Monolog tengah malam

Jangan pernah sekali pun berpikir, puisi dan sajakku mengguruimu. Aku menulis bukan untuk menasehati dengan kalimat bijak bestari. Aku menulis untuk membebaskan diri. Kau tahu kan? Saat bertemu, kadang-kadang lidah tercekat gengsi sehingga tak satu pun kalimat mencuat.

Aku menulis untuk mengobati lukaku sendiri. Aku menulis untuk mengenang setiap inchi ingatan yang barangkali akan kupilih untuk dilupakan. Tak peduli kamu, atau siapapun yang membaca. Mereka hanya akan mencecapi kalimat yang muncul dari kerak hati ini. Kalimat bersayap yang ingin membebaskan diri dari belenggunya.

Andai, mencintai itu seringan tetesan air hujan. Jatuh dan menguap tanpa beban. Aku pasti akan melakukannya untukmu, dengan ikhlas. Tapi, mencinta itu ternyata seperti menanam bunga. Kita harus menebar benih, menyiram, dan merawat dengan ulet dan sabar. Ketika aku mungkin pernah sabar merawat benih itu, ternyata bibit cintamu memilih tumbuh liar tanpa diurus. Aku lelah, aku biarkan benihmu tumbuh liar dijemur matahari dan diguyur hujan! Benihmu tak mau dimanja, tak mau disayang-sayang dengan overprotektif. Yasudalah…

Lalu, tiba-tiba, setelah beberapa bulan, benih itu tumbuh subur dan nyaris berbunga. Aku tak sadar karena terlalu sibuk merawat tanaman lain yang lebih mudah dan mau dirawat.

Sejenak, dalam kesibukanku mengurus tanaman lain, kulihat kau mulai kuncup. Ada gradasi kuning menyembul di antara kuncupmu yang hijau segar. Aaah, tak sabar rasanya melihatmu mekar dan merekah dengan indah.

Lalu, tiba-tiba aku dikuasai amarah. Aku tidak sanggup melihat cinta kita merekah. Aku benci kamu yang tidak mau dirawat. Aku benci kamu yang sombong dan tak tahu diri. Aku benci melihatmu tumbuh dengan belaian angin di alam liar. Jalan yang kau yakini, dan kau pilih sendiri. Dan, aku menghargainya.

Aku tak lebih dari seorang perawat bunga yang terkadang merasa “sok tahu” tentang kebaikanmu. Kamu akan sehat kalau disiram air segar pagi dan sore. Kamu akan tumbuh segar jika diberi pupuk organik, bukan pupuk kimia. Ya, aku mungkin tak lebih dari perawat sok tahu!

Malam itu, aku memandangi kuncupmu lama. Aku perkirakan, bunga cinta akan merekah beberapa hari lagi. Aku pandang batang kuat yang ditumbuhi ranting-ranting kuncup berwarna hijau kekuningan. Matahari membentuk tubuhmu menjadi tegap dan kekar. Kau akan jadi bunga cinta yang memikat setiap kumbang yang melintas di halaman rumahku.

Namun, kebencian itu begitu menguasai kepalaku. Aku tidak mau kau mekar merekah cantik tapi lupa dengan perawatmu. Kuambil segelas teh panas Earl Grey yang sedang kuseduh di teras. Aku baru menikmatinya seteguk, sembari memandangmu lekat, dengan menyilangkan kaki di atas kursi.

Lalu, kusiramkan air mendidih itu ke tubuhmu! Kau tak juga berteriak kesakitan, hanya sedikit layu. Lalu aku belum puas, kuambil pisau di dapur, kukoyakkan ranum pucuk-pucuk kuncup bungamu. Rasa marah melenyapkan segala iba menjadi tega. Kau tahu? Aku yang memilih. Aku yang memilih dengan amarah tak pernah melihat benih cinta kita merekah dan berbunga!!!

Bangkai anggrek kuning tergeletak di antara pot dan tanah yang terserak. Benih cinta itu mati dengan kebengisan sayatan pisau dapur di sana-sini. Tak ada darah. Hanya sedikit tangis dari getah batang yang tercabik-cabik emosi perawatnya. Tragis, benih cinta kita, yang kurawat dengan segenap tangan dan kasih sayang, mati sebelum berkembang. Di tanganku sendiri. Jangan pernah meminta maaf. Ini pilihanku sendiri…

*****

*Lalu sayup-sayup terdengar lantunan lagu dari ponselku yang memutar lagu secara acak

*Dan aku menangis dalam hening

“Can’t Let Go”

Well you’re the closest thing I have
To bring up in a conversation
About a love that didn’t last
But I could never call you mine
‘Cause I could never call myself yours
And if we were really meant to be
Well then we just defied destiny
It’s not that our love died
Just never really bloomed
Well I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to
I can’t let go
I can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back
And then we saw our paths diverge
And I guess I felt okay about it
Until you got with another man,
And then I couldn’t understand
Why it bothered me so.
How we didn’t die we just
Never had a chance to grow

 

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past.
Without lifting a finger you’re holding me back.

And it might not make much sense
To you or any of my friends
Though somehow still you affect the things I do
And you can’t lose what you never had
I don’t understand why I feel sad
Every time I see you out with someone new
I can’t let go
No, I can’t let go
No, I can’t let go of you.

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back.

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past.

Gelora,
00.27 am
Advertisements

Musim Berganti, Hati (seharusnya) Tak Lagi

“Musim harus berganti musim agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu, agar air menguap untuk ke­mudian membeku, agar pohon tumbuh untuk kemudian rubuh, agar akar menyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk kemudian gugur, agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu, agar rumput meriap untuk kemudian kering, agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya, agar hari bergeser dari minggu ke sabtu, agar kau mengingat untuk kemudian melupa­kan-Ku, agar kau tahu bahwa Aku melaksanakan kehen­dak-Ku, agar kau sadar bahwa Aku memenuhi janji-Ku.

***
Agar kau senantiasa bertanya kenapa musim harus berganti musim, agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu, agar air menguap untuk kemudian membeku, agar pohon tumbuh untuk kemudian roboh, agar akar me­nyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk ke­mudian gugur, agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu, agar rumput meriap untuk kemudian kering, agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya, agar lahar mengeras menjadi batu, agar kau mengingat untuk kemudian melu­pa­kan-Ku”

-Surah Penghujan, Ayat 1, Sapardi Djoko Damono-

HUJAN DI JENDELA

Senen,

14.54

Berdua Namun Tak Satu Tujuan

Semudah apapun, mengucap kata pisah pada sebuah kisah tak pernah semudah itu, kawan. Ya, sejak awal, Luna tahu bahwa menaruh rasa pada Alan adalah sebuah kebodohan. Kegetiran yang tersaru dengan nikmat sebuah peluk hangat. Meski pelukan pada akhirnya hanya akan berubah wujud menjadi luka.

******

Sebuah pesan dikirim Luna kepada Alan saat ia sedang berjalan-jalan dengan dua sahabat perempuannya Berlian dan Senja. Akhir pekan itu, Luna memilih untuk mencari makan enak di Gandaria City. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Lia (*panggilan Berlian) dan Senja. Terlalu banyak kisah terlewatkan. Karena seperlingkar pertemanan, Luna berharap Alan datang  menyusul ke mall di bilangan Jakarta Selatan itu.

“Di mana lo?,” ketik Luna singkat di pesan Whatsapp.

“Maap, ijin dulu, nggak bisa merapat. Lagi pulang kampung,” balas Alan.

“Ngapain lo pulang kampung? Mau lamaran?! Subhanalove!,” timpal Luna.

“Iya, gue mau dilamar nih,” kata Alan.

Sembari berjalan mencari kedai asyik untuk makan, Luna terus berbalas pesan dengan Alan. Entah gerangan apa yang membuat tiba-tiba percakapan itu bermuara pada Alan merayu Luna. Tiba-tiba saja, seluruh perasaan nyaman yang terpendam lama itu tumpah seperti keran bocor. Luna sebenarnya tidak mau kehilangan momentum. Ya, biarkan saja. Kita bertemu pasti karena alasan, entah kamu akan menjadi berkat, atau hanya akan lewat sebagai pelajaran. “Mari mainkan peran kita, Alan!” desis Luna di dalam hati.

Tak butuh waktu lama bagi kedua karib ini untuk mengubah temen menjadi demen. Mereka sudah berkawan lama. Kejujuran konyol dari mulut Luna pun memantik segalanya. Bara itu hanya butuh sedikit pemantik untuk menyala.

Luna sadar dengan sepenuh hati, mencintai Alan bukanlah perkara mudah. Ia tahu betul bagaimana sejarah percintaan Alan. Namun, Luna hanya ingin memuaskan rasa penasaran perasaannya. Akan lebih mudah ketika kisah itu dimulai lalu disudahi, daripada seumur hidup mati penasaran. Luna pun sadar betul, dengan Alan, ia hanya akan menuliskan surat patah hati. Kisah mereka tidak akan pernah wangi bak cerita negeri dongeng. Dan, cerita mereka juga tidak akan pernah indah bestari seperti untaian kata motivator.

Tak sampai seribu malam, tak sampai seribu pelukan, tak sampai seribu ciuman. Hanya dramatisasi bulan hujan yang mendongkrak romantisme kota. Lalu, Maret mulai memanas, dan skandal persahabatan itu harus segera disudahi. Tak ada lagi kemesraan hujan yang membuat segalanya terasa sejuk dan menggoda. Cerita itu harus segera usai.

“Manusia itu hanya produk sejarah Lan. Kita akan terus hidup dengan kenangan-kenangan yang kita pilih. Entah itu manis atau pahit. Dan ternyata, kamu tidak semanis yang aku pikirkan,” kata Luna dengan getir.

“Lu berharap kita jadi apa Lun? Nggak usah kebanyakan mikir. Gue nggak akan bisa jadi laki-laki bak negeri dongeng sesuai impianmu…,” tegas Alan kesal.

“Iya memang. Kesalahan tidak pernah ada di kamu, Lan. Aku terjebak dengan ekspektasiku sendiri. Kamu terlalu pongah dan bangga dengan kemampuanmu mematahkan hati perempuan,” kata Luna.

*****

Luna, jangan pernah lagi menengok ke belakang. Jika benar manusia itu produk sejarah, kamu telah memilih ketulusan dan kebaikan untuk dikenang Alan, jika dia masih punya hati. Alan juga telah memilih jalannya sendiri, menjadi laki-laki pongah, yang memilih selalu berbahagia dengan seribu pesona yang tidak akan pernah memuaskan dahaganya. Terkadang, orang memang hanya datang untuk memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang paling kamu inginkan, adalah sesuatu yang lebih baik jika kamu tidak bersamanya.

“Kata falsafah orang Jawa, garwa itu sigaraning nyawa. Apa jadinya jika jiwa itu kita belah-belah menjadi tujuh seperti rambut saat berjalan di Sirotol Mustaqim, Lan?,” ujar Luna dengan sisa keteguhan dan keberanian.

“Lu tidak usah menghakimi gue. Kalau lu nggak siap mendengar kenyataan hidup gue yang seperti ini ya sudah, nggak usah berisik,” timpal Alan.

“Lu memang nggak akan pernah tahu artinya empati dan tanggung jawab, Lan. Lu pikir lu bisa bertualang sesuka hati lu seperti itu? Menjaga komitmen entah itu untuk kekayaan, atau romansa itu menunjukkan seberapa kuat lu menjaga janji. Bagaimana lu mengatur diri lu sendiri. Dan yang paling penting, bagaimana lu menghargai diri lu sendiri sebagai manusia! Lu bukan binatang yang berpikir!!!,” bentak Luna.

“Lu ngomong aja sama diri lu sendiri Lun! Nggak usah ceramahin gue!,” jawab Alan dengan mimik muka emosi dan kesal.

“Ok. Nggak papa, Lan. Lu memang nggak akan pernah ngerti, nggak akan,” timpal Luna.

Dua kaleng bir dingin rasa lemon kesukaan Luna tergeletak di lantai. Meski dia sangat menggandrungi bir dingin itu, mendadak ia kehilangan selera. Segera ia bergegas, pergi dan meninggalkan Alan dengan segala pongahnya.

“Mungkin gue memang bukan siapa-siapa buat lu, Lan. Tapi, suatu ketika lu harus memperlakukan oranglain dengan lebih baik,” cerocos Luna sembari menyambar tas dan pergi meninggalkan Alan dalam diam.

Melepaskan memang tidak pernah mudah. Namun, melepaskan dengan separuh penasaran yang sudah terbayar, sedikit menyusutkan lara. Barangkali, sekarang dan seterusnya, Alan dan Luna akan selamanya berpuasa meminum bir, sembari caling mencibir. Yang kelar, tak perlu dikejar. Mungkin, Luna hanya sudah sampai di tujuan yang ia cari 🙂

 

Gelora,

1.22 am