Mencari pagi di tanah para dewa

Jika ditanya siapa yang berjasa pada kehidupan di bumi ini? Jawabannya adalah matahari. Kehidupan di mulai dari secercah sinar matahari, dan akan kembali padam ketika ia sudah tak terbit lagi. Mungkin itulah sebabnya, orang Jepang dan orang kuno dahulu menyembah matahari. Jasa matahari memang sangat luar biasa dalam sejarah bumi. Itulah juga mengapa, mungkin, narasi tentang matahari tak pernah padam. Ada penggila matahari terbit, terbenam, senja, bahkan hingga kegelapan malam. Matahari menginspirasi para penyair untuk menafsirkan tetanda dan konsekuensi alam semesta. Sungguh indah, ciptaanMu, Tuhan.

Saya sendiri, sering mengumpamakan kepribadian diri laksana malam. Mungkin karena saya memang bukan a morning person. Saya lebih nyaman dengan suasana tenang dan teduh malam. Mungkin, beberapa orang memang nyaman dengan keadaan seperti itu.

Karena sedikit menyukai fotografi, saya pun gemar berburu senja. Senja seolah menjadi ritual pergantian dari panas terik matahari, ke masa-masa yang saya tenangi. Gelap, tenang, dan semua rahasia-rahasia akan terungkap di malam hari. Bintang dan bulan pun bersinar terang, saat semuanya tertutup lukisan gelap.

Namun, entah mengapa, akhir-akhir ini, saya sedang jatuh cinta dengan pagi. Saya ingin memenangkan pagi, meskipun kemungkinannya sangat tipis. Namanya juga kebiasaan menahun, mana bisa diubah dengan seketika? Saya pun harus belajar membiasakan diri untuk bangun di pagi hari. Bangun di pagi hari itu ternyata enak dan segar. Tapi, tanpa bantuan kafein, saya biasanya akan kembali mengantuk. Makanya, stok kopi sachet selalu tersedia di rak makanan untuk mengganjal mata yang sepet di pagi hari, he..he..he..

Kecintaan saya pada pagi pun membawa saya untuk menziarahinya. Konon, melihat matahari terbit paling magis adalah di atas gunung. Tapi, apakah fisik saya mampu? Ah, rasa-rasanya dengan ritme kerja yang seperti ini, saya juga tidak akan bisa berlatih menggenjot fisik untuk naik gunung. Apalagi, agenda di desk saya sedang sibuk-sibuknya dengan pilkada DKI. Mana mungkin? Cuti saja sulit.

Akhirnya, saya memilih Dieng untuk mengejar matahari terbit. Berdasarkan browsing-browsing dan melihat-lihat Instagram, saya mantap untuk melihat matahari terbit dari Bukit Sikunir. Ah, tapi ini kan masih bulan hujan? Sepertinya kemungkinan untuk melihat matahari terbit sangat kecil. Hari-hari lebih banyak diliputi mendung. Tapi bagaimana dong? Keinginan untuk mengecup hangat sinar mentari pagi dari bukit sudah membuncah. Saya tak ingin menghalangi kehendak ini. Saya harus menuruti ke mana kaki melangkah. Apalagi, saya memang sedang butuh penyegaran.

Ya sudah, akhirnya, di awal Februari lalu, tepatnya tanggal 3-5, saya memutuskan pergi bersama teman saya, Yanti. Kami masih bekerja hingga hari Jumat malam, saat kami memutuskan pergi dengan ELF bersama teman-teman dari penyelenggara open trip. Awalnya, saya sempat ingin membatalkan perjalanan itu karena masih ada tugas menulis feature yang belum selesai. Narasumbernya agak susah ditemui karena izin wawancara saya ajukan mendadak. Tapi, di menit-menit terakhir, saya membulatkan tekat untuk berangkat. Toh, wawancara bisa dilakukan lewat email atau whatsapp. Jika bahan kurang, saya masih bisa menelepon orang tersebut. Woles saja lah… 😀

****

Di hari pertama di Dieng, rombongan kami cukup beruntung karena pagi dan siang hari cukup cerah meski berbalut mendung. Sekitar pukul 14.00, kabut gunung sudah mulai turun, mendung cukup tebal memayungi Dieng. Wah, tampaknya sore hari bakalan hujan nih!

Benar saja, di lokasi ketiga, Candi Arjuna, kami kehujanan. Kami hanya sempat berkeliling sebentar di kompleks peninggalan peradaban terbesar Hindu di Jawa itu. Kami lalu harus berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Pilihan jatuh ke kedai kopi kecil di luar kompleks candi. Kami membeli gorengan panas. Ada tempe, cireng, dan jamur goreng untuk menjadi teman kopi lokal Dieng. Kami sangat bersyukur karena teman-teman di kedai kopi itu sangat baik. Mereka menyuguhkan kopi yang enak, cerita tentang kopi yang lengkap dan memikat, serta kehangatan yang luar biasa.

Saya pun sempat meminjam laptop plus sambungan wifinya untuk mengerjakan tugas dan membuka email. Kami berkumpul bersama teman-teman lain, ngejam dan akustikan. Puluhan lagu kami nyanyikan dengan gelak tawa yang membahana. Hujan badai di luar sana sejak sore sampai tengah malam pun terlalui dengan mulus dan bahagia. Teman baru dari Korea Selatan, Kim Junki pun puas tertawa, cerita, dan bernyanyi bersama kami. Kim harus pulang duluan ke home stay karena dia membawa kunci kamar. Teman lain yang tidak ikut ngopi pun keleleran karena tak mendapatkan kunci kamar. Saya, Yanti, dan tour leader, Adhi memutuskan bertahan sampai tengah malam. Pukul 22.30, kami baru beranjak pulang dari kedai kopi. Kami pulang setelah menyantap nasi goreng dan bercerita tentang seluk-beluk kopi.

****

Malam pun kian menua. Teman-teman di home stay sebagian sudah beristirahat karena harus bangun dini hari untuk melihat matahari brojol. Sudah nyaris tengah malam. Air dieng sangat dingin, tapi saya tetap memutuskan untuk mandi. Bau badan kecut sekali karena seharian berkeliling dan belum mandi. Usai mandi, saya pun menggigil kedinginan. Tidur tak nyenyak, berujung demam dan kembung di perut. It’s perfect to ruin the plan!

Jam 3 dini hari, Adhi mulai membangunkan kami. Saya terkesiap, belum begitu siap membuka mata. Tapi, karena memang sudah diniati untuk melihat matahari terbit, saya bangun juga dan mencuci muka. Teman-teman sudah menunggu di luar.

Sampai di titik pendakian, semua orang menggigil kedinginan. Angin berhembus kencang membuat nyali kami menciut. Apalagi si Kim yang hanya membawa jaket tipis dan celana pendek. Beruntung dia gendut dan banyak makan, jadi cadangan lemaknya membantu untuk menghangatkan badannya. Bwahaha!

Saya membeli sarung tangan baru. Teman seperjalanan juga memberikan tolak angin dan koyo untuk ditempel di hidung. Sebenarnya, kami harus mendaki hingga satu jam perjalanan menuju pos tiga. Karena jalan licin, dan kemungkinan melihat sinar matahari kecil, tour leader meminta kami sampai di pos satu saja. Berjalan kaki 20 menit di pagi hari membuat napas saya habis. Saya nyaris tidak kuat dan ingin menyerah. Teman-teman semua sudah di depan. Saya tertinggal jauh. Namun, saya terus meyakinkan pikiran, satu langkah lagi, satu langkah lagi. Akhirnya, saya sampai di pos satu dan bergabung bersama teman-teman. Subhanalove! Takbiir!

Lelah mendaki bukit selama 20 menit pun tidak berbanding lurus dengan nasib baik bisa melihat senyum pagi yang merekah. Pagi tetap saja muram tertutup gumpalan awan-awan putih yang mirip kembang gula. Sudah pukul 05.30, matahari tak juga nampak. Ya sudah, mungkin memang belum berjodoh dengan pagi. Esok akan kita coba kembali di belahan dunia lain yang lebih indah. Tetap bersabar, ini adalah perjuangan. Mungkin memang mengecewakan, tapi ini adalah ujian 🙂

Selamat pagi, pagi. Aku akan bersabar menunggumu tersenyum merekah dan memberikan kehangatan. Semalam, aku meringkuk kedinginan diterpa demam dan gelisah rindu. Tapi, kau masih juga malu-malu. Kau belum berani bertaruh untuk mendekapku penuh. Tidak apa-apa, pelan-pelan aja. Aku pun takut terbakar terik panas cahayamu.

sunrise-dieng-2sunrise-dieng-1

 

Palmerah,

00.40 am

 

 

 

Advertisements

Cek Toko Sebelah, Lemantun, dan Anak Gagal Penyayang Orangtua

Sudahkah Anda nonton film “Cek Toko Sebelah” karya komika Ernest Prakasa? Jika belum, ada baiknya luangkan waktu untuk menontonnya. Karena menonton film ini, kita tidak hanya akan dibuat ketawa geli, tetapi juga terharu yang mengharu biru.

Berawal dari resensi film dari teman di Facebook, rekan sejawat di kantor, dan beberapa orang lainnya, saya mantap untuk menonton film itu, Januari lalu. Sebelum menonton, saya sangat excited, tapi tetap meletakkan ekspektasi serendah mungkin. Benar juga, di adegan awal, kita sudah terpingkal-pingkal dengan kemunculan Kaesang Pengarep, anak bungsu presiden kita Joko Widodo. Kaesang muncul sebagai cameo, sopir taksi, yang menabrak Ko Yohan (Dion Wiyoko) dan Ayu (Adinia Wirasti) yang mengendarai sepeda motor.

Koko Yohan nan tampan hilang kendali karena ditabrak saat belok di tikungan. Kaesang sang sopir taksi pun turun dengan wajah bingung. Sebuah bogem mentah nyaris mendarat di pipinya jika tidak dihalangi oleh mbak Adinia yang memesona.

“Lu pikir, negara ini punya bapak lu apa?,” tukas Koko Yohan, emosi.

Oh iya, awalnya kita belum tahu ding kalau sopir taksi itu Kaesang. Baru setelah Koko Yohan marah-marah, kamera mengarah ke Kaesang. Zoom in. Spontan tawa pun meledak seantero bioskop Plaza Senayan. Tawa kian berderai saat Kaesang mengucapkan,

“Saya tahunya hanya kerja..kerja..dan kerja,” sambil menggaruk-garuk kepalanya.

(*lu emang ngehek sih Nest!, bwahaha!)

Kelucuan semakin bertambah dengan kehadiran komika-komika Stand Up Comedy lain seperti Babeh, Dodit Mulyanto, dan perempuan berjilbab dengan tawa aneh (*saya lupa namanya). Hahaha.

Mungkin, film yang diangkat Ernest ini begitu menarik karena dekat dengan kehidupannya. Ya, secara umum film ini mengangkat tentang kehidupan keluarga Tionghoa yang memiliki toko kelontong. Toko berdekatan dengan toko lainnya sehingga persaingan cukup ketat. Si pemilik toko, Ko Afuk memiliki dua orang anak, Yohan dan Erwin. Dia ingin salah satu dari anaknya itu mewarisi usaha tokonya. Namun, untuk mewujudkan keinginannya itu ternyata tidak mudah.

Anak pertamanya, Yohan, nasibnya kurang beruntung karena trauma berat setelah ditinggal ibunya meninggal. Ko Afuk kurang percaya pada anak pertamanya itu karena menikah dengan Ayu, perempuan yang kurang ia sukai. Namun, sejatinya, di balik keberantakan hidupnya, Yohan adalah sosok yang selalu peduli dengan keluarganya. Dia selalu ada saat papanya sakit.Berbeda dengan Erwin yang selalu sibuk dengan bekerja dan mengejar karir. Erwin bahkan tidak datang saat perayaan Natal dan ulangtahun papanya. Pada saat papanya sakit pun, Erwin selalu terlambat datang. Egois, kamu Ko! #eh

Yohan juga rajin mengunjungi makam ibundanya. Saat berziarah, dia selalu menumpahkan perasaan atau “curhat” tentang masalah sehari-hari yang dia hadapi. Yohan merasa sangat kehilangan ibunya, karena ibunya lah yang paling memahami dia. Emosi Yohan juga kerap tidak terkontrol karena merasa bersalah lantaran tidak bisa membahagiakan ibunya semasa hidup. Bagian ini memang paling menyentuh. Sejenak, kita jadi kangen dengan orangtua di rumah. Memikirkan apakah mereka sehat, baik-baik saja, dan sedang merindukan kita dalam hangat doanya?

Sementara anak kedua, Erwin, karirnya sangat cemerlang. Dia belajar dengan sangat rajin, lulus cumlaude di universitas luar negeri. Namun, Erwin lebih banyak menghamba pada ego. Meskipun demikian Ko Afuk menilai Erwin lebih bisa diandalkan untuk mewarisi toko. Keinginan itu pun terbentur dengan pergolakan Erwin yang bercabang. Di satu sisi, dia sedang dipromosikan untuk naik jabatan di perusahaan asing di Singapura. Lalu, kekasihnya Natalie (Gisella Anastacia) juga tidak setuju jika Erwin hanya berakhir sebagai pedagang kelontong. Tak terbayang nasibnya harus menjadi cici-cici berdaster yang pekerjaannya menghitung hutang dan belanjaan. Natalie itu perempuan urban, sosialita, dan metropolis banget laah.. 😀

Setelah tertawa ngakak hingga tersedak. Film ini tiba-tiba mengaduk emosi kita dengan kesedihan yang dekat dengan kita. Setiap keluarga tentu memiliki kitab masalah sendiri-sendiri. Akan tetapi, pasti ada persamaan di mana suatu ketika keinginan kita berbeda dengan orangtua. Di situlah kita harus bernegosiasi, berkompromi, dan berkomunikasi untuk mencapai win win solution.

Film ini memang drama komedi. Sepanjang film, kita juga dibuat banyak tertawa dengan hal-hal konyol yang dilakukan terutama oleh karyawan-karyawan Ko Afuk. Latar film yang hanya toko sederhana yang menjual shampoo, ciki-ciki, gula, kecap, beras, sangat dekat dengan kita. Semua orang tentu saja pernah berbelanja di toko kelontong. Bahkan seharusnya kita lebih banyak berbelanja di toko kelontong untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan.

Ibu-ibu Batak yang galak dan sering berhutang. Karyawan-karyawan toko yang saling naksir dan merayu. Pertalian antara pedagang kelontong, tukang roti keliling, dan pedagang-pedagang eceran sangat riil. Jauh dari hiperrealitas yang selama ini menjadi komoditas utama film layar lebar Indonesia. Ini mungkin yang membuat film ini tembus hingga dua juta penonton.

Salah satu adegan misalnya, saat Ko Afuk berbahagia, ia ingin mentraktir anak buahnya pizza. Tukang roti keliling yang saban hari mangkal di depan toko Ko Afuk langsung protes. “Pizza..pizzaa, nih roti masih banyak!,” sembur pedagang roti. Ko Afuk pun tidak jadi membeli pizza dan malah memborong roti keliling. Pedagang roti keliling semringah. Karyawan toko menggerutu, tak jadi bahagia. “Roti lagi, roti lagi, bosen….” gerutu mereka dengan muka masam.

0e539292_cek-toko-sebelah-cover

Saya tak akan menceritakan seluruh film karena itu hanya akan menjadi spoiler bagi kalian. Intinya, saya suka dengan film yang emosional dan dekat dengan kehidupan sutradaranya. Berkarya dengan hati, tentu akan membekas dan berkesan di hati penonton.

******

Kualitas film ini hampir sama dengan film Lemantun, karya Wregas Banutheja. Film Wregas lebih drama lagi karena berlatar kehidupan desa di Jawa. Tentu, saya yang Jawa tulen dan medhok ini sangat menghayati ceritanya. Di film Lemantun, Wregas juga menceritakan tentang pakdhenya, yang menjadi orang paling kurang beruntung sekeluarga. Kakak dan adik-adiknya sukses menjadi dokter, pengacara, dan sebagainya. Namun, sang pakdhe itu hanya berjualan bensin di depan rumah. Meskipun kurang sukses di karir, pakdhenya itu sayang sekali dengan ibunya. Di saat seluruh anaknya sibuk dengan kehidupan pribadi masing-masing, hanya pakdhenya yang setia menjaga ibunya.

Pada saat apresiasi film di Kineclub, Taman Ismail Marzuki pun, Wregas bercerita bahwa ide film itu muncul saat silaturahmi Lebaran di kampungnya di Yogyakarta. Setelah film itu jadi, dan ditayangkan, pola pikir pakdhenya pun berubah. Ada keinginan untuk bangkit dan memperbaiki nasib. Menurut saya, sebuah karya apapun itu, yang baik memanglah yang bisa menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik lagi. Bravo. Goodjob, Wregas!

lemantun-4

Tampaknya, produser Indonesia memang harus sering-sering melirik karya yang dekat dengan seniman pembuatnya. Karya yang ditelurkan dari ide orisinil dan dari hati. Dengan demikian, film Indonesia akan semakin berkualitas. Tahun 2017 ini, buktinya, sudah banyak muncul film-film Indonesia berkualitas yang viral dan banyak diperbincangkan di lini masa. Istirahatlah Kata-Kata, Cek Toko Sebelah, untuk menyebut beberapa nama. Bangkitlah perfilman Indonesia! Cheers!

 

Palmerah

15.47 pm