berlatih menggenjot fisik untuk naik gunung. Apalagi, agenda di desk saya sedang sibuk-sibuknya dengan pilkada DKI. Mana mungkin? Cuti saja sulit.

Akhirnya, saya memilih Dieng untuk mengejar matahari terbit. Berdasarkan browsing-browsing dan melihat-lihat Instagram, saya mantap untuk melihat matahari terbit dari Bukit Sikunir. Ah, tapi ini kan masih bulan hujan? Sepertinya kemungkinan untuk melihat matahari terbit sangat kecil. Hari-hari lebih banyak diliputi mendung. Tapi bagaimana dong? Keinginan untuk mengecup hangat sinar mentari pagi dari bukit sudah membuncah. Saya tak ingin menghalangi kehendak ini. Saya harus menuruti ke mana kaki melangkah. Apalagi, saya memang sedang butuh penyegaran.

Ya sudah, akhirnya, di awal Februari lalu, tepatnya tanggal 3-5, saya memutuskan pergi bersama teman saya, Yanti. Kami masih bekerja hingga hari Jumat malam, saat kami memutuskan pergi dengan ELF bersama teman-teman dari penyelenggara open trip. Awalnya, saya sempat ingin membatalkan perjalanan itu karena masih ada tugas menulis feature yang belum selesai. Narasumbernya agak susah ditemui karena izin wawancara saya ajukan mendadak. Tapi, di menit-menit terakhir, saya membulatkan tekat untuk berangkat. Toh, wawancara bisa dilakukan lewat email atau whatsapp. Jika bahan kurang, saya masih bisa menelepon orang tersebut. Woles saja lah… ๐Ÿ˜€

****

Di hari pertama di Dieng, rombongan kami cukup beruntung karena pagi dan siang hari cukup cerah meski berbalut mendung. Sekitar pukul 14.00, kabut gunung sudah mulai turun, mendung cukup tebal memayungi Dieng. Wah, tampaknya sore hari bakalan hujan nih!

Benar saja, di lokasi ketiga, Candi Arjuna, kami kehujanan. Kami hanya sempat berkeliling sebentar di kompleks peninggalan peradaban terbesar Hindu di Jawa itu. Kami lalu harus berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Pilihan jatuh ke kedai kopi kecil di luar kompleks candi. Kami membeli gorengan panas. Ada tempe, cireng, dan jamur goreng untuk menjadi teman kopi lokal Dieng. Kami sangat bersyukur karena teman-teman di kedai kopi itu sangat baik. Mereka menyuguhkan kopi yang enak, cerita tentang kopi yang lengkap dan memikat, serta kehangatan yang luar biasa.

Saya pun sempat meminjam laptop plus sambungan wifinya untuk mengerjakan tugas dan membuka email. Kami berkumpul bersama teman-teman lain, ngejam dan akustikan. Puluhan lagu kami nyanyikan dengan gelak tawa yang membahana. Hujan badai di luar sana sejak sore sampai tengah malam pun terlalui dengan mulus dan bahagia. Teman baru dari Korea Selatan, Kim Junki pun puas tertawa, cerita, dan bernyanyi bersama kami. Kim harus pulang duluan ke home stayย karena dia membawa kunci kamar. Teman lain yang tidak ikut ngopiย pun keleleran karena tak mendapatkan kunci kamar. Saya, Yanti, dan tour leader, Adhi memutuskan bertahan sampai tengah malam. Pukul 22.30, kami baru beranjak pulang dari kedai kopi. Kami pulang setelah menyantap nasi goreng dan bercerita tentang seluk-beluk kopi.

****

Malam pun kian menua. Teman-teman di home stay sebagian sudah beristirahat karena harus bangun dini hari untuk melihat matahari brojol. Sudah nyaris tengah malam. Air dieng sangat dingin, tapi saya tetap memutuskan untuk mandi. Bau badan kecut sekali karena seharian berkeliling dan belum mandi. Usai mandi, saya pun menggigil kedinginan. Tidur tak nyenyak, berujung demam dan kembung di perut. It’s perfect to ruin the plan!

Jam 3 dini hari, Adhi mulai membangunkan kami. Saya terkesiap, belum begitu siap membuka mata. Tapi, karena memang sudah diniati untuk melihat matahari terbit, saya bangun juga dan mencuci muka. Teman-teman sudah menunggu di luar.

Sampai di titik pendakian, semua orang menggigil kedinginan. Angin berhembus kencang membuat nyali kami menciut. Apalagi si Kim yang hanya membawa jaket tipis dan celana pendek. Beruntung dia gendut dan banyak makan, jadi cadangan lemaknya membantu untuk menghangatkan badannya. Bwahaha!

Saya membeli sarung tangan baru. Teman seperjalanan juga memberikan tolak angin dan koyo untuk ditempel di hidung. Sebenarnya, kami harus mendaki hingga satu jam perjalanan menuju pos tiga. Karena jalan licin, dan kemungkinan melihat sinar matahari kecil, tour leader meminta kami sampai di pos satu saja. Berjalan kaki 20 menit di pagi hari membuat napas saya habis. Saya nyaris tidak kuat dan ingin menyerah. Teman-teman semua sudah di depan. Saya tertinggal jauh. Namun, saya terus meyakinkan pikiran, satu langkah lagi, satu langkah lagi. Akhirnya, saya sampai di pos satu dan bergabung bersama teman-teman. Subhanalove! Takbiir!

Lelah mendaki bukit selama 20 menit pun tidak berbanding lurus dengan nasib baik bisa melihat senyum pagi yang merekah. Pagi tetap saja muram tertutup gumpalan awan-awan putih yang mirip kembang gula. Sudah pukul 05.30, matahari tak juga nampak. Ya sudah, mungkin memang belum berjodoh dengan pagi. Esok akan kita coba kembali di belahan dunia lain yang lebih indah. Tetap bersabar, ini adalah perjuangan. Mungkin memang mengecewakan, tapi ini adalah ujian ๐Ÿ™‚

Selamat pagi, pagi. Aku akan bersabar menunggumu tersenyum merekah dan memberikan kehangatan. Semalam, aku meringkuk kedinginan diterpa demam dan gelisah rindu. Tapi, kau masih juga malu-malu. Kau belum berani bertaruh untuk mendekapku penuh. Tidak apa-apa, pelan-pelan aja. Aku pun takut terbakar terik panas cahayamu.

sunrise-dieng-2sunrise-dieng-1

 

Palmerah,

00.40 am

 

 

 

Mengarungi Lautan? Untuk Apa?

Untuk apa melakukan perjalanan kalau tubuh bisa lebih aman dan nyaman berada di rumah? Melakukan perjalanan bersama teman, terkadang kita harus terlibat drama yang tidak penting. Tentu saja, karena ketika kita salah memilih teman perjalanan, sepanjang perjalanan kita akan diliputi rasa kesal. Belum lagi ketika kita harus terjatuh, terperosok, atau kesasar di tempat asing di malam hari. Ada perasaan bergidik, nyali menciut, ketika pada dini hari kita sampai di sebuah pom bensin yang sudah tutup dan lengang. Bagaimana kalau tiba-tiba ada pria mabuk, iseng, dan jahat tiba-tiba melakukan hal ngeri kepadaku dan teman perjalanan perempuanku? Lalu, aku hanya bisa menarik napas yang dalam dan panjang…

***

Udara dini hari, Sabtu 24 Desember 2016, sedikit dingin dan lengket. Kami sudah tiba di pinggir laut. Angin berhembus sangat kencang. Aku terbatuk-batuk. Dadaku tak cukup prima menghadapi angin barat Anyer, Banten yang kencang. Angin terus menderu tanpa ampun. Pondok kayu tempat kami beristirahat menunggu pagi dan jemputan seperti hendak runtuh. Gemuruh angin di tepi pondok membuat nyaliku sedikit menciut. Bagaimana situasi ombak di luar sana? Amankah untuk berlayar?

Ah, kami memang terlalu nekat. Kemarin, headline halaman 1 koran tempatku bekerja baru saja menuliskan tentang cuaca buruk dan prediksinya beberapa hari ke depan. Namun, seolah punya stok nyawa lebih, aku mengiyakan saja ajakan Azizah untuk pergi ke Pulau Sangiang. Sebuah pulau terpencil di utara Cilegon, Banten. Aku sebenarnya tak punya banyak referensi tentang pulau itu. Sekilas, di antara deadline kerjaan, aku melihat foto-fotonya di Instagram. Lumayan. Desisku dalam hati kala itu.

Fisik yang masih sedikit lemah setelah dua hari sebelumnya demam karena radang tenggorokan pun kuabaikan. Vakansi akan mengalirkan hormon endorpin yang membuat jiwa dan raga bahagia, kilahku. Ya, sakit memang terkadang banyak dipengaruhi oleh jiwa yang sakit. Dengan asupan hormon endorpin yang cukup, barangkali proses recovery akan lebih cepat. Hehehe…

***

Setelah tidur ayam-ayam dan kedinginan selama 3-4 jam, aku dan Azizah bangun. Kami mencuci muka, bersolek, lalu meminjam sepeda motor milik teman seperjalanan lain. Dini hari itu, takdir mempertemukan kami dengan Bambang, Andre, Wahyu, dan Imam. Laki-laki usia awal 20-an asal Serang, Banten. Sudah menjadi khas pejalan untuk cepat akrab dan menyesuaikan diri. Awalnya, mereka menawari kami untuk membelikan sarapan. Tapi, kami menolak karena belum terlalu lapar. Tapi, beberapa menit kemudian, kami memutuskan untuk membeli sarapan supaya perut tidak terlalu kosong. Saya memprediksi perjalanan laut akan berat. Jika perut kosong, aku akan lebih mudah mabuk laut. Kami pun membeli nasi uduk yang enak dan murah. Hanya Rp 8.000/bungkus.

***

Benar saja, baru sebentar kapal berangkat untuk menyeberang, ombak sudah sangat tinggi. Penumpang kapal sontak berteriak “Allahu Akbar” karena kapal kami naik-turun dihajar gelombang tinggi. Rasanya mirip saat naik wahana Kora-Kora di dunia fantasi. Seorang bocah laki-laki di depan kami tak henti menangis. Ia menutupi mukanya dengan life jacket.

Azizah memang bermental baja. Alih-alih takut, dia malah tertawa-tiwi melihat ombak besar. Ia ambil telepon seluler, membuat video, dan mengambil foto. Mukaku sangat tegang saat itu. Aku takut kapal oleng, terbalik, dan parahnya lagi tenggelam. Namun, masa sulit selalu menghasilkan sisi positifnya. Para penumpang kapal saling menguatkan. Kami bercanda dan tertawa melihat ombak tinggi yang menghajar kami selama kurang lebih satu jam.

“Kalau ombak enggak besar begini, mana kita mengingat Allah? Allahu Akbar!,” seloroh Azizah, sembari tertawa nyengir. Ingin rasanya kujitak kepalanya! Haha.

Ibu bocah laki-laki yang terus menangis dan bersembunyi di balik life jacket pun berusaha menenangkan anaknya. Beberapa kali air laut menyiram tubuh dan wajah kami. Setiap kali air tersemprot ke kapal, bocah laki-laki itu menangis lebih histeris lagi.

“Eh, adik kaya kura-kura ya, kepalanya masuk ke pelampung. Dulu kok waktu ke Belitung enggak takut ya?,” hibur ibu berjilbab itu.

“Waktu di Belitung ombaknya nggak kayak gini!,” bentak si bocah, diikuti tangis histeris.

img_20161224_073453

Suasana ombak besar di laut…

img_20161224_082458

***

Ombak menjinak saat kami mulai mendekat ke pulau Sangiang. Matahari mulai meninggi, tubuh kami yang basah oleh air laut lengket mulai menghangat. Aku memeras kaos dan celana yang basah lalu menjemurnya di kapal. Kami tiba di spot pertama snorkling. Panitia open trip mempersilakan kami memakai snorkel, dan siap-siap snorkling.

Orang-orang pun mulai menceburkan diri ke laut. Mereka antusias melihat kehidupan bawah laut Sangiang, dengan ikan beragam dan terumbu karang yang cukup terjaga. Segala derita saat dihajar ombak tinggi terlupa. Derita berganti tawa dan takjub. Aku, masih agak sedikit panik karena snorkel tidak pas menutupi muka dan hidung. Aku susah bernapas dengan snorkel yang sedikit kebesaran itu. Ditambah lagi pelampung yang kupakai naik-naik terus ke dada hingga leher. Berenang pun jadi sulit dan tertahan.

Di spot snorkling kedua, setelah berganti snorkel yang pas dan mengunci pelampung, aku bisa berenang lebih nyaman. Aih, indah sekali bunga-bunga karang di Sangiang. Ada ikan baronang, dory fish, dan aneka macam ikan yang mendekati kami saat berenang. Beberapa orang melemparkan roti dan biskuit untuk memberi makan ikan. Hal itu sebenarnya tidak bagus untuk ikan, namun, semua dilakukan demi ikan mendekat. Saya yang sudah tahu kalau itu tak bagus untuk ikan pun tetap melakukannya. Wkwkwk :p

 

 

***

Lelah berenang di dua titik snorkling, kami merangsek ke pulau. Sangiang ternyata sangat indah. Sebelum memasuki pulau, kami masuk melalui pintu gerbang mangrove yang hijau. Kapal seolah masuk ke sebuah pintu hijau yang di sisi kiri dan kanan dihiasi akar-akar mangrove berwarna kecokelatan. Daun mangrove hijau lebat, asri dan teduh di pandang mata.

img_20161224_104342

Perjalanan 2 hari 1 malam itu dipandu oleh panitia open trip mbak Anugrah. Wisatawan lain hanya melakukan satu hari perjalanan. Sementara kami, enam orang lainnya, akan menginap di pulau. Empat orang laki-laki akan tidur di tenda. Sementara dua perempuan centil nan alay akan tidur di rumah penduduk lokal. Itu bukan mau kami. Salah sendiri panitia lupa membawakan kami tenda. Kami pun cukup beruntung dengan kesalahan si panitia. Angin malam itu sangat kencang. Kami bisa mati kedinginan tanpa pelukan. HAHAHA!

***

Sangiang yang belakangan saya tahu berasal dari kata Sanghiang (Dewa/Tuhan/Yang Maha Kuasa), menawarkan paket lengkap. Ada pantai dengan pasir putih sehalus bedak. Sayang, di pantai banyak sekali sampai karena pulau itu berada di selat Sunda. Sampah yang hanyut di laut pun luar biasa banyaknya. Ada gelondongan-gelondongan kayu, ranting, bungkus makanan, sandal, tas, dan sebagainya. Kawan seperjalanan, Bambang, bahkan mengambil sandal-sandal di tumpukan sampah untuk dipakai. Hohoho.

img_20161224_173511_hdr

Tumpukan sampah di Pulau Sangiang, ngeriiiii…

Ombaknya besar, tapi bersih. Gradasi warna biru, hijau, turquoise, dan putih buih ombak sedap dipandang mata. Pesona pantai tak pernah luput mengecewakanku. Aku memang lebih menyukai pantai daripada gunung. Terserah orang mau bilang, wisata pantai itu wisata santai, dan effortless. Cocok untuk orang yang pemalas dan mau enaknya saja. Kalau kita tidak sependapat dengan orang itu, tak perlu merasa terbebani kan? Kita memilih kenyamanan sendiri. Bagiku, ombak adalah nyayian alam paling merdu. Obat dari segala gemuruh yang berkecamuk di dada. Laut membuatku merasa kecil karena dikelilingi air berlimpah. Saat di tengah laut aku benar-benar merasa kecil, begitu juga masalahku.

blue-layer

This blue layer is a drug

blue-layer-2

Vitamin sea, I sea you…

***

Setelah lelah snorkling, dan tracking keliling bukit, kami beristirahat di pondok Pak Tajudin. Sore hari, sebelum kami bubar dan membersihkan diri, saya sempat berseloroh kepada teman seperjalanan.

“Kita jangan berantem dulu ya. Soalnya, kita cuma menginap di pulau ini berenam. Sisanya kita enggak kenal, baik-baik dulu yaa..,” ucap saya sambil tertawa.

Pria-pria unyu itu pun membalas candaan saya dengan tertawa. Kami berbagi makanan, bercerita, dan saling menjaga selama di pulau. Tidak ada listrik karena pulau hanya mengandalkan tenaga surya dan diesel. Kami pun saling meminjamkan power bank untuk mengisi baterai ponsel. Pria-pria itu pun mudah kelaparan karena tidak membawa perbekalan. Kami berbagi makanan seadanya, taro, kacang, biskuit, dan apapun yang bisa dimakan kami bagikan. Pokoknya kami harus akur sampai menjejakkan kaki di daratan Anyer, hihihi…

***

Saya orang yang mudah memaknai suatu peristiwa. Dua hari perjalanan tanpa restu dari pacar ternyata membuka banyak sudut-sudut otak dan hati yang tersumbat. Kami bertemu dengan orang-orang yang luar biasa baik. Saya dipaksa masuk ke sebuah dunia tanpa pretensi. Bertemu orang-orang dengan ketulusan yang kebangetan, bahkan kepada orang asing yang baru saja ia temui.

Empat sekawan dari Serang, rela kami bangunkan pagi-pagi untuk menemani treking dan melihat matahari terbit di atas bukit. Lalu pak Tajudin, pria asli pulau yang bekerja keras, ulet, dan menjalani hidup dengan ikhlas. Ia menanam dan menata hiasan bunga di atas bukit dengan tangannya yang kurus tapi perkasa. Setiap hari, ia mengambil air dari bawah untuk dibawa naik ke atas bukit. Ia sirami tanaman itu supaya tumbuh subur dan bukit Harapan menjadi lebih cantik. Ia tanami bukit dengan rumput-rumput liar yang tebal. Ia buat keranjang foto cantik dari batang tanaman, kulit kayu, rotan, dan segala yang alam berikan untuknya di pulau itu. Tangannya sangat terberkati. Dari tangannya tercipta segala yang unik dan menarik.

Namun, ada ketakutan di balik sorot matanya yang pemalu. Ia takut, sebentar lagi sebuah perusahaan properti raksasa akan menancapkan kukunya di pulau itu. Ia khawatir pulau yang sudah menyatu dengan hembusan nafasnya itu akan diacak-acak. Kita tahu betul pengembang selalu rakus dan serakah. Sekalipun pembangunan mengatasnamakan ramah dengan alam (eco friendly), itu hanyalah cara untuk menghaluskan eksploitasi dan privatisasi. Sebentar lagi, tahun depan pulau itu akan ramai pengunjung. Laut lepas yang bebas untuk berlari-lari, sebagian akan menjadi hak privat pengembang. Akankah pak Tajudin tersenyum ramah seperti saat kami temui di akhir Desember? (…bersambung….)

img_20161225_083503

pak Tajudin, dua dari kiri, berkaus hitam. Malu-malu saat kami ajak selfie ๐Ÿ˜€

img_20161224_174345

Indonesia kece banget sih…

img_20161224_140901

Selca di Bukit Harapan

img_20161225_064529

img_20161225_063434

Enter a caption

img_20161225_063401

Pengin lihat matahari terbit, tapi digagalkan oleh mendung… ๐Ÿ˜ฆ

Belajar berenang? Why not?

Ada dua keahlian bertahan hidup (survival) tools yang harus kalian kuasai dalam hidup. Pertama, berenang. Kedua, memanjat pohon. Itu kata kawan saya Denty. Dia bilang, kalau punya dua keahlian itu, niscaya kita bisa menyelamatkan diri dalam situasi apapun.

Saat kawan saya mengucapkan kalimat itu, entah kenapa yang terbayang air bah datang ke kota tempat saya tinggal. Ada tsunami besar! Air datang ke segala penjuru masuk ke rongga-rongga gang dan jalan. Air di mana-mana. Air merendam seluruh kota. Lalu bagaimana si manusia tak berenang ini akan menyelamatkan diri?

a. duduk diam, merapalkan Al Fatihah, memejamkan mata sambil menunggu air menerjang lalu tewas seketika

b. memanjat pohon atau bangunan yang lebih tinggi dari permukaan air untuk menyelamatkan diri?

c. panik, tapi tetap ambil foto atau video untuk diunggah ke Path dan Instagram Stories

d. semuanya benar

e. semuanya salah

****

Setelah percakapan itu, sejenak kadang saya merenung. Kadang-kadang saat pup di pagi hari, kadang-kadang saat menunggu narasumber. Hidup wartawan memang 70 persen dihabiskan untuk menunggu. Menunggu narasumber, menunggu deadline, menunggu perintah dari editor, menunggu kamu yang enggak sadar ada yang naksir dalam diam… #eh

Dalam perenungan di toilet itu, terkadang saya membayangkan betapa paniknya saya ketika menghadapi situasi genting. Memanjat? Zaman masih kecil saya memang hobi memanjat pohon jambu dan rambutan, lalu merontokkan semua yang masak di pohon. Tapi itu dulu, sekarang? Saya lebih mudah phobia ketinggian. Saat outbond bersama teman-teman di Puncak, saya gagal meniti titian Elvis yang bak Sirotol Mustaqim itu. Subhanallah, Allahu Akbar!

Lalu, bagaimana dengan berenang? Itu sama payahnya. Terakhir, saya belajar berenang saat masih duduk di bangku SMP. Saya belajar setengah-setengah. Belum sampai mahir, latihan sudah berakhir. Walhasil sampai besar parno saat harus masuk kolam renang. Lu selama ini hidup ngapain aja sih mpok? :0

Dan, seperti biasa, renungan-renungan itu hanya akan menjadi ampas yang hilang setelah disiram. Semangat itu pun menguap seiring tuntutan manusia dewasa yang banyak lagi mahapelik. Born and pay the bill, pay the bill, pay the bill, and die! Niat untuk belajar berenang saat usia 27 tahun pun samar-samar hilang di antara setumpuk to do list.

****

Lalu, suatu ketika, idola saya Dewi Lestari mengunggah sesuatu di akun Stellernya. Ternyata dia sama cupunya dengan saya. Dia juga belum bisa berenang di saat usianya sudah menginjak kepala 4. Di akun Steller itu, dia menceritakan apa yang memotivasinya untuk mengakhiri peran sebagai penjaga tas di keluarga. Yup. Karena tak bisa berenang, Dee Lestari selalu ketiban peran sebagai penjaga tas saat suami dan kedua anaknya Keenan dan Atisha berenang. Di saat keluarganya asyik masyuk mengakrabi air, dia dengan kaca mata hitam kecenya, memandang dari kejauhan. What a miserable job, isn’t it?

Karena banyak duit, Dee Lestari tentu saja akan memilih tempat les berenang terkece seantero jagad. Total Immersion adalah pilihan si ibu suri untuk latihan berenang. Awalnya, dia cuma belajar mengambang. Dia juga mengalami masa suram menenggak berliter-liter air berkaporit di kolam renang.

Lalu dia mulai bisa mengambang, mengayun (stroke), rileks, dan akhirnya benar-benar bisa berenang. Tak hanya berenang di kolam, doi juga sudah lulus ujian berenang open water! Yep. Renang di laut Sentosa Island di Singapura. What an achievement, mamak Supernova! U’re ubercool. Idola. Panutan. Sesembahan. ๐Ÿ˜€

****

Saya dan Diah pun terinspirasi. Sebelum bisa berenang, saya dan Diah memang penyuka wisata pantai. Kami suka snorkling dan kepingin banget bisa free dive atau bahkan diving. Mimpi boleh aja kan? Gratis ini.

Lalu, saya dan Diah sudah berpikir bulat-bulat dan masak-masak untuk mengambil kelas berenang. Pokoknya kita harus bisa berenang. Apapun kondisinya! Kita harus saling menyemangati dan memotivasi. Kami enggak mau kalah dengan Dee Lestari. Idola harus benar-benar menjadi panutan. Ganbatte!

Selain saya dan Diah, ada satu teman lagi yang bergabung yaitu Lya. Sebelum mengambil kelas setiap pekan, kami berlatih beberapa kali untuk membiasakan diri di dalam air. Supaya lebih rileks. Kami pun memilih kolam renang House of Shafa Tebet, karena khusus perempuan. Sekitar dua kali kami datang hanya untuk berendam. Yup. Literally berendam, dan belajar bernapas di dalam air!

Teman kami yang sudah pandai berenang, Desi mulai mengajari tengkurap dan berjalan di dalam air. Saya sungguh panik. Saya pegang tangan Desi erat-erat. Entah kenapa, setelah kaki tak menyentuh lantai kolam, rasa panik itu menelan sekaligus menguasai. Padahal kedalaman kolam itu tak akan membuat saya tenggelam. Me..malu..kan, ter..la…lu!

“Ya elah, lu santai aja kali, lu ga bakal tenggelam,” ujar Desi dengan penuh kesabaran.

Saya pun selalu punya banyak excuse untuk membela diri tak mau melakukan ini-itu.

“Entar dulu Des. Gue anaknya nggak bisa dipaksa, gue harus rileks dulu. Baru latihan,” cerocos saya.

Desi pun tak kehabisan kesabaran. Karena saya terlalu banyak ketawa dan ngeyel, Desi malah mengajari anak balita yang juga sedang belajar berenang di kolam itu. Oke fine, coach!

****

Akhirnya, kami sepakat mengambil kelas satu kali pertemuan di akhir pekan. Guru les renang kami namanya Ayu. Orangnya tegas, suaranya menggelegar, dan “sedikit” mengintimidasi. Di pertemuan pertama, dia hanya mengajari kami berendam sambil membuang napas di dalam air.Bubble. Itu istilah yang dia buat. Kami disuruh berkali-kali bubble sampai terbiasa buang napas di dalam air. Buang napas, jangan buang kentut, apalagi buang air!

Setelah terbiasa bernapas dalam air. Ayu mengajari kami teknik mengayun (stroke) gaya katak! Mula-mula kami diajari gerakan kaki. Lurus-tekuk-tendang. Lurus-tekuk-tendang. Sambil berpegangan di pinggir kolam, kami pun mempraktikkan gaya kodok itu. Lalu, Ayu mendrill kami untuk keliling kolam, sambil lurus-tekuk-tendang, sambil dipegangi.

Ini penampakan saya yang panik karena nggak sengaja menghirup air saat di drill keliling kolam sama coach Ayu.

a11a1f49e7b7f9afe349b8e9e5d3c2a2

Shame on me! Ambil popcorn! Siap-siap kalian ketawa dengan kekonyolan-kekonyolan selanjutnya…

Meski cupu, beruntungnya saya nggak gampang menyerah. Sekali tekat tetap tekat. Saya harus bisa berenang! Saya harus bisa mengakrabi air.

Saat teman-teman berhalangan latihan, saya pun mencari kolam-kolam renang lain di Jakarta yang asyik untuk belajar berenang. Tiap weekend, saya malah jadi penjelajah kolam renang. Beruntung, mas pacar pintar berenang. Saya pun seret dia untuk memenuhi segala ekspektasi saya. Terkadang dia malas karena nggak punya celana renang. Saya belikan dia celana renang! Nih! Kamu pokoknya harus ajarin dan temenin aku berenang.

Pernah suatu ketika, dia lagi enggak enak badan. Saya tetap paksa dia temani saya berenang. Dia pun cuma senderan di pojokan sambil tertidur menunggu saya berenang. Sesekali, saya bahkan membangunkan tidurnya hanya untuk memintanya memotret dan membuat video dengan Go-Pro! Betapa kejinya saya, menyiksa dia yang lagi meriang. Yah, kadang-kadang saya memang kejam sama dia. Kalau diingat-ingat menyesal juga. Maaf ya sayang. U’re the best person who can handle me! ๐Ÿ™‚

Singkat cerita, di akhir kelas berenang jilid I, akhirnya saya pelan-pelan bisa berenang gaya katak. Itu juga berkat latihan rutin di luar kelas yang saya tekuni. Hasil tak akan mengingkari proses. No pain, no gain. Lumayan lah…

Saya kepingin mengunggah video hasil latihan berenang. Cuma, karena akun WordPress ini gratisan, saya nggak bisa mengunggah video. Lihat saja di akun Instagram saya @lenteradewi he..he..he ๐Ÿ˜€

Menjelajahi kolam renang Jakarta

Karena sudah mulai bisa berenang, saya pun gemar melewatkan akhir pekan dengan menjelajahi kolam renang di Jakarta. Berbekal browsing di internet, saya datangi satu-satu kolam renang untuk mengetahui kualitasnya. Kolam renang paling bagus, bersih, dan nyaman yang saya kunjungi adalah Stamford Raffles Hills Sport Center di perumahan Raffles Hills, Cibubur, Jakarta Timur. Saya kasih nilai 8 dari 10 untuk kolam renang di Cibubur ini.

Pertama, kolamnya luas jadi kita nggak tabrak-tabrakan dengan perenang lain. Kedua, airnya bersih dan sedikit kadar kaporitnya, mungkin karena masih di pinggiran Jakarta jadi kualitas airnya lebih bersih. Kita berenang pun rasanya seger banget! Ketiga, ada kolam jacuzzi dengan air panas suhu 39 derajat. Pas saya datang kemarin, banyak orang Korea berendam di kolam jacuzzi ini. Konon, orang Jepang dan Korea memang gemar mandi air panas. Kolam air panas alami di Gunung Pancar dan Ciseeng, Bogor pun kerap didatangi WNA itu.

Keempat ruangan bilasnya besar, bersih, dan ada air panasnya. Di ruangan bilas ini juga disediakan sabun, shampoo, dan hairdryer. Kalau weekend, untuk masuk ke kolam renang kece ini anda harus membayar Rp 80.000 per orang. Ya, memang agak mahal, tapi sebanding dengan kualitas yang kita dapatkan kok. Cuma, kalau dari Jakarta ke sini memang butuh usaha keras. Jalan tol arah ke Cibubur macet parah kalau pas akhir pekan. Free u’r time, free u’r wallet to enjoy this pool! ๐Ÿ™‚

img-20161203-wa0032img-20161203-wa0045img-20161203-wa0052

img-20161203-wa0043img-20161203-wa0047

img-20161203-wa0030

Ada juga kolam-kolam renang lain yang sudah saya datangi. Beberapa lumayan. Seperti House of Shafa Tebet, kolam renang Badan Intelejen Negara (BIN) Kalibata, dan Manggala Wana Bakti Sport Center. Semuanya ada kurang dan lebihnya. Cobain aja satu-satu kalau kalian hobi berenang. It would worth u’r time, I swear!

img_20161119_180153

Ini Manggala Wana Bhakti Sport Center. Tempatnya ada di kompleks Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Senayan, Jakarta Pusat.

img-20160807-wa0005

House of Shafa, Tebet, Jakarta Selatan

img_20161016_135751

Kolam renang BIN, Kalibata, Jaksel.

****

Well, senang rasanya menceritakan kisah yang happy ending ini. Hubunganku dengan air perlahan membaik, dan berharap kami akan kian mesra. Puas rasanya. Kalau saya punya hobi, setelah 27 tahun hidup tanpa olahraga rutin, sekarang saya bangga bilang kalau hobi saya berenang! Trus, saya sekarang juga selalu menanti-nanti akhir pekan. Tak sabar rasanya mengatakan, can’t wait for another swim! can’t wait for another swimming pool exploration! Yeay!!! ๐Ÿ™‚

Waktu Tertahan di Perpustakaan Nyaman

Apa yang aku suka dari membaca? Mengutip seorang teman, membaca seolah membuat sepi dalam diri, ramai di pikiran. Imajinasi kita tiba-tiba diajak melayang-layang ke suatu tempat yang sungguh asing. Waktu tertahan, seolah bergerak memelan di sela hiruk-pikuk, hectic kota Jakarta. Kota yang kelebihan dosis kafein. Kota yang selalu kerja, kerja, dan kerja. Kota yang sibuk bersolek. Membangun, membangun, dan membangun. Can we just slow down for a while?

Rindu ketenangan. Selain di taman yang terkadang dipenuhi alay dan hipster, perpustakaan menjadi tempat menepi yang nyaman. Sejenak kita bisa melarikan diri dari rutinitas yang serba cepat dan menuntut. Saat libur akhir pekan, atau saat sempat, aku pun menyempatkan diri menjelajahi perpustakaan atau kafe perpustakaan tempat di mana buku-buku ditata rapi bermartabat di dalam rak. Entah mengapa, ada rasa haru yang menyeruak, saat melihat deretan buku tertata rapi di rak kaca, rak kayu terbuka, atau tempat penyimpanan lain. Ada imajinasi liar, rangkaian kata-kata yang mencoba menguntai makna mengerling dari rak-rak itu. Buku, penyelamat peradaban. Medium manusia keluar dari zaman prasejarah. Tempat di mana sebuah mahakarya besar bernama ilmu pengetahuan diawetkan.

Freedom Institute. Sebuah perpustakaan di dekat Taman Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat yang belum lama ini tutup. Acungkan jari tengah bagi si penutupnya. Perpus ini kece, berada di pusat orbit kota. Dekat dengan Cikini dan Megaria. Demi apa, perpus kece badai ini saat ini beralih fungsi menjadi markas pemenangan salah satu calon gubernur. Sungguh keji yang punya ide ini. Faak!

img_20150815_185427

Lihat keren bukan? Bayangkan anak-anak muda lawan jenis ini kenalan di Tinder, lalu kopi darat di tempat ini. Mereka akan curi-curi pandang sambil tersipu malu di meja baca. Dada mereka berdesir tatkala tangan tak sengaja bersentuhan saat akan mengambil buku sastra yang sama di sebuah rak kayu. Lalu, di taman depan, di luar perpustakaan mereka akan mengobrol tentang buku-buku favorit mereka. Mereka akan saling mengutip kutipan-kutipan dari penulis kesayangan. Aih, level kenorakan saya memang hanya sebatas adegan Rangga-Cinta. Payah! :p

img_20150815_123441

img_20150815_143503

img_20150815_143452

img_20150815_121759

img_20150815_121245

img_20150815_134610

Rest in peace, our lovely Freedom Institute ๐Ÿ˜ฅ

*****

img_20151231_182414_hdr

dscf0022

dscf0024

dscf0019

Ini Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan. Tempatnya lumayan kece. Tapi makanannya standard dan mahal. Kalau sedang beruntung, engkau bisa bertemu dengan si empunya kafe, Richard Oh. Yes! He is kind and friendly. Aku pernah berjam-jam mengobrol dengan dia soal film, sastra Indonesia, dan project yang sedang dia kerjakan. I love Richard very much…

Ada juga toko buku Post, di Pasar Santa yang belum berhasil saya datangi. Di sana ada banyak buku kece, dan sering menjadi tempat diskusi penulis-penulis keren. Mungkin, libur pekan depan saya akan ke sana. Lalu, menuliskannya buat kamu, iya kamu…

Oke, dan sekarang saya mengantuk. Meski berjuluk malam, saya bukan Edward Cullen. So, saya harus segera bobo manis, biar besok bisa menjemput pagi yang magis. Sekeren apapun, sekuat apapun, kita tidak akan bisa memberontak kawan, jikalau kita mengantuk. Hooaammm…

 

Gelora,

22 November 2016

01.57 am

Segelas Kopi Konsistensi di Kedai Tak Kie

Pagi itu, aku sudah berniat bangun lebih pagi. Tapi, seperti biasa, tidur terlalu larut selalu membuatku bangun kesiangan. Sialan! Padahal aku sudah menyepakati untuk bertemu temanku jam 09.00 di Glodok, Kota. Apa daya, tepat saat mata terbangun, jam di ponsel menunjukkan angka yang sama. Panik! Aku buru-buru mengirim pesan whatsapp ke partner janjianku.

โ€œNyiz..sorry, baru bangun. Agak telat sedikit gapapa yah? :Dโ€

Tak berselang lama, temanku membalas:

โ€œHahaha, sudah kuduga. Taka pa, ini aku juga baru mau berangkat. So ketemu jam berapa?โ€

โ€œOk siap, mandi langsung luncur ke Glodok!โ€ balasku

Ternyata, aku sampai di meeting point lebih awal daripada temanku. Aku naik sepeda motor, sementara temanku naik angkutan umum. Ya sudah, aku tunggu sampai dia sampai sembari melamun di atas motor. Akhir pekan, jalanan Glodok lengang. Tak seramai biasanya. Lalu, sejurus kemudian, temanku datang. Dia melambaikan tangan dari halte seberang, senyumnya mengembang. Sambil cipika-cipiki, aku spontan mengucap maaf karena bangun kesiangan (kebiasaan).

Tanpa banyak basa-basi, kami langsung beranjak ke tempat tujuan: kedai Es Kopi Tak Kie. Tempat itu ada di dalam gang Gloria, Pasar Petak Sembilan Glodok. Sebelum sampai di TKP, kami harus melalui gang pasar yang dipadati pedagang jajanan khas Pecinan, ada aneka manisan buah, permen, kue, kacang, kue bulan, semua ingin dicoba satu-satu. Kami juga melewati gerobak-gerobak penjual olahan daging babi, siomay, dan bakpao. Bulu kudukku agak bergidik melihat usus babi besar menyembul di atas panci totol-totol. Meski belum ramai pembeli, pedagang sibuk menata aneka daging dan jerohan itu dengan garpu. Sesekali, mereka menawarkan dagangannya.

Pagi sudah beranjak siang saat kami duduk di kursi di pojokan. Kedai rame pagi itu, mungkin karena weekend. Sejumlah pemuda-pemudi dengan tentengan kamera DSLR sudah duduk di salah satu meja. Mereka cekikak-cekikik sambil minum es kopi, dan mengedar pandangan ke seluruh ruangan. Sempat ada cowok yang mencuri pandang ke arahku, mungkin karena kupakai lipstik ungu? Hahaha. Sembari menunggu pesanan kopi, aku tak mau kalah jeprat-jepret. Eh, si cowok itu curi-curi pandang lagi. Aku tersenyum, tersipu malu.

Ini kali pertama aku datang ke kedai Es Kopi Tak Kie. Temanku sudah dua kali. Jadi, aku manut saja rekomendasi minuman yang ia tawarkan. Kata dia: โ€œkalau mau minuman yang strong, pilih kopi hitam. Tapi kalau nggak kuat mending kopi susu ajaโ€. Yah, meski nyawa masih belum sepenuhnya terkumpul, aku pilih kopi susu saja. Sepertinya endess endolita ๐Ÿ˜€

Ruangan itu panas, tapi tidak begitu pengap meski berada di dalam gang pasar. Ada beberapa kipas angin yang menari-nari, menghembuskan sedikit udara dingin ke ruangan. Peluh terlihat mengujur dari kening pengunjung yang sedang menyantap bakmie, nasi campur, dan siomay. Kami cukup memilih menu es kopi susu. Soalnya, setelah kopi sepertinya enak makan gado-gado. Sayur-mayur biar hidup lebih berserat, he..he..he. Belakangan, baru aku tahu roti sobek keju di kedai itu juga rancak bana. Cocok untuk pendamping kopi di pagi jelang siang.

tak-kie-2

***

Aku ini penyuka kopi gadungan. Kenapa? Karena hubunganku dengan kopi agak pelik. Benci tapi rindu. Kalau kebanyakan nenggak kafein, lambungku yang telanjur maag ini langsung perih. Asam lambung naik dan dada berdebar-debar. Cukup lama untuk ngilangin efek kopi. Tapi, tanpa kopi aku nggak bisa mikir, nggak bisa ngetik. Jadi ya gitu deh, benci tapi rindu. Colek dikit langsung mau. Ealahโ€ฆ

img_20160528_111103

Menurutku, es kopi susu Tak Kie ini lumayan. Temanku meminta aku memberi skor 1-10, aku beri angka 7! Saat disajikan, susu kental manis masih mengendap malu-malu di bawah cairan kopi yang sedikit pekat. Aku mengaduknya, pelan-pelan, penuh cinta. Lalu, kucoba sesruput dengan sedotan. Ehm, enggak terlalu manis, pas. Lambung agak bereaksi karena belum sarapan, tapi bodo amat, mari lanjut sruputan selanjutnya. Cerita ngalor-ngidul seputar pekerjaan, pengalaman liputan, hingga yang berat isu feminisme pun deras meluncur. Kopi dan teman diskusi. Jika perpaduannya pas akan menjadi candu baru.

Kali kedua, aku kembali datang dengan teman kantor. Kami sudah lama janjian ingin menulis artikel tentang spot-spot menarik di ibu kota. Kali kedua itu, kami agak nyantai meski berkejaran dengan jam tutup kedai. Kami masih sempat ngobrol dengan Ko Latif Yulus atau Ayauw alias Liong Kwang Joe atawa Akwan, pemilik kedai yang ternyata sedang sakit itu. Sembari menemani ko Yusuf makan siang dan minum obat, kami curi-curi dikit resep dan konsistensi usaha kopinya.

Dari sorot matanya dan gerak-gerik wajahnya, Ko Latief tampak ikhlas dan โ€œsemelehโ€ kalau kata wong Jawa. Raut wajahnya yang tenang, jernih tanpa asumsi menandakan betapa pengalaman hidup menempanya. Menempanya bukan untuk menjadi telur yang keras, atau wortel yang lembek, tapi harum dan nikmat seperti kopi.

Kedai kopi ini adalah milik kakeknya. Awalnya, kakeknya berjualan teh liang dengan gerobak di sekitar pasar Glodok Pancoran. Setelah modal terkumpul, sang kakek pun menyewa lalu membeli tempat yang sekarang. Tempat itu sudah ada sejak 1927. Sejak 1927 pula, keluarga ini menekuni konsistensi racikan kopi. Ada lima jenis kopi yang dicampur menjadi satu. Biji kopi dikirim dari Lampung. Kopi lalu disangrai dan digiling di kedai. Perpaduan lima jenis kopi berbeda itu lah yang membuat rasa kopi di kedai ini terasa istimewa.

Belakangan, Ko Latief kerap mengeluh dengan kualitas kopi yang terus meredup. Petani memanen kopi sebelum kopi masak di pohon. Setelah sekian lama bergelut di bisnis kopi, ia pun tahu bagaimana menakar quality control biji kopi. Ia kini juga tak lagi mengambil langsung dari petani. Ia mengambil bahan dari supplier yang ada di Jakarta. Cara itu ia lakukan untuk menghemat pengeluaran.

Sehari, ia bisa memasak hingga beberapa panci besar. Bubuk kopi tidak diseduh di gelas seperti kita biasa meracik kopi instan. Bubuk kopi direbus dengan air mendidih. Kopi lalu disaring dengan kain katun untuk menghilangkan ampasnya.

***

tak-kie-6

โ€œKoh, nggak minat buka cabang di tempat lain?,โ€ cetusku ngasal.

โ€œEnggak punya duit, enggak punya modal. Sewa tempat saja mahal, belum listrik, karyawan, dll. Rugi, enggak kekejar modal sama penjualannya,โ€ ujar Ko Latif.

Ko Latif dan keluarga mencukupkan diri untuk membuka tokonya hingga pukul 14.00 saja. Dia enggan menyaingi waralaba kopi internasional yang tak pernah tidur itu. Latif yakin rezeki sampai pukul 14.00 sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Mengobrol dengan Ko Latif ini asyik sekali. Bahkan, dia sempat menunjukkan foto-foto jadul berwarna hitam putih kepada kami. Foto memori masa kelam saat reformasi 1998. Tak terasa, karyawan sudah menata meja dan kursi dan bersiap-siap tutup. Separuh pintu sudah ditutup dengan balok-balok kayu panjang. Kursi-kursi tua berwarna cokelat tua dibalik dan diletakkan di atas meja. Kami harus segera pamit karena toko sudah tutup.

Saat melangkah keluar kedai, ternyata pintu masuk sudah dijejali oleh pedagang siomay dan jeroan babi yang berjajar. Dengan gesit, mereka segera mengokupasi halaman kedai Tak Kie dengan dagangannya. Ternyata inilah cara Ko Latief dan keluarga berbagi rezeki. Saat kedai ditutup, ia memberikan kesempatan untuk pedagang lain berjualan di tempatnya. Ini yang jarang kita temui di kedai pemodal kelas kakap yang lebih suka berdagang dengan sistem monopoli.

tak-kie-1

Libur Kecil Kaum Kusam dan Rapuhnya Transportasi Publik

Libur Maulid Nabi yang beriringan dengan Natal tahun ini, jatuh di tengah minggu dan menjadi libur panjang karena berdempetan dengan akhir pekan. Warga Jakarta yang notabene adalah orang perantauan (baca: wong ndeso) berbondong-bondong pulang kampung. Bisa dipastikan jalur pantura yang melewati Cikampek, Cikopo, dan Palimanan (Cipali) akan menjadi tempat parkir mahaluas. Begitu juga dengan jalur liburan mainstream lain yang bisa ditempuh dengan jalur darat seperti kawasan Puncak, Bogor dan Bandung, Jawa Barat.

Imaji akan serunya bertamasya di tempat yang sejuk seketika berubah menjadi bencana karena tragedi macet panjang! Semua orang nyinyir di sosial media. Media massa meliput dan jadilah berita “tragedi kemacetan” terparah di pengujung tahun. Menteri Perhubungan dirundung. Beberapa menit sebelum puncak arus balik, negeri ini digegerkan dengan mundurnya Dirjen Angkutan Darat Kemenhub Djoko Sasono. Djoko dengan berwibawa mundur karena merasa gagal mengantisipasi libur panjang di jalur mudik (secuil wilayah di Pulau Jawa, Indonesia).

***

Rekayasa lalu lintas, pelarangan truk masuk tol dinilai telat sehingga menyebabkan rakyat sengsara karena harus berjam-jam berada di jalan raya. Macet Natal disinyalir lebih parah dari macet Lebaran. Publik menggugat kesiapan jalur mudik pantura Jawa. Meski tak pernah ada yang benar-benar menghitung, apakah kapasitas jalan di sepanjang jalur mudik dan liburan itu mampu menampung sekian banyak kendaraan pribadi yang membeludak?

Berapa banyak kendaraan pribadi yang mengaspal di jalan raya selama libur Natal ini? Bandingkan dengan load factor angkutan umum bus, kereta api, dan pesawat terbang yang mengangkut penumpang selama libur Natal itu. Jasa Marga memprediksi volume kendaraan yang masuk Cipali akan meningkat satu setengah kali lipat dari volume harian sebanyak 24.000. (baca: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2015/12/21/354454/libur-natal-tahun-baru-volume-tol-cipali-diperkirakan-naik-150). Angka yang cukup fantastis!

Mungkin, meningkatnya kelas menengah di Jakarta berbanding lurus dengan melonjaknya warga yang memiliki kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Dengan gaji minimal Rp 10 juta per bulan saja, mungkin orang bisa kredit mobil. Apalagi dengan insentif down payment yang murah. Ah, lagi pula mobil-mobil itu juga bisa menenggak premium bersubsidi. Ditambah lagi, kadar kekerenan seseorang akan terdongkrak drastis setelah dia memiliki setang bunder.

***

Di tengah polemik itu, saya tiba-tiba teringat dengan mereka yang mudik dan Liburan dengan angkutan umum. Apa yang membuat mereka berbeda dan begitu spesial? Mungkin uang mereka cekak untuk membeli bensin, apalagi membayar angsuran kredit mobil. Tapi, kalau mereka punya uang, saya yakin mereka juga akan memilih pergi dengan mobil. Apa sih spesialnya naik angkutan umum? Sudah angkutannya jelek, nunggu lama, harus berdesak-desakan mungkin dengan orang asing yang keringatnya sangat bau, dan repot bertanya sana-sini untuk mendapatkan angkot yang tepat. Fiuh!

***

Minimnya insentif angkutan umum itu saya rasakan ketika dua kali berlibur dari Jakarta-Bandung. Saya memilih naik kereta api dari Jakarta. Harganya cukup terjangkau Rp 85.000 untuk kereta kelas eksekutif. Saya memilih berangkat subuh. Dari kos di kawasan Palmerah, saya naik taksi ke Gambir. Biayanya sekitar Rp 40.000. Mata berat dan terkantuk menunggu kereta jam 05.00 subuh. Rasa kantuk terbayar setelah melihat liuk tubuh Bandung yang luar biasa dari balik kaca kereta.

Januari 2015, saya memilih berlibur ke Ciwidey, daerah Bandung Selatan. Sesampainya di Stasiun Bandung, saya berhenti menunggu konco gelut (partner in crime)ย tiba dengan kereta dari Jogja. Setelah bertemu, kami memutuskan untuk sarapan teh manis hangat dan nasi Padang. Makanan yang sangat berat untuk dimakan sepagi itu ๐Ÿ˜ฆ

Kelar makan, saya mencari angkot yang mengarah ke Ciwidey. Dari Stasiun kami asal nanya saja dengan warga sekitar, tentu saja setelah browsing dari tulisan blogger-blogger yang juga melakukan travelling kere seperti kita. Kami diantar sampai perempatan besar, yang saya sendiri lupa entah apa namanya! Di situ, kami menunggu angkutan mobil besar semacam Elf jadul yang sudah berkarat di beberapa sisi. Kami menunggu cukup lama dan nyaris kehabisan kesabaran, kapan angkot ini akan berangkat? Padahal di belakangnya sudah banyak angkot lain yang antre?

20150130_153854

Angkutan umum ke Kawah Putih, Ciwidey.

Sopir lalu menawari kami carter mobil saja kalau ingin mengarah ke objek wisata Kawah Putih, Ciwidey. Kata dia, tak ada angkutan yang langsung mengarah ke sana, apalagi yang berhenti tepat di depan pintu masuk objek wisata. Dia pun menyebutkan nominal harga carter. Kami menawar. Kalau tidak salah kami membayar Rp 130.000 untuk naik ke Ciwidey. Di tengah jalan, dia masih sempat menaikkan beberapa penumpang. “Maaf ya Teh, ini sudah langganan. Dia cuma ikut sampai desa bla..bla..bla kok,” ujar si sopir.

Udara sejuk Bandung Selatan membuat perjalanan terasa teduh dan damai. Kami mengobrol, sambil melihat lekuk pegunungan, dan hijau hutan yang menghampar. Sebuah pemandangan yang selalu menyejukkan mata dan kalbu. Sopir dengan agak tergopoh-gopoh menurunkan kami di dekat rest area Ciwidey. Untuk masuk ke objek wisata, masih perlu naik angkot sekali lagi. Angkot resmi dari pengelola objek wisata Kawah Putih.

20150130_151309

20150130_151521

Saya lupa menghitung berapa detail harga yang harus dibayarkan. Kami terlalu lelah, dan terlalu bersemangat untuk segera menikmati kawah yang konon tempat berkumpulnya para dewa itu. Kami turun sekitar pukul 17.00, dan kehabisan angkutan umum yang membawa kami turun. Kami jalan kaki cukup jauh sekitar 1-2 kilometer untuk mencari angkot yang konon terakhir menjelang Maghrib itu.

Kali kedua, Desember ini, saya pergi ke Lembang, Bandung Utara. Sama seperti perjalanan sebelumnya, saya memilih naik kereta dari Jakarta. Tarifnya masih sama. Kali ini, saya pergi dengan teman kos. Tujuan awal kami adalah restoran Dusun Bambu, pasar terapung, dan Taman Bunga Begonia. Ternyata dua lokasi itu terpisah cukup jauh. Dusun Bambu ada di kawasan Parongpong, sedangkan Taman Bunga Begonia ada di Lembang atas. Karena cuaca hujan, akhirnya kami cuma menghabiskan seharian menyusuri dusun bambu yang sangat asri dan ramai itu!

Angkutan umum di Lembang lebih banyak jumlahnya daripada angkutan ke Ciwidey. Tapi sama saja, tidak ada yang sekali naik-sampai. Kami harus berganti angkutan umum sebanyak tiga kali dari Stasiun Bandung. Ongkosnya sekitar Rp 4.000-Rp 5.000 per trip. Sopir yang agak ugal-ugalan kami cuekin karena perjalanan ke Parongpong kami disuguhi kebun bunga yang cantik. Warna-warni bunga yang mekar sedap ditatap. Tak ketinggalan, isu soal perempuan, pendidikan, dan sukarelawan mewarnai percakapan siang itu. Untuk mencapai pintu masuk Dusun Bambu, kami lagi-lagi harus menyarter angkot. Dasar traveller kere! ๐Ÿ™‚

Keasyikan memotret di Dusun Bambu, plus kecapekan kami kurang memperhitungkan waktu. Kami lupa kalau tak ada angkot dari pintu masuk Dusun Bambu. Rata-rata, pengunjung resto, resort, dan taman bermain itu bermobil atau minimal naik sepeda motor. Kami akhirnya naik ojek dengan ongkos Rp 15.000 sampai di Parongpong. Untunglah, sampai Parongpong masih ada angkutan umum ke Ledeng untuk selanjutnya kami naik angkot ke daerah Pasteur.

DSCF0039

Dusun Bambu

DSCF0048

Pemandangan dari atas

DSCF0135

Hujan lebat, kami terlelap. Teman saya sempat agak kesal dengan sopir angkot yang membawa kami dari Ledeng-Bandung Kota. Sopir angkot asal menaikkan kami saja, padahal jelas-jelas kami bertanya dulu apakah angkot itu turun di Pasteur? Di sopir tak mau rugi, dia turunkan kami di depan hotel Novotel untuk menyambung ke arah Pasteur. Di tengah hujan lebat yang basah, kami bolak-balik berganti angkot sampai akhirnya tiba di Pasteur untuk menunggu travel. What a day!

 

***

Pengalaman saya sebagai traveller kere itu membawa saya pada keyakinan bahwa transportasi umum di kota-kota besar di Indonesia memang masih buruk. Bandung adalah kota tujuan wisata ternama. Ciwidey dan Lembang adalah sederet tempat wisata yang tersohor pula di Kota Kembang. Tapi, transportasi umumnya tidak tergarap dengan optimal. Apa karena mayoritas wisatawan pergi dengan kendaraan pribadi? Kenapa pemerintah nggak membuat strategi biar wisatawan nyaman ke mana-mana naik angkutan umum?

Transportasi mungkin bukan isu seksi bagi para politikus. Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, jembatan, taman, promenade, alun-alun berumput sintetis, dll akan lebih terlihat. Sampai kapan rakyat dipaksa untuk bisa bergantung pada angkutan umum? Toh, transportasi yang oke bisa setidaknya mendongkrak kunjungan wisata ke daerah itu.

Entahlah, mungkin logika saya terlalu naif. Bagaimana pun, pasar Indonesia masih tunduk pada politik otomotif yang mencengkeram. Pemerintah pun setengah-setengah memberikan insentif pada angkutan umum. Lalu, nikmat kapitalisme mana yang Kau dustakan?

Mari piknik dan galakkan naik angkutan umum! Karena kita bukan penenggak bensin bersubsidi yang nyinyir ketika subsidi dicabut. Tapi hobi selfie, minum kopi, dan tamasya ke tempat-tempat eksotis untuk dipamerkan di Instagram. Long live traveller kere!

 

Sabang dan jeratan biru lautnya

Beberapa bulan sebelum berkunjung ke Pulau Weh, Aceh, foto-foto tentang keelokan tanah rencong itu sudah lebih dulu memenuhi memori otakku. Aku berkenalan dengan Sabang, pertama kali dari foto-foto teman kantor lama yang berkunjung ke sana. Foto sebuah cottage berlantai kayu di tepi laut dengan hiasan bunga Bougenville berwarna merah muda keungu-ungunan langsung membuatku jatuh cinta. Diam-diam, aku merapal di dalam hati, supaya alam semesta mendukung langkahku ke sana. Maklum, waktu itu, aku sangat miskin, membayangkan bisa menginjakkan kaki di Aceh saja adalah sebuah keajaiban, he..he..he :p

IBOIH INN.jpg

Iboih Inn-foto diambil dari Gugel

Ternyata Tuhan benar-benar baik, kurang dari tiga tahun saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Sabang. Senang bukan kepalang rasanya. Ini dinas luar kota (DLK), pertama semenjak bertugas di kantor baru. Sebuah koran nasional yang cukup tersohor namanya, ho..ho..ho.. Rejeki anak soleh! Iya, saya pergi ke Sabang dibayari kantor, dan kerja bukan piknik, ha..ha..ha

Tapi beruntung, saya kerja di Sabang enggak serius-serius amat. Saya ikut maskapai ternama di Indonesia yang sedang promosi pembukaan rute baru Medan-Sabang. Hanya sehari saya liputan serius, melaporkan seremonial dan uji coba pesawat baling-baling ATR-72 Medan-Sabang. Sisanya? Jalan-jalan, jelajah kuliner, mengunjungi cottage-cottage ternama Sabang ditemani Wali Kota Sabang yang sangat membumi. Terima kasih, pak Wali!

20150206_182835

Sabang Hill

Eyegasm! apa yang saya lihat di seluruh penjuru Sabang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Sungguh sangat indah. Dan, aku percaya Indonesia memang sepotong surga di khatulistiwa. Ini kadang yang membuatku sinis pada kegiatan travelling luar negeri. Rasanya seperti mengkhianati negara sendiri, ketika setiap jengkal keindahan di sini belum terjamah, justru nafsu berkunjung ke luar negeri lebih membuncah!

Aku mencoba untuk tidak terlelap di sepanjang jalan. Aku tidak mau melewatkan setiap inci eksotisme Sabang. Sabang terlalu memikat, terlalu menjerat. Apalagi dengan kopinya yang enakknya naudzuibillah! Subhanallove, maafkan saya dengan segala kenorakan ini. Namanya juga mimpi jadi kenyataan, wajar kalau ekspresinya kebablasan, ha..ha..ha!

Selama di Sabang, aku lebih menikmati masakan asli warga setempat. Karena ikut rombongan Wali Kota, tiba-tiba di tengah jalan kami dihentikan oleh pemilik rumah yang sedang hajatan. Kebetulan waktu itu memang jam makan siang, jadi cocoklah. Gayung bersambut pada perut yang sudah keroncongan. Sayur gulai kambing, oseng tempe, bihun goreng, kerupuk dan hidangan lain rasanya enak sekali. Seorang teman melirik dan bergumam: “Ketagihan ya? ini Aceh!,” ujarnya sambil menunjuk oseng tempe dengan lirikan nakal. Usut punya usut, hidangan yang disebut Aceh itu sudah dibubuhi bumbu lokal entah daun atau biji ganja. Maka nikmat rempah mana yang kau dustakan? ๐Ÿ˜€

Seharian, kami berkeliling Sabang. Rasanya tak pernah cukup. Warna biru turqoise dan bening laut Sabang terlalu memikat dan menjerat. Pantai Sumur Tiga, Pantai Cassanemo, Pantai Iboih_untuk menyebut beberapa objek wisata ternama di sana_begitu menggoda. Sembari beberapa kali mengambil stok foto, kutatap laut Sabang lekat-lekat. Aku ingin merekamnya seapik mungkin di otak. Kelak, suatu saat aku akan kembali berkunjung bersama orang tersayang. Amin ๐Ÿ™‚

20150207_162340

Jembatan kayu

20150207_095140

Strike a pose on Cassanemo beach!!!

20150207_115110

Kelok sembilan

20150207_115432

Gardu pandang, lupa namanya ๐Ÿ˜€

20150207_130518

Makanan hajatan di Sabang

20150207_092127

Pantai Sumur Tiga

20150207_172743

Pantai Iboih

20150207_160743

La dolve vita, Sabang!!!

20150207_105724

Pantai Cassanemo

20150207_160423

Cottage terbaik dan termahal di sabang

20150207_095707

Lembutnya pasir Pantai Cassanemo, tapi ombaknya gede banget!