Para Pencinta kebebasan

Menjadi lajang hingga usia akhir 20-an. Kita bebas menafsirkan apakah ini sebuah bentuk kesepian atau kebebasan. Ya, kesepian karena setiap malam yang letih, sepulang kerja, kita hanya berteman suara televisi yang berisik dan secangkir teh panas Chamomile di tangan. Dunia terasa hampa, sunyi, tanpa ada manusia di sebelah yang bisa diajak bercengkerama atau tertawa hingga perut kram, lalu pulas terlelap.

Paling banter, kita akan membuka-buka sosial media di ponsel sampai mata sepet dan terlelap. Atau, saat gairah membaca sedang membuncah, kita akan tekun membaca buku. Membaca dan menuntaskan sebuah buku yang berakhir pada tanda tanya. Memikirkan hal yang seharusnya tak perlu kita pikirkan. Alhasil, meski malam sudah menua, dan jam menunjukkan pukul tiga dini hari, mata masih terus terjaga.

Ya itulah, hari-hari kesepian para lajang.

Namun, dalam dimensi lain, menjadi lajang adalah sebuah kebebasan yang hakiki. Kita belum direpotkan oleh berisik manusia di sebelah yang tidak puas dengan ini-itu. Kita tidak perlu berkompromi apakah sebaiknya lampu dinyalakan atau dimatikan saat tidur? Apakah kamu lebih suka AC menyala, atau AC mati? Apakah harus berbagi selimut? Apakah harus malu saat ingin kentut dengan sangat keras? Hahaha…

Ya, menjadi lajang terkadang membuat kita terbuai dengan nikmatnya kebebasan. Lalu tiba-tiba kita lupa bahwa merajut dan mempertahankan sebuah hubungan adalah syarat untuk dicap sebagai manusia normal di masyarakat. Ya, masyarakat akan menganggapmu sebagai manusia seutuhnya ketika sudah berkeluarga dengan lawan jenis.

Aku sendiri sudah memiliki partner yang membuat nyaman. Dia tidak mengekang, justru sangat membebaskan. Dunia kita berbeda dan kita hanya perlu sedikit menyesuaikan diri. Hubungan yang sudah lama yaitu lebih dari 10 tahun, membuat kita sudah mengetahui baik-buruk masing-masing. Aku yang selalu menghabiskan waktu sangat lama saat mandi. Dia yang pandai membuat kopi. Aku yang pemalas. Dia yang penyabar. Apa lagi yang kalian cari?

Belakangan, lewat seorang teman, aku baru tersadar. Mencintai kebebasan tidaklah sama dengan berbuat sesuka hati. Mencintai adalah berkompromi dan menundukkan ego hingga serendah mungkin. Tapi, jika kamu pura-pura mencintai, mungkin cintamu masih dalam tahapan mengekang. Mengekang dia untuk tidak bertemu orang-orang yang kamu benci, mengekang dia untuk mengerjakan hobinya, mengekang dia untuk mengambil waktu sendiri dan berkontemplasi, mengekang dia untuk selanjutnya membuat dia merasa terpenjara dalam keabsolutan dan kefasisan cintamu. Norak!

Setiap orang tentu saja akan mencintai kebebasan. Sesekali, kemelekatan atau posesivitas dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa kita peduli dan melindungi orang yang kita cinta dari bahaya. Namun, tentu saja kadarnya perlu diperhatikan. Komunikasi adalah satu kunci untuk mencapai semua itu. Jangan gengsi bertanya, apakah pasangan nyaman dengan perkataan kita, dengan sikap kita, dengan keputusan kita? Ya, berkomitmen adalah usaha keras dan belajar setiap hari. Perlu trial and error setiap hari untuk mencapai komposisi yang pas. Kalaupun kita terjerembab pada jurang kekecewaan, itu pasti karena ekspektasi terlalu tinggi. Nothing’s hurt, but our expectation.

Menurut hemat saya, mencintai kebebasan berarti membiarkan diri dan orang lain yang dicintai dengan bebas. Ini tidak sama dengan antikomitmen atau pun selingkuh sesuka hati ketika ekspektasi tak terpenuhi. Itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Mencintai itu bukan jalan pintas. Mencintai adalah kerja keras dan pembelajaran setiap hari untuk berkompromi dan menundukkan ego. Jika ego masih besar, jangan dulu bercita-cita sukses berkomitmen. Karena berkomitmen itu sulit, maka tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang dengan kesabaran dan ketekunan lah yang bisa berkomitmen sepenuh hati.

Ketika kemelekatan kita pada sesuatu atau seseorang terasa begitu membebani, membebaskan membuat cinta terasa lebih ringan, tulus, dan mengalir seperti air. Kita cukup cinta saja, tidak perlu jatuh karena itu sakit. Mencinta adalah membebaskan orang yang kita cinta, supaya dia mencintai kita dengan penuh kesadaran, rasionalitas, ikhlas, tulus, dan tanpa beban. Ya, aku mencintamu dengan segala rasionalitas otakku! 🙂

 

 

Advertisements

Kata-Kata Bernyawa Tak Pernah Beristirahat!

“Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!”

-Bunga dan Tembok, Wiji Thukul, 1987-1988-

****

Musikalisasi puisi karya penyair pelo asal Solo itu mengalun pilu dan menusuk hingga ke relung hati. Kekuatan kata-kata itu mengalun bersama derap suara sapu Sipon (istri Wiji Thukul) yang bergerak. Lengkingan kata-kata itu mendobrak alam bawah sadar yang selama ini dimanjakan oleh manisnya reformasi dan demokrasi. Selama ini, kita nyaris terlelap lupa bahwa demokrasi direbut dari tangis, darah, dan nyawa yang tak pernah diketahui di mana kuburannya. Namun, seperti namamu Thukul, kata-katamu tak pernah binasa! Kekuatan katamu justru semakin digdaya di saat barisan kacang ijo (tentara) kembali masuk ke pusaran politik, hari ini.

Saya mengagumi Wiji Thukul karena kejeliannya melihat muramnya dunia akar rumput dan marjinalitas. Puisi Thukul jauh dari sedu-sedan percintaan dan kesepian. Puisi Thukul menyuarakan penindasan, ketimpangan sosial, gelandangan, tikus got, hingga buruh pabrik dengan upah murah. Puisi Thukul bernyawa karena dia bisa menangkap dalamnya kepedihan sekaligus kelenturan warga biasa. Tukul menyulap jalan-jalan kota, tikus got, pengemis, gelandangan, dan buruh pabrik menjadi alat perlawanan. Ketika semuanya diam di bawah tirani tentara, puisinya menari-nari mendobrak kesadaran dan empati kita. Itulah kenapa sebelum dia bersembunyi di Pontianak, Kalimantan Barat, ia sukses mengumpulkan sastrawan dan mahasiswa di Sriwedari, Solo. Semangatnya membakar sastra yang tak bisa dibungkam oleh kejamnya penindasan. Thukul membangkitkan jiwa yang haus kemerdekaan dan keadilan.

Istirahatlah kata-kata. Film ini dibuat untuk mengingatkan kita pada tokoh reformasi yang tak pernah masuk dalam pelajaran sejarah. Cerita tentang Thukul hanya kita dapatkan dari ulasan majalah, buku-buku, dan artikel lepas. Sosok Thukul dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan dan aktivis. Namun, saya tidak yakin hipster kekinian tahu siapa sosok Wiji Thukul.

Menyedihkan sekali, saat saya menonton film ini di Taman Ismail Marzuki, Selasa (24/1) malam, beberapa pemuda-pemudi hipster, tertawa geli bahkan saat adegan sedang tidak lucu. Para generasi milenial agen perubahan itu sampai harus diperingatkan oleh penonton lain karena berisik tertawa. Saya dan teman nonton menduga, para hipster ini tertawa karena ekspresi wajah Gunawan Maryanto (pemeran Thukul) yang lucu. Hipster yang terbiasa melihat wajah cantik-tampan dengan kemampuan acting pas-pasan pun minim apresiasi. Saya yakin mereka juga asejarah sehingga tidak bisa menangkap kesunyian, dan kepedihan yang terekam nyata di film ini. Hvft! Kzl!

****

Tapi tenang saja, kalian generasi milenial tidak sendirian. Tahun 2009, saat magang sebagai wartawan di media online Voice of Human Rights (VHR), saya pun belum mengenal baik sosok Thukul. Suatu ketika, pemimpin redaksi VHR mas Raharja Waluya Jati, menanyai saya tentang Thukul. Saya pun hanya garuk-garuk kepala dan sok tahu tanpa memberikan jawaban yang jelas. Setelah mas Jati berlalu, saya langsung tekun browsing di laptop tentang siapa Thukul. Saya merasa kuper dan terbelakang karena 2,5 kuliah di Solo tapi tidak mengenal baik Thukul.

Lalu, tahun 2012 saya membaca habis kisah dan puisi-puisi Thukul. Hingga saat ini, Thukul hilang. Keluarga dan orang tercintanya tak pernah tahu kapan ia meninggal dan di mana kuburannya? Mereka terus melanjutkan hidup dengan mimpi buruk dan pertanyaan yang tak pernah terjawab. Ke mana Wiji Thukul? Dia masih hidup atau sudah mati?

Menonton film ini, saya sangat dimanjakan dengan sinematografi yang ciamik. Pengambilan angel kamera dan pencahayaan menginspirasi kami, penggemar fotografi. Puisi-puisi Thukul yang menggema dalam kesunyian pelarian dan persembunyian menggugah hati. Kemampuan acting para pemerannya termasuk Marissa Anita sebagai istri Wiji Thukul pun tak diragukan. Dia mendadak menjadi perempuan Jawa yang sederhana, agak kikuk, ringkih, tetapi hatinya sangat teguh.

Percakapan terakhir Sipon dan Thukul di rumahnya, setelah Sipon mengamuk karena dituduh lonthe oleh tetangganya terngiang di kepala saya. Saya ikut merasakan kepedihan menjadi istri seorang buron pemerintah. Saat itu, sembari terisak, Sipon mengatakan kepada Thukul yang sedang duduk bergeming di kursinya.

“Mas, aku tidak ingin kamu pergi. Aku juga tidak ingin kamu pulang. Aku hanya ingin kamu ada….”

Saya nyaris menitikkan air mata mendengar kata-kata itu. Di mata saya, ucapan itu menyiratkan makna mendalam, baik perasaan Sipon kali itu, maupun pada situasi sekarang. Jika dikontekskan dengan saat sebelum Thukul hilang, Sipon adalah perempuan berhati teguh yang mencintai suaminya dengan ikhlas. Ia ingin suaminya menjadi orang biasa saja yang tidak dikejar-kejar rezim dan tentara. Namun, ia juga mendoakan supaya perjuangan suaminya tidak berhenti. Dalam kekalutan dan kebingungan pada situasi, kata-kata Sipon mengguratkan kepedihan yang menusuk seperti belati.

Adapun pada situasi hari ini, jelas, Sipon dan kedua anak Thukul, Fitri dan Fajar ingin bapaknya tidak pergi. Mereka ingin pejuang demokrasi itu ada di dekat mereka. Mereka ingin menemukan jejak Thukul yang binasa bersama kata-kata. Hingga saat ini, kasus Thukul masih gelap. Apakah dia diculik dan dibunuh oleh kacang ijo dalam pelariannya? Pemerintah terus bungkam dan bergeming. Mereka membisu, dan kalau bisa berharap ada amnesia massal supaya borok dan dosa lama tak dikorek-korek lagi.

Namun Thukul, di mana pun kamu berada. Engkau tak perlu bersedih dan risau. Hari ini, dan detik ini, kata-katamu tak pernah tidur dan binasa. Mereka telah meniupkan nyawa dalam setiap puisimu. Keberpihakanmu terhadap akar rumput kembali bangkit. Kata-katamu terus menghimpun tuntutan-tuntutan bagi mereka yang miskin, papa, dan dihancurkan.

Wahai Wiji Thukul. Kata-kata jangan pernah beristirahat. Kata-kata harus menyembur-nyembur. Kata-kata jangan membisu. Kata-kata harus terus melawan setiap bentuk penindasan dan ketidakadilan!

wiji-thukul

Photo courtesy: Rappler Indonesia. 

Gelora,

1.07 am

Menuju Entah Berantah

“Dia datang saat hujan reda

Semerbak merekah namun sederhana

Dia bertingkah tiada bercela

Siapa kuasa?

Dia menunggu hingga ku jatuh

Terbawa suasana

Dia menghibur saat ku rapuh

Siapa kuasa?

Dan kawan

Bawaku tersesat ke entah berantah

Tersaru antara nikmat atau lara

Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya

Dia bagai suara hangat senja

Senandung tanpa kata

Dia mengaburkan gelap rindu

Siapa kuasa?

Dan kawan

Bawaku tersesat ke entah berantah

Tersaru antara nikmat atau lara

Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya…”

***

Hai Banda Neira. Ananda dan Rara Sekar… Tahun ini mungkin adalah tahun pahit bagi kami, para penggemarmu. Berita bubarnya duo band berkualitas ini bak petir di siang bolong. Kalian memilih untuk mengambil stasi, karena Sekar memilih untuk melanjutkan studi di luar negeri. Kalian mematahkan hati kami, tepat saat tahun 2016 berakhir. Huhuhu…

Aku sangat patah hati karena sejujurnya beberapa pekan terakhir, aku senang sekali memutar lagu kalian. Musiknya syahdu, easy listening, empuk didengar saat jari menari di atas tuts komputer. Meski memeras otak untuk menulis dengan jelas dan mudah dipahami, sejenak imajinasi berlari-lari mengeja perasaan di dalam hati. Duileee…

Tahun 2017 ini, aku tidak membuat resolusi. Untuk apa resolusi dibuat dengan megahnya hanya untuk diingkari? Ya juga ya? Sudah terlalu banyak wacana dan angan-angan di kepala, saya berharap 2017 adalah tahun aksi. Saya harus banyak berkarya, bertamasya, dan tentu saja bercinta. Eh, kalian manusia bercakrawala sempit! Jangan sok gagap dulu dengan kata bercinta. Bercinta itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan manusia. Apalagi di saat hoax-hoax dan virus saling membenci sedang memenuhi ruang udara dan nyata jagat Jakarta. Bercinta adalah solusi efektif, riil, dan efisien.

Apakah bercinta itu monopoli lawan jenis? Tentu saja tidak. Saya memilih term bercinta untuk mencintai kawan, rekan sejawat, teman kos, tetangga, narasumber, hingga setiap orang yang kalian temui di jalan. Tak perlu tenaga ekstra, mencintai sesama cukup dilakukan dengan tersenyum tulus pada siapa pun yang kalian temui. Ya, mana tau dengan tersenyum manis kalian bertemu dengan jodoh kan? Hihihi 😀

Harapan saya di 2017 ini tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin berjalan lebih jauh, dan menyelam lebih dalam. Saya ingin mencecap sari-sari kehidupan yang menempel di seluruh sudut kota di bumi ini. Saya ingin mencium bau kehidupan. Saya ingin mempertebal kaca mata untuk lebih luas melihat cakrawala. Kalau Tuhan mengizinkan, saya juga ingin menimba ilmu lebih dalam di bidang jurnalistik. Bidang yang menempa dan membesarkan saya selama lima tahun terakhir.

Saya percaya manusia digerakkan oleh harapan. Berharap, bukan berekspektasi. Karena ekspektasi tinggi hanya akan menjatuhkan kita dari gedung tinggi berlantai 28. Hadapi setiap detak jantung dan embusan napas 2017 dengan syukur. Jadilah manusia sederhana yang selalu bersyukur atas karunia-Nya.

Dengan memasang ekspektasi serendah mungkin, saya justru memunguti bahagia-bahagia di langkah pertama 2017. Awal yang bagus untuk mengawali petualangan. Tentu saja, saya tetap bersiap untuk gerimis, hujan deras, hingga badai yang kembali akan memporak-porandakan sendi kehidupan. Siap bahagia, juga siap bersedih. Mereka adalah pasangan penyeimbang.

Hei 2017, 17 angka keberuntunganku. Semoga itu pertanda menuju 365 hari penuh keberuntungan. Mengutip puisiwan kesayangan, Jokpin, tahun ini saya ingin melihat lebih banyak matahari brojol dan senja koprol dari belahan pulau, bahkan benua yang berbeda. Matahari tidak akan pernah tenggelam di lautan cinta Lentera Dewi. Tsahh..

Tangan ini selalu siap digenggam untuk diajak ke entah berantah. Meski konsekuensinya harus tersaru antara nikmat dan lara… Ajak aku berjalan lebih jauh, dan menyelam lebih dalam. Bersama kita menuju ke entah berantah. Dunia penuh tanda tanya dan jurang untuk memilikimu sekali lagi. Kok mendadak jadi Rangga?

Asu-dahlah… Pada akhirnya, mas Jokpin panutanku, saya juga hanya ingin selalu menjadi bahagia dengan menjadi hati yang sederhana. Hati yang seluas cakrawala.

biografi-banda-neira-band-lorong-musik-dot-com