Takluk pada Pesona Sumba

Awan putih tergambar kontras di antara latar belakang langit biru bersih. Awan itu bergumpal-gumpal, dan berarak pelan. Membuatku sesekali menerka bentuk binatang apa yang sedang dilukis langit.

Karpet rumput berupa padang savana berwarna cokelat meliuk-liuk di antara perbukitan gersang. Awan-awan putih bersih sedari tadi berjingkat-jingkat di atas punggung bukit. Bayangan awan membuat punggung savana sebagian gelap, sebagian terang. Gradasi warna cokelat, biru, dan putih bentang alam di depan mata membuat napas sejenak berhenti. Sumba, begitu saja sudah sangat memesona. Dan mataku memandanginya lekat.

Saya bersama travelmates Dyah, Lya, dan Desy memilih mengambil jeda untuk beribadah alam di bulan Agustus. Agustus masih kemarau. Bukit-bukit savana yang semula hijau menguning bahkan menyokelat. Sumba mendidih di siang hari. Namun, udara bersih di pulau ini membuat kami nyaman saja. Apalagi, angin cenderung berhembus kencang sehingga cuaca terasa tidak terlalu terik.

photo_2017-09-28_00-57-34

Sepanjang perjalanan menuju destinasi yang telah kami tentukan, kami hanya bisa berdecak kagum. Tidak salah memilih tanah para arwah ini untuk dikunjungi. Bentang alamnya sangat menggoda. Apalagi, bagi kami pencinta foto alam landscape. Hell-O! Eyegasm overload, hahaha…

photo_2017-09-28_00-58-20

Ini merupakan perjalanan perdana saya bersama geng ngetrip cinta. Ya, tiga sahabat itu sudah beberapa kali ngetrip bareng. Bahkan, mereka juga punya kelompok arisan ngetrip. Saya anak baru nih, yang kebetulan diajakin teman-teman les renang saya itu untuk ikutan ngetrip.

Sebelum berangkat ke Sumba, kami beberapa kali bertemu untuk membahas transportasi, penginapan, budget, hingga itinerary saat berada di Sumba. Tiket berangkat sudah dikantongi berbekal promo dari Garuda Travel Fair. Persiapan-persiapan lain masih perlu dimatangkan. Jujur, saya banyak pasif di grup WA maupun pertemuan rutin pra-keberangkatan. Apalagi kalau bukan karena pekerjaan yang mendera? Hehehe. Walhasil, saya sebenarnya lebih banyak terima beres dari hasil riset kawan-kawan lain. Saya makmum saja, hihihi. Kontribusi terbesar saya adalah membelikan tiket pulang dari Bali ke Jakarta. Selebihnya, saya lebih banyak meng-acc keputusan teman-teman. Paling banter memberikan sedikit saran kepada mereka.

Singkat cerita, kami berangkat medio Agustus. Di perjalanan menuju bandara, saya masih mengetik berita untuk dikirim ke email editor. Saya cuma tidur dua jam karena harus packing mendadak sembari mengebut semua deadline pekerjaan. Sudah biasa, bosque…

Kami mendarat di Sumba Barat. Bang Joni, sopir rental mobil yang kami sewa menjemput kami di bandara Tambolaka. Bang Joni ramah, sabar, dan tahu bagaimana menyervis wisatawan. Tanpa diminta, dia selalu menawarkan diri untuk memotret kami berempat. Hihihi.

Dari bandara, kami menuju kampung adat Rotenggaro. Kampung adat ini berada di tepi pantai Pero, Sumba Barat. Rumah adat dengan atap tinggi terlihat dari kejauhan. Kami berjalan pelan-pelan mendekati warga dan rumah adat. Ada banyak tahi kambing dan babi di rerumputan yang kami injak. Tatapan dan senyum warga lokal menyambut kedatangan kami.

Di tujuan pertama ini, kami agak kaget dengan sikap warga setempat yang sedikit intimidatif. Padahal, kebudayaan dan rumah adat mereka sangat menggugah rasa ingin tahu kami. Tidak ada yang menjelaskan mengapa desain atap rumah mereka memanjang menantang langit. Mengapa mereka meletakkan kubur batu di depan rumah? Anak-anak kecil, dan pria dewasa penjual kalung dan gelang justru membuntuti ke mana arah kaki kami melangkah. Membuat kami jengah.

“Ibu, minta uang ibu untuk beli permon to?,” ucap mereka sambil menarik-narik ransel saya.

“Permon, apa itu permon?,” tanya saya sembari tersenyum.

Permon ternyata adalah sebutan mereka untuk permen atau gulali.

Teman saya Lya dan Desy yang memang sudah bersiap membawa kertas lipat dan origami langsung sigap membuka isi tas mereka. Anak-anak mengerubungi mereka. Dengan sabar, Desy membagikan kertas dan memberikan instruksi kepada anak-anak. Ia mengajari anak-anak melipat kertas warna-warni menjadi kupu-kupu, burung, dan mainan lainnya. Saya yang selalu membawa kamera, memilih mengeksplor dan membidik lensa ke setiap sudut tempat. Sesekali, keriangan Desy dan Lya saat mengajari anak-anak pun saya abadikan.

Di rumah adat Rotenggaro ini, kami bisa melihat dari dekat rumah asli orang Sumba. Rumah panggung yang terbuat dari struktur bambu berwarna kuning gading dan atap dari alang-alang. Bagian bawah digunakan untuk kandang babi. Di atas, ada dapur, ruang tidur dan ruang tamu. Sayang, kami tak sempat masuk ke dalam rumah. Warga lokal juga menjual kain tenun Sumba. Kain tenun Sumba Barat lebih sederhana motifnya dibandingkan kain tenun Sumba Timur. Namun, cara warga menawarkan sedikit mengintimidasi sehingga kami agak ketakutan menawar. Kain yang dijual pun agak kotor terkena bercak-bercak daun sirih yang mereka kunyah. Kami memutuskan pergi tanpa membeli suvenir apapun meski sudah berkali-kali dipaksa. Sumba Barat memesona tetapi belum siap pada gelombang wisatawan. Mereka belum terlatih bagaimana memperlakukan wisatawan dengan ramah.

Kami lalu bergeser ke Pantai Pero untuk melihat senja. Senja di Sumba menakjubkan. Baru hari pertama saja kami sudah dibuat berdecak kagum pada suguhan guratan jingga matahari terbenam. Puas melihat senja, kami menuju penginapan di Rumah Budaya Sumba. Penginapan bersih dan nyaman ini milik Pater Robert.

Selama di Sumba Barat, kami selalu makan malam di restoran Gula Garam. Restoran ini terbaik seantero kota. Pemiliknya adalah bule Prancis yang beristrikan perempuan Jawa. Menu masakan di restoran ini lengkap banget. Mulai dari masakan Barat, Chinese, hingga rawon maupun soto. Oya, pizza di Gula Garam layak dicoba. Pizzanya tipis dengan toping sayuran maupun daging. Karena teman-teman kami vegetarian, kami pun lebih sering memesan menu seafood dan toping sayuran. Restoran ini juga menyediakan bir, es krim, serta minuman-minuman hangat.

photo_2017-09-28_01-10-37

Secara umum, perjalanan kami ke Sumba lebih fancy dan bergaya koper. Duile. Saya hanya mengikuti suara terbanyak dari kawan-kawan saya, karena saat persiapan saya kan lebih banyak pasif, hahaha!

Kami tinggal di Sumba selama lima hari. Kami menjelajah Sumba Barat, Sumba Barat Daya (Tarimbang), lalu berpindah ke Sumba Timur. Di Pantai Tarimbang, kami menginap di Marthen Guest House. Satu-satunya penginapan oke di tempat itu. Tidak ada sinyal internet sama sekali di tempat ini. Saat malam, lampu benar-benar padam karena sumber listrik hanya berasal dari genset. Tak mengapa karena kami tidur di bawah hamparan gemintang di atas langit. Lebih baik kami menjauh dari ponsel daripada fokus masih ke sosial media dan ponsel.

Selain ke rumah adat Rotenggaro, Pantai Pero, di Sumba Barat kami juga mengunjungi Danau Weekuri, Pantai Mandorak, Tanjung Maladong dan Pantai Bwanna. Keesokan harinya, kami sudah harus bergerak ke Sumba Barat Daya dan Sumba Timur. Di perjalanan menuju Pantai Tarimbang, kami datang ke kampung adat Praijing, lalu ke air terjun Lapopu.

***

Yang membuat kami miris adalah keelokan alam Sumba sangat ironis jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat di sana. Masyarakat di Sumba Barat terutama masih sangat miskin. Rumah-rumah mereka berada di tepi jalan dengan bangunan yang sangat sederhana. Bentuknya mirip dengan rumah honai papua. Namun, rumah panggung itu terbuat dari bambu beralaskan alang-alang. Saat kami melintas terlihat orang-orang sedang duduk di panggung yang ada di bagian luar rumah. Mereka mengobrol sembari menguyah sirih dan pinang. Anak-anak yang bertelanjang kaki dan dada bebas berlarian di lantai tanah di depan rumah.

Sebelum berangkat ke Sumba, teman saya Callista sempat berkata beberapa turis asing trauma pergi ke sana karena banyak diikuti anak-anak. Anak-anak meminta uang untuk membeli permen, pena, buku, dan keperluan sekolah lainnya. Mereka akan mengikuti ke manapun kami melangkah. Dengan wajah memelas, mereka mulai akan merajuk meminta uang untuk membeli keperluan mereka.

Saya dan travelmates pun sepakat tidak akan memberikan mereka uang untuk mendidik mental mereka. Alih-alih memberikan uang, kami memberikan permainan kepada mereka serta buku cerita. Mereka antusias mengikuti kelas origami singkat dan dibacakan buku dongeng. Setelah itu, mereka tetap tak lupa meminta uang lagi. Hadehhh.. wkwkwk :p

Iman saya lemah saat bertemu lima orang bocah di Pantai Mandorak. Pantai itu sepi, hanya ada kami berempat. Anak-anak mengikuti kami tapi tidak terlalu mengintil. Mereka duduk di kapal yang ada di pantai. Saya terus berlalu lalang mengambil foto dan video. Setelah selesai, kami bergeser ke balai-balai untuk makan siang. Botol sunblock yang kami bawa tertinggal di kapal. Anak-anak itu pun berteriak “Bu, ini ada yang ketinggalan!,” seru mereka.

Melihat wajah mereka yang tulus dan semringah, saya langsung tersentuh. Saya akhirnya memberi mereka uang untuk dibagi bersama-sama. Saya sudah berpesan supaya mereka jangan bilang kepada siapapun. Namun, pesan hanya tinggal pesan. Anak-anak lain semakin banyak yang datang dan merengek. “Bu, minta uang bu untuk beli pena dan buku di sekolah to?,”.

photo_2017-09-28_01-32-39

photo_2017-09-28_01-32-47

photo_2017-09-28_01-32-42

Semoga kelak, saat kembali lagi ke Sumba, pulau ini sudah berbenah. Warga bisa diberdayakan untuk berjualan makanan di tempat wisata, menjual suvenir, menjadi tourist guide, dsb. Menurut penuturan bang Joni, pariwisata Sumba terus berkembang dari tahun ke tahun. Apalagi, ada Nihiwatu, resort kelas atas yang sangat terkenal setelah dinobatkan sebagai the best resort oleh salah satu majalah perjalanan. My trip, your rejeki! Semoga orang Sumba yang ramah dan baik hatinya siap dengan gelombang wisatawan yang datang dan pergi ke kota itu. Jangan sampai NTT menjadi singkatan dari Nanti Tuhan Tolong yaa..

Humba Ailulu, kami rindu alam Sumba… uwuwu…

photo_2017-09-28_01-32-25

Kebon Jeruk,

01.50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s