Takluk pada Pesona Sumba

Awan putih tergambar kontras di antara latar belakang langit biru bersih. Awan itu bergumpal-gumpal, dan berarak pelan. Membuatku sesekali menerka bentuk binatang apa yang sedang dilukis langit.

Karpet rumput berupa padang savana berwarna cokelat meliuk-liuk di antara perbukitan gersang. Awan-awan putih bersih sedari tadi berjingkat-jingkat di atas punggung bukit. Bayangan awan membuat punggung savana sebagian gelap, sebagian terang. Gradasi warna cokelat, biru, dan putih bentang alam di depan mata membuat napas sejenak berhenti. Sumba, begitu saja sudah sangat memesona. Dan mataku memandanginya lekat.

Saya bersama travelmates Dyah, Lya, dan Desy memilih mengambil jeda untuk beribadah alam di bulan Agustus. Agustus masih kemarau. Bukit-bukit savana yang semula hijau menguning bahkan menyokelat. Sumba mendidih di siang hari. Namun, udara bersih di pulau ini membuat kami nyaman saja. Apalagi, angin cenderung berhembus kencang sehingga cuaca terasa tidak terlalu terik.

photo_2017-09-28_00-57-34

Sepanjang perjalanan menuju destinasi yang telah kami tentukan, kami hanya bisa berdecak kagum. Tidak salah memilih tanah para arwah ini untuk dikunjungi. Bentang alamnya sangat menggoda. Apalagi, bagi kami pencinta foto alam landscape. Hell-O! Eyegasm overload, hahaha…

photo_2017-09-28_00-58-20

Ini merupakan perjalanan perdana saya bersama geng ngetrip cinta. Ya, tiga sahabat itu sudah beberapa kali ngetrip bareng. Bahkan, mereka juga punya kelompok arisan ngetrip. Saya anak baru nih, yang kebetulan diajakin teman-teman les renang saya itu untuk ikutan ngetrip.

Sebelum berangkat ke Sumba, kami beberapa kali bertemu untuk membahas transportasi, penginapan, budget, hingga itinerary saat berada di Sumba. Tiket berangkat sudah dikantongi berbekal promo dari Garuda Travel Fair. Persiapan-persiapan lain masih perlu dimatangkan. Jujur, saya banyak pasif di grup WA maupun pertemuan rutin pra-keberangkatan. Apalagi kalau bukan karena pekerjaan yang mendera? Hehehe. Walhasil, saya sebenarnya lebih banyak terima beres dari hasil riset kawan-kawan lain. Saya makmum saja, hihihi. Kontribusi terbesar saya adalah membelikan tiket pulang dari Bali ke Jakarta. Selebihnya, saya lebih banyak meng-acc keputusan teman-teman. Paling banter memberikan sedikit saran kepada mereka.

Singkat cerita, kami berangkat medio Agustus. Di perjalanan menuju bandara, saya masih mengetik berita untuk dikirim ke email editor. Saya cuma tidur dua jam karena harus packing mendadak sembari mengebut semua deadline pekerjaan. Sudah biasa, bosque…

Kami mendarat di Sumba Barat. Bang Joni, sopir rental mobil yang kami sewa menjemput kami di bandara Tambolaka. Bang Joni ramah, sabar, dan tahu bagaimana menyervis wisatawan. Tanpa diminta, dia selalu menawarkan diri untuk memotret kami berempat. Hihihi.

Dari bandara, kami menuju kampung adat Rotenggaro. Kampung adat ini berada di tepi pantai Pero, Sumba Barat. Rumah adat dengan atap tinggi terlihat dari kejauhan. Kami berjalan pelan-pelan mendekati warga dan rumah adat. Ada banyak tahi kambing dan babi di rerumputan yang kami injak. Tatapan dan senyum warga lokal menyambut kedatangan kami.

Di tujuan pertama ini, kami agak kaget dengan sikap warga setempat yang sedikit intimidatif. Padahal, kebudayaan dan rumah adat mereka sangat menggugah rasa ingin tahu kami. Tidak ada yang menjelaskan mengapa desain atap rumah mereka memanjang menantang langit. Mengapa mereka meletakkan kubur batu di depan rumah? Anak-anak kecil, dan pria dewasa penjual kalung dan gelang justru membuntuti ke mana arah kaki kami melangkah. Membuat kami jengah.

“Ibu, minta uang ibu untuk beli permon to?,” ucap mereka sambil menarik-narik ransel saya.

“Permon, apa itu permon?,” tanya saya sembari tersenyum.

Permon ternyata adalah sebutan mereka untuk permen atau gulali.

Teman saya Lya dan Desy yang memang sudah bersiap membawa kertas lipat dan origami langsung sigap membuka isi tas mereka. Anak-anak mengerubungi mereka. Dengan sabar, Desy membagikan kertas dan memberikan instruksi kepada anak-anak. Ia mengajari anak-anak melipat kertas warna-warni menjadi kupu-kupu, burung, dan mainan lainnya. Saya yang selalu membawa kamera, memilih mengeksplor dan membidik lensa ke setiap sudut tempat. Sesekali, keriangan Desy dan Lya saat mengajari anak-anak pun saya abadikan.

Di rumah adat Rotenggaro ini, kami bisa melihat dari dekat rumah asli orang Sumba. Rumah panggung yang terbuat dari struktur bambu berwarna kuning gading dan atap dari alang-alang. Bagian bawah digunakan untuk kandang babi. Di atas, ada dapur, ruang tidur dan ruang tamu. Sayang, kami tak sempat masuk ke dalam rumah. Warga lokal juga menjual kain tenun Sumba. Kain tenun Sumba Barat lebih sederhana motifnya dibandingkan kain tenun Sumba Timur. Namun, cara warga menawarkan sedikit mengintimidasi sehingga kami agak ketakutan menawar. Kain yang dijual pun agak kotor terkena bercak-bercak daun sirih yang mereka kunyah. Kami memutuskan pergi tanpa membeli suvenir apapun meski sudah berkali-kali dipaksa. Sumba Barat memesona tetapi belum siap pada gelombang wisatawan. Mereka belum terlatih bagaimana memperlakukan wisatawan dengan ramah.

Kami lalu bergeser ke Pantai Pero untuk melihat senja. Senja di Sumba menakjubkan. Baru hari pertama saja kami sudah dibuat berdecak kagum pada suguhan guratan jingga matahari terbenam. Puas melihat senja, kami menuju penginapan di Rumah Budaya Sumba. Penginapan bersih dan nyaman ini milik Pater Robert.

Selama di Sumba Barat, kami selalu makan malam di restoran Gula Garam. Restoran ini terbaik seantero kota. Pemiliknya adalah bule Prancis yang beristrikan perempuan Jawa. Menu masakan di restoran ini lengkap banget. Mulai dari masakan Barat, Chinese, hingga rawon maupun soto. Oya, pizza di Gula Garam layak dicoba. Pizzanya tipis dengan toping sayuran maupun daging. Karena teman-teman kami vegetarian, kami pun lebih sering memesan menu seafood dan toping sayuran. Restoran ini juga menyediakan bir, es krim, serta minuman-minuman hangat.

photo_2017-09-28_01-10-37

Secara umum, perjalanan kami ke Sumba lebih fancy dan bergaya koper. Duile. Saya hanya mengikuti suara terbanyak dari kawan-kawan saya, karena saat persiapan saya kan lebih banyak pasif, hahaha!

Kami tinggal di Sumba selama lima hari. Kami menjelajah Sumba Barat, Sumba Barat Daya (Tarimbang), lalu berpindah ke Sumba Timur. Di Pantai Tarimbang, kami menginap di Marthen Guest House. Satu-satunya penginapan oke di tempat itu. Tidak ada sinyal internet sama sekali di tempat ini. Saat malam, lampu benar-benar padam karena sumber listrik hanya berasal dari genset. Tak mengapa karena kami tidur di bawah hamparan gemintang di atas langit. Lebih baik kami menjauh dari ponsel daripada fokus masih ke sosial media dan ponsel.

Selain ke rumah adat Rotenggaro, Pantai Pero, di Sumba Barat kami juga mengunjungi Danau Weekuri, Pantai Mandorak, Tanjung Maladong dan Pantai Bwanna. Keesokan harinya, kami sudah harus bergerak ke Sumba Barat Daya dan Sumba Timur. Di perjalanan menuju Pantai Tarimbang, kami datang ke kampung adat Praijing, lalu ke air terjun Lapopu.

***

Yang membuat kami miris adalah keelokan alam Sumba sangat ironis jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat di sana. Masyarakat di Sumba Barat terutama masih sangat miskin. Rumah-rumah mereka berada di tepi jalan dengan bangunan yang sangat sederhana. Bentuknya mirip dengan rumah honai papua. Namun, rumah panggung itu terbuat dari bambu beralaskan alang-alang. Saat kami melintas terlihat orang-orang sedang duduk di panggung yang ada di bagian luar rumah. Mereka mengobrol sembari menguyah sirih dan pinang. Anak-anak yang bertelanjang kaki dan dada bebas berlarian di lantai tanah di depan rumah.

Sebelum berangkat ke Sumba, teman saya Callista sempat berkata beberapa turis asing trauma pergi ke sana karena banyak diikuti anak-anak. Anak-anak meminta uang untuk membeli permen, pena, buku, dan keperluan sekolah lainnya. Mereka akan mengikuti ke manapun kami melangkah. Dengan wajah memelas, mereka mulai akan merajuk meminta uang untuk membeli keperluan mereka.

Saya dan travelmates pun sepakat tidak akan memberikan mereka uang untuk mendidik mental mereka. Alih-alih memberikan uang, kami memberikan permainan kepada mereka serta buku cerita. Mereka antusias mengikuti kelas origami singkat dan dibacakan buku dongeng. Setelah itu, mereka tetap tak lupa meminta uang lagi. Hadehhh.. wkwkwk :p

Iman saya lemah saat bertemu lima orang bocah di Pantai Mandorak. Pantai itu sepi, hanya ada kami berempat. Anak-anak mengikuti kami tapi tidak terlalu mengintil. Mereka duduk di kapal yang ada di pantai. Saya terus berlalu lalang mengambil foto dan video. Setelah selesai, kami bergeser ke balai-balai untuk makan siang. Botol sunblock yang kami bawa tertinggal di kapal. Anak-anak itu pun berteriak “Bu, ini ada yang ketinggalan!,” seru mereka.

Melihat wajah mereka yang tulus dan semringah, saya langsung tersentuh. Saya akhirnya memberi mereka uang untuk dibagi bersama-sama. Saya sudah berpesan supaya mereka jangan bilang kepada siapapun. Namun, pesan hanya tinggal pesan. Anak-anak lain semakin banyak yang datang dan merengek. “Bu, minta uang bu untuk beli pena dan buku di sekolah to?,”.

photo_2017-09-28_01-32-39

photo_2017-09-28_01-32-47

photo_2017-09-28_01-32-42

Semoga kelak, saat kembali lagi ke Sumba, pulau ini sudah berbenah. Warga bisa diberdayakan untuk berjualan makanan di tempat wisata, menjual suvenir, menjadi tourist guide, dsb. Menurut penuturan bang Joni, pariwisata Sumba terus berkembang dari tahun ke tahun. Apalagi, ada Nihiwatu, resort kelas atas yang sangat terkenal setelah dinobatkan sebagai the best resort oleh salah satu majalah perjalanan. My trip, your rejeki! Semoga orang Sumba yang ramah dan baik hatinya siap dengan gelombang wisatawan yang datang dan pergi ke kota itu. Jangan sampai NTT menjadi singkatan dari Nanti Tuhan Tolong yaa..

Humba Ailulu, kami rindu alam Sumba… uwuwu…

photo_2017-09-28_01-32-25

Kebon Jeruk,

01.50

Advertisements

Perjalanan, Kebebasan, dan Kemerdekaan

Pagi yang cerah di Sanur, Bali, akhir Agustus lalu. Saya dan tiga orang teman seperjalanan berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer dari penginapan untuk mencari sarapan di Warung Mak Beng. Warung Mak Beng ada di pinggir pantai Sanur. Lokasinya dekat dengan loket-loket yang menjual tiket penyeberangan ke Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan.

Lama tidak berkunjung ke Pulau Dewata, kami berempat sepakat bahwa Sanur lebih asyik daripada Kuta. Penginapan yang kami pilih secara acak, karena budget sudah menipis sepulang dari Sumba pun ternyata menyuguhkan kejutan. Pertama, di belakang penginapan ternyata ada pasar malam (night market) dengan menu kuliner beragam dan murah. Ada nasi goreng, bakmi goreng, capcay, bakso, mi ayam, siomay, nasi padang, gorengan, dll. Yang paling asyik adalah, pasar di Bali bebas menjual menu bir dengan harga murah. Untuk bir botol kecil yang biasa dijual Rp 40.000 di kafe-kafe di Jakarta, di Bali cukup Rp 25.000 saja. Bagaimana tak bahagia? Hihihi.

Selain menu kuliner yang beragam pasar ini juga menyediakan banyak suvenir khas Bali misalnya baju pantai, daster, pernak-pernik seperti dream catcher, gelang, kalung, patung Buddha, sabun, hingga lilin aroma terapi.

***

Sepanjang perjalanan dari penginapan ke warung Mak Beng, kami memilih rute yang melewati hotel-hotel di tepi pantai. Sekitar pukul 07.30, orang-orang jogging dan bersepeda di tepi pantai. Masyarakat lokal beritual menaruh sajen pada patung Hindu yang ada di pinggiran jalan. Resto hotel bintang lima di tepi pantai dipadati orang-orang yang sedang sarapan. Bali sangat semarak dan siap dengan pariwisatanya. Turis-turis baik dari Eropa maupun Asia menjejali pantai Sanur. Wajah mereka tampak rileks dan bersuka cita.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama sarapan di Warung Mak Beng. Saya jarang ke Bali. Sementara tiga orang teman lain, Diah, Desy, dan Lya lebih sering ke Bali. Mereka sudah beberapa kali makan di warung Mak Beng. Menu yang ditawarkan pun sederhana tetapi sangat endes endolita. Sepiring nasi putih, sop ikan dengan kuah kekuningan yang dicampur dengan timun segar, serta sepotong ikan goreng garing. Sambel terasi goreng di warung ini cukup nampol. Harga sepaket menu sarapan berat ini Rp 45.000. Dari harga itu, kalau tidak salah kami juga mendapat teh tawar hangat.

Pulang dari sarapan di Mak Beng, kami kembali berjalan kaki menyusuri jalan Sanur. Ada sebuah kedai kopi kecil yang menarik mata kami untuk berkunjung. Namanya adalah Kedai Kopi Toko. Kedai kopi mungil ini sangat kekinian. Bagian depan kedai didesain dengan interior warna cokelat kayu, putih, dan ornamen hijau dari tanaman rambat. Suasana kedai yang mungil dengan interior biru-turquoise ala pantai membuat kami betah berlama di sana. Sebelum kami datang, sudah ada sekeluarga yang sedang menyantap sarapan di sana. Ada seorang kakek, nenek, ibu, dan bocah laki-laki kira-kira umur 5-6 tahun. Mereka terlihat memesan burger, kentang goreng, kopi, dan jus.

photo_2017-09-23_23-56-58

Kami langsung mengambil posisi di kursi yang kosong. Kursi itu tepat di depan barista dan coffee machine. Memang, ruangan kedai kopi ini sangat sempit. Paling-paling hanya cukup untuk delapan orang saja. Sepuluh orang itu sudah berdesak-desakan. Di bagian luar, juga ada sebuah meja dan empat buah kursi untuk mereka yang ngopi sambil merokok. Setelah beberapa saat, datang rombongan bule duduk di kursi bagian luar.

Pemilik Kopi Toko Bali ini ternyata adalah suami-istri asal Jakarta. Mereka memilih berbisnis di Bali karena kota ini dinilai lebih manusiawi, hahaha. Mungkin, pasar kopi di Jakarta lebih menjanjikan. Apalagi, warga kota itu memang keranjingan kafein untuk membuat mereka tetap waras dan terjaga di kota yang tak pernah tidur itu. Namun, di Bali pun ternyata bisnis kedai kopi sedang sangat menjanjikan. Makanya, pasangan itu lebih memilih untuk memulai usahanya di Bali.

Menu di kafe ini pun cukup lengkap. Kopi berat mulai dari espresso, atau yang lebih ringan latte, cappucino ada. Yang tak suka ngopi, ada teh dan jus segar. Pagi itu, saya memilih es caramel latte. Perut saya yang sensitif kopi sudah cukup aman karena sebelumnya sudah terisi nasi-sop-ikan goreng Mak Beng. Setelah berjalan kaki sekitar 1 kilometer, keringat lumayan bercucuran. Es kopi tampaknya cocok untuk menemani kami berempat ngobrol.

photo_2017-09-23_23-56-51

“Dari mana mbak? Kok kayaknya bukan orang Bali,” tanya kakek yang duduk di sebelah kami. Mungkin di kakek penasaran, empat orang perempuan ini heboh banget, foto-foto terus dan cerewet, hihihi.

“Oh, iya pak. Kami dari Jakarta. Baru liburan di Bali, he..he..he,” jawab kami.

“Wah, seru juga ya liburan di Bali. Hanya ke Bali saja?,” ujar kakek ditimpali anak perempuannya yang berkulit cerah dan berambut ikal.

“Kami baru pulang dari Sumba sih. Terus lanjut ke Bali, tiga hari dua malam,” jawab kami.

“Oh Sumba? Bagus ya di sana?,” tanya kakek antusias.

“Bagus banget!!! Pantainya, landscape alamnya, budayanya, semuanya bagus. Enggak nyesel deh ke sana. Apalagi habis dari Sumba bisa ke Bali,” jawab kami.

“Menarik juga ya? Saya diajak sama teman-teman malah travelling ke Natuna, Batam. Apa ya yang menarik di sana?,” kata si kakek.

“Di Natuna, pantainya cakep juga kok. Kepualauan Anambas, itu yang baru-baru ini booming di kalangan traveler. Kalau suka snorkling dan diving pasti puas ke sana,” jawabku.

“Ah, tapi ke Sumba kayaknya lebih asyik. Pulang dari Sumba saya bisa ke Bali. Ini kan anak saya (*sambil nunjuk anak perempuannya) tinggal di sini sama suaminya,” kata si kakek.

“Nah, itu lebih menarik, pak,” timpalku.

“Tapi kalau ke Sumba ya siap-siap saja, bawa buku, permainan atau permen. Soalnya di sana masyarakatnya masih miskin banget. Terutama di Sumba Barat. Kita akan diikuti anak-anak yang merengek meminta uang, permen, dll. Mereka bilang mau minta uang untuk beli buku, pena, dsb. Kemarin, untungnya kami bawa buku, origami, dan permen, jadi kami alihkan perhatian anak kalau sudah merengek minta uang,” kata saya.

“Oh ya, tuh lihat kamu tuh masih beruntung, bisa enak sekolah beli mainan. Kamu harus berbagi sama teman-teman di Sumba,” ujar kakek menasihati cucunya yang sedang makan burger sembari asyik dengan mainannya.

“Kalian masih muda-muda, jalan-jalanlah sepuasnya sebelum menikah,” ujar anak perempuan si kakek tiba-tiba menimpali.

Aku masih ingat betul ekspresi matanya saat mengucapkan kata-kata itu. Like, she really mean it. Yang kutangkap, itulah ekspresi tersirat ketika seorang perempuan sudah memutuskan untuk menjerumuskan diri pada bahtera pernikahan. Mereka tak lagi menjadi individu merdeka yang bebas menentukan apa yang mereka mau. Dunia mereka telah disibukkan dengan berkompromi pada suami, si kepala rumah tangga, dan mengurus anak. Kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih melakukan A, B, C bukan lagi sepenuhnya otoritas mereka. Seluruh ego harus ditundukkan dengan tugas dan tanggung jawab baru sebagai istri juga ibu.

“Iya, setiap tahun kami coba untuk menabung lalu memilih tempat mana yang ingin kami kunjungi. Semoga setiap tahun ada kesempatan jalan-jalan,” ujar kami.

Saya pun mendadak baper dengan omongan perempuan itu. Ingin rasanya mengambil waktu lebih lama lagi merayakan kebebasan dan kemerdekaan hakiki sebagai perempuan mandiri. Bebas pergi ke mana saja, kapan saja, asal seluruh kewajiban sudah dipenuhi. Rasa-rasanya saya belum puas mengajak kaki berjalan-jalan. Mengajak kamera kesayangan merekam momen-momen yang membuat napas sejenak berhenti karena keindahan alam yang kami lihat.

photo_2017-09-23_23-56-54

Tapi kembali lagi, hidup adalah soal memilih. Hari ini saya, hanya untuk sekadar mau makan apa, mau masak apa, kita harus memutuskan pilihan. Apalagi untuk sebuah keputusan besar menikah, membenamkan diri pada kebersamaan dan kompromi dua kepala beda selera. Kalau dibayangkan terus, rasanya menyeramkan.

Perempuan di paruh waktu, dalam gempuran dunia patriarki dan konstruksi sosial. Apakah mereka masih punya “privilege” dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidupnya ke depan? Bagaimana jika hal yang paling menyenangkan hatinya adalah berjalan-jalan, bertemu orang baru, dan mencecap seribu-satu aroma kota di dunia? Bagaimana jika hanya kehilangan haknya itu dia merasa sedih tak berdaya. Pernikahan mungkin penting, tapi tidak harus sekarang bukan? Semoga pilihan orangtua, meskipun mereka tak akan menjalani hidup anak-anaknya membawa doa penuh hikmah dalam kehidupan anaknya ke depan.

Besok mau makan apa?

Besok mau ke mana?

Besok mau jalan-jalan ke mana?

Hidup penuh ketidakpastian. Yang sudah pasti itu adalah kematian dan perpisahan. Jangan lupa ngopi!

photo_2017-09-23_23-57-02

 

Kebon Jeruk,

01.15

 

 

Heartkeeper vs Heartbreaker

Where are you? My crazy boss make me crazy. Can you save me?”

Lampu ponsel Luna menyala seiring dengan pesan masuk dari Keenan. Jarang-jarang Keenan mengajak keluar di malam hari saat hari kerja. Biasanya, jika dia mengirim pesan seperti itu artinya memang K sedang ingin dilipur laranya. Jika tidak, K sedang ingin mengajak L menikmati soju, bir dingin, bersama sekotak penuh pizza atau sayap ayam goreng. L senang menghabiskan malam bersama K karena dia pandai memasak. Terkadang, saat L sedang galau, tiba-tiba K mengundangnya untuk datang ke apartemennya. L hanya diminta duduk diam sembari K meracik bahan dan bumbu-bumbu magic. Dan taraaa.. dalam sekejap, hidangan-hidangan sedap membuat mata L berbinar.

At work as usual. Do you wanna go somewhere tonight?” balas L.

K agak lama membalas pesan itu.

I dunno. Maybe you can cheer me up with some beers,” tulis K.

OK then, where? I can bring some beers,” L.

My place? I’ll cook something,” K.

Deal. About 9-10 pm, after work,” L.

Alright. See you soon,” K.

*****

L cepat-cepat mandi setelah tiba di rumah sepulang kerja. Rasa letih setelah seharian memeras otak ia abaikan untuk bertemu K. Usai mandi bebek secepat kilat, ia semprotkan parfum aroma bunga Moringa. Aroma kalem dan segar bunga miracle tree ini membuat L merasa lebih flawless. Sudah malam, capek, tentu tubuhnya butuh suntikan energi untuk mendengar cerita dari K. Selesai berdandan simpel, L memesan Uber.

On my way to your place” ketik L kepada K.

K tidak membalas.

Seperti biasa, sesampainya di apartemen K, L selalu mampir di minimarket yang ada di lobi. Ia membeli beberapa kaleng bir. K tidak suka nyemil. K lebih suka makan besar seperti pizza, ayam goreng, atau memasak sendiri cemilan-cemilan ajaib. Selesai berbelanja, L langsung memencet lantai 10, kamar 11 B, alamat apartemen K. L memencet bel.

“Hi…, seru L dengan muka sedikit kuyu”

K menyambut L dengan pelukan hangat.

“Taruh saja birnya di kulkas ya, aku sedang masak kue beras Tteokbokki,” ujar K semringah.

“Gegayaan lu, emang lu bisa masak Tteokbokki?,” cerocos Luna.

“All you need is just seat down while I’m cooking, dear” K.

“Whatever!” seloroh L sambil berjalan ke balkon apartemen. Di situ, L memilih menyalakan sebatang rokok. Asap rokok Sampoerna Mild merah, ia hirup dalam-dalam sembari melihat pemandangan sekeliling balkon apartemen. Lampu-lampu rumah dan proyek gedung yang belum jadi mengerlip seperti kunang-kunang. Bermandi gemerlap cahaya kota, malam mendadak manis.

Belajar dari mana lu masak Korea?,” teriak L dari balkon.

“Gue kan suka Soju. Nggak ada salahnya dong belajar masak ala Korea,” K.

Tidak ada guratan sedih dari wajah K. Mukanya hanya sedikit terlihat kelelahan. Mungkin karena tuntutan pekerjaan dari bosnya yang gila dan perfeksionis. Ironis dengan segala sedu-sedan yang dia kirim di Whatsapp, siang ini. L curiga, jangan-jangan malah dia yang akan banyak curhat malam ini.

“Gimana bos gila lu? Demanding banget ya?”

“Ya begitulah. Perfeksionis! Udah malem, malas gue cerita yang berat-berat. Kita makan dan ngebir aja,” ujar K, sambil membolak-balik isi wajan.

****

Taraaaa.. makanan siap! This is it Tteokbokki ala Mr Keenan.”

Sepiring kue beras dengan kuah saus berwarna merah tomat terhidang. Potongan-potongan kecil kue beras beradu dengan topping wijen dan mirip daun kemangi di atasnya. Ada aroma rumput laut, saus pasta pedas khas Korea, dan tepung ikan. Selain potongan-potongan kecil kue beras, K juga membubuhkan potongan-potongan tipis kue ikan. Ini menambah rasa gurih jajanan itu.

“Mana sini gue tes dulu enak nggak nih?” L.

“Hahaha.. jujur, ini enak K,” seloroh L sambil megap-megap kepanasan dan kepedasan.

“Hmmm.. lu tahu nggak sih, kalau di sini mungkin Tteokbokki itu seblak kali ya, dijual abang-abang, hihihi,” seperti biasa K selalu ceria. Always think simple, live for today, and doesn’t make things seriously.

“Tul uga, seblak! Gegayaan Tteokbokki- tteokbokki, hahaha…” kelakar Luna.

“Lu suka? (makanannya),” ucap K sambil menatap lekat mata L.

“Heem, suka nih, enaaak.”

Are you happy now?,” tanya K lagi melembutkan suaranya.

Why do you ask? I’m happy now, indeed,” L mencoba mengacuhkan.

****

K paham benar sifat overthinking, introvert , dan gloomy yang dimiliki L. K ingin selalu menghibur sahabatnya itu. K tidak mau L larut dalam pikiran dan masalahnya sendiri. Saat ada waktu, K menyempatkan diri untuk sekadar bercengkerama, bercanda, dan melupakan dunia. Sesederhana itulah hubungan keduanya.

Meski sebenarnya tidak berniat curhat, K hanya ingin bertemu dengan L. K ingin menyesap sebotol-dua-tiga botol bir atau soju dingin bersama L. Dan, hal itu selalu mungkin bagi L. K menganggap L adalah “my one call away”. Teman yang selalu bisa diajak “kuy” setiap saat.

Situasi pun selalu cepat berubah. Meski K yang meminta dihibur, L ujung-ujungnya yang curhat ke K. Paling banter, K hanya menyetelkan film-film kartun lucu dan konyol untuk ditonton. Bersumpah serapah bersama sambil tertawa ngakak.

I hate being alone. But, making relationship with someone sometimes make me confused” kata L, membuka sesi curhat.

Why you always hate being alone? We born and will die alone. Relationship is just an illusion, something in between,” kata K.

“Gue sedih karena kesepian, nggak ada teman saat kita lelah kerja seharian. Mau berkeluh-kesah sama siapa? Paling mainan HP sampe bego,” L.

“Gue rasa fine-fine aja sendirian. Kita jadi bisa punya banyak waktu untuk diri kita sendiri. Bebas menentukan pilihan dan punya otoritas penuh atas diri sendiri,” K.

“Elo bener, tapi, sendiri itu juga menyiksa kadang-kadang. Lu coba rasain deh,” L.

“Lebih baik gue sendiri, sepi. Daripada gue menyerah pada hegemoni orang yang cuma bisa nyakitin hati lu. Itu karena cowok yang lu suka, enggak suka balik ke elu. Cowok yang lu suka, cuma deketin lu ketimbang dia sendirian. Lu ngisi kekosongan doang,” berondong K.

Fuck you very much!,” L.

K menuang sebotol soju rasa anggur ke dalam mug ungu bermotif bunga. Dia sorongkan mug itu ke hadapan L, lalu menuang lagi untuknya sendiri. Suara mug beradu meninggalkan bunyi gemerinting. Cheers!

C’est la vie. Ne prenez pas la vie trop au sérieux, vous n’en sortirez jamais vivant!

Don´t take life too seriously, you´ll never get out alive,” bisik K kepada L.

balkon apartemen

 

Gambir,

4:11 pm