Tiba-tiba, Malam Merindukan Pagi

“Di ujung malam diantara lelap dan sadar,
Mulailah sekarang…
Bernyanyilah bersamaku
Di ujung malam diantara lelap dan sadar,
Mulailah sekarang…
Menarilah bersamaku

Sunyi ini merdu seketika,” Payung Teduh.

Aku ini perempuan dengan perumpamaan malam. Aku merasa lebih bergairah, bisa berpikir jernih, dan memeras otak saat malam hari. Malam hari yang tenang justru memberikan ruang bagiku untuk berkarya. Katanya, beberapa penulis juga nyaman menggenjot inspirasi di malam hari. Semangat pun bisa beratus kali terdongkrak kalau malam itu hujan. Sungguh teduh dan menenangkan. Sunyi, sepi, gelap, tenang, dan sendiri.

Saya pun jarang sekali memenangkan pagi hari. Hanya beberapa pagi penuh keberuntungan, aku bergegas penuh semangat dari tempat tidur untuk lari pagi, mencari sarapan, atau sekadar menyeduh teh dan kopi hangat. Pagi-pagi berikutnya lebih diwarnai oleh kekagetan karena bangun terlalu siang dan harus segera mandi. OMG!

Entah kenapa, tiba-tiba aku bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki beraroma pagi hari. Semangatnya selalu menyala. Dia lebih suka menertawakan hidup daripada meratapinya. Beda denganku yang selalu gloomy. Dia, selalu mencari sesuatu yang “fun” dalam hidup. Not take those thing we called life too seriously.

Berada dekat dengan orang tipe seperti ini pun membuatku sedikit terpengaruh. Padahal, aku termasuk yang resisten ketika bertemu dengan orang baru. Tapi, lama-kelamaan aku nyaman juga sama dia. Bahkan, bisa dibilang mungkin sedikit jatuh hati dengan caranya menyikapi hidup.

Dia benar-benar representasi pagi. Semangatnya, caranya tersenyum, antusiasmenya, gaya bicaranya, kepeduliannya, gerak-geriknya, semuanya. Dan malam pun mulai naksir dengan pagi. Entah pagi tahu atau tidak? Entah pagi menaruh rasa yang sama atau hanya perasaan sepihak, malam tak perlu tahu.

Naksir-naksir ala dewasa pun tak perlu ditunjukkan dengan berlebihan. Karena pada dasarnya, malam memendam perasaan itu dalam. Ia tak mau dirinya dan orang lain patah hati. Lebih baik dia menikmati pagi, setiap hari, dengan sabar. Ia sabar menunggu lukisan gelap luruh dalam belaian hangat sinar matahari. Tak perlu terburu-buru, tak perlu terbakar panas yang membutakan.

Perasaan itu lama-lama mengecoh malam. Malam mulai tak percaya diri dengan eksistensinya sebagai representasi sunyi dan sepi. Ia mulai mencari-cari hal yang menyemarakkan harinya, alkohol, pesta dansa, dan segala gemerlap budak dunia. Malam mulai kehilangan jati diri. Ada pihak-pihak yang lalu tersakiti.

Sampai akhirnya, malam menyadari itu. Ia tak mungkin bersanding dengan pagi. Pagi terlalu bersemangat, pagi terlalu mengisi hidupnya dengan wajah-wajah baru yang penuh antusiasme dan harapan. Pagi selalu riuh. Pagi selalu menyambut hati-hati baru yang datang ke hidupnya. Pagi adalah hari bagi mereka yang datang. Sementara malam adalah hari bagi mereka yang ingin pulang, mengendurkan ambisinya.

Akhirnya, malam pun hanya bisa tersudut, menangis dalam kesunyian. Dia tak akan pernah memiliki pagi, karena keduanya berbeda watak. Namun, malam tak pernah putus asa. Ia tak menyalahkan takdirnya yang tiba-tiba terpikat pada pesona pagi. Malam tetap terjaga, menekuk tubuh yang menggigil saat subuh tiba. Karena sebentar lagi, setelah gigil, kabut tipis, dan kokok ayam itu, ia akan berjumpa dengan pagi. Berjumpa… untuk selanjutnya menunggu lagi, lintasan waktu siang hingga sore, dan kembali lagi ke jati dirinya sebagai, malam.

moonlight

Advertisements

Segelas Kopi Konsistensi di Kedai Tak Kie

Pagi itu, aku sudah berniat bangun lebih pagi. Tapi, seperti biasa, tidur terlalu larut selalu membuatku bangun kesiangan. Sialan! Padahal aku sudah menyepakati untuk bertemu temanku jam 09.00 di Glodok, Kota. Apa daya, tepat saat mata terbangun, jam di ponsel menunjukkan angka yang sama. Panik! Aku buru-buru mengirim pesan whatsapp ke partner janjianku.

“Nyiz..sorry, baru bangun. Agak telat sedikit gapapa yah? :D”

Tak berselang lama, temanku membalas:

“Hahaha, sudah kuduga. Taka pa, ini aku juga baru mau berangkat. So ketemu jam berapa?”

“Ok siap, mandi langsung luncur ke Glodok!” balasku

Ternyata, aku sampai di meeting point lebih awal daripada temanku. Aku naik sepeda motor, sementara temanku naik angkutan umum. Ya sudah, aku tunggu sampai dia sampai sembari melamun di atas motor. Akhir pekan, jalanan Glodok lengang. Tak seramai biasanya. Lalu, sejurus kemudian, temanku datang. Dia melambaikan tangan dari halte seberang, senyumnya mengembang. Sambil cipika-cipiki, aku spontan mengucap maaf karena bangun kesiangan (kebiasaan).

Tanpa banyak basa-basi, kami langsung beranjak ke tempat tujuan: kedai Es Kopi Tak Kie. Tempat itu ada di dalam gang Gloria, Pasar Petak Sembilan Glodok. Sebelum sampai di TKP, kami harus melalui gang pasar yang dipadati pedagang jajanan khas Pecinan, ada aneka manisan buah, permen, kue, kacang, kue bulan, semua ingin dicoba satu-satu. Kami juga melewati gerobak-gerobak penjual olahan daging babi, siomay, dan bakpao. Bulu kudukku agak bergidik melihat usus babi besar menyembul di atas panci totol-totol. Meski belum ramai pembeli, pedagang sibuk menata aneka daging dan jerohan itu dengan garpu. Sesekali, mereka menawarkan dagangannya.

Pagi sudah beranjak siang saat kami duduk di kursi di pojokan. Kedai rame pagi itu, mungkin karena weekend. Sejumlah pemuda-pemudi dengan tentengan kamera DSLR sudah duduk di salah satu meja. Mereka cekikak-cekikik sambil minum es kopi, dan mengedar pandangan ke seluruh ruangan. Sempat ada cowok yang mencuri pandang ke arahku, mungkin karena kupakai lipstik ungu? Hahaha. Sembari menunggu pesanan kopi, aku tak mau kalah jeprat-jepret. Eh, si cowok itu curi-curi pandang lagi. Aku tersenyum, tersipu malu.

Ini kali pertama aku datang ke kedai Es Kopi Tak Kie. Temanku sudah dua kali. Jadi, aku manut saja rekomendasi minuman yang ia tawarkan. Kata dia: “kalau mau minuman yang strong, pilih kopi hitam. Tapi kalau nggak kuat mending kopi susu aja”. Yah, meski nyawa masih belum sepenuhnya terkumpul, aku pilih kopi susu saja. Sepertinya endess endolita 😀

Ruangan itu panas, tapi tidak begitu pengap meski berada di dalam gang pasar. Ada beberapa kipas angin yang menari-nari, menghembuskan sedikit udara dingin ke ruangan. Peluh terlihat mengujur dari kening pengunjung yang sedang menyantap bakmie, nasi campur, dan siomay. Kami cukup memilih menu es kopi susu. Soalnya, setelah kopi sepertinya enak makan gado-gado. Sayur-mayur biar hidup lebih berserat, he..he..he. Belakangan, baru aku tahu roti sobek keju di kedai itu juga rancak bana. Cocok untuk pendamping kopi di pagi jelang siang.

tak-kie-2

***

Aku ini penyuka kopi gadungan. Kenapa? Karena hubunganku dengan kopi agak pelik. Benci tapi rindu. Kalau kebanyakan nenggak kafein, lambungku yang telanjur maag ini langsung perih. Asam lambung naik dan dada berdebar-debar. Cukup lama untuk ngilangin efek kopi. Tapi, tanpa kopi aku nggak bisa mikir, nggak bisa ngetik. Jadi ya gitu deh, benci tapi rindu. Colek dikit langsung mau. Ealah…

img_20160528_111103

Menurutku, es kopi susu Tak Kie ini lumayan. Temanku meminta aku memberi skor 1-10, aku beri angka 7! Saat disajikan, susu kental manis masih mengendap malu-malu di bawah cairan kopi yang sedikit pekat. Aku mengaduknya, pelan-pelan, penuh cinta. Lalu, kucoba sesruput dengan sedotan. Ehm, enggak terlalu manis, pas. Lambung agak bereaksi karena belum sarapan, tapi bodo amat, mari lanjut sruputan selanjutnya. Cerita ngalor-ngidul seputar pekerjaan, pengalaman liputan, hingga yang berat isu feminisme pun deras meluncur. Kopi dan teman diskusi. Jika perpaduannya pas akan menjadi candu baru.

Kali kedua, aku kembali datang dengan teman kantor. Kami sudah lama janjian ingin menulis artikel tentang spot-spot menarik di ibu kota. Kali kedua itu, kami agak nyantai meski berkejaran dengan jam tutup kedai. Kami masih sempat ngobrol dengan Ko Latif Yulus atau Ayauw alias Liong Kwang Joe atawa Akwan, pemilik kedai yang ternyata sedang sakit itu. Sembari menemani ko Yusuf makan siang dan minum obat, kami curi-curi dikit resep dan konsistensi usaha kopinya.

Dari sorot matanya dan gerak-gerik wajahnya, Ko Latief tampak ikhlas dan “semeleh” kalau kata wong Jawa. Raut wajahnya yang tenang, jernih tanpa asumsi menandakan betapa pengalaman hidup menempanya. Menempanya bukan untuk menjadi telur yang keras, atau wortel yang lembek, tapi harum dan nikmat seperti kopi.

Kedai kopi ini adalah milik kakeknya. Awalnya, kakeknya berjualan teh liang dengan gerobak di sekitar pasar Glodok Pancoran. Setelah modal terkumpul, sang kakek pun menyewa lalu membeli tempat yang sekarang. Tempat itu sudah ada sejak 1927. Sejak 1927 pula, keluarga ini menekuni konsistensi racikan kopi. Ada lima jenis kopi yang dicampur menjadi satu. Biji kopi dikirim dari Lampung. Kopi lalu disangrai dan digiling di kedai. Perpaduan lima jenis kopi berbeda itu lah yang membuat rasa kopi di kedai ini terasa istimewa.

Belakangan, Ko Latief kerap mengeluh dengan kualitas kopi yang terus meredup. Petani memanen kopi sebelum kopi masak di pohon. Setelah sekian lama bergelut di bisnis kopi, ia pun tahu bagaimana menakar quality control biji kopi. Ia kini juga tak lagi mengambil langsung dari petani. Ia mengambil bahan dari supplier yang ada di Jakarta. Cara itu ia lakukan untuk menghemat pengeluaran.

Sehari, ia bisa memasak hingga beberapa panci besar. Bubuk kopi tidak diseduh di gelas seperti kita biasa meracik kopi instan. Bubuk kopi direbus dengan air mendidih. Kopi lalu disaring dengan kain katun untuk menghilangkan ampasnya.

***

tak-kie-6

“Koh, nggak minat buka cabang di tempat lain?,” cetusku ngasal.

“Enggak punya duit, enggak punya modal. Sewa tempat saja mahal, belum listrik, karyawan, dll. Rugi, enggak kekejar modal sama penjualannya,” ujar Ko Latif.

Ko Latif dan keluarga mencukupkan diri untuk membuka tokonya hingga pukul 14.00 saja. Dia enggan menyaingi waralaba kopi internasional yang tak pernah tidur itu. Latif yakin rezeki sampai pukul 14.00 sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Mengobrol dengan Ko Latif ini asyik sekali. Bahkan, dia sempat menunjukkan foto-foto jadul berwarna hitam putih kepada kami. Foto memori masa kelam saat reformasi 1998. Tak terasa, karyawan sudah menata meja dan kursi dan bersiap-siap tutup. Separuh pintu sudah ditutup dengan balok-balok kayu panjang. Kursi-kursi tua berwarna cokelat tua dibalik dan diletakkan di atas meja. Kami harus segera pamit karena toko sudah tutup.

Saat melangkah keluar kedai, ternyata pintu masuk sudah dijejali oleh pedagang siomay dan jeroan babi yang berjajar. Dengan gesit, mereka segera mengokupasi halaman kedai Tak Kie dengan dagangannya. Ternyata inilah cara Ko Latief dan keluarga berbagi rezeki. Saat kedai ditutup, ia memberikan kesempatan untuk pedagang lain berjualan di tempatnya. Ini yang jarang kita temui di kedai pemodal kelas kakap yang lebih suka berdagang dengan sistem monopoli.

tak-kie-1