Heartkeeper vs Heartbreaker

Where are you? My crazy boss make me crazy. Can you save me?”

Lampu ponsel Luna menyala seiring dengan pesan masuk dari Keenan. Jarang-jarang Keenan mengajak keluar di malam hari saat hari kerja. Biasanya, jika dia mengirim pesan seperti itu artinya memang K sedang ingin dilipur laranya. Jika tidak, K sedang ingin mengajak L menikmati soju, bir dingin, bersama sekotak penuh pizza atau sayap ayam goreng. L senang menghabiskan malam bersama K karena dia pandai memasak. Terkadang, saat L sedang galau, tiba-tiba K mengundangnya untuk datang ke apartemennya. L hanya diminta duduk diam sembari K meracik bahan dan bumbu-bumbu magic. Dan taraaa.. dalam sekejap, hidangan-hidangan sedap membuat mata L berbinar.

At work as usual. Do you wanna go somewhere tonight?” balas L.

K agak lama membalas pesan itu.

I dunno. Maybe you can cheer me up with some beers,” tulis K.

OK then, where? I can bring some beers,” L.

My place? I’ll cook something,” K.

Deal. About 9-10 pm, after work,” L.

Alright. See you soon,” K.

*****

L cepat-cepat mandi setelah tiba di rumah sepulang kerja. Rasa letih setelah seharian memeras otak ia abaikan untuk bertemu K. Usai mandi bebek secepat kilat, ia semprotkan parfum aroma bunga Moringa. Aroma kalem dan segar bunga miracle tree ini membuat L merasa lebih flawless. Sudah malam, capek, tentu tubuhnya butuh suntikan energi untuk mendengar cerita dari K. Selesai berdandan simpel, L memesan Uber.

On my way to your place” ketik L kepada K.

K tidak membalas.

Seperti biasa, sesampainya di apartemen K, L selalu mampir di minimarket yang ada di lobi. Ia membeli beberapa kaleng bir. K tidak suka nyemil. K lebih suka makan besar seperti pizza, ayam goreng, atau memasak sendiri cemilan-cemilan ajaib. Selesai berbelanja, L langsung memencet lantai 10, kamar 11 B, alamat apartemen K. L memencet bel.

“Hi…, seru L dengan muka sedikit kuyu”

K menyambut L dengan pelukan hangat.

“Taruh saja birnya di kulkas ya, aku sedang masak kue beras Tteokbokki,” ujar K semringah.

“Gegayaan lu, emang lu bisa masak Tteokbokki?,” cerocos Luna.

“All you need is just seat down while I’m cooking, dear” K.

“Whatever!” seloroh L sambil berjalan ke balkon apartemen. Di situ, L memilih menyalakan sebatang rokok. Asap rokok Sampoerna Mild merah, ia hirup dalam-dalam sembari melihat pemandangan sekeliling balkon apartemen. Lampu-lampu rumah dan proyek gedung yang belum jadi mengerlip seperti kunang-kunang. Bermandi gemerlap cahaya kota, malam mendadak manis.

Belajar dari mana lu masak Korea?,” teriak L dari balkon.

“Gue kan suka Soju. Nggak ada salahnya dong belajar masak ala Korea,” K.

Tidak ada guratan sedih dari wajah K. Mukanya hanya sedikit terlihat kelelahan. Mungkin karena tuntutan pekerjaan dari bosnya yang gila dan perfeksionis. Ironis dengan segala sedu-sedan yang dia kirim di Whatsapp, siang ini. L curiga, jangan-jangan malah dia yang akan banyak curhat malam ini.

“Gimana bos gila lu? Demanding banget ya?”

“Ya begitulah. Perfeksionis! Udah malem, malas gue cerita yang berat-berat. Kita makan dan ngebir aja,” ujar K, sambil membolak-balik isi wajan.

****

Taraaaa.. makanan siap! This is it Tteokbokki ala Mr Keenan.”

Sepiring kue beras dengan kuah saus berwarna merah tomat terhidang. Potongan-potongan kecil kue beras beradu dengan topping wijen dan mirip daun kemangi di atasnya. Ada aroma rumput laut, saus pasta pedas khas Korea, dan tepung ikan. Selain potongan-potongan kecil kue beras, K juga membubuhkan potongan-potongan tipis kue ikan. Ini menambah rasa gurih jajanan itu.

“Mana sini gue tes dulu enak nggak nih?” L.

“Hahaha.. jujur, ini enak K,” seloroh L sambil megap-megap kepanasan dan kepedasan.

“Hmmm.. lu tahu nggak sih, kalau di sini mungkin Tteokbokki itu seblak kali ya, dijual abang-abang, hihihi,” seperti biasa K selalu ceria. Always think simple, live for today, and doesn’t make things seriously.

“Tul uga, seblak! Gegayaan Tteokbokki- tteokbokki, hahaha…” kelakar Luna.

“Lu suka? (makanannya),” ucap K sambil menatap lekat mata L.

“Heem, suka nih, enaaak.”

Are you happy now?,” tanya K lagi melembutkan suaranya.

Why do you ask? I’m happy now, indeed,” L mencoba mengacuhkan.

****

K paham benar sifat overthinking, introvert , dan gloomy yang dimiliki L. K ingin selalu menghibur sahabatnya itu. K tidak mau L larut dalam pikiran dan masalahnya sendiri. Saat ada waktu, K menyempatkan diri untuk sekadar bercengkerama, bercanda, dan melupakan dunia. Sesederhana itulah hubungan keduanya.

Meski sebenarnya tidak berniat curhat, K hanya ingin bertemu dengan L. K ingin menyesap sebotol-dua-tiga botol bir atau soju dingin bersama L. Dan, hal itu selalu mungkin bagi L. K menganggap L adalah “my one call away”. Teman yang selalu bisa diajak “kuy” setiap saat.

Situasi pun selalu cepat berubah. Meski K yang meminta dihibur, L ujung-ujungnya yang curhat ke K. Paling banter, K hanya menyetelkan film-film kartun lucu dan konyol untuk ditonton. Bersumpah serapah bersama sambil tertawa ngakak.

I hate being alone. But, making relationship with someone sometimes make me confused” kata L, membuka sesi curhat.

Why you always hate being alone? We born and will die alone. Relationship is just an illusion, something in between,” kata K.

“Gue sedih karena kesepian, nggak ada teman saat kita lelah kerja seharian. Mau berkeluh-kesah sama siapa? Paling mainan HP sampe bego,” L.

“Gue rasa fine-fine aja sendirian. Kita jadi bisa punya banyak waktu untuk diri kita sendiri. Bebas menentukan pilihan dan punya otoritas penuh atas diri sendiri,” K.

“Elo bener, tapi, sendiri itu juga menyiksa kadang-kadang. Lu coba rasain deh,” L.

“Lebih baik gue sendiri, sepi. Daripada gue menyerah pada hegemoni orang yang cuma bisa nyakitin hati lu. Itu karena cowok yang lu suka, enggak suka balik ke elu. Cowok yang lu suka, cuma deketin lu ketimbang dia sendirian. Lu ngisi kekosongan doang,” berondong K.

Fuck you very much!,” L.

K menuang sebotol soju rasa anggur ke dalam mug ungu bermotif bunga. Dia sorongkan mug itu ke hadapan L, lalu menuang lagi untuknya sendiri. Suara mug beradu meninggalkan bunyi gemerinting. Cheers!

C’est la vie. Ne prenez pas la vie trop au sérieux, vous n’en sortirez jamais vivant!

Don´t take life too seriously, you´ll never get out alive,” bisik K kepada L.

balkon apartemen

 

Gambir,

4:11 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s