Perjalanan, Kebebasan, dan Kemerdekaan

Pagi yang cerah di Sanur, Bali, akhir Agustus lalu. Saya dan tiga orang teman seperjalanan berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer dari penginapan untuk mencari sarapan di Warung Mak Beng. Warung Mak Beng ada di pinggir pantai Sanur. Lokasinya dekat dengan loket-loket yang menjual tiket penyeberangan ke Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan.

Lama tidak berkunjung ke Pulau Dewata, kami berempat sepakat bahwa Sanur lebih asyik daripada Kuta. Penginapan yang kami pilih secara acak, karena budget sudah menipis sepulang dari Sumba pun ternyata menyuguhkan kejutan. Pertama, di belakang penginapan ternyata ada pasar malam (night market) dengan menu kuliner beragam dan murah. Ada nasi goreng, bakmi goreng, capcay, bakso, mi ayam, siomay, nasi padang, gorengan, dll. Yang paling asyik adalah, pasar di Bali bebas menjual menu bir dengan harga murah. Untuk bir botol kecil yang biasa dijual Rp 40.000 di kafe-kafe di Jakarta, di Bali cukup Rp 25.000 saja. Bagaimana tak bahagia? Hihihi.

Selain menu kuliner yang beragam pasar ini juga menyediakan banyak suvenir khas Bali misalnya baju pantai, daster, pernak-pernik seperti dream catcher, gelang, kalung, patung Buddha, sabun, hingga lilin aroma terapi.

***

Sepanjang perjalanan dari penginapan ke warung Mak Beng, kami memilih rute yang melewati hotel-hotel di tepi pantai. Sekitar pukul 07.30, orang-orang jogging dan bersepeda di tepi pantai. Masyarakat lokal beritual menaruh sajen pada patung Hindu yang ada di pinggiran jalan. Resto hotel bintang lima di tepi pantai dipadati orang-orang yang sedang sarapan. Bali sangat semarak dan siap dengan pariwisatanya. Turis-turis baik dari Eropa maupun Asia menjejali pantai Sanur. Wajah mereka tampak rileks dan bersuka cita.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama sarapan di Warung Mak Beng. Saya jarang ke Bali. Sementara tiga orang teman lain, Diah, Desy, dan Lya lebih sering ke Bali. Mereka sudah beberapa kali makan di warung Mak Beng. Menu yang ditawarkan pun sederhana tetapi sangat endes endolita. Sepiring nasi putih, sop ikan dengan kuah kekuningan yang dicampur dengan timun segar, serta sepotong ikan goreng garing. Sambel terasi goreng di warung ini cukup nampol. Harga sepaket menu sarapan berat ini Rp 45.000. Dari harga itu, kalau tidak salah kami juga mendapat teh tawar hangat.

Pulang dari sarapan di Mak Beng, kami kembali berjalan kaki menyusuri jalan Sanur. Ada sebuah kedai kopi kecil yang menarik mata kami untuk berkunjung. Namanya adalah Kedai Kopi Toko. Kedai kopi mungil ini sangat kekinian. Bagian depan kedai didesain dengan interior warna cokelat kayu, putih, dan ornamen hijau dari tanaman rambat. Suasana kedai yang mungil dengan interior biru-turquoise ala pantai membuat kami betah berlama di sana. Sebelum kami datang, sudah ada sekeluarga yang sedang menyantap sarapan di sana. Ada seorang kakek, nenek, ibu, dan bocah laki-laki kira-kira umur 5-6 tahun. Mereka terlihat memesan burger, kentang goreng, kopi, dan jus.

photo_2017-09-23_23-56-58

Kami langsung mengambil posisi di kursi yang kosong. Kursi itu tepat di depan barista dan coffee machine. Memang, ruangan kedai kopi ini sangat sempit. Paling-paling hanya cukup untuk delapan orang saja. Sepuluh orang itu sudah berdesak-desakan. Di bagian luar, juga ada sebuah meja dan empat buah kursi untuk mereka yang ngopi sambil merokok. Setelah beberapa saat, datang rombongan bule duduk di kursi bagian luar.

Pemilik Kopi Toko Bali ini ternyata adalah suami-istri asal Jakarta. Mereka memilih berbisnis di Bali karena kota ini dinilai lebih manusiawi, hahaha. Mungkin, pasar kopi di Jakarta lebih menjanjikan. Apalagi, warga kota itu memang keranjingan kafein untuk membuat mereka tetap waras dan terjaga di kota yang tak pernah tidur itu. Namun, di Bali pun ternyata bisnis kedai kopi sedang sangat menjanjikan. Makanya, pasangan itu lebih memilih untuk memulai usahanya di Bali.

Menu di kafe ini pun cukup lengkap. Kopi berat mulai dari espresso, atau yang lebih ringan latte, cappucino ada. Yang tak suka ngopi, ada teh dan jus segar. Pagi itu, saya memilih es caramel latte. Perut saya yang sensitif kopi sudah cukup aman karena sebelumnya sudah terisi nasi-sop-ikan goreng Mak Beng. Setelah berjalan kaki sekitar 1 kilometer, keringat lumayan bercucuran. Es kopi tampaknya cocok untuk menemani kami berempat ngobrol.

photo_2017-09-23_23-56-51

“Dari mana mbak? Kok kayaknya bukan orang Bali,” tanya kakek yang duduk di sebelah kami. Mungkin di kakek penasaran, empat orang perempuan ini heboh banget, foto-foto terus dan cerewet, hihihi.

“Oh, iya pak. Kami dari Jakarta. Baru liburan di Bali, he..he..he,” jawab kami.

“Wah, seru juga ya liburan di Bali. Hanya ke Bali saja?,” ujar kakek ditimpali anak perempuannya yang berkulit cerah dan berambut ikal.

“Kami baru pulang dari Sumba sih. Terus lanjut ke Bali, tiga hari dua malam,” jawab kami.

“Oh Sumba? Bagus ya di sana?,” tanya kakek antusias.

“Bagus banget!!! Pantainya, landscape alamnya, budayanya, semuanya bagus. Enggak nyesel deh ke sana. Apalagi habis dari Sumba bisa ke Bali,” jawab kami.

“Menarik juga ya? Saya diajak sama teman-teman malah travelling ke Natuna, Batam. Apa ya yang menarik di sana?,” kata si kakek.

“Di Natuna, pantainya cakep juga kok. Kepualauan Anambas, itu yang baru-baru ini booming di kalangan traveler. Kalau suka snorkling dan diving pasti puas ke sana,” jawabku.

“Ah, tapi ke Sumba kayaknya lebih asyik. Pulang dari Sumba saya bisa ke Bali. Ini kan anak saya (*sambil nunjuk anak perempuannya) tinggal di sini sama suaminya,” kata si kakek.

“Nah, itu lebih menarik, pak,” timpalku.

“Tapi kalau ke Sumba ya siap-siap saja, bawa buku, permainan atau permen. Soalnya di sana masyarakatnya masih miskin banget. Terutama di Sumba Barat. Kita akan diikuti anak-anak yang merengek meminta uang, permen, dll. Mereka bilang mau minta uang untuk beli buku, pena, dsb. Kemarin, untungnya kami bawa buku, origami, dan permen, jadi kami alihkan perhatian anak kalau sudah merengek minta uang,” kata saya.

“Oh ya, tuh lihat kamu tuh masih beruntung, bisa enak sekolah beli mainan. Kamu harus berbagi sama teman-teman di Sumba,” ujar kakek menasihati cucunya yang sedang makan burger sembari asyik dengan mainannya.

“Kalian masih muda-muda, jalan-jalanlah sepuasnya sebelum menikah,” ujar anak perempuan si kakek tiba-tiba menimpali.

Aku masih ingat betul ekspresi matanya saat mengucapkan kata-kata itu. Like, she really mean it. Yang kutangkap, itulah ekspresi tersirat ketika seorang perempuan sudah memutuskan untuk menjerumuskan diri pada bahtera pernikahan. Mereka tak lagi menjadi individu merdeka yang bebas menentukan apa yang mereka mau. Dunia mereka telah disibukkan dengan berkompromi pada suami, si kepala rumah tangga, dan mengurus anak. Kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih melakukan A, B, C bukan lagi sepenuhnya otoritas mereka. Seluruh ego harus ditundukkan dengan tugas dan tanggung jawab baru sebagai istri juga ibu.

“Iya, setiap tahun kami coba untuk menabung lalu memilih tempat mana yang ingin kami kunjungi. Semoga setiap tahun ada kesempatan jalan-jalan,” ujar kami.

Saya pun mendadak baper dengan omongan perempuan itu. Ingin rasanya mengambil waktu lebih lama lagi merayakan kebebasan dan kemerdekaan hakiki sebagai perempuan mandiri. Bebas pergi ke mana saja, kapan saja, asal seluruh kewajiban sudah dipenuhi. Rasa-rasanya saya belum puas mengajak kaki berjalan-jalan. Mengajak kamera kesayangan merekam momen-momen yang membuat napas sejenak berhenti karena keindahan alam yang kami lihat.

photo_2017-09-23_23-56-54

Tapi kembali lagi, hidup adalah soal memilih. Hari ini saya, hanya untuk sekadar mau makan apa, mau masak apa, kita harus memutuskan pilihan. Apalagi untuk sebuah keputusan besar menikah, membenamkan diri pada kebersamaan dan kompromi dua kepala beda selera. Kalau dibayangkan terus, rasanya menyeramkan.

Perempuan di paruh waktu, dalam gempuran dunia patriarki dan konstruksi sosial. Apakah mereka masih punya “privilege” dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidupnya ke depan? Bagaimana jika hal yang paling menyenangkan hatinya adalah berjalan-jalan, bertemu orang baru, dan mencecap seribu-satu aroma kota di dunia? Bagaimana jika hanya kehilangan haknya itu dia merasa sedih tak berdaya. Pernikahan mungkin penting, tapi tidak harus sekarang bukan? Semoga pilihan orangtua, meskipun mereka tak akan menjalani hidup anak-anaknya membawa doa penuh hikmah dalam kehidupan anaknya ke depan.

Besok mau makan apa?

Besok mau ke mana?

Besok mau jalan-jalan ke mana?

Hidup penuh ketidakpastian. Yang sudah pasti itu adalah kematian dan perpisahan. Jangan lupa ngopi!

photo_2017-09-23_23-57-02

 

Kebon Jeruk,

01.15

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s