Nyanyi Sunyi di Ujung Hati

Sometimes, thing’s better left unsaid. Falsafah Jawa tulen yang penuh pertimbangan, penuh kehati-hatian, seperti sifat jurnalisme kepiting. Mundur teratur saat sudah terjepit.

Dia, perempuan yang memilih mencintaimu dari cara yang paling sunyi. Bernyanyi dalam kedalaman sajak dan puisi. Mungkin benar, beruntunglah mereka yang dicintai seorang penulis. Karena tak peduli apakah jalan ceritanya berakhir suka maupun duka, nama dan kisahmu akan abadi dalam karyanya. Platonik. Khas kamu.

Jika jatuh cinta itu merupakan keputusan politik, kau tak akan membiarkan perasaan itu menghegemoni. Kau adalah pecatur waras yang masih bisa mengendalikan bidak-bidak langkah dalam pertarungan asmaramu. Kau adalah pelaut ulung yang tak membiarkan kapalmu tambat di dermaga yang salah. Salah tempat perahumu akan rusak dan tak bisa berlayar ke tengah samudra lagi. Salah waktu kau akan merusak terumbu karang dan organisme yang hidup di sekitar dermaga.

Kemudian nyeri itu semakin terasa saat kau mengingat isyarat-isyarat yang saling kalian kirimkan. Kalian memang aktor paling ulung, berkelindan dalam kecamuk hasrat. Kau muda, tapi hatimu bijaksana. Sudahlah, jatuh cinta itu sebenarnya sangat sederhana. Yang megah hanyalah tafsir-tafsirnya.

Tapi, kau suka jatuh cinta. Meski berkali-kali patah hati. Kau jatuh cinta lagi dan lagi, seolah tak pernah tersakiti. Kau halau semua nyeri yang terasa. Kau terus berjalan dengan tawa yang nyaring. Jatuh cinta dan patah hati sama-sama meniupkan energi. Energi untuk menulis dan menulis lagi. Menumpahkan segala nyeri. Melangkahkan kaki ke mana nyeri itu mencari. Dia mencintaimu dengan jalan ninjanya yang paling sunyi. Hanya dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang telah membuatnya tiada…

*****

“kita berdua hanya berpegang tangan
tak perlu berpelukan
kita berdua hanya saling bercerita tak perlu memuji

kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
kita berdua tak hanya menjalani cinta tapi menghidupi

ketika rindu mengebu-gebu kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja

kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
ketika rindu mengebu2 kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja

saat cemburu kan membelenggu cepat berlalu jatuh cinta itu biasa saja
jatuh cinta itu biasa saja

jika jatuh cinta itu buta
berdua kita akan tersesat
saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap”

(Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta Itu Biasa Saja)

Kumainkan lagu ini. Kuhabiskan malam ini. Hingga melankoli tak akan tumbuh lagi di dasar-dasar hati yang telah lama mati.

Gelora,

26 November 2016

02.10 am

Advertisements

Rouge ร  lรจvres ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹

Perempuan itu terlihat paling cantik saat ia sedang jatuh cinta. Ibarat bunga, mereka mekar merekah, menebar wangi ke seluruh penjuru mata angin. Ia ingin selalu terlihat manis. Mereka yang tidak suka dandan, mendadak gemar memakai lipstik. Bibirnya merah, merona, merekah, basah, dan setengah terbuka. Tsaahh…

Beberapa bulan lalu, Luna gemar sekali berbelanja lipstik saat mampir ke mal. Meski sudah berkeliling ke gerai pakaian, sepatu, tas, dan pernak-pernik, Luna selalu menghabiskan waktu di gerai kosmetik. Memilih, mencoba-coba lipstik segala rupa. Ia poles lipstik itu di bibirnya yang tebal di depan kaca cembung. Bibirnya setengah terbuka saat jarinya gemulai memoleskan pulasan warna itu menutupi bibirnya yang bergaris-garis. Jika warna lipstik sudah terpoles rapi, ia akan memonyongkan bibirnya di depan kaca. Red lips don’t care! Tapi, sebenarnya ia hanya memilih dan membeli lagi aneka gradasi warna merah. Ia pilih warna yang terang dan menyala.

“Lu perasaan dari kemarin belanja lipstik mulu deh?,” ujar Dee, teman karib Luna.

“Iya nih, gue lagi demen koleksi lipstik. Nggak tau kenapa, lagi seneng dandan,” timpal Luna dengan senyum dimanis-manisin.

***

Malam itu, usai makan dan berbelanja bersama teman-temannya, Luna janji akan bertemu dengan Alan di sebuah kedai kopi. Alan memang gemar mengajak Luna untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kalau sudah bertemu, mereka akan menghabiskan waktu sampai subuh. Membahas hal penting sampai remeh-temeh. Makin malam, obrolan makin panas. Makin lama mengobrol, mereka akan saling jujur dan menguliti perasaan masing-masing. Awalnya, ritual itu biasa aja, tak ada makna yang tertinggal. Tapi, jujur pada pribadi masing-masing itu terkadang memang berbahaya. Karena berada di dekat orang yang membuat kita nyaman, tak sadar kita jadi posesif. Entah itu perasaan sayang, cinta, atau sekadar peduli? Ya, Luna sangat peduli pada Alan. Peduli adalah kata yang tepat. Karena rasa-rasanya terlalu megah jika itu harus diartikan sebagai jatuh cinta.

Seperti biasa, Luna gemar memesan bir banci. Malam itu, sepiring penuh keripik jagung Mexico dan bir dingin rasa jeruk kesukaan Luna terhidang di meja. Keringat dingin menetes-netes dari botol bir. Kuah daging cincang kental mengendap di atas tumpukan keripik jagung. Luna mengambil sehelai keripik, lalu mencocolnya dengan sambal daging cincang yang dimasak dengan pedas paprika. Bunyi kriuk..kriuk, berorkestra di mulutnya saat ia mulai menguyah.

Alan dan Luna mengobrol dengan serius, tertawa, saling mencubit. Mata mereka beradu, antusias saat menumpahkan sampah curahan hati masing-masing. Anjrit, anjay, anjas, amsyong, asu! Pekik mereka mengutuk kekonyolan-kekonyolan hidup.

Jika sudah bosan, mereka akan nyinyir dan mengomentari segala sesuatu yang ada di dekat mereka. Lalu kelam malam semakin menua, dan mereka malas pulang. Mereka malas menghadapi kenyataan Jakarta keesokan harinya.

Obrolan malam itu pun menjadi ritual mereka. Luang atau senggang, mereka harus menyisakan sedikit waktu untuk sekedar menyesap bir dan menguyah keripik jagung Mexico. Sesekali, usai gajian, minuman akan naik kelas menjadi wine. Red wine. Tunggu sampai kejujuran-kejujuran meluncur dari mulut mereka. Terlalu banyak omong kosong di dunia ini. Tapi Luna suka mendengar semua keluh kesah dan omong kosong Alan. Luna lebih banyak diam dan mendengarkan. Luna bukanlah tipe orang yang membuka keran curahan hatinya kepada semua orang.

***

Di suatu malam yang lain, Luna berdandan cantik. Baju fuschia, kalung keemasan, dan lipstik merah. Ah, ini terlalu menor. Ia hapus lagi lisptik itu dengan tisu. Lalu ia tebalkan lagi polesannya. Aduh, terlalu merah dan menyala, norak, kaya emak-emak. Begitu terus sampai telepon berdering karena Alan telah menunggunya di sebuah kafe di mal di jantung kota.

Mereka datang ke kafe baru dan tidak hafal dengan menu makanan dan minumannya. Bir banci dingin yang kerap dipesan Luna tidak tersedia. Luna pun mati gaya. Ah, dia memang terlalu pengecut untuk sekadar mengganti menu minuman yang tak biasa. Dia terlalu main aman dengan kegemarannya, comfort food, comfort drink, comfort man. Tipikal seseorang yang terlalu banyak mikir dan tak berani mengambil risiko tinggi.

“Lun, bir kesukaan lo nggak ada nih!,” cetus Alan.

“Yah, adanya apa dong? Nggak asyik nih,” jawab Luna yang sudah duduk di salah satu kursi. Cahaya di kafe itu remang-remang. Luna tampak berkilau.

“Adanya kopi, es teh, nggak ada es cendol atau wedang jahe!,” tukas Alan.

“Sueee lo ya, ya udah pesenin gue bir seadanya. Lagi galau, butuh dosis bir banyak,” cerocos Luna.

“Oke, nggak usah banyak complain, gue pesenin seadanya ya,” desak Alan.

“Sip,” timpal Luna sambil mengacungkan jempol.

Malam itu, mereka menyesap Corona. Bir kesukaan Dominic Toretto di film Fast and Furious. Bir yang lebih pahit daripada es cendol. Luna yang tidak terbiasa dengan bir pahit pun meringis saat menenggak bir itu langsung dari botolnya. Minum bir memang lebih enak beradu mulut dengan bibir botol.

Corona dingin malam itu boleh pahit. Tapi, bersama teman yang membuatnya nyaman, Luna lupa apa itu rasanya pahit. Sesekali hidup jangan membanci. Minumlah bir dan kopi pahit. Jangan terlalu tergantung pada susu, latte, frappe, dan rasa buah yang mengaburkan rasa asli minuman. Luna belajar memilih dan bersikap. Ah, alkohol memang tidak pernah menyelesaikan masalah, apalagi es cendol…

bintang2

Palmerah,

01.00 am

What if?

Hari ini, tidak terjadi apa-apa, biasa saja. Aku liputan di tempat baru, bertemu teman-teman baru. Mengejek dan tertawa bersama. Alangkah serunya!

Aku makan pecel di Taman Situlembang. Bersama seorang karib dan beberapa wartawan lain. Ada pare di dalam campuran sayuran, tapi tidak pahit, aku suka. Aku mengunyah makanan berserat itu sambil menikmati sepoi angin taman. Angin menerbangkan angan ke padamu, kerinduan yang telah berkarat. Lalu aku menatap air mancur, geli. Dan aku berteriak kepada teman-teman yang sedang mengetik berita: “hei, lihat air mancurnya menyala!” Dan mereka hanya mengiyakan tanpa perhatian. Aku seperti orang konyol.

Tapi lebih konyol lagi situasi Jakarta saat ini. Di saat kafe-kafe dan gerai di mal mahal masih ramai, negara heboh seolah mau perang. Sedih. Tentara berpolitik lagi. Siapa yang mengundang? Tak bisakah sipil memerintah dengan tenang meski sense of threat and securitynya lemah?

Dan bukan hanya aku yang konyol. Semua orang konyol. Di warung-warung kopi dan indomie, orang berbisik-bisik seolah paling tau situasi terkini. Mereka gamang. Orang demo lagi di negara demokrasi.

Dan es jeruk di Monas Timur asam dan sangat mahal. Rp 8.000 per gelas. Mungkin sewa lapak di dekat Istana lebih mahal. Kambing. Kubayar juga, demi roda ekonomi kerakyatan. Besok-besok aku akan bawa bekal air putih lebih banyak untuk berhemat.

Lalu teman-teman mengeluh, mau makan hanya ada menu Indomie. Jika tak menelan mi lilin campur micin itu, mereka harus bayar mahal lagi untuk makan di Hokben, McD atau, KFC. Kan kambing. Fiuuhhh… Metropolutan. Money speaks louder than everything.

****

Aku berusaha menyelesaikan tulisan di kantor dengan cepat. Mengambil makanan gratisan dari seseorang yang sedang berulangtahun. Nasi, capcay, dan empat tusuk sate. Kenyang.

Pulang dan mandi. Nyetel Spotify lagu All I Ask dan Everglow. Aku bengong sendiri seperti orang bodoh. Speechless dengan lirik lagunya. Tiba-tiba nangis. Nggak jelas. Nggak paham juga apa yang kutangisi selain kepengecutanku sendiri.

Bagaimana jika siklus hidup ini hanya akan berputar dan tak berarti apa-apa? Karena ternyata dunia terlalu padat dan berisik? Masih tidak ada apa-apa. Dan aku baik-baik saja. Apakah kita benar-benar sendirian? Seharusnya kita saling menemani…

Palmerah,

22 November

00.48 am

Waktu Tertahan di Perpustakaan Nyaman

Apa yang aku suka dari membaca? Mengutip seorang teman, membaca seolah membuat sepi dalam diri, ramai di pikiran. Imajinasi kita tiba-tiba diajak melayang-layang ke suatu tempat yang sungguh asing. Waktu tertahan, seolah bergerak memelan di sela hiruk-pikuk, hectic kota Jakarta. Kota yang kelebihan dosis kafein. Kota yang selalu kerja, kerja, dan kerja. Kota yang sibuk bersolek. Membangun, membangun, dan membangun. Can we just slow down for a while?

Rindu ketenangan. Selain di taman yang terkadang dipenuhi alay dan hipster, perpustakaan menjadi tempat menepi yang nyaman. Sejenak kita bisa melarikan diri dari rutinitas yang serba cepat dan menuntut. Saat libur akhir pekan, atau saat sempat, aku pun menyempatkan diri menjelajahi perpustakaan atau kafe perpustakaan tempat di mana buku-buku ditata rapi bermartabat di dalam rak. Entah mengapa, ada rasa haru yang menyeruak, saat melihat deretan buku tertata rapi di rak kaca, rak kayu terbuka, atau tempat penyimpanan lain. Ada imajinasi liar, rangkaian kata-kata yang mencoba menguntai makna mengerling dari rak-rak itu. Buku, penyelamat peradaban. Medium manusia keluar dari zaman prasejarah. Tempat di mana sebuah mahakarya besar bernama ilmu pengetahuan diawetkan.

Freedom Institute. Sebuah perpustakaan di dekat Taman Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat yang belum lama ini tutup. Acungkan jari tengah bagi si penutupnya. Perpus ini kece, berada di pusat orbit kota. Dekat dengan Cikini dan Megaria. Demi apa, perpus kece badai ini saat ini beralih fungsi menjadi markas pemenangan salah satu calon gubernur. Sungguh keji yang punya ide ini. Faak!

img_20150815_185427

Lihat keren bukan? Bayangkan anak-anak muda lawan jenis ini kenalan di Tinder, lalu kopi darat di tempat ini. Mereka akan curi-curi pandang sambil tersipu malu di meja baca. Dada mereka berdesir tatkala tangan tak sengaja bersentuhan saat akan mengambil buku sastra yang sama di sebuah rak kayu. Lalu, di taman depan, di luar perpustakaan mereka akan mengobrol tentang buku-buku favorit mereka. Mereka akan saling mengutip kutipan-kutipan dari penulis kesayangan. Aih, level kenorakan saya memang hanya sebatas adegan Rangga-Cinta. Payah! :p

img_20150815_123441

img_20150815_143503

img_20150815_143452

img_20150815_121759

img_20150815_121245

img_20150815_134610

Rest in peace, our lovely Freedom Institute ๐Ÿ˜ฅ

*****

img_20151231_182414_hdr

dscf0022

dscf0024

dscf0019

Ini Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan. Tempatnya lumayan kece. Tapi makanannya standard dan mahal. Kalau sedang beruntung, engkau bisa bertemu dengan si empunya kafe, Richard Oh. Yes! He is kind and friendly. Aku pernah berjam-jam mengobrol dengan dia soal film, sastra Indonesia, dan project yang sedang dia kerjakan. I love Richard very much…

Ada juga toko buku Post, di Pasar Santa yang belum berhasil saya datangi. Di sana ada banyak buku kece, dan sering menjadi tempat diskusi penulis-penulis keren. Mungkin, libur pekan depan saya akan ke sana. Lalu, menuliskannya buat kamu, iya kamu…

Oke, dan sekarang saya mengantuk. Meski berjuluk malam, saya bukan Edward Cullen. So, saya harus segera bobo manis, biar besok bisa menjemput pagi yang magis. Sekeren apapun, sekuat apapun, kita tidak akan bisa memberontak kawan, jikalau kita mengantuk. Hooaammm…

 

Gelora,

22 November 2016

01.57 am

Menunggu Kado Terindah

“Lihatlah, setiap orang memasang halte di tempat persinggahan. Menunggu dan menanti tak henti-henti. Mengangankan masih ada bus yang bakal datang membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali. Salam bagimu, peziarah muda. Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. Ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari,” -Perjalanan Pulang, Joko Pinurbo, 1991-

Kita adalah peziarah muda. Datang untuk mencari, belajar untuk menetap, dan terus melakukan pencarian primordial bernama kebahagiaan. Ya, ada sebuah kebun di dunia ini, di mana sebuah kado terbaik disembunyikan untuk kita, peziarah muda. Kita semua para peziarah muda akan lebih dulu tersesat, terantuk, terseok-seok saat berpetualang di dalam kebun yang indah. Jiwa muda kita tentu akan menggerakkan kaki ini, tanpa lelah bertualang ke dalam dan lebih dalam lagi. Karena pada dasarnya, ada banyak ilusi jebakan di dalam kebun itu. Hanya peziarah muda yang sabar dan tekun niscaya menemukan kado terindah itu.

***

Mula-mula, kita akan dibuat kagum oleh kado-kado yang tak sengaja ditemukan di tengah perjalanan kita mencari doorprize “tersembunyi” itu. Kita mungkin bertemu dengan si jempol. Jempol menuntun kita untuk mencari sesuatu hal yang “penting”. Jempol bisa menggandakan diri, seperti uang yang digandakan Kanjeng Dimas, dengan sangat cepat. Hahaha. Jempol memberikan kekuatan untuk membuat semua orang merasa seperti merekalah pusat perhatian di seluruh dunia. Tapi, begitu kita mendekat dan hampir sampai pada si jempol, jempol menghilang dengan cepat. Jempol mengalihkan perhatian ke mana-mana tanpa fokus yang jelas.

Kita kecewa, terluka, tapi berusaha bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Lalu masuk ke bagian dalam kebun, kita akan menemukan si senyum. Senyum menyuntikkan semangat positif dalam hidup. Peziarah muda dengan mudahnya terkecoh dan memercayai kalau seluruh dunia menyukainya. Bagaimana pun, saat peziarah muda mendekat, dia melihat wajah asli si senyum. Si senyum ternyata tidak sebersahabat wajah yang coba ia tunjukkan di depan umum. Di balik senyumnya yang hangat dan merekah, senyum menyembunyikan wajah tak bersahabatnya. Senyum tak lebih dari topeng yang dibuat untuk menyembunyikan perasaan aslinya. Perasaan asli yang sebenarnya kopong, tak berarti apa-apa. Nothing.

Kita kecewa, tersakiti, tetapi bangkit dan mengobati sakit itu pelan-pelan.

Peziarah muda kembali masuk ke dalam kebun. Dan, lagi-lagi ia menemukan sesuatu yang lebih menggoda. Apa itu? Cinta. Banyak benda mendekat dan berubah bentuk menjadi hati representasi cinta. Hati memberikan perasaan hangat, damai, dan merasa dicintai. Ini membuat peziarah muda merasa seluruh dunia berada di pihaknya. Namun, saat kita berusaha menjaga dan mempertahankan hati? Hati patah dan hancur berkeping-keping. Hati tak lebih dari hujan di musim kemarau. Mudah diberikan, mudah pula dilupakan.

Kita kecewa, masygul, tapi tidak putus asa. Kita dorong kaki-kaki muda penuh energi itu untuk menerobos ke dalam kebun. Barangkali, jika beruntung, kita menemukan sesuatu hal yang tidak biasa, yang mungkin sering dilewatkan oleh peziarah lain.

***

Dia adalah si penyumbat. Penyumbat terlihat seperti tidak berharga sama sekali, karena dia hanya diam dan tidak menawarkan apapun kepada peziarah. Peziarah muda yang penasaran mencoba menarik si penyumbat. Saat menarik penyumbat dengan kuat, tiba-tiba, dia terputus dari kebun yang telah memberikan banyak pengalaman hidup. Untuk sementara waktu, segalanya terasa suram dan membosankan. Bagai hidup segan mati pun tak mau karena peziarah muda terputus dari segala aktivitas yang membuatnya “hidup”.

Lalu perlahan-lahan, dia menyadari sesuatu. Wajah teman, wajah anak-anak, wajah keluarga, dan binatang peliharaan kesayangan. Orang-orang yang menungguinya pulang saat dia terlalu sibuk mengumpulkan jempol, senyum, dan cinta. Saat kamu menyadari sudah terlalu lama dan terlalu jauh tersesat dalam kebun pengalaman. Cobalah sesekali, pergi dan tinggalkan kebun itu. Lalu, bersiaplah untuk memberi dan menerima hadiah terbaik dan sangat berharga dalam hidup ini. Perhatian tulus, penuh, dan tidak rapuh.

Sumber: diterjemahkan dari postingan akun Steller penulis favorit nomor satu di dunia, Dewi Lestari.

Salam hormat dari Dian Dewi Purnamasari.

Palmerah,

21 November 2016

22.16 pm