Wregas Bhanutedja dan Karya yang Jujur

Sekian lama kita dicekoki dengan tontonan hiper realitas yang membuat kita semakin menjauh dari akar budaya? Sinetron di televisi adalah pihak yang layak disalahkan atas degradasi kebudayaan itu. Mereka menyuguhkan tontonan yang tidak realistis. Seorang direktur muda, bermobil, berpakaian parlente, dengan paras rupawan yang membuat semua perempuan cantik meleleh. Perempuan-perempuan cantik, modis, yang urusannya hanya sebatas jatuh cinta, selingkuh, dan mengurusi hati. Tak ada yang menceritakan jatuh bangunnya perjuangan mendapat kesuksesan. Semua itu instan. Dan mendorong generasi muda untuk malas berpikir, konsumtif, dan terombang-ambing.

***

Dunia layar lebar tak jauh lebih baik dibandingkan dengan layar sinetron. Lebih banyak film menayangkan hiper realitas pula. Segala yang tampan, cantik, hidup mudah dan urusannya cuma sebatas hati dan cinta tetap jadi komoditas unggulan. Lalu, karena masyarakat kita sebagian masih irasional, tontonan drama horor dengan bumbu seks laris manis di pasaran. Meskipun demikian, ada pula beberapa film bermutu seperti Laskar Pelangi, Perempuan Punya Cerita, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Rectoverso, The Raid, Pendekar Tongkat Emas, untuk menyebut beberapa judul. Namun, tema-tema cerita itu cenderung sama dan seringkali dibuat latah oleh tren. Penonton pun bisa menebak arah tren film ke depan dengan judul-judul yang muncul di bioskop. Usai film Laskar Pelangi misalnya, mendadak muncul film-film bertema motivasi dan pendidikan bertebaran. Sineas seolah gagal menemukan ide segar baru untuk memuaskan penonton.

***

Wregas Bhanutedja (23), namanya baru saya kenal setelah film pendeknya berjudul Prenjak: in The Year of Monkey menang di Festival Film Cannes di Prancis. Tema film yang sangat berani yakni tentang seksualitas, transaksi seksual, dan posisi jender di struktur sosial masyarakat Jawa membuat film ini begitu spesial. Soal seksualitas, negara ini memang masih gagap nggak ketulungan.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160520_majalah_penjak_menang_cannes

Alat kelamin selalu jadi barang glamour yang tabu untuk dipergunjingkan. Padahal, apa susahnya menyebut penis dan vagina. Terkadang, kedua alat kelamin itu memang bisa menjadi barang yang glamour dan menggoda. Tetapi, kadang keduanya hanyalah alat yang lemah dan biasa saja. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Dalam hal ini, masyarakat kita masih terlalu “fragile” untuk mendudukkan perkara kelamin. Urusan kelamin tak pernah dijelaskan secara gamblang hingga muncul berita di halaman utama tentang kekerasan seksual yang marak. Internet dan kemajuan teknologi disalahkan. Entah siapa yang harus bertanggung jawab.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160523_majalah_prenjak

Prenjak movie

Sabtu, 29 Mei 2016 lalu, saya berkesempatan menonton karya-karya Wregas. Dia ternyata sudah membuat banyak film pendek di antaranya Senyawa, Lembusura, The Floating Chopin, Lemantun, dan Prenjak. Semua filmnya berbahasa Jawa. Wregas seolah ingin menunjukkan identitasnya sebagai etnis Jawa dan akar budaya yang kuat dari kampung halamannya di Jogja. Ide dan cerita yang dia buat pun sangat dekat, sederhana, dan sarat makna. Saya menangis waktu menonton film Lemantun. Ini favorit saya. Cerita, alur, penokohan, dan ilustrasi musiknya kawin-mawin sehingga film itu sangat berkesan.

Saya tak akan membahas soal sinematografi karena memang tak menguasai bidang itu. Namun, saya akan bicara soal karakter, cerita, dan ideology yang ingin disampaikan Wregas. Menurut saya, tak banyak generasi muda seusianya yang berani mengambil pilihan itu. Pemuda yang belum genap setengah abad ini mencuri hati kita dengan kesederhanaan dan kejujurannya. Persis seperti Andrea Hirata yang jujur mengisahkan masa kecilnya di sekolah sederhana yang menjadikannya penulis hebat seperti saat ini. Karya yang baik adalah karya yang jujur. Tak perlu ndakik-ndakik untuk menyaingi sineas lain di dunia seperti Stephen Spielberg, Quentin Tarantino, James Cameron maupun Alejandro Iñárritu. Lagipula, apa spesialnya kalau kita cuma bisa mengimitasi budaya mereka? Bukannya negara lain justru ingin melihat kearifan lokal dan keragaman budaya kita? Mungkin selama ini kita sibuk mencontoh, membanding-bandingkan budaya kita dengan budaya lain, sehingga kita lupa pada budaya sendiri.

***

Bagi saya, Wregas layak disandingkan dengan penulis kesayangan Ahmad Tohari. Wregas meramu cerita dan gambar bergerak yang mengingatkan tentang memori masa kecil kita di kampung. Mungkin kedekatan emosional bisa saya rasakan karena saya juga berasal dari etnis Jawa. Sepanjang film diputar, saya tertawa terpingkal-pingkal dan sesekali memekikkan kata “asyu”. Film ini sangat riil.

Penokohan dalam film ini pun sangat natural. Mirip dengan tokoh-tokoh yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tak mengandalkan tampang kinclong untuk menguras emosi kita. Mereka adalah orang-orang di sekitar kita, seperti om, tante, simbah, dan keluarga kita. Ini yang membuat film ini terasa sangat dekat dan membumi.

Ketika menonton film-film drama Jepang dan Korea, kita masih disuguhi sensasi malu, canggung, kikuk khas Asia saat dua orang lawan jenis berpacaran. Hal-hal seperti itu sangat ketimuran dan menunjukkan identitas budaya kita. Namun, alih-alih menjunjung tinggi kebudayan lokal, sinetron dan film box office kita justru kerap mencontek budaya Barat. Itu yang membuat film terasa jauh dan hiper realitas. Dan dalam hal itu, film berkontribusi mengaburkan identitas budaya kita. Kita semakin jauh dengan akar budaya kita dan pelan-pelan melupakannya.

WREGAS BHANUTEDJA

Kepada penonton, Wregas blak-blakan mengaku bahwa film-film yang ia produksi terinspirasi pada sesuatu yang pernah ia alami maupun cerita dari orang-orang terdekat. Ia hanya mau membuat film dari sesuatu hal yang dia pahami. Cerita di film Lemantun misalnya, merupakan kisah nyata dari keluarganya. Di film Prenjak itu merupakan pengalaman temannya sewaktu SD di Alun-Alun Yogyakarta. Di film lain, seperti Floating Chopin, ia mengkritik berbagai aspek seperti gaya hidup anak muda, kebudayaan di Bali, lewat kekonyolan-kekonyolan dialognya bersama Ersya.

“Saya tidak mungkin membuat film science fiction atau perang-perangan misalnya, karena saya belum pernah mengalaminya. Saya hanya membuat sesuatu yang dekat dan saya tahu betul,” ujar Wregas.

Sudah saatnya anak bangsa dengan gagasan cerdas seperti ini diberi ruang. Jangan sampai pasar mendikte kita dengan selera rendah cinta-cintaan melulu. Bangsa kita selalu punya kreativitas dan taste yang tak kalah dengan yang lain. Kita sebagai generasi muda seharusnya belajar dari kejujuran dan kesederhanaan Wregas dan tim. Tak perlu ndakik-ndakik, yang penting jujur, sederhana dan sarat makna. Ada harapan untuk bangsa ini ke depan. Saatnya memanggungkan Indonesia. Karena Indonesia adalah negeri yang hebat!

 

Palmerah, 30 Mei 2016

1.14 am

Advertisements