Hening perpisahan

Angin malam berhembus pelan menepuk-nepuk wajah yang telanjang tanpa masker. Matamu menatap lurus membelah jalan raya yang gelap menghitam, menyaru warna aspal. Aku bersembunyi di balik punggungmu yang bidang. Dari belakang, aku bisa menatap ekor rambutmu yang telah memanjang dan hendak mencium tengkukmu.

Ingin rasanya mengalungkan tangan ke pinggangmu, melawan dingin. Lama sejak pertemuan terakhir itu, kita tak pernah lagi saling menyapa. Sesekali, kita berkirim pesan lewat Whatsapp. Sekadar berbasa-basi hingga keki. Jauh di lubuk hati, aku tidak pernah membencimu. Bahkan setelah peristiwa itu, aku tetap mengasihimu. Kasih yang mungkin lebih besar daripada keinginan untuk memilikimu lagi. Aku hanya ingin selalu melihat senyummu mengembang di balik wajahmu yang pualam. Aku hanya ingin melihatmu mencapai mimpi-mimpimu. Meski bukan aku, seseorang yang menjadi penyemangat di sampingmu.

Aku menyebar pandangan ke jalanan Jakarta yang selalu sibuk. Kendaraan masih berlalu-lalang meski sudah larut malam. Lampu lalu lintas hanya menjadi pajangan. Merah-kuning-hijau, terobos saja. Kafe-kafe maupun warung burjo indomie masih dipadati para anak asuhan rembulan. Mereka tertawa cekikikan melawan malam kelam. Mereka menolak kesepian di kamar kosan. Lebih baik berteman susu jahe hangat dan indomie telur kari ayam, daripada menyerah pada kemunafikan. Kata Soe Hok Gie yang sudah kecanduan micin.

Aku masih menunggu kata-kata meluncur dari mulutmu. Tapi kita tetap terus terdiam. Sepi yang mengunci meski kita sudah berbelok dari gang besar ke gang sempit beberapa kali. Aku ingin berbicara memecah kesunyian itu. Tapi gengsi. Malas.

Deru mesin sepeda motor empat tak 110 cc, buatan Jepang terus memburu. Meraung-raung menahan beban lebih dari 100 kilogram jika berat badan kita ditotal jadi satu. Ditambah lagi dengan berkilo-kilo kenangan yang sangat membebani. Sepeda motor ini seolah bergerak lebih pelan. Bannya kempes, tak sanggup menahan muatan dan kenangan yang belum sempat ditorehkan.

Tidak seperti biasanya, kau akan memelankan laju sepeda motor, membuka masker atau kaca penutup helm. Lalu, tiba-tiba, dengan kasar menarik tanganku untuk digenggam. Kau akan bersiasat meyakinkan segala ragu dan takutku. Ya, aku pernah berada di sana. Mabuk dan lupa diri. Memberi kesempatan pada rasa penasaran untuk memuaskan dahaganya. Hidup itu sangat cair dan semesta bergerak. Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, namun layak diberi kesempatan. Untuk apa? Menorehkan sedikit kenangan untuk dikunci di dalam ingatan.

Laju sepeda motor sedikit memelan ketika memasuki gang ke arah rumahmu. Tiba-tiba kamu berbalik ke belakang, membuka satu kalimat yang memecah segala kebuntuan.

“Yakin tidak mau mampir?,” bujukmu.

“Enggak. Besok kerja. Takut khilaf,” jawabku.

“Yang terjadi, ya terjadilah,” kilahmu.

“Bodo amat,” sergahku.

Pedal rem belakang diinjak. Kita sudah sampai di depan rumahmu. Mesin motor tidak dimatikan, hanya kamu menetralkan giginya. Kamu turun, secepat mungkin, untuk menyambut wajahku. Aku masih tertunduk, malu. Seluruh lidah tercekat, padahal aku ingin bercerita banyak. Sebelum bertemu, aku sudah ingin memberondongmu dengan banyak pertanyaan. Tapi, semua itu tak pernah terucapkan. Aku sibuk membangun benteng kokoh supaya tidak tunduk di depan hegemonimu. Pride seorang perempuan harus terjaga dengan penuh kehormatan. Tidak baik menawarkan mabuk untuk kali kedua.

Sebenarnya, aku punya satu rahasia yang harus segera terungkap malam itu. Tapi, aku memilih segera pergi dan melambaikan tangan. Tidak baik menerka-nerka perasaan orang. Yang kelar, tak perlu dikejar. Sudah terlalu banyak ruang dramatisasi, dan glorifikasi.

Aku pun memutar motor di antara gang depan rumahmu yang tak terlalu lebar. Pamit. Benar-benar pamit untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan tak berujung dalam lorong gelap malam. Esok, kita akan berjumpa lagi dengan pagi. Pagi, yang tak akan pernah ingkar janji karena selalu menghadirkan matahari.

 

Kebon Jeruk,

02.26

Advertisements

Anies dan Musuh Imajinernya

“Politik itu seperti jarum akupuntur, apabila ditancapkan pada titik yang benar, dia akan mengatasi masalah. Namun, jika ditusukkan pada titik yang salah, dia justru akan merusak semuanya.”

Kalimat itu pernah saya dengar dari seorang dosen tata kota dan real estate Universitas Tarumanegara. Kala itu, saya sedang berdiskusi dengannya soal pemimpin dan masalah perkotaan. Dia termasuk akademisi yang cerdas karena bisa menjelaskan masalah rumit menjadi mudah dicerna. Maklum, IQ saya melati. Saya alergi dan sulit mencerna kalimat ambigu, dan abstrak yang memusingkan.

Sebagai pewarta desk metropolitan, saya memang dituntut untuk menerjemahkan kebijakan politik seseorang dalam sesuatu hal yang konkret dan riil. Masalah yang kami kulik adalah permasalahan sehari-hari mulai dari bangun tidur, sampai warga tertidur lelap lagi. Mulai dari trotoar rusak, antrean bus dan KRL yang padat, pencopetan, penjambretan, pembegalan, hingga kebakaran. Sulit bagi kami untuk menerjemahkan kalimat politikus yang berbunga-bunga nan ambigu.

Beberapa hari ini, saya mendapatkan kesempatan untuk meliput kegiatan gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta. Mas Anies Baswedan dan Bang Sandiaga Uno. Mereka adalah nakhoda baru ibu kota Jakarta. Mereka yang diharapkan mampu membenahi seabreg silang sengkarut masalah khas Jakarta. Seluruh asa tentang mengatasi kemacetan, banjir, ketimpangan ekonomi, serta pembangunan yang lebih mengutamakan dampak lingkungan ada di pundak mereka. Plus, selama masa kampanye mereka juga telah mengumbar banyak janji mulai dari rumah dengan DP 0 persen–belakangan direvisi jadi DP Rp 0, menolak reklamasi–belakangan direvisi menjadi tidak melanjutkan reklamasi, hingga pemberdayaan ekonomi kecil OKE OCE.

Saya pun mencoba tetap objektif, meski selentingan tentang Anies sudah banyak beredar di kalangan wartawan. Saya mencoba untuk menghapuskan kooptasi di kepala demi bersikap kritis, skeptis, dan optimistis kepadanya. Namun, prasangka baik saya itu langsung gugur di minggu pertama saya meliputnya. Anies sudah menunjukkan sifat aslinya meski baru beberapa jam setelah dilantik.

Politik identitas dan kemesraan dengan kelompok fundamentalis

Kontroversi itu muncul saat ia menggunakan kata-kata “pribumi” dalam pidatonya politiknya di depan warga. Dalam pidatonya itu, Anies berimprovisasi dari naskah tertulis yang ia konfirmasi ditulis sendiri. Isi pidato langsung yang keluar dari mulutnya malam itu adalah “Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di Jakarta. Selama ratusan tahun. Betul, enggak? Di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh, tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Dan karena itu, bila kita merdeka janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu, kita semua pribumi, ditindas dan dikalahkan. Kini, telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta seperti dituliskan pepatah Madure. “itik se atelor, ajam se ngeremme”. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras merebut kemerdekaan, kita yang bekerja keras mengusir kolonial, kita harus merasakan manfaat kemerdekaan.”

Saya yang hadir di lapangan blok G Balai Kota saat itu, sudah merasa jengah dengan kata-kata yang ia ungkapkan. Alih-alih berpidato untuk warga Jakarta, Anies berpidato seolah sedang membaca artikel ilmiah untuk pidato kepresidenan. Rupanya, ia yang memakai seragam putih-putih, didampingi oleh istri dan dan putrinya itu, hatinya sudah tidak di Jakarta. Ia membidik arena perang kekuasan yang lebih luas yaitu istana megah yang ada di sebelah utara Balai Kota.

Alih-alih meyakinkan warga dengan janji politiknya–ia menolak menggunakan kata program kerja, ia justru beretorika. Padahal, konstituennya yaitu warga Jakarta menunggu 23 janji politik direalisasikan. Saya pun tidak memilih angel pidato soal pribumi untuk dikirimkan ke kantor. Sebagai wartawan metropolitan tulen, saya mengutip kalimat-kalimat paling konkret yang diucapkan malam itu. Ia sempat menyinggung soal kebijakan pemerintahannya akan lebih mendengarkan suara warga terutama miskin kota, ia akan menghidupkan majelis kota, forum musyawarah kota, dan sebagainya. Dalam membangun kota, ia juga akan lebih berwawasan lingkungan. Ia menyebutkan bahwa pengelolaan teluk akan didasarkan pada kepentingan warga bukan korporasi dan privatisasi. Itulah yang saya tangkap dari omongannya dan akan terus saya tagih demi membangun Jakarta yang lebih humanis. Jakarta seperti yang Anies-Sandi cita-citakan yaitu maju kotanya, bahagia warganya, sesuai sila ke-5 Pancasila.

Saya tidak akan membahas panjang dan lebar soal kontroversi penggunaan kata pribumi ini. Banyak media mainstream, blog, dsb yang sudah membahas itu. Anies, mungkin akan dengan mudah berkelit soal penggunaan kata itu. Ruang untuk berkelit memang banyak dan mungkin dilakukan. Namun, apakah Anies bisa menjawab soal spanduk yang dibentangkan pendukungnya beberapa jam sebelum acara pelantikan dimulai?

photo_2017-10-20_16-46-25

Spanduk ini masih dipasang di posko yang terletak di Tugu Tani, sehari setelahnya. Posko di Tugu Tani ini sudah terkenal di kalangan wartawan digunakan sebagai basecamp ormas Islam saat aksi simpatik tanggal cantik. Apakah Anies masih mau mengelak soal politik identitas yang sedang dia mainkan?

Salah satu blog yang mengulas tentang kontroversi penggunaan kata “pribumi” dan menurut saya obyektif, jernih, adalah yang ditulis mantan editor The Jakarta Post ini, mbak Evi Mariani. Dia adalah jurnalis yang selama ini banyak mengikuti isu tentang kesejahteraan warga miskin kota. Saya menaruh hormat pada beliau yang tetap jernih melihat fenomena itu:

http://islambergerak.com/2017/10/pribumi-anies-baswedan/

Pendemo reklamasi dicuekin

Kekecewaan pun berlanjut pada hari pertama mereka mulai bekerja. Sejak dilantik, Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, serta ormas lain yang menolak reklamasi berdemo di Balai Kota. Siang itu, kelompok AKAR kembali berdemo di Balai Kota. Mereka menagih janji Anies yang akan menolak kebijakan reklamasi pemerintah pusat. Masa pun berorasi dan memasang spanduk di halaman luar Balai Kota. Pintu gerbang ditutup rapat dan dijaga aparat. Tak berapa lama, tujuh perwakilan warga diminta untuk masuk ke pendopo. Mereka diminta menunggu sampai Anies selesai menemui tamu dubes Korea, dan biro hukum. Karena menunggu terlalu lama dan tidak ada kepastian bertemu Anies, warga pun memilih pulang dan membubarkan diri.

Cerita ini mirip dengan Jokowi yang tidak pernah mempersilakan peserta aksi Kamisan–mereka yang menuntut penuntasan HAM berat, masuk ke Istana. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang menuntut keadilan atas hilangnya nyawa anak-anak dan saudara mereka dengan percuma itu tak pernah disambut Jokowi. Anies mungkin sudah mempersilakan pendemo tolak reklamasi masuk ke pendopo Balai Kota. Namun, kenapa dia tidak segera mempersilakan mereka masuk dan berdialog tentang aspirasi mereka?

Anies tampaknya akan terus beretorika yang membuat saya pusing. Sulit membayangkan Anies dan ide-ide besarnya bisa praktis, efektif, dan efisien diterapkan di dunia nyata. Menurut hemat saya, Anies akan mendulang keuntungan politik jika ia mau menerima pendemo reklamasi. Meskipun entah tindak lanjutnya apa, tentu dia akan dianggap gubernur pro nelayan pesisir utara Jakarta yang pertama kali beraudiensi dengan warga di Balai Kota. Namun, ternyata dia malah sibuk dengan retorika dan pencitraan.

Usai warga membubarkan diri, tak lama Anies-Sandi keluar. Mereka salat berjamaah bersama di Masjid Fatahillah. Mereka lalu melanjutkan dengan blusukan naik bus wisata. Saat naik bus wisata itu, kami rombongan gubernur, dan warga diikuti oleh seorang pengendara sepeda motor. Dia menerobos Jalan MH Thamrin yang sudah jelas-jelas dilarang untuk sepeda motor. Pengemudi sepeda motor itu mengibarkan bendera panji Islam. Di sepeda motornya juga terpampang stiker berwarna hijau bertuliskan “Pribumi”.

https://metro.tempo.co/read/1025569/bus-anies-sandi-dikuntit-motor-fans-berbendera-dan-stiker-pribumi

photo_2017-10-20_16-44-54

Tampaknya, Anies akan terus beretorika dan menciptakan musuh imajiner bernama “pribumi” dan “non pribumi”. Retorika rasisme itu apakah tetap akan ia gunakan untuk: 1. Menutupi kelemahannya yang hanya berkutat pada tataran konsep, bukan tataran praktis. 2. Menggalang dukungan publik karena siapapun yang menentang Anies artinya adalah anti pribumi dan anti Islam?

Saya tetap akan menunggu kiprahnya selama 5 tahun ke depan. Semoga Anies tidak hanya berkutat pada retorika dan musuh “imajiner” yang dia ciptakan entah untuk “tuan” atau “dirinya” sendiri di 2019. Semoga dia benar-benar pemimpin amanah, yang tidak disetir oleh elite dan bohir untuk memuluskan jalan politiknya. Klise, jika rakyat kecil hanya selalu menjadi komoditas dan diperhitungkan suaranya hanya saat pemilu. Kami perlu pembeda! Bukan retorika.

photo_2017-10-20_16-46-42