Libur Kecil Kaum Kusam dan Rapuhnya Transportasi Publik

Libur Maulid Nabi yang beriringan dengan Natal tahun ini, jatuh di tengah minggu dan menjadi libur panjang karena berdempetan dengan akhir pekan. Warga Jakarta yang notabene adalah orang perantauan (baca: wong ndeso) berbondong-bondong pulang kampung. Bisa dipastikan jalur pantura yang melewati Cikampek, Cikopo, dan Palimanan (Cipali) akan menjadi tempat parkir mahaluas. Begitu juga dengan jalur liburan mainstream lain yang bisa ditempuh dengan jalur darat seperti kawasan Puncak, Bogor dan Bandung, Jawa Barat.

Imaji akan serunya bertamasya di tempat yang sejuk seketika berubah menjadi bencana karena tragedi macet panjang! Semua orang nyinyir di sosial media. Media massa meliput dan jadilah berita “tragedi kemacetan” terparah di pengujung tahun. Menteri Perhubungan dirundung. Beberapa menit sebelum puncak arus balik, negeri ini digegerkan dengan mundurnya Dirjen Angkutan Darat Kemenhub Djoko Sasono. Djoko dengan berwibawa mundur karena merasa gagal mengantisipasi libur panjang di jalur mudik (secuil wilayah di Pulau Jawa, Indonesia).

***

Rekayasa lalu lintas, pelarangan truk masuk tol dinilai telat sehingga menyebabkan rakyat sengsara karena harus berjam-jam berada di jalan raya. Macet Natal disinyalir lebih parah dari macet Lebaran. Publik menggugat kesiapan jalur mudik pantura Jawa. Meski tak pernah ada yang benar-benar menghitung, apakah kapasitas jalan di sepanjang jalur mudik dan liburan itu mampu menampung sekian banyak kendaraan pribadi yang membeludak?

Berapa banyak kendaraan pribadi yang mengaspal di jalan raya selama libur Natal ini? Bandingkan dengan load factor angkutan umum bus, kereta api, dan pesawat terbang yang mengangkut penumpang selama libur Natal itu. Jasa Marga memprediksi volume kendaraan yang masuk Cipali akan meningkat satu setengah kali lipat dari volume harian sebanyak 24.000. (baca: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2015/12/21/354454/libur-natal-tahun-baru-volume-tol-cipali-diperkirakan-naik-150). Angka yang cukup fantastis!

Mungkin, meningkatnya kelas menengah di Jakarta berbanding lurus dengan melonjaknya warga yang memiliki kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Dengan gaji minimal Rp 10 juta per bulan saja, mungkin orang bisa kredit mobil. Apalagi dengan insentif down payment yang murah. Ah, lagi pula mobil-mobil itu juga bisa menenggak premium bersubsidi. Ditambah lagi, kadar kekerenan seseorang akan terdongkrak drastis setelah dia memiliki setang bunder.

***

Di tengah polemik itu, saya tiba-tiba teringat dengan mereka yang mudik dan Liburan dengan angkutan umum. Apa yang membuat mereka berbeda dan begitu spesial? Mungkin uang mereka cekak untuk membeli bensin, apalagi membayar angsuran kredit mobil. Tapi, kalau mereka punya uang, saya yakin mereka juga akan memilih pergi dengan mobil. Apa sih spesialnya naik angkutan umum? Sudah angkutannya jelek, nunggu lama, harus berdesak-desakan mungkin dengan orang asing yang keringatnya sangat bau, dan repot bertanya sana-sini untuk mendapatkan angkot yang tepat. Fiuh!

***

Minimnya insentif angkutan umum itu saya rasakan ketika dua kali berlibur dari Jakarta-Bandung. Saya memilih naik kereta api dari Jakarta. Harganya cukup terjangkau Rp 85.000 untuk kereta kelas eksekutif. Saya memilih berangkat subuh. Dari kos di kawasan Palmerah, saya naik taksi ke Gambir. Biayanya sekitar Rp 40.000. Mata berat dan terkantuk menunggu kereta jam 05.00 subuh. Rasa kantuk terbayar setelah melihat liuk tubuh Bandung yang luar biasa dari balik kaca kereta.

Januari 2015, saya memilih berlibur ke Ciwidey, daerah Bandung Selatan. Sesampainya di Stasiun Bandung, saya berhenti menunggu konco gelut (partner in crime) tiba dengan kereta dari Jogja. Setelah bertemu, kami memutuskan untuk sarapan teh manis hangat dan nasi Padang. Makanan yang sangat berat untuk dimakan sepagi itu 😦

Kelar makan, saya mencari angkot yang mengarah ke Ciwidey. Dari Stasiun kami asal nanya saja dengan warga sekitar, tentu saja setelah browsing dari tulisan blogger-blogger yang juga melakukan travelling kere seperti kita. Kami diantar sampai perempatan besar, yang saya sendiri lupa entah apa namanya! Di situ, kami menunggu angkutan mobil besar semacam Elf jadul yang sudah berkarat di beberapa sisi. Kami menunggu cukup lama dan nyaris kehabisan kesabaran, kapan angkot ini akan berangkat? Padahal di belakangnya sudah banyak angkot lain yang antre?

20150130_153854

Angkutan umum ke Kawah Putih, Ciwidey.

Sopir lalu menawari kami carter mobil saja kalau ingin mengarah ke objek wisata Kawah Putih, Ciwidey. Kata dia, tak ada angkutan yang langsung mengarah ke sana, apalagi yang berhenti tepat di depan pintu masuk objek wisata. Dia pun menyebutkan nominal harga carter. Kami menawar. Kalau tidak salah kami membayar Rp 130.000 untuk naik ke Ciwidey. Di tengah jalan, dia masih sempat menaikkan beberapa penumpang. “Maaf ya Teh, ini sudah langganan. Dia cuma ikut sampai desa bla..bla..bla kok,” ujar si sopir.

Udara sejuk Bandung Selatan membuat perjalanan terasa teduh dan damai. Kami mengobrol, sambil melihat lekuk pegunungan, dan hijau hutan yang menghampar. Sebuah pemandangan yang selalu menyejukkan mata dan kalbu. Sopir dengan agak tergopoh-gopoh menurunkan kami di dekat rest area Ciwidey. Untuk masuk ke objek wisata, masih perlu naik angkot sekali lagi. Angkot resmi dari pengelola objek wisata Kawah Putih.

20150130_151309

20150130_151521

Saya lupa menghitung berapa detail harga yang harus dibayarkan. Kami terlalu lelah, dan terlalu bersemangat untuk segera menikmati kawah yang konon tempat berkumpulnya para dewa itu. Kami turun sekitar pukul 17.00, dan kehabisan angkutan umum yang membawa kami turun. Kami jalan kaki cukup jauh sekitar 1-2 kilometer untuk mencari angkot yang konon terakhir menjelang Maghrib itu.

Kali kedua, Desember ini, saya pergi ke Lembang, Bandung Utara. Sama seperti perjalanan sebelumnya, saya memilih naik kereta dari Jakarta. Tarifnya masih sama. Kali ini, saya pergi dengan teman kos. Tujuan awal kami adalah restoran Dusun Bambu, pasar terapung, dan Taman Bunga Begonia. Ternyata dua lokasi itu terpisah cukup jauh. Dusun Bambu ada di kawasan Parongpong, sedangkan Taman Bunga Begonia ada di Lembang atas. Karena cuaca hujan, akhirnya kami cuma menghabiskan seharian menyusuri dusun bambu yang sangat asri dan ramai itu!

Angkutan umum di Lembang lebih banyak jumlahnya daripada angkutan ke Ciwidey. Tapi sama saja, tidak ada yang sekali naik-sampai. Kami harus berganti angkutan umum sebanyak tiga kali dari Stasiun Bandung. Ongkosnya sekitar Rp 4.000-Rp 5.000 per trip. Sopir yang agak ugal-ugalan kami cuekin karena perjalanan ke Parongpong kami disuguhi kebun bunga yang cantik. Warna-warni bunga yang mekar sedap ditatap. Tak ketinggalan, isu soal perempuan, pendidikan, dan sukarelawan mewarnai percakapan siang itu. Untuk mencapai pintu masuk Dusun Bambu, kami lagi-lagi harus menyarter angkot. Dasar traveller kere! 🙂

Keasyikan memotret di Dusun Bambu, plus kecapekan kami kurang memperhitungkan waktu. Kami lupa kalau tak ada angkot dari pintu masuk Dusun Bambu. Rata-rata, pengunjung resto, resort, dan taman bermain itu bermobil atau minimal naik sepeda motor. Kami akhirnya naik ojek dengan ongkos Rp 15.000 sampai di Parongpong. Untunglah, sampai Parongpong masih ada angkutan umum ke Ledeng untuk selanjutnya kami naik angkot ke daerah Pasteur.

DSCF0039

Dusun Bambu

DSCF0048

Pemandangan dari atas

DSCF0135

Hujan lebat, kami terlelap. Teman saya sempat agak kesal dengan sopir angkot yang membawa kami dari Ledeng-Bandung Kota. Sopir angkot asal menaikkan kami saja, padahal jelas-jelas kami bertanya dulu apakah angkot itu turun di Pasteur? Di sopir tak mau rugi, dia turunkan kami di depan hotel Novotel untuk menyambung ke arah Pasteur. Di tengah hujan lebat yang basah, kami bolak-balik berganti angkot sampai akhirnya tiba di Pasteur untuk menunggu travel. What a day!

 

***

Pengalaman saya sebagai traveller kere itu membawa saya pada keyakinan bahwa transportasi umum di kota-kota besar di Indonesia memang masih buruk. Bandung adalah kota tujuan wisata ternama. Ciwidey dan Lembang adalah sederet tempat wisata yang tersohor pula di Kota Kembang. Tapi, transportasi umumnya tidak tergarap dengan optimal. Apa karena mayoritas wisatawan pergi dengan kendaraan pribadi? Kenapa pemerintah nggak membuat strategi biar wisatawan nyaman ke mana-mana naik angkutan umum?

Transportasi mungkin bukan isu seksi bagi para politikus. Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, jembatan, taman, promenade, alun-alun berumput sintetis, dll akan lebih terlihat. Sampai kapan rakyat dipaksa untuk bisa bergantung pada angkutan umum? Toh, transportasi yang oke bisa setidaknya mendongkrak kunjungan wisata ke daerah itu.

Entahlah, mungkin logika saya terlalu naif. Bagaimana pun, pasar Indonesia masih tunduk pada politik otomotif yang mencengkeram. Pemerintah pun setengah-setengah memberikan insentif pada angkutan umum. Lalu, nikmat kapitalisme mana yang Kau dustakan?

Mari piknik dan galakkan naik angkutan umum! Karena kita bukan penenggak bensin bersubsidi yang nyinyir ketika subsidi dicabut. Tapi hobi selfie, minum kopi, dan tamasya ke tempat-tempat eksotis untuk dipamerkan di Instagram. Long live traveller kere!

 

Advertisements

Jakarta..Jakarta

Tak terasa, sudah dua tahun lebih aku tinggal di Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini. 1 November 2013 lalu, aku resmi membawa koper kehidupanku ke sini. Ke kota yang lebih buruk dari kota tempat tinggalku sebelumnya, Solo. Sebuah keputusan besar di antara keyakinan dan keraguan. Mungkinkah aku bisa bertahan di kota yang seksi tapi penuh sengkarut masalah ini?

*

Jakarta itu mirip buah durian. Siapa yang cinta, akan cinta dengan fanatik. Begitu juga sebaliknya dengan yang membenci. Sebelum memutuskan pindah haluan ke metropolutan ini, aku jauh-jauh hari sudah bertanya-tanya pada teman-temanku yang lebih dulu bekerja di sini. Jawabannya beragam. Terkadang, aku mendengar keluh-kesah dari para sahabatku tentang kebengisan ibu kota. Sebagian besar teman kuliahku memang bekerja di media bonafide, atau PNS Kementerian di Jakarta. Mereka melangkah dengan pasti setelah mendapat gelar sarjana.

Namun, ada salah satu teman yang membuatku tertantang untuk menakhlukkan Jakarta. Kira-kira begini, dia bilang sekalipun Jakarta macet (setiap hari), dan banjir (setiap musim hujan), dia suka kota ini. Baginya, Jakarta adalah lautan mimpi. Orang bisa memilih bekerja dengan jenis pekerjaan yang beragam, dan membangun karier dari enol. Setiap orang di Jakarta, apalagi early workers, pasti sedang berupaya untuk mengubah nasib. Pada akhirnya, semua ketidaknyamanan tinggal di kota ini, akan dikesampingkan. Mimpi dan usaha mereka untuk menjadi seseorang, meraih sesuatu, memperjuangkan hidup dan harga diri, lebih besar dan membuncah.

Aku manggut-manggut saja dengan isi Blackberry Messenger yang dikirim kawanku kala itu. Dia salah satu kawan yang berpandangan cukup berbeda dengan teman lain. Banyak di antara kawan lain, sebenarnya sama sekali tidak suka tinggal di Jakarta, tetapi keadaan memaksa mereka. Beberapa, telanjur menandatangani kontrak dinas yang baru selesai 5 tahun ke depan.

*

Di novel Critical Eleven karya Ika Natassa, Anya (karakter perempuan utama) mengatakan, Jakarta’s so powerfull. It changes people, it breaks people, it makes people, it shifts values, every single second it comes in touch with them. Saking kuatnya, siapapun yang pernah bersentuhan dengan kota ini tak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus meredefiniskan semua tentang diri mereka sendiri. Meredefinisikan makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters, and what doesn’t. (Critical Eleven, halaman 143).

Anya juga bilang, ibarat sebuah pasangan, Jakarta itu pasangan yang abusive, yang selalu menyiksa, yang membuat kita berulang kali mempertanyakan arti kasih sayang dan cinta, yang menguji kesabaran setiap kali dia memukul kita berulang-ulang, tapi kita tetap tinggal, kita tidak lalu lantas pergi.

Sedangkan tokoh Ale (pemeran utama laki-laki) menyebutkan di Jakarta, semua orang sedang berada in the state of trying (masa perjuangan). Berjuang mendapatkan rumah, berjuang mendapatkan pekerjaan, berjuang mendapatkan uang, berjuang mendapatkan diskon lebih baik, berjuang bertahan, berjuang pergi, dan berjuang menjalankan sesuatu dengan baik. Menurutnya, Jakarta itu a labyrinth of discontent. Semua orang berusaha untuk keluar dari labirin itu. Lucunya, ketika kita hampir menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, menarik kita kembali ke dalam labirin, kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It’s the hustle and bustle of this citu that we live for. Comfort zone is boring right? (Critical Eleven, halaman 11).

*

Setahun pertama tinggal di Jakarta, tak membuat saya seketika jatuh cinta dengan kota ini. Saya masih sering memimpikan Solo, kota kecil yang nyaman di Jawa Tengah, tempatku menghabiskan 7 tahun masa kuliah dan awal bekerja.

Hari-hari pertama di Jakarta, saya selalu menutup hidung ketika berjalan di sepanjang kali yang lebih mirip kolam comberan. Tak ada riak, airnya hitam dan bergerak malas. Jangan tanya baunya, untuk pendatang baru yang hidungnya masih tajam, ingin muntah rasanya sepanjang jalan dengan bau comberan itu!

Hal lain yang tak kalah seksi di Jakarta adalah kemiskinan dan kriminalitas. Hampir setiap hari ada kejadian kriminal. Entah itu copet, jambret, rampok, hingga pembunuhan. Ya, angka kriminalitas di Jakarta lebih tinggi daripada di Tokyo meskipun luas wilayah dan jumlah penduduknya hampir sama. Itu semua karena jurang kesenjangan sosial yang terlampau dalam.

Sesekali, wajah Jakarta terlihat ayu rupawan dengan jalan yang lebar dan bersih, perkantoran elite di Sudirman-Thamrin, rumah-rumah elite, dan taman-taman asri bermartabat. Tapi di sisi lain, kau bisa menemukan kampung yang bau busuk karena dipenuhi sampah dan saluran got yang mampet. Rumah-rumah sempit dari tripleks dan kayu yang lembab dan berdempet-dempetan. Penghuninya tak peduli dengan estetika dan kenyamanan. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana mencari uang untuk dikirim ke kampung halaman. Kenyamanan jadi perkara non-elementer.

*

Lalu, apakah setelah dua tahun tubuh dan hati saya mulai menyatu dengan Jakarta? Belum. Saya susah jatuh cinta dengan Jakarta. Tapi, saya menikmati setiap inchi keseksiannya. Kemacetan, polusi, kemiskinan, kekumuhan, kebengisan, kesemrawutannya, tata kotanya, sejarahnya, kulinernya, tempat nongkrongnya, orang-orangnya. Semua itu tak pernah membuat saya puas. Saya beruntung bisa belajar banyak tentang seluk-beluk Jakarta setahun terakhir ini. Jakarta membuat saya terkesima dengan segudang masalahnya.

Pacar saya, yang dulu bersumpah serapah membenci Jakarta, dua bulan terakhir telah tinggal di Depok. Dia mulai menata hidup di sini untuk berkomitmen lebih serius dengan saya. Sebuah keajaiban sebetulnya, karena bertahun lalu, dia sudah bersumpah serapah untuk tidak mau tinggal di Jakarta. Sebelum tinggal di Depok, dia sering mengunjungi saya pada bulan-bulan tertentu. Saya paham betul, dia tidak nyaman dengan kota ini. Tapi, ketidaknyamanan itu seketika lenyap karena ada saya, perempuan yang dia kasihi, hehehe..

Perasaan saya pada Jakarta belum final. Barangkali, suatu ketika saya bisa jatuh cinta tanpa ampun dengan kota ini. Sekarang, paling tidak Jakarta sudah menjadi bagian sejarah dari hidup saya. Sebuah buku dengan coretan penuh cerita di setiap sudut kotanya. Jakarta tak akan pernah menjadi kota yang sama lagi, sejarah kita terukir di sana…

Baik-baiklah Jakarta, karena banyak orang membenci dan mencintaimu tanpa ampun!

BUNDERAN HI

Courtesy: Google

 

 

 

 

 

Pagi yang Takkan Terlupa

Suatu pagi yang takkan pernah kulupakan. Sebuah panggilan datang dari gedung puskesmas yang berdiri di depan Kali Cibubur yang hitam dan bau. Puskesmas yang tetap tegar berdiri meski setiap hari harus menatap potret kekumuhan kecamatan terpadat se-Asean versi Badan Pusat Statistik (BPS) 2010.

Tak seperti biasanya, pagi itu Sabtu (15/7), aku bangun lebih awal. Nyaring suara alarm yang biasanya tak berhasil membuatku bergeming, kali ini terdengar 100 kali lebih nyaring. Selain alarm, telepon dari seorang bapak muda yang gusar ikut menyadarkanku dari mimpi Sabtu pagi yang gerah itu…

Segera setelah terbangun, aku mandi, memilih kaos bergambar garis horizontal, dan jaket jeans. Tak lupa, perona bibir berwarna merah maroon kuoleskan ke bibir. Ini hari Sabtu, saatnya tampil bersosialisasi, hi..hi..hi!

*

Jam 08.00 aku sudah sampai di lobi Puskesmas Tambora. Heran juga, penyakit tak mengenal hari libur. Meski akhir pekan, aktivitas di Puskesmas Tambora sudah berdenyut kencang. Bangku besi yang dingin di ruang tunggu nyaris penuh. Belasan pasien menunggu giliran untuk berobat atau mengambil obat.

Salah satu di antara mereka adalah Ridwan Arifin. Matanya menatap
gusar. Setiap menit, ia memandangi layar di ponselnya yang berwarna putih. Sebuah ponsel dengan fitur biasa untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Meski datang sejak pagi, Ridwan belum boleh menjenguk istrinya Rihat (28) dan anak keduanya.

Anak laki-laki bernama Muhammad Ali itu baru saja lahir di tepi jalan Gang Songsi 3 RT 04 / RW 06 Tanah Sereal, Tambora Jakarta, Kamis (13/8/2015) siang. Persalinan dibantu oleh seorang dukun beranak tanpa peralatan medis memadai. Beruntung, kondisi Rihat dan anaknya sehat. Setelah melahirkan di jalan, Rihat dan anaknya dibawa ke Puskesmas untuk mendapat perawatan medis.

Di Puskesmas, Rihat mengaku dibersihkan luka-lukanya setelah
melahirkan. Ia tidak mendapatkan jahitan. Menurut petugas Puskesmas, Rihat dan bayinya harus dirawat selama minimal tiga hari. Ini untuk memantau kondisi kesehatan dan memastikan tidak ada pendarahan. Jumat sore, Ridwan sebenarnya ingin membawa pulang istri dan bayinya.

Namun, bidan dan perawat melarang dengan alasan pasien tidak boleh
dibawa pulang pada malam hari. Selain itu, Rihat baru dua hari
menginap di Puskesmas, kondisi kesehatannya harus dipantau.
Permasalahan yang lain, Ridwan tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan Rp 310.000.

“Kemarin saya belum punya uang. Rencananya saya mau ngutang atau jual apa gitu,” ujar Ridwan, pria bertato yang mengenakan jersey klub sepak bola berwarna emas itu.

Ridwan yang kurang pandai berbicara itu terlihat gugup. Pun saat ia
menyampaikan kondisi keuangannya kepada perawat. Ia mendapat jawaban ketus, tanpa seulas senyum pun dari bidan puskesmas. Bidan itu berbicara seperlunya.

Dengan tatapan tajam, ia menjelaskan berapa biaya yang harus dibayar Ridwan. “Nanti ya pak, setelah pukul 10.00 ibu baru bisa dijenguk. Sekarang belum boleh,” ujar bidan berjilbab yang memakai kaca mata itu.

Saya, yang kebetulan ada di lokasi lalu bertemu dengan mantan kepala
tata usaha puskesmas itu, Ahmad Rifai. Rifai memanggil saya duluan.
Dia mengenal saya karena sudah beberapa kali wawancara di puskesmas itu. Dia berbasa-basi, bertanya mengapa saya ada di puskesmas itu?

Singkat cerita, saya akhirnya berdiskusi tentang kondisi Ridwan kepada Rifai. Saya bertanya, bukankah setiap perempuan hamil mendapat jaminan persalinan dari Kementerian Kesehatan sebesar Rp 500.000? Mengapa Ridwan harus membayar? Padahal dia warga miskin. Mungkin, saat itu gajinya sebagai karyawan di pabrik sablon rumahan sudah terkuras untuk keperluan lain.

Rifai menjawab, biaya itu dibebankan karena Ridwan tidak memiliki BPJS Kesehatan. Ridwan tercatat sebagai warga Bogor, Jawa Barat. Ia baru mengontrak selama tiga bulan di Tanah Sereal, Jakbar. Saya kemudian bertanya lagi, mungkin tidak Ridwan membayar gratis biaya persalinan?

Rifai menjawab, mereka bisa membayar gratis asal ada surat keterangan domisili dan surat keterangan tidak mampu dari RT/RW setempat. Kenapa tidak diinformasikan dari kemarin pak? Seloroh saya sambil tertawa kecil. Rifai, seperti umumnya pelayan publik lain selalu
menaruh curiga pada orang miskin. Kalau bisa ditekan dan dimanipulasi kenapa tidak? Kalau informasi bisa ditutupi kenapa tidak?

*
Berbekal informasi dari saya, Ridwan pun sigap mengurus surat
keterangan di RT dan RW. Surat itu lalu diserahkan kepada petugas
administrasi dari puskesmas. Dengan muka masam, tanpa secercah senyum pun, perempuan berbeda yang juga memakai jilbab dan kaca mata memproses permintaan Ridwan. Saat ditanya pun, ia hanya menjawab dengan singkat dan lugas.

Rihat dan Muhammad Ali akhirnya bisa keluar dari puskesmas dengan
biaya gratis. Wajah mereka tampak semringah. Bersamaan dengan mereka keluar, tetap tidak ada senyum ramah dari para petugas puskesmas. Sandal Rihat hilang. Ridwan membelikan sandal swallow berwarna putih untuk dipakai istrinya itu. Mereka lalu pulang ke rumah dengan mengendarai bajaj berwarna biru.

Sejenak, pikiran saya menerawang. Katanya Indonesia sudah merdeka, sudah 70 tahun bahkan. Dan, ironisnya kasus ini terjadi di ibu kota negara yang memiliki APBD Rp 69,28 triliun. Di mana rasa empati para petugas puskesmas sampai-sampai menyembunyikan informasi kalau pasangan ini bisa membayar dengan gratis? Ini membuat saya bersyukur bisa bangun pagi dan berada di tempat itu, hari itu. Saya ditemani rekan jurnalis lain, Dini Tempo dan Jessi Trans 7.

Sebelum mempertanyakan lebih lanjut arti kemerdekaan, saya tersadar jika rakyat miskin, selalu jadi kaum marjinal yang terus direduksi peranannya hanya sebatas konstituen yang hanya dipakai suaranya untuk kepentingan politik kekuasaan. Lalu, apa artinya merdeka kalau pelayanan kesehatan masih setengah hati bagi warga miskin? Masih pantaskah pejabat bermuka masam dipekerjakan dan dibayar dengan pajak hasil keringat rakyat?

Ah, saya tak perlu gusar di pagi yang indah itu. Meski tak dapat senyum ramah para petugas kesehatan, toh saya melihat dua cercah raut muka dengan senyum seikhlas embun yang menyejukkan pagi 🙂

IMG_20150815_102708.jpg

Rihat dan suami

IMG_20150815_100450

saya dan jabang bayi

IMG_20150815_100847

Dini dan jabang bayi

IMG_20150815_101135

Kita selpi-selpi 😀

Sudahkah Pernikahan Meneror Hidup Anda?

“Usia sekarang berapa mbak? Sudah menikah?”

Setiap kali mendengar pertanyaan itu, aku memilih tak langsung menjawab. Kuambil napas agak dalam sekitar tiga-lima detik, lalu menarik senyum paling lebar dari kuping ke kuping. Harus kupastikan, si penanya tidak lalu menunjukkan rasa belas kasihannya, ketika kulontarkan jawaban. Aku hanya ingin terlihat bahagia karena menjalani hidup yang begini adanya. Lagi pula, apa yang salah?

Oke…

Pertanyaan sangat privat itu memang terlalu biasa dilontarkan di negara Asia terutama Indonesia. Entah kenapa, pernikahan selalu menjadi tolok ukur pencapaian hidup normatif seseorang. Apapun pekerjaannya, sehebat apapun dia, kalau belum menikah (dengan lawan jenis), rasanya belum afdol! Semoga saya salah persepsi…

Menjalani hidup nonortodoks di negara yang, apa agamamu menjadi hal yang sangat penting untuk diketahui publik, memang berat. Karakteristik sebagian besar warga kita memang seperti tayangan infotainment—terlalu tertarik pada kehidupan privat seseorang. Entah karena tidak punya topik yang menarik untuk didiskusikan seperti kondisi cuaca, politik, ekonomi negara, bahkan isu sederhana harga pangan yang terus naik? Saya sampai pada pemahaman itu karena pertanyaan soal isu privat (baca: sudah menikah belum?) tidak hanya ditanyakan seseorang yang sudah akrab. Orang asing yang baru saja bertemu pun kerap menanyakan hal itu.

Kalau isu ini tidak seksi, tak mungkin Ayu Utami berminat menerbitkan novel Parasit Lajang dan sekuelnya Pengakuan Parasit Lajang. Tampaknya, kesadaran memilih sikap politik untuk menikah atau tidak menikah, memang masih perlu didobrak. Sama seperti isu toleransi antarumat beragama yang masih perlu terus dikampanyekan. Mungkin masih banyak, warga kita masih tergagap untuk menerima sikap politik untuk tidak menikah!

***

Suatu siang yang terik, aku masuk ke ruangan sempit petugas penjaga pelintasan sebidang di Angke, Tambora, Jakarta Barat. Seorang pria berkulit sawo matang, sedang setengah melamun sembari menghirup rokok. Tangan kanannya selalu sigap mengangkat gagang telepon yang ditempel di tembok. Mengenakan rompi berwarna oranye, pria itu terus berkonsentrasi mengatur jadwal buka-tutup palang pintu pelintasan. Di luar, kendaraan tak pernah sepi berlalu lalang di pelintasan yang menjadi lokasi tabrakan maut bus Metromini dan KRL commuter line beberapa waktu lalu.

Tak butuh waktu lama buatnya untuk tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, curhat masalah pribadinya dengan sang istri. Saya agak kaget. Tapi, melihat mimik wajahnya, tampaknya dia memang butuh sekali berbagi dengan orang lain. Seorang asing tepat untuk mendengar dan sedikit berpendapat atas masalah rumah tangganya itu.

Sebut saja Nemo, dia bercerita soal istrinya yang memiliki karir lebih bagus daripada dirinya. Gajinya jauh lebih besar dari penghasilan Nemo. Dengan determinasinya itu, istri Nemo menjadi lebih mendominasi. Nemo pun resah. Entah karena maskulinitasnya merasa terancam, atau karena dia merasa termarjinalkan di dalam rumahnya sendiri. Menurut Nemo, istrinya kerap protes lantaran gajinya kecil. Istrinya juga kerap membeli barang-barang kebutuhan pribadi, tanpa berkonsultasi dengan Nemo. Nemo merasa istrinya kurang nerimo. Dia jengah dan ingin mencari selingkuhan.

“Cari pelarian yang lain lah, yang lebih positif semisal olahraga atau ke masjid, biar tambah alim!,” cetusku sambil meringis.

“Sudah mbak. Awalnya saya fitness, tapi selalu ditelepon disuruh balik sama istri. Malu lah saya sama teman-teman. Baru keluar sedikit sudah dicari istri,” jawabnya, frustrasi.

***

Sekitar dua jam aku mengobrol dengan Nemo. Sesekali, aku yang balik curhat, sambil menyelipkan wawancara soal pekerjaannya. Karena memang itu tujuanku datang ke sana, ha..ha..ha

Ternyata, pernikahan yang sudah dikaruniai dua orang buah hati itu tak semulus cerita sinetron. Mungkin, pangkal persoalannya tentang perekonomian keluarga. Kedua, sang suami merasa maskulinitasnya terancam. Ia gagal menerima kenyataan bahwa istrinya lebih sukses daripada dia. Masalah itu terus membayangi pernikahannya, dan dia mulai membandingkan rumah tangga si A, B, C dengan rumah tangganya sendiri. Padahal, ia tak pernah tahu apa benar-benar terjadi di dalam bahtera rumah tangga temannya itu. Ia hanya mengutip sesuatu yang menjadi legitimasi pendapatnya untuk mendiskreditkan istrinya.

“Nah, sekarang saya lagi mau cari selingan nih. Biar enggak stress! Kalau pun udah mentok, saya mau pisah saja,” ucap Nemo ringan.

“Jangan, kasihan kedua anakmu,” ucapku lirih.

Saat mengatakan itu, yang terlintas dibenakku cuma: EGO! Ketika memutuskan untuk menikah, orang sepatutnya menundukkan sebagian egonya. Termasuk egonya untuk dengan mudahnya memilih berganti pasangan, ketika pasangannya saat ini sudah tak mampu lagi memenuhi ekspektasinya. Bukannya janji suci di pernikahan mengatakan, mereka harus siap menerima keadaan masing-masing dalam keadaan suka maupun duka? Buku pernikahan tampaknya perlu dibaca ulang.

***

Tak semua narasi pernikahan yang saya dengar bernada seluruhnya positif. Semua pasangan terus berjuang menundukkan ego, memenuhi ekspektasi dua buah isi kepala yang rumit, mengikat komitmen. Kalimat ini juga tidak akan menjadi legitimasiku untuk menghibur diri yang kebetulan belum menikah. Aku cuma sedang berusaha mendudukkan persoalan, karena persoalan tak punya meja, ha..ha..ha

Dengan tantangan seperti ini, orang seharusnya berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk menikah. Apalagi, pertimbangan antara satu orang dan lainnya tentu saja berbeda. Temanku, menganggap pernikahan mematikan ambisinya untuk memberi makna pada kehidupan. Pernikahan seringkali mengendurkan semangatnya untuk mengejar sesuatu yang lebih. Dia memang tipikal pemikir yang selalu ingin memberikan kontribusi bagi orang lain, tak hanya dirinya dan keluarga kecilnya.

Temanku yang lainnya, emoh mengobral komitmen pada tipikal pria yang maskulinitasnya terancam ketika mendapati perempuan lebih pintar, lebih sukses, dan lebih dari dirinya. Yang satu ini memang sangat feminis! Dan, kebetulan aku bisa memahami kerumitan orang-orang dengan pemikiran radikal ini. Hidup tak selalu harus menempuh jalan yang ortodoks.

Sudahkah kalimat “kapan kamu nikah?” meneror hidup Anda?

Ada baiknya, pertanyaan privat itu jangan dengan mudahnya diumbar kepada seseorang. Karena terkadang, orang lebih ingin dicintai dengan cara dipahami. Orang yang ditanya mungkin pada awalnya biasa saja. Namun, ketika pertanyaan itu diajukan berkali-kali, siapa sih yang enggak jengah? Aah, tauk! hidup memang tidak sesederhana menikah dan tidak menikah. Bagi yang belum menikah atau memutuskan untuk hidup selibat, tak perlu membebani diri, hidup ini indah begini adanya…

Sabang dan jeratan biru lautnya

Beberapa bulan sebelum berkunjung ke Pulau Weh, Aceh, foto-foto tentang keelokan tanah rencong itu sudah lebih dulu memenuhi memori otakku. Aku berkenalan dengan Sabang, pertama kali dari foto-foto teman kantor lama yang berkunjung ke sana. Foto sebuah cottage berlantai kayu di tepi laut dengan hiasan bunga Bougenville berwarna merah muda keungu-ungunan langsung membuatku jatuh cinta. Diam-diam, aku merapal di dalam hati, supaya alam semesta mendukung langkahku ke sana. Maklum, waktu itu, aku sangat miskin, membayangkan bisa menginjakkan kaki di Aceh saja adalah sebuah keajaiban, he..he..he :p

IBOIH INN.jpg

Iboih Inn-foto diambil dari Gugel

Ternyata Tuhan benar-benar baik, kurang dari tiga tahun saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Sabang. Senang bukan kepalang rasanya. Ini dinas luar kota (DLK), pertama semenjak bertugas di kantor baru. Sebuah koran nasional yang cukup tersohor namanya, ho..ho..ho.. Rejeki anak soleh! Iya, saya pergi ke Sabang dibayari kantor, dan kerja bukan piknik, ha..ha..ha

Tapi beruntung, saya kerja di Sabang enggak serius-serius amat. Saya ikut maskapai ternama di Indonesia yang sedang promosi pembukaan rute baru Medan-Sabang. Hanya sehari saya liputan serius, melaporkan seremonial dan uji coba pesawat baling-baling ATR-72 Medan-Sabang. Sisanya? Jalan-jalan, jelajah kuliner, mengunjungi cottage-cottage ternama Sabang ditemani Wali Kota Sabang yang sangat membumi. Terima kasih, pak Wali!

20150206_182835

Sabang Hill

Eyegasm! apa yang saya lihat di seluruh penjuru Sabang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Sungguh sangat indah. Dan, aku percaya Indonesia memang sepotong surga di khatulistiwa. Ini kadang yang membuatku sinis pada kegiatan travelling luar negeri. Rasanya seperti mengkhianati negara sendiri, ketika setiap jengkal keindahan di sini belum terjamah, justru nafsu berkunjung ke luar negeri lebih membuncah!

Aku mencoba untuk tidak terlelap di sepanjang jalan. Aku tidak mau melewatkan setiap inci eksotisme Sabang. Sabang terlalu memikat, terlalu menjerat. Apalagi dengan kopinya yang enakknya naudzuibillah! Subhanallove, maafkan saya dengan segala kenorakan ini. Namanya juga mimpi jadi kenyataan, wajar kalau ekspresinya kebablasan, ha..ha..ha!

Selama di Sabang, aku lebih menikmati masakan asli warga setempat. Karena ikut rombongan Wali Kota, tiba-tiba di tengah jalan kami dihentikan oleh pemilik rumah yang sedang hajatan. Kebetulan waktu itu memang jam makan siang, jadi cocoklah. Gayung bersambut pada perut yang sudah keroncongan. Sayur gulai kambing, oseng tempe, bihun goreng, kerupuk dan hidangan lain rasanya enak sekali. Seorang teman melirik dan bergumam: “Ketagihan ya? ini Aceh!,” ujarnya sambil menunjuk oseng tempe dengan lirikan nakal. Usut punya usut, hidangan yang disebut Aceh itu sudah dibubuhi bumbu lokal entah daun atau biji ganja. Maka nikmat rempah mana yang kau dustakan? 😀

Seharian, kami berkeliling Sabang. Rasanya tak pernah cukup. Warna biru turqoise dan bening laut Sabang terlalu memikat dan menjerat. Pantai Sumur Tiga, Pantai Cassanemo, Pantai Iboih_untuk menyebut beberapa objek wisata ternama di sana_begitu menggoda. Sembari beberapa kali mengambil stok foto, kutatap laut Sabang lekat-lekat. Aku ingin merekamnya seapik mungkin di otak. Kelak, suatu saat aku akan kembali berkunjung bersama orang tersayang. Amin 🙂

20150207_162340

Jembatan kayu

20150207_095140

Strike a pose on Cassanemo beach!!!

20150207_115110

Kelok sembilan

20150207_115432

Gardu pandang, lupa namanya 😀

20150207_130518

Makanan hajatan di Sabang

20150207_092127

Pantai Sumur Tiga

20150207_172743

Pantai Iboih

20150207_160743

La dolve vita, Sabang!!!

20150207_105724

Pantai Cassanemo

20150207_160423

Cottage terbaik dan termahal di sabang

20150207_095707

Lembutnya pasir Pantai Cassanemo, tapi ombaknya gede banget!

 

Lembar pertama

Sudah lama rasanya, tidak aktif menulis di blog karena terlalu menghamba pada microsite seperti Facebook dan Twitter. Semoga nasib blog ini tidak suram seperti blog-blog sebelumnya yang jarang disiram dan dipupuk. Atas ritme kehidupan yang mulai bergerak tak beraturan, saya mencoba membuat blog ini untuk mendisiplinkan diri. Untuk memulai writer’s habits. Karena kata Haruki Murakami dan seluruh penulis tersohor di seluruh jagat raya, kesuksesan sebuah penulis dimulai dari kedisiplinan.

Mungkin, setiap hari saya menulis entah berapa kata untuk dipublikasikan di koran harian tempat saya bekerja dan menempa diri. Terkadang, bahan yang sudah saya tulis itu dibuang begitu saja di tempat sampah karena memang tak layak muat, atau tergusur iklan. Saya lebih bersyukur jika penyebab kedua yang terjadi. Artinya, bisnis koran tidak benar-benar senjakala seperti yang analisis para pengamat.

Rasaya sayang juga, pengalaman-foto-cerita berbeda yang saya dapatkan setiap hari itu kalau tidak di-openi (dirawat). Minimal, itu akan menjadi pengingat saya suatu saat. Karena setiap peristiwa bisa dimaknai, bisa ditulis, sesuai kebebasan berpikir penulisnya.

Enam hari dalam sepekan, biasanya saya mengunjungi tempat berbeda dan bertemu dengan beragam jenis kepribadian manusia. Di akhir pekan, saya mengambil les Bahasa Perancis, nonton film terbaru, jelajah kuliner, dan seringnya sih memuaskan hasrat balas dendam tidur seharian. Karena berat badan terus melonjak, saya juga akan memulai kebiasan baru yaitu olah raga! aah.. semoga bukan niat hangat-hangat tahi ayam! (begitulah kenyataannya…)

Semoga, blog ini bisa merangsang saya untuk membuat tulisan bermutu. Artinya, saya harus lebih banyak mengunyah asupan buku. Supaya tulisan lebih mendalam, tidak sekadar curhatan remeh-temeh yang dangkal. Tetapi, tampaknya tulisan kedua akan lebih mendominasi, he..he..he.. Setidaknya, saya akan berjanji untuk menuliskan paling tidak catatan perjalanan, sentilan kritik sosial kehidupan sehari-hari, resensi buku, film, dan sesekali mungkin pertunjukan musik atau teater. Ya, melalui blog ini, saya berjanji untuk mengabadikan setiap momen yang saya anggap berharga. Melatih kepekaan rasa dan indera, untuk selanjutnya mencapai tujuan akhir saya menelurkan sebuah buku sebelum mati.

Salam,

Lentera Dewi