Mengarungi Lautan? Untuk Apa?

Untuk apa melakukan perjalanan kalau tubuh bisa lebih aman dan nyaman berada di rumah? Melakukan perjalanan bersama teman, terkadang kita harus terlibat drama yang tidak penting. Tentu saja, karena ketika kita salah memilih teman perjalanan, sepanjang perjalanan kita akan diliputi rasa kesal. Belum lagi ketika kita harus terjatuh, terperosok, atau kesasar di tempat asing di malam hari. Ada perasaan bergidik, nyali menciut, ketika pada dini hari kita sampai di sebuah pom bensin yang sudah tutup dan lengang. Bagaimana kalau tiba-tiba ada pria mabuk, iseng, dan jahat tiba-tiba melakukan hal ngeri kepadaku dan teman perjalanan perempuanku? Lalu, aku hanya bisa menarik napas yang dalam dan panjang…

***

Udara dini hari, Sabtu 24 Desember 2016, sedikit dingin dan lengket. Kami sudah tiba di pinggir laut. Angin berhembus sangat kencang. Aku terbatuk-batuk. Dadaku tak cukup prima menghadapi angin barat Anyer, Banten yang kencang. Angin terus menderu tanpa ampun. Pondok kayu tempat kami beristirahat menunggu pagi dan jemputan seperti hendak runtuh. Gemuruh angin di tepi pondok membuat nyaliku sedikit menciut. Bagaimana situasi ombak di luar sana? Amankah untuk berlayar?

Ah, kami memang terlalu nekat. Kemarin, headline halaman 1 koran tempatku bekerja baru saja menuliskan tentang cuaca buruk dan prediksinya beberapa hari ke depan. Namun, seolah punya stok nyawa lebih, aku mengiyakan saja ajakan Azizah untuk pergi ke Pulau Sangiang. Sebuah pulau terpencil di utara Cilegon, Banten. Aku sebenarnya tak punya banyak referensi tentang pulau itu. Sekilas, di antara deadline kerjaan, aku melihat foto-fotonya di Instagram. Lumayan. Desisku dalam hati kala itu.

Fisik yang masih sedikit lemah setelah dua hari sebelumnya demam karena radang tenggorokan pun kuabaikan. Vakansi akan mengalirkan hormon endorpin yang membuat jiwa dan raga bahagia, kilahku. Ya, sakit memang terkadang banyak dipengaruhi oleh jiwa yang sakit. Dengan asupan hormon endorpin yang cukup, barangkali proses recovery akan lebih cepat. Hehehe…

***

Setelah tidur ayam-ayam dan kedinginan selama 3-4 jam, aku dan Azizah bangun. Kami mencuci muka, bersolek, lalu meminjam sepeda motor milik teman seperjalanan lain. Dini hari itu, takdir mempertemukan kami dengan Bambang, Andre, Wahyu, dan Imam. Laki-laki usia awal 20-an asal Serang, Banten. Sudah menjadi khas pejalan untuk cepat akrab dan menyesuaikan diri. Awalnya, mereka menawari kami untuk membelikan sarapan. Tapi, kami menolak karena belum terlalu lapar. Tapi, beberapa menit kemudian, kami memutuskan untuk membeli sarapan supaya perut tidak terlalu kosong. Saya memprediksi perjalanan laut akan berat. Jika perut kosong, aku akan lebih mudah mabuk laut. Kami pun membeli nasi uduk yang enak dan murah. Hanya Rp 8.000/bungkus.

***

Benar saja, baru sebentar kapal berangkat untuk menyeberang, ombak sudah sangat tinggi. Penumpang kapal sontak berteriak “Allahu Akbar” karena kapal kami naik-turun dihajar gelombang tinggi. Rasanya mirip saat naik wahana Kora-Kora di dunia fantasi. Seorang bocah laki-laki di depan kami tak henti menangis. Ia menutupi mukanya dengan life jacket.

Azizah memang bermental baja. Alih-alih takut, dia malah tertawa-tiwi melihat ombak besar. Ia ambil telepon seluler, membuat video, dan mengambil foto. Mukaku sangat tegang saat itu. Aku takut kapal oleng, terbalik, dan parahnya lagi tenggelam. Namun, masa sulit selalu menghasilkan sisi positifnya. Para penumpang kapal saling menguatkan. Kami bercanda dan tertawa melihat ombak tinggi yang menghajar kami selama kurang lebih satu jam.

“Kalau ombak enggak besar begini, mana kita mengingat Allah? Allahu Akbar!,” seloroh Azizah, sembari tertawa nyengir. Ingin rasanya kujitak kepalanya! Haha.

Ibu bocah laki-laki yang terus menangis dan bersembunyi di balik life jacket pun berusaha menenangkan anaknya. Beberapa kali air laut menyiram tubuh dan wajah kami. Setiap kali air tersemprot ke kapal, bocah laki-laki itu menangis lebih histeris lagi.

“Eh, adik kaya kura-kura ya, kepalanya masuk ke pelampung. Dulu kok waktu ke Belitung enggak takut ya?,” hibur ibu berjilbab itu.

“Waktu di Belitung ombaknya nggak kayak gini!,” bentak si bocah, diikuti tangis histeris.

img_20161224_073453

Suasana ombak besar di laut…

img_20161224_082458

***

Ombak menjinak saat kami mulai mendekat ke pulau Sangiang. Matahari mulai meninggi, tubuh kami yang basah oleh air laut lengket mulai menghangat. Aku memeras kaos dan celana yang basah lalu menjemurnya di kapal. Kami tiba di spot pertama snorkling. Panitia open trip mempersilakan kami memakai snorkel, dan siap-siap snorkling.

Orang-orang pun mulai menceburkan diri ke laut. Mereka antusias melihat kehidupan bawah laut Sangiang, dengan ikan beragam dan terumbu karang yang cukup terjaga. Segala derita saat dihajar ombak tinggi terlupa. Derita berganti tawa dan takjub. Aku, masih agak sedikit panik karena snorkel tidak pas menutupi muka dan hidung. Aku susah bernapas dengan snorkel yang sedikit kebesaran itu. Ditambah lagi pelampung yang kupakai naik-naik terus ke dada hingga leher. Berenang pun jadi sulit dan tertahan.

Di spot snorkling kedua, setelah berganti snorkel yang pas dan mengunci pelampung, aku bisa berenang lebih nyaman. Aih, indah sekali bunga-bunga karang di Sangiang. Ada ikan baronang, dory fish, dan aneka macam ikan yang mendekati kami saat berenang. Beberapa orang melemparkan roti dan biskuit untuk memberi makan ikan. Hal itu sebenarnya tidak bagus untuk ikan, namun, semua dilakukan demi ikan mendekat. Saya yang sudah tahu kalau itu tak bagus untuk ikan pun tetap melakukannya. Wkwkwk :p

 

 

***

Lelah berenang di dua titik snorkling, kami merangsek ke pulau. Sangiang ternyata sangat indah. Sebelum memasuki pulau, kami masuk melalui pintu gerbang mangrove yang hijau. Kapal seolah masuk ke sebuah pintu hijau yang di sisi kiri dan kanan dihiasi akar-akar mangrove berwarna kecokelatan. Daun mangrove hijau lebat, asri dan teduh di pandang mata.

img_20161224_104342

Perjalanan 2 hari 1 malam itu dipandu oleh panitia open trip mbak Anugrah. Wisatawan lain hanya melakukan satu hari perjalanan. Sementara kami, enam orang lainnya, akan menginap di pulau. Empat orang laki-laki akan tidur di tenda. Sementara dua perempuan centil nan alay akan tidur di rumah penduduk lokal. Itu bukan mau kami. Salah sendiri panitia lupa membawakan kami tenda. Kami pun cukup beruntung dengan kesalahan si panitia. Angin malam itu sangat kencang. Kami bisa mati kedinginan tanpa pelukan. HAHAHA!

***

Sangiang yang belakangan saya tahu berasal dari kata Sanghiang (Dewa/Tuhan/Yang Maha Kuasa), menawarkan paket lengkap. Ada pantai dengan pasir putih sehalus bedak. Sayang, di pantai banyak sekali sampai karena pulau itu berada di selat Sunda. Sampah yang hanyut di laut pun luar biasa banyaknya. Ada gelondongan-gelondongan kayu, ranting, bungkus makanan, sandal, tas, dan sebagainya. Kawan seperjalanan, Bambang, bahkan mengambil sandal-sandal di tumpukan sampah untuk dipakai. Hohoho.

img_20161224_173511_hdr

Tumpukan sampah di Pulau Sangiang, ngeriiiii…

Ombaknya besar, tapi bersih. Gradasi warna biru, hijau, turquoise, dan putih buih ombak sedap dipandang mata. Pesona pantai tak pernah luput mengecewakanku. Aku memang lebih menyukai pantai daripada gunung. Terserah orang mau bilang, wisata pantai itu wisata santai, dan effortless. Cocok untuk orang yang pemalas dan mau enaknya saja. Kalau kita tidak sependapat dengan orang itu, tak perlu merasa terbebani kan? Kita memilih kenyamanan sendiri. Bagiku, ombak adalah nyayian alam paling merdu. Obat dari segala gemuruh yang berkecamuk di dada. Laut membuatku merasa kecil karena dikelilingi air berlimpah. Saat di tengah laut aku benar-benar merasa kecil, begitu juga masalahku.

blue-layer

This blue layer is a drug

blue-layer-2

Vitamin sea, I sea you…

***

Setelah lelah snorkling, dan tracking keliling bukit, kami beristirahat di pondok Pak Tajudin. Sore hari, sebelum kami bubar dan membersihkan diri, saya sempat berseloroh kepada teman seperjalanan.

“Kita jangan berantem dulu ya. Soalnya, kita cuma menginap di pulau ini berenam. Sisanya kita enggak kenal, baik-baik dulu yaa..,” ucap saya sambil tertawa.

Pria-pria unyu itu pun membalas candaan saya dengan tertawa. Kami berbagi makanan, bercerita, dan saling menjaga selama di pulau. Tidak ada listrik karena pulau hanya mengandalkan tenaga surya dan diesel. Kami pun saling meminjamkan power bank untuk mengisi baterai ponsel. Pria-pria itu pun mudah kelaparan karena tidak membawa perbekalan. Kami berbagi makanan seadanya, taro, kacang, biskuit, dan apapun yang bisa dimakan kami bagikan. Pokoknya kami harus akur sampai menjejakkan kaki di daratan Anyer, hihihi…

***

Saya orang yang mudah memaknai suatu peristiwa. Dua hari perjalanan tanpa restu dari pacar ternyata membuka banyak sudut-sudut otak dan hati yang tersumbat. Kami bertemu dengan orang-orang yang luar biasa baik. Saya dipaksa masuk ke sebuah dunia tanpa pretensi. Bertemu orang-orang dengan ketulusan yang kebangetan, bahkan kepada orang asing yang baru saja ia temui.

Empat sekawan dari Serang, rela kami bangunkan pagi-pagi untuk menemani treking dan melihat matahari terbit di atas bukit. Lalu pak Tajudin, pria asli pulau yang bekerja keras, ulet, dan menjalani hidup dengan ikhlas. Ia menanam dan menata hiasan bunga di atas bukit dengan tangannya yang kurus tapi perkasa. Setiap hari, ia mengambil air dari bawah untuk dibawa naik ke atas bukit. Ia sirami tanaman itu supaya tumbuh subur dan bukit Harapan menjadi lebih cantik. Ia tanami bukit dengan rumput-rumput liar yang tebal. Ia buat keranjang foto cantik dari batang tanaman, kulit kayu, rotan, dan segala yang alam berikan untuknya di pulau itu. Tangannya sangat terberkati. Dari tangannya tercipta segala yang unik dan menarik.

Namun, ada ketakutan di balik sorot matanya yang pemalu. Ia takut, sebentar lagi sebuah perusahaan properti raksasa akan menancapkan kukunya di pulau itu. Ia khawatir pulau yang sudah menyatu dengan hembusan nafasnya itu akan diacak-acak. Kita tahu betul pengembang selalu rakus dan serakah. Sekalipun pembangunan mengatasnamakan ramah dengan alam (eco friendly), itu hanyalah cara untuk menghaluskan eksploitasi dan privatisasi. Sebentar lagi, tahun depan pulau itu akan ramai pengunjung. Laut lepas yang bebas untuk berlari-lari, sebagian akan menjadi hak privat pengembang. Akankah pak Tajudin tersenyum ramah seperti saat kami temui di akhir Desember? (…bersambung….)

img_20161225_083503

pak Tajudin, dua dari kiri, berkaus hitam. Malu-malu saat kami ajak selfie 😀

img_20161224_174345

Indonesia kece banget sih…

img_20161224_140901

Selca di Bukit Harapan

img_20161225_064529

img_20161225_063434

Enter a caption

img_20161225_063401

Pengin lihat matahari terbit, tapi digagalkan oleh mendung… 😦

Advertisements

Writing to remember

story-is-the-most-powerful-thing-to-send-message

–Photo courtesy: Budiman Hakim’s fb–

Maybe he is right. Story is the most powerful tool to send messages. But, I keep writing stories to remember how we spent nights and days together. How we shared, laugh, and count on each other. Someday, we’ll get older and forget everything. But stories still remain. It’s the way I remember you. The way I heal. The way I feel time. It maybe means nothing to you. But at least, u’r presence, u’r smile, u’r happiness keep me writing…

Hello, it’s me.

Belajar berenang? Why not?

Ada dua keahlian bertahan hidup (survival) tools yang harus kalian kuasai dalam hidup. Pertama, berenang. Kedua, memanjat pohon. Itu kata kawan saya Denty. Dia bilang, kalau punya dua keahlian itu, niscaya kita bisa menyelamatkan diri dalam situasi apapun.

Saat kawan saya mengucapkan kalimat itu, entah kenapa yang terbayang air bah datang ke kota tempat saya tinggal. Ada tsunami besar! Air datang ke segala penjuru masuk ke rongga-rongga gang dan jalan. Air di mana-mana. Air merendam seluruh kota. Lalu bagaimana si manusia tak berenang ini akan menyelamatkan diri?

a. duduk diam, merapalkan Al Fatihah, memejamkan mata sambil menunggu air menerjang lalu tewas seketika

b. memanjat pohon atau bangunan yang lebih tinggi dari permukaan air untuk menyelamatkan diri?

c. panik, tapi tetap ambil foto atau video untuk diunggah ke Path dan Instagram Stories

d. semuanya benar

e. semuanya salah

****

Setelah percakapan itu, sejenak kadang saya merenung. Kadang-kadang saat pup di pagi hari, kadang-kadang saat menunggu narasumber. Hidup wartawan memang 70 persen dihabiskan untuk menunggu. Menunggu narasumber, menunggu deadline, menunggu perintah dari editor, menunggu kamu yang enggak sadar ada yang naksir dalam diam… #eh

Dalam perenungan di toilet itu, terkadang saya membayangkan betapa paniknya saya ketika menghadapi situasi genting. Memanjat? Zaman masih kecil saya memang hobi memanjat pohon jambu dan rambutan, lalu merontokkan semua yang masak di pohon. Tapi itu dulu, sekarang? Saya lebih mudah phobia ketinggian. Saat outbond bersama teman-teman di Puncak, saya gagal meniti titian Elvis yang bak Sirotol Mustaqim itu. Subhanallah, Allahu Akbar!

Lalu, bagaimana dengan berenang? Itu sama payahnya. Terakhir, saya belajar berenang saat masih duduk di bangku SMP. Saya belajar setengah-setengah. Belum sampai mahir, latihan sudah berakhir. Walhasil sampai besar parno saat harus masuk kolam renang. Lu selama ini hidup ngapain aja sih mpok? :0

Dan, seperti biasa, renungan-renungan itu hanya akan menjadi ampas yang hilang setelah disiram. Semangat itu pun menguap seiring tuntutan manusia dewasa yang banyak lagi mahapelik. Born and pay the bill, pay the bill, pay the bill, and die! Niat untuk belajar berenang saat usia 27 tahun pun samar-samar hilang di antara setumpuk to do list.

****

Lalu, suatu ketika, idola saya Dewi Lestari mengunggah sesuatu di akun Stellernya. Ternyata dia sama cupunya dengan saya. Dia juga belum bisa berenang di saat usianya sudah menginjak kepala 4. Di akun Steller itu, dia menceritakan apa yang memotivasinya untuk mengakhiri peran sebagai penjaga tas di keluarga. Yup. Karena tak bisa berenang, Dee Lestari selalu ketiban peran sebagai penjaga tas saat suami dan kedua anaknya Keenan dan Atisha berenang. Di saat keluarganya asyik masyuk mengakrabi air, dia dengan kaca mata hitam kecenya, memandang dari kejauhan. What a miserable job, isn’t it?

Karena banyak duit, Dee Lestari tentu saja akan memilih tempat les berenang terkece seantero jagad. Total Immersion adalah pilihan si ibu suri untuk latihan berenang. Awalnya, dia cuma belajar mengambang. Dia juga mengalami masa suram menenggak berliter-liter air berkaporit di kolam renang.

Lalu dia mulai bisa mengambang, mengayun (stroke), rileks, dan akhirnya benar-benar bisa berenang. Tak hanya berenang di kolam, doi juga sudah lulus ujian berenang open water! Yep. Renang di laut Sentosa Island di Singapura. What an achievement, mamak Supernova! U’re ubercool. Idola. Panutan. Sesembahan. 😀

****

Saya dan Diah pun terinspirasi. Sebelum bisa berenang, saya dan Diah memang penyuka wisata pantai. Kami suka snorkling dan kepingin banget bisa free dive atau bahkan diving. Mimpi boleh aja kan? Gratis ini.

Lalu, saya dan Diah sudah berpikir bulat-bulat dan masak-masak untuk mengambil kelas berenang. Pokoknya kita harus bisa berenang. Apapun kondisinya! Kita harus saling menyemangati dan memotivasi. Kami enggak mau kalah dengan Dee Lestari. Idola harus benar-benar menjadi panutan. Ganbatte!

Selain saya dan Diah, ada satu teman lagi yang bergabung yaitu Lya. Sebelum mengambil kelas setiap pekan, kami berlatih beberapa kali untuk membiasakan diri di dalam air. Supaya lebih rileks. Kami pun memilih kolam renang House of Shafa Tebet, karena khusus perempuan. Sekitar dua kali kami datang hanya untuk berendam. Yup. Literally berendam, dan belajar bernapas di dalam air!

Teman kami yang sudah pandai berenang, Desi mulai mengajari tengkurap dan berjalan di dalam air. Saya sungguh panik. Saya pegang tangan Desi erat-erat. Entah kenapa, setelah kaki tak menyentuh lantai kolam, rasa panik itu menelan sekaligus menguasai. Padahal kedalaman kolam itu tak akan membuat saya tenggelam. Me..malu..kan, ter..la…lu!

“Ya elah, lu santai aja kali, lu ga bakal tenggelam,” ujar Desi dengan penuh kesabaran.

Saya pun selalu punya banyak excuse untuk membela diri tak mau melakukan ini-itu.

“Entar dulu Des. Gue anaknya nggak bisa dipaksa, gue harus rileks dulu. Baru latihan,” cerocos saya.

Desi pun tak kehabisan kesabaran. Karena saya terlalu banyak ketawa dan ngeyel, Desi malah mengajari anak balita yang juga sedang belajar berenang di kolam itu. Oke fine, coach!

****

Akhirnya, kami sepakat mengambil kelas satu kali pertemuan di akhir pekan. Guru les renang kami namanya Ayu. Orangnya tegas, suaranya menggelegar, dan “sedikit” mengintimidasi. Di pertemuan pertama, dia hanya mengajari kami berendam sambil membuang napas di dalam air.Bubble. Itu istilah yang dia buat. Kami disuruh berkali-kali bubble sampai terbiasa buang napas di dalam air. Buang napas, jangan buang kentut, apalagi buang air!

Setelah terbiasa bernapas dalam air. Ayu mengajari kami teknik mengayun (stroke) gaya katak! Mula-mula kami diajari gerakan kaki. Lurus-tekuk-tendang. Lurus-tekuk-tendang. Sambil berpegangan di pinggir kolam, kami pun mempraktikkan gaya kodok itu. Lalu, Ayu mendrill kami untuk keliling kolam, sambil lurus-tekuk-tendang, sambil dipegangi.

Ini penampakan saya yang panik karena nggak sengaja menghirup air saat di drill keliling kolam sama coach Ayu.

a11a1f49e7b7f9afe349b8e9e5d3c2a2

Shame on me! Ambil popcorn! Siap-siap kalian ketawa dengan kekonyolan-kekonyolan selanjutnya…

Meski cupu, beruntungnya saya nggak gampang menyerah. Sekali tekat tetap tekat. Saya harus bisa berenang! Saya harus bisa mengakrabi air.

Saat teman-teman berhalangan latihan, saya pun mencari kolam-kolam renang lain di Jakarta yang asyik untuk belajar berenang. Tiap weekend, saya malah jadi penjelajah kolam renang. Beruntung, mas pacar pintar berenang. Saya pun seret dia untuk memenuhi segala ekspektasi saya. Terkadang dia malas karena nggak punya celana renang. Saya belikan dia celana renang! Nih! Kamu pokoknya harus ajarin dan temenin aku berenang.

Pernah suatu ketika, dia lagi enggak enak badan. Saya tetap paksa dia temani saya berenang. Dia pun cuma senderan di pojokan sambil tertidur menunggu saya berenang. Sesekali, saya bahkan membangunkan tidurnya hanya untuk memintanya memotret dan membuat video dengan Go-Pro! Betapa kejinya saya, menyiksa dia yang lagi meriang. Yah, kadang-kadang saya memang kejam sama dia. Kalau diingat-ingat menyesal juga. Maaf ya sayang. U’re the best person who can handle me! 🙂

Singkat cerita, di akhir kelas berenang jilid I, akhirnya saya pelan-pelan bisa berenang gaya katak. Itu juga berkat latihan rutin di luar kelas yang saya tekuni. Hasil tak akan mengingkari proses. No pain, no gain. Lumayan lah…

Saya kepingin mengunggah video hasil latihan berenang. Cuma, karena akun WordPress ini gratisan, saya nggak bisa mengunggah video. Lihat saja di akun Instagram saya @lenteradewi he..he..he 😀

Menjelajahi kolam renang Jakarta

Karena sudah mulai bisa berenang, saya pun gemar melewatkan akhir pekan dengan menjelajahi kolam renang di Jakarta. Berbekal browsing di internet, saya datangi satu-satu kolam renang untuk mengetahui kualitasnya. Kolam renang paling bagus, bersih, dan nyaman yang saya kunjungi adalah Stamford Raffles Hills Sport Center di perumahan Raffles Hills, Cibubur, Jakarta Timur. Saya kasih nilai 8 dari 10 untuk kolam renang di Cibubur ini.

Pertama, kolamnya luas jadi kita nggak tabrak-tabrakan dengan perenang lain. Kedua, airnya bersih dan sedikit kadar kaporitnya, mungkin karena masih di pinggiran Jakarta jadi kualitas airnya lebih bersih. Kita berenang pun rasanya seger banget! Ketiga, ada kolam jacuzzi dengan air panas suhu 39 derajat. Pas saya datang kemarin, banyak orang Korea berendam di kolam jacuzzi ini. Konon, orang Jepang dan Korea memang gemar mandi air panas. Kolam air panas alami di Gunung Pancar dan Ciseeng, Bogor pun kerap didatangi WNA itu.

Keempat ruangan bilasnya besar, bersih, dan ada air panasnya. Di ruangan bilas ini juga disediakan sabun, shampoo, dan hairdryer. Kalau weekend, untuk masuk ke kolam renang kece ini anda harus membayar Rp 80.000 per orang. Ya, memang agak mahal, tapi sebanding dengan kualitas yang kita dapatkan kok. Cuma, kalau dari Jakarta ke sini memang butuh usaha keras. Jalan tol arah ke Cibubur macet parah kalau pas akhir pekan. Free u’r time, free u’r wallet to enjoy this pool! 🙂

img-20161203-wa0032img-20161203-wa0045img-20161203-wa0052

img-20161203-wa0043img-20161203-wa0047

img-20161203-wa0030

Ada juga kolam-kolam renang lain yang sudah saya datangi. Beberapa lumayan. Seperti House of Shafa Tebet, kolam renang Badan Intelejen Negara (BIN) Kalibata, dan Manggala Wana Bakti Sport Center. Semuanya ada kurang dan lebihnya. Cobain aja satu-satu kalau kalian hobi berenang. It would worth u’r time, I swear!

img_20161119_180153

Ini Manggala Wana Bhakti Sport Center. Tempatnya ada di kompleks Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Senayan, Jakarta Pusat.

img-20160807-wa0005

House of Shafa, Tebet, Jakarta Selatan

img_20161016_135751

Kolam renang BIN, Kalibata, Jaksel.

****

Well, senang rasanya menceritakan kisah yang happy ending ini. Hubunganku dengan air perlahan membaik, dan berharap kami akan kian mesra. Puas rasanya. Kalau saya punya hobi, setelah 27 tahun hidup tanpa olahraga rutin, sekarang saya bangga bilang kalau hobi saya berenang! Trus, saya sekarang juga selalu menanti-nanti akhir pekan. Tak sabar rasanya mengatakan, can’t wait for another swim! can’t wait for another swimming pool exploration! Yeay!!! 🙂