Sawit yang berdampak pahit

Manusia primitif, hanya mengambil sesuatu dari alam sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Mereka menakar kemampuan perut dan mengambil hasil bumi untuk mengenyangkannya. Justru, manusia modern yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki harta dan kuasa yang bersifat tamak. Mereka tak henti mengeksploitasi bumi dan memperkaya diri. Hingga bumi kini perlahan hancur dan sakit kritis…

Sebuah tayangan apik di channel BBC Earth beberapa waktu lalu, menggambarkan dengan komprehensif bagaimana manusia, budaya, perkembangan ilmu ekonomi, dan teknologi, dan peradaban manusia saling bersekongkol membinasakan alam. Awalnya, masyarakat primitif begitu dekat dan menghargai alam. Mereka mengambil sesuatu yang ada di alam yaitu tumbuhan dan hewan sesuai kemampuan sistem pencernaan mereka. Sebelum berburu kelelawar dan tikus, misalnya, mereka berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan. Mereka berjanji akan merawat segala sesuatu yang dikirimkan Tuhan sebagai alat untuk bertahan hidup.

Manusia-manusia primitif dengan segala ritualnya, terkadang lebih mampu menghargai alam. Mereka menjaga hutan, sungai, dan laut. Mereka sadar, jika alam tercemar mereka tak lagi bisa makan. Namun, manusia primitif yang hidup dan tumbuh besar dengan tradisi dan ritual itu kini dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Mereka dianggap peninggalan arkaik yang kolot, tidak peka dengan zaman.

***

Lalu, lahirlah sistem pertanian dan manusia mulai mengenal penyimpanan bahan pangan. Mereka menanam padi yang rakus air di tempat-tempat yang dulunya hutan, rawa, lahan gambut. Hutan-hutan hijau dan perdu ditebang, lalu dialihfungsikan sebagai lahan pertanian. Manusia, kini tak lagi mengambil kekayaan alam sesuai yang bisa mereka makan. Mereka mulai mengeksploitasi dan mengeksplorasi alam.

Di situlah dimulainya kehancuran bumi dan alam seisinya…

Sistem pertanian pun didesain dalam skala masif untuk mencukupi kebutuhan pangan jutaan warga di dunia yang beranak-pinak. Lalu, orang-orang yang memiliki kuasa dan harta berpikir bagaimana mereka bisa menjadi perantara penyedia bahan pangan itu. Industrialisasi pun bergulir. Tak hanya di bidang pertanian, perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, dan berbagai komoditas lain tak luput dari radar industrialisasi itu.

Di Indonesia, perkebunan kelapa sawit menjadi industri minyak nabati yang paling banyak merusak lingkungan. Hutan-hutan dikonversi menjadi perkebunan sawit. Pembukaan lahan serta peremajaan tanaman sawit dilakukan dengan membakar hutan. Triliunan rupiah hangus setiap tahunnya. Jutaan orang terpapar asap pembakaran hutan. Sebagian lainnya (banyak) bahkan meninggal dunia karena tak tahan dengan racun asap yang berbulan-bulan menyiksa mereka. Di mana rasa keadilan berada ketika udara segar pun tak lagi bisa dihirup bebas?

Di Sumatra Barat dan Kalimantan Tengah, saya melihat hamparan kebun kelapa sawit membentang di kaki-kaki bukit-bukit perdu yang asri dan di lahan gambut yang basah. Tak jarang, pemilik perkebunan sawit itu adalah perusahaan asal Malaysia dan Singapura. Mereka menjajah tanah-tanah kita dengan menancapkan kukunya pada perusahaan dalam negeri.

Tahun ini Indonesia jadi produsen CPO terbesar di dunia, mengalahkan Malaysia. Tahun 2015 produksi kelapa sawit mencapai 31,28 ton per tahun dengan nilai 11,58 juta US Dollar. Namun, jumlah perkebunan paling banyak adalah milik swasta 5,9 juta hektare; rakyat dan plasma 4,5 juta ha; disusul perkebunan negara 750 ha. Industri sawit juga diklaim menyerap 5 juta kepala keluarga yang mendorong pertumbuhan ekonomi baru dan pemerataan pembangunan. Kementerian Pertanian pun begitu bangga dengan pencapaian ini. Alih-alih mencari solusi atas permasalahan lingkungan yang berkelindan, mereka menganggap industri sawit terlalu seksi dan politis. Banyak orang berkepentingan di balik bisnis minyak nabati itu. Negara-negara maju di Eropa seperti Perancis pun sudah mulai menolak ekspor crude palm oil (CPO) dan produk-produk turunannya. Mereka menilai produk ini tidak ramah lingkungan. Orang-orang Eropa lebih mendukung produk minyak nabati yang mereka hasilkan yaitu minyak biji bungan matahari, minyak kedelai, dan kacang-kacangan lainnya.

Sedihnya lagi, industri kelapa sawit ini tumbuh dan dibayang-bayangi oleh dampak negatif soal pangan, lingkungan hidup, kesehatan dan energi. Pembukaan lahan-lahan baru masif dan tanpa kendali. Triliunan rupiah hangus setiap tahunnya. Mungkinkah Indonesia bisa mencontoh negara tetangga yang menerapkan ekonomi hijau dengan program zero burning, mengatur peruntukan lahan dan pengelolaan komoditas berdasarkan kawasan, tidak menanami lahan gambut, dan menerapkan integrated pest management (IPM)?

Soal aturan peruntukan lahan aja Indonesia ketinggalan zaman. Dari jaman penjajahan Belanda sampai sekarang tidak punya aturan soal zonasi kebun sawit. Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) digadang-gadang meski banyak pelanggaran di lapangan. Mampukah kita menerapkan ekonomi hijau dan mengejar ketertinggalan itu? Hmmmm… We’ll see how the government rule the law! Karena penegakan hukum adalah koentji.

DSCF4531DSCF4546

Advertisements

“Too Heavy to Carry”

Melibatkan diri, pada sebuah hubungan lawan jenis (relationship), sungguh bukan perkara mudah. Rumit dan membutuhkan usaha yang konsisten dan berkelanjutan. Seorang teman mendadak curhat kepadaku, tentang kedekatannya dengan lawan jenis. Ia tertarik dengan pria itu, tetapi merasa ragu untuk memutuskan apakah hubungan itu akan berlanjut ke arah yang lebih serius atau tidak?
“Yaelah..kan baru kenal, ngapain juga dipikirin. Nikmatin dulu aja, jalanin dulu aja…,” ujarku, normatif.
Tiba-tiba, temanku yang gemar berpikir rumit itu berkata: “Untuk urusan lain, aku sudah sangat berusaha. Aku malas berusaha keras lagi untuk sebuah relationship,” ujarnya sambil meringis geli.
Ketika percakapan itu terjadi, sebenarnya saya tidak terlalu ngeh dengan ucapan itu. Tapi, lalu pelan-pelan aku berpikir dan mencerna omongan itu. It’s so me!
Beruntungnya, aku (berhasil) menemukan seseorang yang sederhana, mau memahami, dan tidak ribet. Karena, pada dasarnya aku juga orang yang less effort dalam suatu hubungan, mendominasi, kadang apatis dan semau gue. Mungkin, semua sifat itu perlu legitimasi dan cover both side dari yang merasakan perlakuanku selama 10 tahun terakhir ini :))

***

Terlahir, bukan dengan sendok perak di mulut, membuatku harus selalu bekerja keras untuk mencapai sesuatu. Dari kecil, gue udah ambitchious! Hahaha…
Untuk beberapa hal, aku selalu pengin jadi yang terdepan crême de la crême, apalah..apalah..
Aku bekerja keras untuk bisa sekolah, ke perguruan tinggi dan merangkak meniti karier. Nggak tahu juga kenapa bisa terjerembab di dunia jurnalis, mungkin karena dari kecil hobi curhat di buku harian. Sampai akhirnya sekarang bisa menempa diri di media yang katanya bonafide ini. Alhamdulillah, idealisme bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan. Sebuah kemewahan di era tamak seperti ini, di mana terkadang, maaf, orang melacurkan intelektualitasnya hanya demi bertahan hidup atau bertahan dengan gaya hidup wah. Aih, jadi ngelantur…
Mungkin, capaian sekarang belum bisa jadi parameter kesuksesan hidupku. Tapi, paling tidak aku sudah berada di jalan yang benar karena memilih karier penuh pertentangan batin. Sesekali, kita ingin keluar dari jalur merasakan sensasi alam yang berbeda. Tapi, kemudian seketika kita terhenyak dengan sebuah tanya: tanpa aku dan profesiku sekarang, aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan siapa diriku lagi? Duh, pelik.
Lalu kemudian, meniti anak tangga pencapaian-pencapaian itu memang membutuhkan usaha ekstra. Tak mudah memang, bersaing dengan jutaan generasi Y atau milenial ini. Berbagai kompetensi harus kita miliki, kepercayaan diri, dan bagaimana membawa diri di iklim organisasi. Walah, malah soyo nggladrah 😥
Lalu, setelah melewati perjalanan terjal itu, hebat kalau Anda masih menggebu-gebu dan bertotalitas dalam suatu hubungan. Berani taruhan, seseorang yang berhubungan dengan workaholics plus ambitchious pasti akan lebih banyak mengalah. Apalagi, ritme pekerjaan ini sulit ditebak. Kita harus tahu betul kapan saatnya kita harus berhenti dan mendapatkan kehidupan pribadi. Sebuah kemewahan bernama privasi dan sosialisasi. Sampai di sini, saya merasa lebay… Hahaha

***

Lalu, pada akhirnya, situasi membiarkan kita bertumbuh menjadi pribadi yang effortlessly berjuang untuk keberhasilan sebuah hubungan. Kita menghamba pada orang yang membuat kita nyaman, dewasa, dan pengertian terhadap segala sesuatu yang harus kita jalani. Segala macam kriteria cuma jadi macan kertas. Lagi pula, apa bargaining position dari keseksian bernama intelektualitas yang enggak bisa bikin orgasme? Hahaha… (If only I am one of them)
But, we are precious as we are. Kehadiran kita mungkin hanya seperti selembar daun kering yang jatuh kala tertiup angin. Kecil dan tidak bermakna. Namun, bagi seseorang mungkin kita adalah degup jantungnya, energi hidupnya, dunianya. Lalu, kalau sudah menemukan orang sesederhana itu, masih pantaskah berkata: kalau dari pilihan, kamu itu aku lihat sangat sederhana banget deh?
Sederhana terkadang terlalu rumit untuk dikuliti satu per satu. Itu ada di dalam diri kita, hanya kita yang mampu merasakannya. Lalu, apakah membangun hubungan dengan seseorang menjadi sebegitu berat dan rumitnya? Jika tak mau hubungan transaksional berdasar kulit dan cangkang, ada baiknya melihat jauh ke dalam diri. Melihat intisarinya, substansinya.

Lalu, berjuang demi sebuah hubungan tak lagi akan sebercanda itu. Is it? Is it too heavy to carry? The choice is all yours. Goodluck, then. 

 

Monolog dini hari, 

Gelora, 4 April 2016