Mau Jadi Pejuang atau Pecundang?

Akhir-akhir ini saya menjalani hari yang berat dan melelahkan. Setiap malam, mata sulit terlelap meski jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Sebenarnya, saya sedang baik-baik saja, meksi dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Gulana itu muncul karena saya baru saja memutuskan dengan penuh kenekatan untuk mengikat janji dengan seseorang di depan agama dan negara. Aduh, menuliskannya saja sudah membuat bulu roma ini berdiri…

Perjalanan yang saya lalui bersama pasangan sangat lama. Kami berpacaran putus-nyambung selama 11 tahun. Waktu yang sangat cukup hanya untuk mengenal watak, karakter, dan jalan hidup seseorang. Selama berpasangan, karakter hubungan kami cair, santai, dan tidak membelenggu. Kami membebaskan dengan sepenuh hati apa keinginan dan cita-cita pasangan. Kami jarang mengatur ingin A, B, dan C. Kami memiliki rencana bersama, tetapi rencana sendiri juga tetap harus berjalan on the track.

Sudah sangat lama sejak dia memberikan saya cincin dan melamar saya untuk menjadi pendampingnya. Saat itu, saya memilih sendiri cincin yang saya suka. Dengan kantongnya yang pas-pasan, dia memberanikan diri datang dari Jogja untuk mengajak saya ke toko mas di Jakarta. Di toko, saya dibiarkan memilih sendiri cincin mana yang saya suka. Proses membeli cincin pun tentu penuh dengan drama! ha..ha..ha

“Would you marry me?,” ujarnya setelah pulang dari toko mas.

Saya langsung mendorong tubuhnya menjauh, geli. Apa-apaan mau ngajak saya menikah dengan kondisi finansial yang kembang-kempis? Kalau mau mengajak susah tunggu dulu deh. Lebih baik kita selesai dengan diri sendiri, lalu baru berpikir untuk mulai berkompromi dengan oranglain.

“Yes…I don’t careeee….” umpat saya kepadanya.

Dia malah membalas dengan pelukan erat dan mencium pipi saya. Hahaha!

Seiring berjalannya waktu, ego pribadiku justru tidak mengendur tetapi semakin membara. Saya kerap pergi travelling sendiri, tanpa melibatkan persetujuan dia, dan memberitahu pada last minute. Saya tahu dia marah dan kecewa hanya dari melihat raut wajahnya. Namun, dia memang pria dengan dosis sabar dan pengertian yang berlebih. Dia tetap mengizinkan saya pergi dengan syarat saya berjanji untuk keep in touch setelah tiba di lokasi tujuan. Kerap dia marah jika lokasi yang saya datangi tidak ada sinyal. Beberapa teman dia kirimi pesan, lalu ngambek.

Waktu kemudian berlalu, dan kita sama-sama berjuang memperbaiki hidup, mengejar mimpi dan bertahan hidup. Sudah lewat dua tahun sejak cincin putih itu bertengger di jari tengah (*seharusnya jari manis) kiri tangan saya. Kami melanjutkan hidup dan berusaha memastikan semua baik-baik saja. Saya sepenuhnya mendukung dia saat dia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Di sela-sela kesibukan dan capek bekerja, saya juga membantu dia merintis usaha jagung bakar di pinggir jalan.

Saya tahu usaha dan upayanya untuk meyakinkan saya, bahwa dia adalah seorang partner yang baik, tak pernah mengendur. Saya kadang heran, apa yang membuat dia begitu mengasihi perempuan laknat ini. Saya tidak pernah menjanjikan apa-apa. Saya cenderung sibuk dengan isi kepala sendiri. Namun, saya juga tidak pernah benar-benar pergi jauh dari dia tak peduli berapa kali dia mengecewakan ekspektasi saya. Mungkin, itu yang namanya takdir Tuhan. Duilee

Lalu, cerita berawal saat libur Lebaran 2017. Kami pulang berdua, dan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Ingat, kami hidup di iklim Asia (*baca: Indonesia), di mana orangtua masih ikut campur dalam urusan domestik anaknya, meski anaknya sudah sepenuhnya hidup mandiri. Bapak saya, yang saya lihat keriputnya makin lama makin kentara, dengan serius menyidang kami berdua. Dia bertanya, apakah hubungan kami beruda hanya akan begini-begini saja? Saya diam membisu tak bergeming. Semua dijawab oleh dia, dengan gentleman dan bahasa yang tertata.  Di pojokan, saya tertunduk sambil menyeka air mata.

Di dalam hati, saya menggugat, kenapa orangtua tidak pernah bertanya apakah saya bahagia dengan hidup yang sekarang? Kenapa orangtua tidak bertanya apakah saya sudah selesai dengan diri sendiri? Kenapa..kenapa? Pilihan hidup selibat ini akan lebih mudah jika saya dalam keadaan jomblo. 11 tahun berpacaran dan tidak kunjung menikah? Hakim moral dan pengadilan masyarakat itu sungguh pedih dan nyata. Apalagi jika engkau hidup di desa.

Saya tak tahu bagaimana ceritanya, tiba-tiba seluruh pihak memojokkan saya. Mereka terkesan melihat saya sebagai perempuan pongah tak tahu diuntung. Saya perempuan yang tega membiarkan pasangannya menunggu penuh harap tanpa kepastian. Saya kejam dan arogan.

Lalu, tiba-tiba rencana pernikahan itu bergulir. Saya tidak punya ruang leluasa untuk kembali menawar, apakah memang saya sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga? Apakah kapal yang saya tunggangi sudah menemukan dermaga dan waktu yang tepat? Saya tidak diberi banyak kesempatan untuk menjelaskan. Tiba-tiba, rencana pernikahan itu bergulir, di saat saya sedang asyik jalan-jalan menikmati alam indah Sumba.

Keraguan terus melanda. Namun, banyak teman-teman yang sudah menjalani hidup rumah tangga memberikan dukungan dan nasihat. Mereka bilang menikah memang tidak mudah, tetapi, memulai sesuatu dengan niat baik pasti Tuhan akan memudahkan dan memberikan jalan. Halangan dan rintangan sesulit apapun, pasti akan dimudahkan oleh Allah SWT. Saya, dalam posisi sulit menerima hal-hal positif dan optimistis seperti itu. Saya sedang menghamba pada rasionalitas. Penuh perhitungan dan pertimbangan.

Namun, semesta sepertinya memang berkonspirasi untuk menjadikan pernikahan itu nyata. Saya nyaris meledak menangis ketika mendapati seluruh teman dekat mendukung rencana ini. Mereka seolah sudah menanti-nanti kabar bahagia ini. Padahal, di dalam diri saya masih banyak resistensi. Baiklah…

Satu-satunya keyakinan yang saya miliki adalah, laki-lakiku orang yang tidak memaksakan kehendak. Dia bisa diajak berdiskusi dan berkompromi. Ketika saya menyatakan beberapa syarat menikah, terms and condition, sebelum saya menikahinya, dia pun mau diajak bernegosiasi. Saya, justru pihak yang masih kerap mengedepankan ego dan kepentingan individu.

Saya juga melihat perubahan signifikan pasangan terutama dalam hal spiritualitas. Dia berubah menjadi sosok yang lebih “beriman”. Beberapa kali dia menohok pemikiran saya. Dan, dia tampak teguh dalam “iman” barunya ini. Dia mengatakan kalau dia menemukan kedamaian dan perasaan untuk terus menjadi pribadi yang baik. Apakah saya harus meninggalkan orang yang penuh kesadaran untuk menjadi seseorang yang lebih baik ini? Siapapun pasti tak tega.

Dalam beberapa hari lagi, saya akan mengingat janji bersamanya. Tapi, seperti saat blog ini ditulis, saya masih berada di Jakarta dan masih bekerja. Saya mengambil cuti mepet karena menurut saya pernikahan adalah tahapan biasa saja yang harus dilewati seseorang. Saya pun mengetes keluarga dan orang-orang terdekat, apakah mereka hanya mendesak, atau sepenuhnya berada di belakang saya untuk menyokong dan menguatkan saya? Semua persiapan pernikahan dikerjakan oleh keluarga inti. Saya hanya memberikan uang, dan menyiapkan undangan. Bahkan, sampai sekarang saya juga belum fitting kebaya pernikahan. Hahaha!

Untuk calon suami dan calon anakku, kalian mungkin tidak akan mendapatkan sosok perempuan sempurna keibuan yang akan melayani kalian setiap saat. Namun, aku akan terus berproses bersama kalian untuk menjadikan dunia abnormal ini menjadi lebih asyik dan bermakna. Kita pasti dipertemukan Tuhan dalam sebuah alasan. Dan, kita harus sama-sama kuat untuk saling mendukung. Keluarga kita mungkin bukan keluarga sempurna. Tapi kita akan tumbuh dan berkembang bersama dalam iklim kritis, bebas, memegang kendali tanggung jawab, dan kemandirian hakiki yang berbahagia. Aku tidak mau menjajikan apa-apa yang ideal dan dikonstruksikan dalam film-film dan sinetron. Movie is just a movie! Mari kita rayakan dan perjuangkan hidup yang banal ini dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!

Dan, perjuangan itu dimulai dari kesadaran bahwa kita memilih jalan ini, menjaga dan merawat jalan kita, dalam kesetiaan dan kasih yang berlimpah. Kita tak perlu khawatir berlebihan, karena apa yang diambil Tuhan, akan dikembalikan lagi dalam bentuk yang lain. Selama kita mau rendah hati dan bersyukur! Mari bergandengan tangan dan katakan kepada dunia bahwa kita bukan pecundang kehidupan! 🙂

C’est la vie, c’est ne pas facile! 

This is life, this is not easy!

 

Palmerah,

21.19 pm

 

photo_2017-11-20_21-20-17

 

 

 

 

Advertisements

Hening perpisahan

Angin malam berhembus pelan menepuk-nepuk wajah yang telanjang tanpa masker. Matamu menatap lurus membelah jalan raya yang gelap menghitam, menyaru warna aspal. Aku bersembunyi di balik punggungmu yang bidang. Dari belakang, aku bisa menatap ekor rambutmu yang telah memanjang dan hendak mencium tengkukmu.

Ingin rasanya mengalungkan tangan ke pinggangmu, melawan dingin. Lama sejak pertemuan terakhir itu, kita tak pernah lagi saling menyapa. Sesekali, kita berkirim pesan lewat Whatsapp. Sekadar berbasa-basi hingga keki. Jauh di lubuk hati, aku tidak pernah membencimu. Bahkan setelah peristiwa itu, aku tetap mengasihimu. Kasih yang mungkin lebih besar daripada keinginan untuk memilikimu lagi. Aku hanya ingin selalu melihat senyummu mengembang di balik wajahmu yang pualam. Aku hanya ingin melihatmu mencapai mimpi-mimpimu. Meski bukan aku, seseorang yang menjadi penyemangat di sampingmu.

Aku menyebar pandangan ke jalanan Jakarta yang selalu sibuk. Kendaraan masih berlalu-lalang meski sudah larut malam. Lampu lalu lintas hanya menjadi pajangan. Merah-kuning-hijau, terobos saja. Kafe-kafe maupun warung burjo indomie masih dipadati para anak asuhan rembulan. Mereka tertawa cekikikan melawan malam kelam. Mereka menolak kesepian di kamar kosan. Lebih baik berteman susu jahe hangat dan indomie telur kari ayam, daripada menyerah pada kemunafikan. Kata Soe Hok Gie yang sudah kecanduan micin.

Aku masih menunggu kata-kata meluncur dari mulutmu. Tapi kita tetap terus terdiam. Sepi yang mengunci meski kita sudah berbelok dari gang besar ke gang sempit beberapa kali. Aku ingin berbicara memecah kesunyian itu. Tapi gengsi. Malas.

Deru mesin sepeda motor empat tak 110 cc, buatan Jepang terus memburu. Meraung-raung menahan beban lebih dari 100 kilogram jika berat badan kita ditotal jadi satu. Ditambah lagi dengan berkilo-kilo kenangan yang sangat membebani. Sepeda motor ini seolah bergerak lebih pelan. Bannya kempes, tak sanggup menahan muatan dan kenangan yang belum sempat ditorehkan.

Tidak seperti biasanya, kau akan memelankan laju sepeda motor, membuka masker atau kaca penutup helm. Lalu, tiba-tiba, dengan kasar menarik tanganku untuk digenggam. Kau akan bersiasat meyakinkan segala ragu dan takutku. Ya, aku pernah berada di sana. Mabuk dan lupa diri. Memberi kesempatan pada rasa penasaran untuk memuaskan dahaganya. Hidup itu sangat cair dan semesta bergerak. Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, namun layak diberi kesempatan. Untuk apa? Menorehkan sedikit kenangan untuk dikunci di dalam ingatan.

Laju sepeda motor sedikit memelan ketika memasuki gang ke arah rumahmu. Tiba-tiba kamu berbalik ke belakang, membuka satu kalimat yang memecah segala kebuntuan.

“Yakin tidak mau mampir?,” bujukmu.

“Enggak. Besok kerja. Takut khilaf,” jawabku.

“Yang terjadi, ya terjadilah,” kilahmu.

“Bodo amat,” sergahku.

Pedal rem belakang diinjak. Kita sudah sampai di depan rumahmu. Mesin motor tidak dimatikan, hanya kamu menetralkan giginya. Kamu turun, secepat mungkin, untuk menyambut wajahku. Aku masih tertunduk, malu. Seluruh lidah tercekat, padahal aku ingin bercerita banyak. Sebelum bertemu, aku sudah ingin memberondongmu dengan banyak pertanyaan. Tapi, semua itu tak pernah terucapkan. Aku sibuk membangun benteng kokoh supaya tidak tunduk di depan hegemonimu. Pride seorang perempuan harus terjaga dengan penuh kehormatan. Tidak baik menawarkan mabuk untuk kali kedua.

Sebenarnya, aku punya satu rahasia yang harus segera terungkap malam itu. Tapi, aku memilih segera pergi dan melambaikan tangan. Tidak baik menerka-nerka perasaan orang. Yang kelar, tak perlu dikejar. Sudah terlalu banyak ruang dramatisasi, dan glorifikasi.

Aku pun memutar motor di antara gang depan rumahmu yang tak terlalu lebar. Pamit. Benar-benar pamit untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan tak berujung dalam lorong gelap malam. Esok, kita akan berjumpa lagi dengan pagi. Pagi, yang tak akan pernah ingkar janji karena selalu menghadirkan matahari.

 

Kebon Jeruk,

02.26

Anies dan Musuh Imajinernya

“Politik itu seperti jarum akupuntur, apabila ditancapkan pada titik yang benar, dia akan mengatasi masalah. Namun, jika ditusukkan pada titik yang salah, dia justru akan merusak semuanya.”

Kalimat itu pernah saya dengar dari seorang dosen tata kota dan real estate Universitas Tarumanegara. Kala itu, saya sedang berdiskusi dengannya soal pemimpin dan masalah perkotaan. Dia termasuk akademisi yang cerdas karena bisa menjelaskan masalah rumit menjadi mudah dicerna. Maklum, IQ saya melati. Saya alergi dan sulit mencerna kalimat ambigu, dan abstrak yang memusingkan.

Sebagai pewarta desk metropolitan, saya memang dituntut untuk menerjemahkan kebijakan politik seseorang dalam sesuatu hal yang konkret dan riil. Masalah yang kami kulik adalah permasalahan sehari-hari mulai dari bangun tidur, sampai warga tertidur lelap lagi. Mulai dari trotoar rusak, antrean bus dan KRL yang padat, pencopetan, penjambretan, pembegalan, hingga kebakaran. Sulit bagi kami untuk menerjemahkan kalimat politikus yang berbunga-bunga nan ambigu.

Beberapa hari ini, saya mendapatkan kesempatan untuk meliput kegiatan gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta. Mas Anies Baswedan dan Bang Sandiaga Uno. Mereka adalah nakhoda baru ibu kota Jakarta. Mereka yang diharapkan mampu membenahi seabreg silang sengkarut masalah khas Jakarta. Seluruh asa tentang mengatasi kemacetan, banjir, ketimpangan ekonomi, serta pembangunan yang lebih mengutamakan dampak lingkungan ada di pundak mereka. Plus, selama masa kampanye mereka juga telah mengumbar banyak janji mulai dari rumah dengan DP 0 persen–belakangan direvisi jadi DP Rp 0, menolak reklamasi–belakangan direvisi menjadi tidak melanjutkan reklamasi, hingga pemberdayaan ekonomi kecil OKE OCE.

Saya pun mencoba tetap objektif, meski selentingan tentang Anies sudah banyak beredar di kalangan wartawan. Saya mencoba untuk menghapuskan kooptasi di kepala demi bersikap kritis, skeptis, dan optimistis kepadanya. Namun, prasangka baik saya itu langsung gugur di minggu pertama saya meliputnya. Anies sudah menunjukkan sifat aslinya meski baru beberapa jam setelah dilantik.

Politik identitas dan kemesraan dengan kelompok fundamentalis

Kontroversi itu muncul saat ia menggunakan kata-kata “pribumi” dalam pidatonya politiknya di depan warga. Dalam pidatonya itu, Anies berimprovisasi dari naskah tertulis yang ia konfirmasi ditulis sendiri. Isi pidato langsung yang keluar dari mulutnya malam itu adalah “Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di Jakarta. Selama ratusan tahun. Betul, enggak? Di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh, tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Dan karena itu, bila kita merdeka janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu, kita semua pribumi, ditindas dan dikalahkan. Kini, telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta seperti dituliskan pepatah Madure. “itik se atelor, ajam se ngeremme”. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras merebut kemerdekaan, kita yang bekerja keras mengusir kolonial, kita harus merasakan manfaat kemerdekaan.”

Saya yang hadir di lapangan blok G Balai Kota saat itu, sudah merasa jengah dengan kata-kata yang ia ungkapkan. Alih-alih berpidato untuk warga Jakarta, Anies berpidato seolah sedang membaca artikel ilmiah untuk pidato kepresidenan. Rupanya, ia yang memakai seragam putih-putih, didampingi oleh istri dan dan putrinya itu, hatinya sudah tidak di Jakarta. Ia membidik arena perang kekuasan yang lebih luas yaitu istana megah yang ada di sebelah utara Balai Kota.

Alih-alih meyakinkan warga dengan janji politiknya–ia menolak menggunakan kata program kerja, ia justru beretorika. Padahal, konstituennya yaitu warga Jakarta menunggu 23 janji politik direalisasikan. Saya pun tidak memilih angel pidato soal pribumi untuk dikirimkan ke kantor. Sebagai wartawan metropolitan tulen, saya mengutip kalimat-kalimat paling konkret yang diucapkan malam itu. Ia sempat menyinggung soal kebijakan pemerintahannya akan lebih mendengarkan suara warga terutama miskin kota, ia akan menghidupkan majelis kota, forum musyawarah kota, dan sebagainya. Dalam membangun kota, ia juga akan lebih berwawasan lingkungan. Ia menyebutkan bahwa pengelolaan teluk akan didasarkan pada kepentingan warga bukan korporasi dan privatisasi. Itulah yang saya tangkap dari omongannya dan akan terus saya tagih demi membangun Jakarta yang lebih humanis. Jakarta seperti yang Anies-Sandi cita-citakan yaitu maju kotanya, bahagia warganya, sesuai sila ke-5 Pancasila.

Saya tidak akan membahas panjang dan lebar soal kontroversi penggunaan kata pribumi ini. Banyak media mainstream, blog, dsb yang sudah membahas itu. Anies, mungkin akan dengan mudah berkelit soal penggunaan kata itu. Ruang untuk berkelit memang banyak dan mungkin dilakukan. Namun, apakah Anies bisa menjawab soal spanduk yang dibentangkan pendukungnya beberapa jam sebelum acara pelantikan dimulai?

photo_2017-10-20_16-46-25

Spanduk ini masih dipasang di posko yang terletak di Tugu Tani, sehari setelahnya. Posko di Tugu Tani ini sudah terkenal di kalangan wartawan digunakan sebagai basecamp ormas Islam saat aksi simpatik tanggal cantik. Apakah Anies masih mau mengelak soal politik identitas yang sedang dia mainkan?

Salah satu blog yang mengulas tentang kontroversi penggunaan kata “pribumi” dan menurut saya obyektif, jernih, adalah yang ditulis mantan editor The Jakarta Post ini, mbak Evi Mariani. Dia adalah jurnalis yang selama ini banyak mengikuti isu tentang kesejahteraan warga miskin kota. Saya menaruh hormat pada beliau yang tetap jernih melihat fenomena itu:

http://islambergerak.com/2017/10/pribumi-anies-baswedan/

Pendemo reklamasi dicuekin

Kekecewaan pun berlanjut pada hari pertama mereka mulai bekerja. Sejak dilantik, Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, serta ormas lain yang menolak reklamasi berdemo di Balai Kota. Siang itu, kelompok AKAR kembali berdemo di Balai Kota. Mereka menagih janji Anies yang akan menolak kebijakan reklamasi pemerintah pusat. Masa pun berorasi dan memasang spanduk di halaman luar Balai Kota. Pintu gerbang ditutup rapat dan dijaga aparat. Tak berapa lama, tujuh perwakilan warga diminta untuk masuk ke pendopo. Mereka diminta menunggu sampai Anies selesai menemui tamu dubes Korea, dan biro hukum. Karena menunggu terlalu lama dan tidak ada kepastian bertemu Anies, warga pun memilih pulang dan membubarkan diri.

Cerita ini mirip dengan Jokowi yang tidak pernah mempersilakan peserta aksi Kamisan–mereka yang menuntut penuntasan HAM berat, masuk ke Istana. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang menuntut keadilan atas hilangnya nyawa anak-anak dan saudara mereka dengan percuma itu tak pernah disambut Jokowi. Anies mungkin sudah mempersilakan pendemo tolak reklamasi masuk ke pendopo Balai Kota. Namun, kenapa dia tidak segera mempersilakan mereka masuk dan berdialog tentang aspirasi mereka?

Anies tampaknya akan terus beretorika yang membuat saya pusing. Sulit membayangkan Anies dan ide-ide besarnya bisa praktis, efektif, dan efisien diterapkan di dunia nyata. Menurut hemat saya, Anies akan mendulang keuntungan politik jika ia mau menerima pendemo reklamasi. Meskipun entah tindak lanjutnya apa, tentu dia akan dianggap gubernur pro nelayan pesisir utara Jakarta yang pertama kali beraudiensi dengan warga di Balai Kota. Namun, ternyata dia malah sibuk dengan retorika dan pencitraan.

Usai warga membubarkan diri, tak lama Anies-Sandi keluar. Mereka salat berjamaah bersama di Masjid Fatahillah. Mereka lalu melanjutkan dengan blusukan naik bus wisata. Saat naik bus wisata itu, kami rombongan gubernur, dan warga diikuti oleh seorang pengendara sepeda motor. Dia menerobos Jalan MH Thamrin yang sudah jelas-jelas dilarang untuk sepeda motor. Pengemudi sepeda motor itu mengibarkan bendera panji Islam. Di sepeda motornya juga terpampang stiker berwarna hijau bertuliskan “Pribumi”.

https://metro.tempo.co/read/1025569/bus-anies-sandi-dikuntit-motor-fans-berbendera-dan-stiker-pribumi

photo_2017-10-20_16-44-54

Tampaknya, Anies akan terus beretorika dan menciptakan musuh imajiner bernama “pribumi” dan “non pribumi”. Retorika rasisme itu apakah tetap akan ia gunakan untuk: 1. Menutupi kelemahannya yang hanya berkutat pada tataran konsep, bukan tataran praktis. 2. Menggalang dukungan publik karena siapapun yang menentang Anies artinya adalah anti pribumi dan anti Islam?

Saya tetap akan menunggu kiprahnya selama 5 tahun ke depan. Semoga Anies tidak hanya berkutat pada retorika dan musuh “imajiner” yang dia ciptakan entah untuk “tuan” atau “dirinya” sendiri di 2019. Semoga dia benar-benar pemimpin amanah, yang tidak disetir oleh elite dan bohir untuk memuluskan jalan politiknya. Klise, jika rakyat kecil hanya selalu menjadi komoditas dan diperhitungkan suaranya hanya saat pemilu. Kami perlu pembeda! Bukan retorika.

photo_2017-10-20_16-46-42

 

Takluk pada Pesona Sumba

Awan putih tergambar kontras di antara latar belakang langit biru bersih. Awan itu bergumpal-gumpal, dan berarak pelan. Membuatku sesekali menerka bentuk binatang apa yang sedang dilukis langit.

Karpet rumput berupa padang savana berwarna cokelat meliuk-liuk di antara perbukitan gersang. Awan-awan putih bersih sedari tadi berjingkat-jingkat di atas punggung bukit. Bayangan awan membuat punggung savana sebagian gelap, sebagian terang. Gradasi warna cokelat, biru, dan putih bentang alam di depan mata membuat napas sejenak berhenti. Sumba, begitu saja sudah sangat memesona. Dan mataku memandanginya lekat.

Saya bersama travelmates Dyah, Lya, dan Desy memilih mengambil jeda untuk beribadah alam di bulan Agustus. Agustus masih kemarau. Bukit-bukit savana yang semula hijau menguning bahkan menyokelat. Sumba mendidih di siang hari. Namun, udara bersih di pulau ini membuat kami nyaman saja. Apalagi, angin cenderung berhembus kencang sehingga cuaca terasa tidak terlalu terik.

photo_2017-09-28_00-57-34

Sepanjang perjalanan menuju destinasi yang telah kami tentukan, kami hanya bisa berdecak kagum. Tidak salah memilih tanah para arwah ini untuk dikunjungi. Bentang alamnya sangat menggoda. Apalagi, bagi kami pencinta foto alam landscape. Hell-O! Eyegasm overload, hahaha…

photo_2017-09-28_00-58-20

Ini merupakan perjalanan perdana saya bersama geng ngetrip cinta. Ya, tiga sahabat itu sudah beberapa kali ngetrip bareng. Bahkan, mereka juga punya kelompok arisan ngetrip. Saya anak baru nih, yang kebetulan diajakin teman-teman les renang saya itu untuk ikutan ngetrip.

Sebelum berangkat ke Sumba, kami beberapa kali bertemu untuk membahas transportasi, penginapan, budget, hingga itinerary saat berada di Sumba. Tiket berangkat sudah dikantongi berbekal promo dari Garuda Travel Fair. Persiapan-persiapan lain masih perlu dimatangkan. Jujur, saya banyak pasif di grup WA maupun pertemuan rutin pra-keberangkatan. Apalagi kalau bukan karena pekerjaan yang mendera? Hehehe. Walhasil, saya sebenarnya lebih banyak terima beres dari hasil riset kawan-kawan lain. Saya makmum saja, hihihi. Kontribusi terbesar saya adalah membelikan tiket pulang dari Bali ke Jakarta. Selebihnya, saya lebih banyak meng-acc keputusan teman-teman. Paling banter memberikan sedikit saran kepada mereka.

Singkat cerita, kami berangkat medio Agustus. Di perjalanan menuju bandara, saya masih mengetik berita untuk dikirim ke email editor. Saya cuma tidur dua jam karena harus packing mendadak sembari mengebut semua deadline pekerjaan. Sudah biasa, bosque…

Kami mendarat di Sumba Barat. Bang Joni, sopir rental mobil yang kami sewa menjemput kami di bandara Tambolaka. Bang Joni ramah, sabar, dan tahu bagaimana menyervis wisatawan. Tanpa diminta, dia selalu menawarkan diri untuk memotret kami berempat. Hihihi.

Dari bandara, kami menuju kampung adat Rotenggaro. Kampung adat ini berada di tepi pantai Pero, Sumba Barat. Rumah adat dengan atap tinggi terlihat dari kejauhan. Kami berjalan pelan-pelan mendekati warga dan rumah adat. Ada banyak tahi kambing dan babi di rerumputan yang kami injak. Tatapan dan senyum warga lokal menyambut kedatangan kami.

Di tujuan pertama ini, kami agak kaget dengan sikap warga setempat yang sedikit intimidatif. Padahal, kebudayaan dan rumah adat mereka sangat menggugah rasa ingin tahu kami. Tidak ada yang menjelaskan mengapa desain atap rumah mereka memanjang menantang langit. Mengapa mereka meletakkan kubur batu di depan rumah? Anak-anak kecil, dan pria dewasa penjual kalung dan gelang justru membuntuti ke mana arah kaki kami melangkah. Membuat kami jengah.

“Ibu, minta uang ibu untuk beli permon to?,” ucap mereka sambil menarik-narik ransel saya.

“Permon, apa itu permon?,” tanya saya sembari tersenyum.

Permon ternyata adalah sebutan mereka untuk permen atau gulali.

Teman saya Lya dan Desy yang memang sudah bersiap membawa kertas lipat dan origami langsung sigap membuka isi tas mereka. Anak-anak mengerubungi mereka. Dengan sabar, Desy membagikan kertas dan memberikan instruksi kepada anak-anak. Ia mengajari anak-anak melipat kertas warna-warni menjadi kupu-kupu, burung, dan mainan lainnya. Saya yang selalu membawa kamera, memilih mengeksplor dan membidik lensa ke setiap sudut tempat. Sesekali, keriangan Desy dan Lya saat mengajari anak-anak pun saya abadikan.

Di rumah adat Rotenggaro ini, kami bisa melihat dari dekat rumah asli orang Sumba. Rumah panggung yang terbuat dari struktur bambu berwarna kuning gading dan atap dari alang-alang. Bagian bawah digunakan untuk kandang babi. Di atas, ada dapur, ruang tidur dan ruang tamu. Sayang, kami tak sempat masuk ke dalam rumah. Warga lokal juga menjual kain tenun Sumba. Kain tenun Sumba Barat lebih sederhana motifnya dibandingkan kain tenun Sumba Timur. Namun, cara warga menawarkan sedikit mengintimidasi sehingga kami agak ketakutan menawar. Kain yang dijual pun agak kotor terkena bercak-bercak daun sirih yang mereka kunyah. Kami memutuskan pergi tanpa membeli suvenir apapun meski sudah berkali-kali dipaksa. Sumba Barat memesona tetapi belum siap pada gelombang wisatawan. Mereka belum terlatih bagaimana memperlakukan wisatawan dengan ramah.

Kami lalu bergeser ke Pantai Pero untuk melihat senja. Senja di Sumba menakjubkan. Baru hari pertama saja kami sudah dibuat berdecak kagum pada suguhan guratan jingga matahari terbenam. Puas melihat senja, kami menuju penginapan di Rumah Budaya Sumba. Penginapan bersih dan nyaman ini milik Pater Robert.

Selama di Sumba Barat, kami selalu makan malam di restoran Gula Garam. Restoran ini terbaik seantero kota. Pemiliknya adalah bule Prancis yang beristrikan perempuan Jawa. Menu masakan di restoran ini lengkap banget. Mulai dari masakan Barat, Chinese, hingga rawon maupun soto. Oya, pizza di Gula Garam layak dicoba. Pizzanya tipis dengan toping sayuran maupun daging. Karena teman-teman kami vegetarian, kami pun lebih sering memesan menu seafood dan toping sayuran. Restoran ini juga menyediakan bir, es krim, serta minuman-minuman hangat.

photo_2017-09-28_01-10-37

Secara umum, perjalanan kami ke Sumba lebih fancy dan bergaya koper. Duile. Saya hanya mengikuti suara terbanyak dari kawan-kawan saya, karena saat persiapan saya kan lebih banyak pasif, hahaha!

Kami tinggal di Sumba selama lima hari. Kami menjelajah Sumba Barat, Sumba Barat Daya (Tarimbang), lalu berpindah ke Sumba Timur. Di Pantai Tarimbang, kami menginap di Marthen Guest House. Satu-satunya penginapan oke di tempat itu. Tidak ada sinyal internet sama sekali di tempat ini. Saat malam, lampu benar-benar padam karena sumber listrik hanya berasal dari genset. Tak mengapa karena kami tidur di bawah hamparan gemintang di atas langit. Lebih baik kami menjauh dari ponsel daripada fokus masih ke sosial media dan ponsel.

Selain ke rumah adat Rotenggaro, Pantai Pero, di Sumba Barat kami juga mengunjungi Danau Weekuri, Pantai Mandorak, Tanjung Maladong dan Pantai Bwanna. Keesokan harinya, kami sudah harus bergerak ke Sumba Barat Daya dan Sumba Timur. Di perjalanan menuju Pantai Tarimbang, kami datang ke kampung adat Praijing, lalu ke air terjun Lapopu.

***

Yang membuat kami miris adalah keelokan alam Sumba sangat ironis jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat di sana. Masyarakat di Sumba Barat terutama masih sangat miskin. Rumah-rumah mereka berada di tepi jalan dengan bangunan yang sangat sederhana. Bentuknya mirip dengan rumah honai papua. Namun, rumah panggung itu terbuat dari bambu beralaskan alang-alang. Saat kami melintas terlihat orang-orang sedang duduk di panggung yang ada di bagian luar rumah. Mereka mengobrol sembari menguyah sirih dan pinang. Anak-anak yang bertelanjang kaki dan dada bebas berlarian di lantai tanah di depan rumah.

Sebelum berangkat ke Sumba, teman saya Callista sempat berkata beberapa turis asing trauma pergi ke sana karena banyak diikuti anak-anak. Anak-anak meminta uang untuk membeli permen, pena, buku, dan keperluan sekolah lainnya. Mereka akan mengikuti ke manapun kami melangkah. Dengan wajah memelas, mereka mulai akan merajuk meminta uang untuk membeli keperluan mereka.

Saya dan travelmates pun sepakat tidak akan memberikan mereka uang untuk mendidik mental mereka. Alih-alih memberikan uang, kami memberikan permainan kepada mereka serta buku cerita. Mereka antusias mengikuti kelas origami singkat dan dibacakan buku dongeng. Setelah itu, mereka tetap tak lupa meminta uang lagi. Hadehhh.. wkwkwk :p

Iman saya lemah saat bertemu lima orang bocah di Pantai Mandorak. Pantai itu sepi, hanya ada kami berempat. Anak-anak mengikuti kami tapi tidak terlalu mengintil. Mereka duduk di kapal yang ada di pantai. Saya terus berlalu lalang mengambil foto dan video. Setelah selesai, kami bergeser ke balai-balai untuk makan siang. Botol sunblock yang kami bawa tertinggal di kapal. Anak-anak itu pun berteriak “Bu, ini ada yang ketinggalan!,” seru mereka.

Melihat wajah mereka yang tulus dan semringah, saya langsung tersentuh. Saya akhirnya memberi mereka uang untuk dibagi bersama-sama. Saya sudah berpesan supaya mereka jangan bilang kepada siapapun. Namun, pesan hanya tinggal pesan. Anak-anak lain semakin banyak yang datang dan merengek. “Bu, minta uang bu untuk beli pena dan buku di sekolah to?,”.

photo_2017-09-28_01-32-39

photo_2017-09-28_01-32-47

photo_2017-09-28_01-32-42

Semoga kelak, saat kembali lagi ke Sumba, pulau ini sudah berbenah. Warga bisa diberdayakan untuk berjualan makanan di tempat wisata, menjual suvenir, menjadi tourist guide, dsb. Menurut penuturan bang Joni, pariwisata Sumba terus berkembang dari tahun ke tahun. Apalagi, ada Nihiwatu, resort kelas atas yang sangat terkenal setelah dinobatkan sebagai the best resort oleh salah satu majalah perjalanan. My trip, your rejeki! Semoga orang Sumba yang ramah dan baik hatinya siap dengan gelombang wisatawan yang datang dan pergi ke kota itu. Jangan sampai NTT menjadi singkatan dari Nanti Tuhan Tolong yaa..

Humba Ailulu, kami rindu alam Sumba… uwuwu…

photo_2017-09-28_01-32-25

Kebon Jeruk,

01.50

Perjalanan, Kebebasan, dan Kemerdekaan

Pagi yang cerah di Sanur, Bali, akhir Agustus lalu. Saya dan tiga orang teman seperjalanan berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer dari penginapan untuk mencari sarapan di Warung Mak Beng. Warung Mak Beng ada di pinggir pantai Sanur. Lokasinya dekat dengan loket-loket yang menjual tiket penyeberangan ke Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan.

Lama tidak berkunjung ke Pulau Dewata, kami berempat sepakat bahwa Sanur lebih asyik daripada Kuta. Penginapan yang kami pilih secara acak, karena budget sudah menipis sepulang dari Sumba pun ternyata menyuguhkan kejutan. Pertama, di belakang penginapan ternyata ada pasar malam (night market) dengan menu kuliner beragam dan murah. Ada nasi goreng, bakmi goreng, capcay, bakso, mi ayam, siomay, nasi padang, gorengan, dll. Yang paling asyik adalah, pasar di Bali bebas menjual menu bir dengan harga murah. Untuk bir botol kecil yang biasa dijual Rp 40.000 di kafe-kafe di Jakarta, di Bali cukup Rp 25.000 saja. Bagaimana tak bahagia? Hihihi.

Selain menu kuliner yang beragam pasar ini juga menyediakan banyak suvenir khas Bali misalnya baju pantai, daster, pernak-pernik seperti dream catcher, gelang, kalung, patung Buddha, sabun, hingga lilin aroma terapi.

***

Sepanjang perjalanan dari penginapan ke warung Mak Beng, kami memilih rute yang melewati hotel-hotel di tepi pantai. Sekitar pukul 07.30, orang-orang jogging dan bersepeda di tepi pantai. Masyarakat lokal beritual menaruh sajen pada patung Hindu yang ada di pinggiran jalan. Resto hotel bintang lima di tepi pantai dipadati orang-orang yang sedang sarapan. Bali sangat semarak dan siap dengan pariwisatanya. Turis-turis baik dari Eropa maupun Asia menjejali pantai Sanur. Wajah mereka tampak rileks dan bersuka cita.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama sarapan di Warung Mak Beng. Saya jarang ke Bali. Sementara tiga orang teman lain, Diah, Desy, dan Lya lebih sering ke Bali. Mereka sudah beberapa kali makan di warung Mak Beng. Menu yang ditawarkan pun sederhana tetapi sangat endes endolita. Sepiring nasi putih, sop ikan dengan kuah kekuningan yang dicampur dengan timun segar, serta sepotong ikan goreng garing. Sambel terasi goreng di warung ini cukup nampol. Harga sepaket menu sarapan berat ini Rp 45.000. Dari harga itu, kalau tidak salah kami juga mendapat teh tawar hangat.

Pulang dari sarapan di Mak Beng, kami kembali berjalan kaki menyusuri jalan Sanur. Ada sebuah kedai kopi kecil yang menarik mata kami untuk berkunjung. Namanya adalah Kedai Kopi Toko. Kedai kopi mungil ini sangat kekinian. Bagian depan kedai didesain dengan interior warna cokelat kayu, putih, dan ornamen hijau dari tanaman rambat. Suasana kedai yang mungil dengan interior biru-turquoise ala pantai membuat kami betah berlama di sana. Sebelum kami datang, sudah ada sekeluarga yang sedang menyantap sarapan di sana. Ada seorang kakek, nenek, ibu, dan bocah laki-laki kira-kira umur 5-6 tahun. Mereka terlihat memesan burger, kentang goreng, kopi, dan jus.

photo_2017-09-23_23-56-58

Kami langsung mengambil posisi di kursi yang kosong. Kursi itu tepat di depan barista dan coffee machine. Memang, ruangan kedai kopi ini sangat sempit. Paling-paling hanya cukup untuk delapan orang saja. Sepuluh orang itu sudah berdesak-desakan. Di bagian luar, juga ada sebuah meja dan empat buah kursi untuk mereka yang ngopi sambil merokok. Setelah beberapa saat, datang rombongan bule duduk di kursi bagian luar.

Pemilik Kopi Toko Bali ini ternyata adalah suami-istri asal Jakarta. Mereka memilih berbisnis di Bali karena kota ini dinilai lebih manusiawi, hahaha. Mungkin, pasar kopi di Jakarta lebih menjanjikan. Apalagi, warga kota itu memang keranjingan kafein untuk membuat mereka tetap waras dan terjaga di kota yang tak pernah tidur itu. Namun, di Bali pun ternyata bisnis kedai kopi sedang sangat menjanjikan. Makanya, pasangan itu lebih memilih untuk memulai usahanya di Bali.

Menu di kafe ini pun cukup lengkap. Kopi berat mulai dari espresso, atau yang lebih ringan latte, cappucino ada. Yang tak suka ngopi, ada teh dan jus segar. Pagi itu, saya memilih es caramel latte. Perut saya yang sensitif kopi sudah cukup aman karena sebelumnya sudah terisi nasi-sop-ikan goreng Mak Beng. Setelah berjalan kaki sekitar 1 kilometer, keringat lumayan bercucuran. Es kopi tampaknya cocok untuk menemani kami berempat ngobrol.

photo_2017-09-23_23-56-51

“Dari mana mbak? Kok kayaknya bukan orang Bali,” tanya kakek yang duduk di sebelah kami. Mungkin di kakek penasaran, empat orang perempuan ini heboh banget, foto-foto terus dan cerewet, hihihi.

“Oh, iya pak. Kami dari Jakarta. Baru liburan di Bali, he..he..he,” jawab kami.

“Wah, seru juga ya liburan di Bali. Hanya ke Bali saja?,” ujar kakek ditimpali anak perempuannya yang berkulit cerah dan berambut ikal.

“Kami baru pulang dari Sumba sih. Terus lanjut ke Bali, tiga hari dua malam,” jawab kami.

“Oh Sumba? Bagus ya di sana?,” tanya kakek antusias.

“Bagus banget!!! Pantainya, landscape alamnya, budayanya, semuanya bagus. Enggak nyesel deh ke sana. Apalagi habis dari Sumba bisa ke Bali,” jawab kami.

“Menarik juga ya? Saya diajak sama teman-teman malah travelling ke Natuna, Batam. Apa ya yang menarik di sana?,” kata si kakek.

“Di Natuna, pantainya cakep juga kok. Kepualauan Anambas, itu yang baru-baru ini booming di kalangan traveler. Kalau suka snorkling dan diving pasti puas ke sana,” jawabku.

“Ah, tapi ke Sumba kayaknya lebih asyik. Pulang dari Sumba saya bisa ke Bali. Ini kan anak saya (*sambil nunjuk anak perempuannya) tinggal di sini sama suaminya,” kata si kakek.

“Nah, itu lebih menarik, pak,” timpalku.

“Tapi kalau ke Sumba ya siap-siap saja, bawa buku, permainan atau permen. Soalnya di sana masyarakatnya masih miskin banget. Terutama di Sumba Barat. Kita akan diikuti anak-anak yang merengek meminta uang, permen, dll. Mereka bilang mau minta uang untuk beli buku, pena, dsb. Kemarin, untungnya kami bawa buku, origami, dan permen, jadi kami alihkan perhatian anak kalau sudah merengek minta uang,” kata saya.

“Oh ya, tuh lihat kamu tuh masih beruntung, bisa enak sekolah beli mainan. Kamu harus berbagi sama teman-teman di Sumba,” ujar kakek menasihati cucunya yang sedang makan burger sembari asyik dengan mainannya.

“Kalian masih muda-muda, jalan-jalanlah sepuasnya sebelum menikah,” ujar anak perempuan si kakek tiba-tiba menimpali.

Aku masih ingat betul ekspresi matanya saat mengucapkan kata-kata itu. Like, she really mean it. Yang kutangkap, itulah ekspresi tersirat ketika seorang perempuan sudah memutuskan untuk menjerumuskan diri pada bahtera pernikahan. Mereka tak lagi menjadi individu merdeka yang bebas menentukan apa yang mereka mau. Dunia mereka telah disibukkan dengan berkompromi pada suami, si kepala rumah tangga, dan mengurus anak. Kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih melakukan A, B, C bukan lagi sepenuhnya otoritas mereka. Seluruh ego harus ditundukkan dengan tugas dan tanggung jawab baru sebagai istri juga ibu.

“Iya, setiap tahun kami coba untuk menabung lalu memilih tempat mana yang ingin kami kunjungi. Semoga setiap tahun ada kesempatan jalan-jalan,” ujar kami.

Saya pun mendadak baper dengan omongan perempuan itu. Ingin rasanya mengambil waktu lebih lama lagi merayakan kebebasan dan kemerdekaan hakiki sebagai perempuan mandiri. Bebas pergi ke mana saja, kapan saja, asal seluruh kewajiban sudah dipenuhi. Rasa-rasanya saya belum puas mengajak kaki berjalan-jalan. Mengajak kamera kesayangan merekam momen-momen yang membuat napas sejenak berhenti karena keindahan alam yang kami lihat.

photo_2017-09-23_23-56-54

Tapi kembali lagi, hidup adalah soal memilih. Hari ini saya, hanya untuk sekadar mau makan apa, mau masak apa, kita harus memutuskan pilihan. Apalagi untuk sebuah keputusan besar menikah, membenamkan diri pada kebersamaan dan kompromi dua kepala beda selera. Kalau dibayangkan terus, rasanya menyeramkan.

Perempuan di paruh waktu, dalam gempuran dunia patriarki dan konstruksi sosial. Apakah mereka masih punya “privilege” dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidupnya ke depan? Bagaimana jika hal yang paling menyenangkan hatinya adalah berjalan-jalan, bertemu orang baru, dan mencecap seribu-satu aroma kota di dunia? Bagaimana jika hanya kehilangan haknya itu dia merasa sedih tak berdaya. Pernikahan mungkin penting, tapi tidak harus sekarang bukan? Semoga pilihan orangtua, meskipun mereka tak akan menjalani hidup anak-anaknya membawa doa penuh hikmah dalam kehidupan anaknya ke depan.

Besok mau makan apa?

Besok mau ke mana?

Besok mau jalan-jalan ke mana?

Hidup penuh ketidakpastian. Yang sudah pasti itu adalah kematian dan perpisahan. Jangan lupa ngopi!

photo_2017-09-23_23-57-02

 

Kebon Jeruk,

01.15

 

 

Heartkeeper vs Heartbreaker

Where are you? My crazy boss make me crazy. Can you save me?”

Lampu ponsel Luna menyala seiring dengan pesan masuk dari Keenan. Jarang-jarang Keenan mengajak keluar di malam hari saat hari kerja. Biasanya, jika dia mengirim pesan seperti itu artinya memang K sedang ingin dilipur laranya. Jika tidak, K sedang ingin mengajak L menikmati soju, bir dingin, bersama sekotak penuh pizza atau sayap ayam goreng. L senang menghabiskan malam bersama K karena dia pandai memasak. Terkadang, saat L sedang galau, tiba-tiba K mengundangnya untuk datang ke apartemennya. L hanya diminta duduk diam sembari K meracik bahan dan bumbu-bumbu magic. Dan taraaa.. dalam sekejap, hidangan-hidangan sedap membuat mata L berbinar.

At work as usual. Do you wanna go somewhere tonight?” balas L.

K agak lama membalas pesan itu.

I dunno. Maybe you can cheer me up with some beers,” tulis K.

OK then, where? I can bring some beers,” L.

My place? I’ll cook something,” K.

Deal. About 9-10 pm, after work,” L.

Alright. See you soon,” K.

*****

L cepat-cepat mandi setelah tiba di rumah sepulang kerja. Rasa letih setelah seharian memeras otak ia abaikan untuk bertemu K. Usai mandi bebek secepat kilat, ia semprotkan parfum aroma bunga Moringa. Aroma kalem dan segar bunga miracle tree ini membuat L merasa lebih flawless. Sudah malam, capek, tentu tubuhnya butuh suntikan energi untuk mendengar cerita dari K. Selesai berdandan simpel, L memesan Uber.

On my way to your place” ketik L kepada K.

K tidak membalas.

Seperti biasa, sesampainya di apartemen K, L selalu mampir di minimarket yang ada di lobi. Ia membeli beberapa kaleng bir. K tidak suka nyemil. K lebih suka makan besar seperti pizza, ayam goreng, atau memasak sendiri cemilan-cemilan ajaib. Selesai berbelanja, L langsung memencet lantai 10, kamar 11 B, alamat apartemen K. L memencet bel.

“Hi…, seru L dengan muka sedikit kuyu”

K menyambut L dengan pelukan hangat.

“Taruh saja birnya di kulkas ya, aku sedang masak kue beras Tteokbokki,” ujar K semringah.

“Gegayaan lu, emang lu bisa masak Tteokbokki?,” cerocos Luna.

“All you need is just seat down while I’m cooking, dear” K.

“Whatever!” seloroh L sambil berjalan ke balkon apartemen. Di situ, L memilih menyalakan sebatang rokok. Asap rokok Sampoerna Mild merah, ia hirup dalam-dalam sembari melihat pemandangan sekeliling balkon apartemen. Lampu-lampu rumah dan proyek gedung yang belum jadi mengerlip seperti kunang-kunang. Bermandi gemerlap cahaya kota, malam mendadak manis.

Belajar dari mana lu masak Korea?,” teriak L dari balkon.

“Gue kan suka Soju. Nggak ada salahnya dong belajar masak ala Korea,” K.

Tidak ada guratan sedih dari wajah K. Mukanya hanya sedikit terlihat kelelahan. Mungkin karena tuntutan pekerjaan dari bosnya yang gila dan perfeksionis. Ironis dengan segala sedu-sedan yang dia kirim di Whatsapp, siang ini. L curiga, jangan-jangan malah dia yang akan banyak curhat malam ini.

“Gimana bos gila lu? Demanding banget ya?”

“Ya begitulah. Perfeksionis! Udah malem, malas gue cerita yang berat-berat. Kita makan dan ngebir aja,” ujar K, sambil membolak-balik isi wajan.

****

Taraaaa.. makanan siap! This is it Tteokbokki ala Mr Keenan.”

Sepiring kue beras dengan kuah saus berwarna merah tomat terhidang. Potongan-potongan kecil kue beras beradu dengan topping wijen dan mirip daun kemangi di atasnya. Ada aroma rumput laut, saus pasta pedas khas Korea, dan tepung ikan. Selain potongan-potongan kecil kue beras, K juga membubuhkan potongan-potongan tipis kue ikan. Ini menambah rasa gurih jajanan itu.

“Mana sini gue tes dulu enak nggak nih?” L.

“Hahaha.. jujur, ini enak K,” seloroh L sambil megap-megap kepanasan dan kepedasan.

“Hmmm.. lu tahu nggak sih, kalau di sini mungkin Tteokbokki itu seblak kali ya, dijual abang-abang, hihihi,” seperti biasa K selalu ceria. Always think simple, live for today, and doesn’t make things seriously.

“Tul uga, seblak! Gegayaan Tteokbokki- tteokbokki, hahaha…” kelakar Luna.

“Lu suka? (makanannya),” ucap K sambil menatap lekat mata L.

“Heem, suka nih, enaaak.”

Are you happy now?,” tanya K lagi melembutkan suaranya.

Why do you ask? I’m happy now, indeed,” L mencoba mengacuhkan.

****

K paham benar sifat overthinking, introvert , dan gloomy yang dimiliki L. K ingin selalu menghibur sahabatnya itu. K tidak mau L larut dalam pikiran dan masalahnya sendiri. Saat ada waktu, K menyempatkan diri untuk sekadar bercengkerama, bercanda, dan melupakan dunia. Sesederhana itulah hubungan keduanya.

Meski sebenarnya tidak berniat curhat, K hanya ingin bertemu dengan L. K ingin menyesap sebotol-dua-tiga botol bir atau soju dingin bersama L. Dan, hal itu selalu mungkin bagi L. K menganggap L adalah “my one call away”. Teman yang selalu bisa diajak “kuy” setiap saat.

Situasi pun selalu cepat berubah. Meski K yang meminta dihibur, L ujung-ujungnya yang curhat ke K. Paling banter, K hanya menyetelkan film-film kartun lucu dan konyol untuk ditonton. Bersumpah serapah bersama sambil tertawa ngakak.

I hate being alone. But, making relationship with someone sometimes make me confused” kata L, membuka sesi curhat.

Why you always hate being alone? We born and will die alone. Relationship is just an illusion, something in between,” kata K.

“Gue sedih karena kesepian, nggak ada teman saat kita lelah kerja seharian. Mau berkeluh-kesah sama siapa? Paling mainan HP sampe bego,” L.

“Gue rasa fine-fine aja sendirian. Kita jadi bisa punya banyak waktu untuk diri kita sendiri. Bebas menentukan pilihan dan punya otoritas penuh atas diri sendiri,” K.

“Elo bener, tapi, sendiri itu juga menyiksa kadang-kadang. Lu coba rasain deh,” L.

“Lebih baik gue sendiri, sepi. Daripada gue menyerah pada hegemoni orang yang cuma bisa nyakitin hati lu. Itu karena cowok yang lu suka, enggak suka balik ke elu. Cowok yang lu suka, cuma deketin lu ketimbang dia sendirian. Lu ngisi kekosongan doang,” berondong K.

Fuck you very much!,” L.

K menuang sebotol soju rasa anggur ke dalam mug ungu bermotif bunga. Dia sorongkan mug itu ke hadapan L, lalu menuang lagi untuknya sendiri. Suara mug beradu meninggalkan bunyi gemerinting. Cheers!

C’est la vie. Ne prenez pas la vie trop au sérieux, vous n’en sortirez jamais vivant!

Don´t take life too seriously, you´ll never get out alive,” bisik K kepada L.

balkon apartemen

 

Gambir,

4:11 pm

Monolog tengah malam

Jangan pernah sekali pun berpikir, puisi dan sajakku mengguruimu. Aku menulis bukan untuk menasehati dengan kalimat bijak bestari. Aku menulis untuk membebaskan diri. Kau tahu kan? Saat bertemu, kadang-kadang lidah tercekat gengsi sehingga tak satu pun kalimat mencuat.

Aku menulis untuk mengobati lukaku sendiri. Aku menulis untuk mengenang setiap inchi ingatan yang barangkali akan kupilih untuk dilupakan. Tak peduli kamu, atau siapapun yang membaca. Mereka hanya akan mencecapi kalimat yang muncul dari kerak hati ini. Kalimat bersayap yang ingin membebaskan diri dari belenggunya.

Andai, mencintai itu seringan tetesan air hujan. Jatuh dan menguap tanpa beban. Aku pasti akan melakukannya untukmu, dengan ikhlas. Tapi, mencinta itu ternyata seperti menanam bunga. Kita harus menebar benih, menyiram, dan merawat dengan ulet dan sabar. Ketika aku mungkin pernah sabar merawat benih itu, ternyata bibit cintamu memilih tumbuh liar tanpa diurus. Aku lelah, aku biarkan benihmu tumbuh liar dijemur matahari dan diguyur hujan! Benihmu tak mau dimanja, tak mau disayang-sayang dengan overprotektif. Yasudalah…

Lalu, tiba-tiba, setelah beberapa bulan, benih itu tumbuh subur dan nyaris berbunga. Aku tak sadar karena terlalu sibuk merawat tanaman lain yang lebih mudah dan mau dirawat.

Sejenak, dalam kesibukanku mengurus tanaman lain, kulihat kau mulai kuncup. Ada gradasi kuning menyembul di antara kuncupmu yang hijau segar. Aaah, tak sabar rasanya melihatmu mekar dan merekah dengan indah.

Lalu, tiba-tiba aku dikuasai amarah. Aku tidak sanggup melihat cinta kita merekah. Aku benci kamu yang tidak mau dirawat. Aku benci kamu yang sombong dan tak tahu diri. Aku benci melihatmu tumbuh dengan belaian angin di alam liar. Jalan yang kau yakini, dan kau pilih sendiri. Dan, aku menghargainya.

Aku tak lebih dari seorang perawat bunga yang terkadang merasa “sok tahu” tentang kebaikanmu. Kamu akan sehat kalau disiram air segar pagi dan sore. Kamu akan tumbuh segar jika diberi pupuk organik, bukan pupuk kimia. Ya, aku mungkin tak lebih dari perawat sok tahu!

Malam itu, aku memandangi kuncupmu lama. Aku perkirakan, bunga cinta akan merekah beberapa hari lagi. Aku pandang batang kuat yang ditumbuhi ranting-ranting kuncup berwarna hijau kekuningan. Matahari membentuk tubuhmu menjadi tegap dan kekar. Kau akan jadi bunga cinta yang memikat setiap kumbang yang melintas di halaman rumahku.

Namun, kebencian itu begitu menguasai kepalaku. Aku tidak mau kau mekar merekah cantik tapi lupa dengan perawatmu. Kuambil segelas teh panas Earl Grey yang sedang kuseduh di teras. Aku baru menikmatinya seteguk, sembari memandangmu lekat, dengan menyilangkan kaki di atas kursi.

Lalu, kusiramkan air mendidih itu ke tubuhmu! Kau tak juga berteriak kesakitan, hanya sedikit layu. Lalu aku belum puas, kuambil pisau di dapur, kukoyakkan ranum pucuk-pucuk kuncup bungamu. Rasa marah melenyapkan segala iba menjadi tega. Kau tahu? Aku yang memilih. Aku yang memilih dengan amarah tak pernah melihat benih cinta kita merekah dan berbunga!!!

Bangkai anggrek kuning tergeletak di antara pot dan tanah yang terserak. Benih cinta itu mati dengan kebengisan sayatan pisau dapur di sana-sini. Tak ada darah. Hanya sedikit tangis dari getah batang yang tercabik-cabik emosi perawatnya. Tragis, benih cinta kita, yang kurawat dengan segenap tangan dan kasih sayang, mati sebelum berkembang. Di tanganku sendiri. Jangan pernah meminta maaf. Ini pilihanku sendiri…

*****

*Lalu sayup-sayup terdengar lantunan lagu dari ponselku yang memutar lagu secara acak

*Dan aku menangis dalam hening

“Can’t Let Go”

Well you’re the closest thing I have
To bring up in a conversation
About a love that didn’t last
But I could never call you mine
‘Cause I could never call myself yours
And if we were really meant to be
Well then we just defied destiny
It’s not that our love died
Just never really bloomed
Well I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to
I can’t let go
I can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back
And then we saw our paths diverge
And I guess I felt okay about it
Until you got with another man,
And then I couldn’t understand
Why it bothered me so.
How we didn’t die we just
Never had a chance to grow

 

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past.
Without lifting a finger you’re holding me back.

And it might not make much sense
To you or any of my friends
Though somehow still you affect the things I do
And you can’t lose what you never had
I don’t understand why I feel sad
Every time I see you out with someone new
I can’t let go
No, I can’t let go
No, I can’t let go of you.

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back.

I can’t let go
No, I can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go
I can’t move on from the past.

Gelora,
00.27 am

Musim Berganti, Hati (seharusnya) Tak Lagi

“Musim harus berganti musim agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu, agar air menguap untuk ke­mudian membeku, agar pohon tumbuh untuk kemudian rubuh, agar akar menyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk kemudian gugur, agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu, agar rumput meriap untuk kemudian kering, agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya, agar hari bergeser dari minggu ke sabtu, agar kau mengingat untuk kemudian melupa­kan-Ku, agar kau tahu bahwa Aku melaksanakan kehen­dak-Ku, agar kau sadar bahwa Aku memenuhi janji-Ku.

***
Agar kau senantiasa bertanya kenapa musim harus berganti musim, agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu, agar air menguap untuk kemudian membeku, agar pohon tumbuh untuk kemudian roboh, agar akar me­nyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk ke­mudian gugur, agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu, agar rumput meriap untuk kemudian kering, agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya, agar lahar mengeras menjadi batu, agar kau mengingat untuk kemudian melu­pa­kan-Ku”

-Surah Penghujan, Ayat 1, Sapardi Djoko Damono-

HUJAN DI JENDELA

Senen,

14.54

Berdua Namun Tak Satu Tujuan

Semudah apapun, mengucap kata pisah pada sebuah kisah tak pernah semudah itu, kawan. Ya, sejak awal, Luna tahu bahwa menaruh rasa pada Alan adalah sebuah kebodohan. Kegetiran yang tersaru dengan nikmat sebuah peluk hangat. Meski pelukan pada akhirnya hanya akan berubah wujud menjadi luka.

******

Sebuah pesan dikirim Luna kepada Alan saat ia sedang berjalan-jalan dengan dua sahabat perempuannya Berlian dan Senja. Akhir pekan itu, Luna memilih untuk mencari makan enak di Gandaria City. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Lia (*panggilan Berlian) dan Senja. Terlalu banyak kisah terlewatkan. Karena seperlingkar pertemanan, Luna berharap Alan datang  menyusul ke mall di bilangan Jakarta Selatan itu.

“Di mana lo?,” ketik Luna singkat di pesan Whatsapp.

“Maap, ijin dulu, nggak bisa merapat. Lagi pulang kampung,” balas Alan.

“Ngapain lo pulang kampung? Mau lamaran?! Subhanalove!,” timpal Luna.

“Iya, gue mau dilamar nih,” kata Alan.

Sembari berjalan mencari kedai asyik untuk makan, Luna terus berbalas pesan dengan Alan. Entah gerangan apa yang membuat tiba-tiba percakapan itu bermuara pada Alan merayu Luna. Tiba-tiba saja, seluruh perasaan nyaman yang terpendam lama itu tumpah seperti keran bocor. Luna sebenarnya tidak mau kehilangan momentum. Ya, biarkan saja. Kita bertemu pasti karena alasan, entah kamu akan menjadi berkat, atau hanya akan lewat sebagai pelajaran. “Mari mainkan peran kita, Alan!” desis Luna di dalam hati.

Tak butuh waktu lama bagi kedua karib ini untuk mengubah temen menjadi demen. Mereka sudah berkawan lama. Kejujuran konyol dari mulut Luna pun memantik segalanya. Bara itu hanya butuh sedikit pemantik untuk menyala.

Luna sadar dengan sepenuh hati, mencintai Alan bukanlah perkara mudah. Ia tahu betul bagaimana sejarah percintaan Alan. Namun, Luna hanya ingin memuaskan rasa penasaran perasaannya. Akan lebih mudah ketika kisah itu dimulai lalu disudahi, daripada seumur hidup mati penasaran. Luna pun sadar betul, dengan Alan, ia hanya akan menuliskan surat patah hati. Kisah mereka tidak akan pernah wangi bak cerita negeri dongeng. Dan, cerita mereka juga tidak akan pernah indah bestari seperti untaian kata motivator.

Tak sampai seribu malam, tak sampai seribu pelukan, tak sampai seribu ciuman. Hanya dramatisasi bulan hujan yang mendongkrak romantisme kota. Lalu, Maret mulai memanas, dan skandal persahabatan itu harus segera disudahi. Tak ada lagi kemesraan hujan yang membuat segalanya terasa sejuk dan menggoda. Cerita itu harus segera usai.

“Manusia itu hanya produk sejarah Lan. Kita akan terus hidup dengan kenangan-kenangan yang kita pilih. Entah itu manis atau pahit. Dan ternyata, kamu tidak semanis yang aku pikirkan,” kata Luna dengan getir.

“Lu berharap kita jadi apa Lun? Nggak usah kebanyakan mikir. Gue nggak akan bisa jadi laki-laki bak negeri dongeng sesuai impianmu…,” tegas Alan kesal.

“Iya memang. Kesalahan tidak pernah ada di kamu, Lan. Aku terjebak dengan ekspektasiku sendiri. Kamu terlalu pongah dan bangga dengan kemampuanmu mematahkan hati perempuan,” kata Luna.

*****

Luna, jangan pernah lagi menengok ke belakang. Jika benar manusia itu produk sejarah, kamu telah memilih ketulusan dan kebaikan untuk dikenang Alan, jika dia masih punya hati. Alan juga telah memilih jalannya sendiri, menjadi laki-laki pongah, yang memilih selalu berbahagia dengan seribu pesona yang tidak akan pernah memuaskan dahaganya. Terkadang, orang memang hanya datang untuk memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang paling kamu inginkan, adalah sesuatu yang lebih baik jika kamu tidak bersamanya.

“Kata falsafah orang Jawa, garwa itu sigaraning nyawa. Apa jadinya jika jiwa itu kita belah-belah menjadi tujuh seperti rambut saat berjalan di Sirotol Mustaqim, Lan?,” ujar Luna dengan sisa keteguhan dan keberanian.

“Lu tidak usah menghakimi gue. Kalau lu nggak siap mendengar kenyataan hidup gue yang seperti ini ya sudah, nggak usah berisik,” timpal Alan.

“Lu memang nggak akan pernah tahu artinya empati dan tanggung jawab, Lan. Lu pikir lu bisa bertualang sesuka hati lu seperti itu? Menjaga komitmen entah itu untuk kekayaan, atau romansa itu menunjukkan seberapa kuat lu menjaga janji. Bagaimana lu mengatur diri lu sendiri. Dan yang paling penting, bagaimana lu menghargai diri lu sendiri sebagai manusia! Lu bukan binatang yang berpikir!!!,” bentak Luna.

“Lu ngomong aja sama diri lu sendiri Lun! Nggak usah ceramahin gue!,” jawab Alan dengan mimik muka emosi dan kesal.

“Ok. Nggak papa, Lan. Lu memang nggak akan pernah ngerti, nggak akan,” timpal Luna.

Dua kaleng bir dingin rasa lemon kesukaan Luna tergeletak di lantai. Meski dia sangat menggandrungi bir dingin itu, mendadak ia kehilangan selera. Segera ia bergegas, pergi dan meninggalkan Alan dengan segala pongahnya.

“Mungkin gue memang bukan siapa-siapa buat lu, Lan. Tapi, suatu ketika lu harus memperlakukan oranglain dengan lebih baik,” cerocos Luna sembari menyambar tas dan pergi meninggalkan Alan dalam diam.

Melepaskan memang tidak pernah mudah. Namun, melepaskan dengan separuh penasaran yang sudah terbayar, sedikit menyusutkan lara. Barangkali, sekarang dan seterusnya, Alan dan Luna akan selamanya berpuasa meminum bir, sembari caling mencibir. Yang kelar, tak perlu dikejar. Mungkin, Luna hanya sudah sampai di tujuan yang ia cari 🙂

 

Gelora,

1.22 am

Mencari pagi di tanah para dewa

Jika ditanya siapa yang berjasa pada kehidupan di bumi ini? Jawabannya adalah matahari. Kehidupan di mulai dari secercah sinar matahari, dan akan kembali padam ketika ia sudah tak terbit lagi. Mungkin itulah sebabnya, orang Jepang dan orang kuno dahulu menyembah matahari. Jasa matahari memang sangat luar biasa dalam sejarah bumi. Itulah juga mengapa, mungkin, narasi tentang matahari tak pernah padam. Ada penggila matahari terbit, terbenam, senja, bahkan hingga kegelapan malam. Matahari menginspirasi para penyair untuk menafsirkan tetanda dan konsekuensi alam semesta. Sungguh indah, ciptaanMu, Tuhan.

Saya sendiri, sering mengumpamakan kepribadian diri laksana malam. Mungkin karena saya memang bukan a morning person. Saya lebih nyaman dengan suasana tenang dan teduh malam. Mungkin, beberapa orang memang nyaman dengan keadaan seperti itu.

Karena sedikit menyukai fotografi, saya pun gemar berburu senja. Senja seolah menjadi ritual pergantian dari panas terik matahari, ke masa-masa yang saya tenangi. Gelap, tenang, dan semua rahasia-rahasia akan terungkap di malam hari. Bintang dan bulan pun bersinar terang, saat semuanya tertutup lukisan gelap.

Namun, entah mengapa, akhir-akhir ini, saya sedang jatuh cinta dengan pagi. Saya ingin memenangkan pagi, meskipun kemungkinannya sangat tipis. Namanya juga kebiasaan menahun, mana bisa diubah dengan seketika? Saya pun harus belajar membiasakan diri untuk bangun di pagi hari. Bangun di pagi hari itu ternyata enak dan segar. Tapi, tanpa bantuan kafein, saya biasanya akan kembali mengantuk. Makanya, stok kopi sachet selalu tersedia di rak makanan untuk mengganjal mata yang sepet di pagi hari, he..he..he..

Kecintaan saya pada pagi pun membawa saya untuk menziarahinya. Konon, melihat matahari terbit paling magis adalah di atas gunung. Tapi, apakah fisik saya mampu? Ah, rasa-rasanya dengan ritme kerja yang seperti ini, saya juga tidak akan bisa berlatih menggenjot fisik untuk naik gunung. Apalagi, agenda di desk saya sedang sibuk-sibuknya dengan pilkada DKI. Mana mungkin? Cuti saja sulit.

Akhirnya, saya memilih Dieng untuk mengejar matahari terbit. Berdasarkan browsing-browsing dan melihat-lihat Instagram, saya mantap untuk melihat matahari terbit dari Bukit Sikunir. Ah, tapi ini kan masih bulan hujan? Sepertinya kemungkinan untuk melihat matahari terbit sangat kecil. Hari-hari lebih banyak diliputi mendung. Tapi bagaimana dong? Keinginan untuk mengecup hangat sinar mentari pagi dari bukit sudah membuncah. Saya tak ingin menghalangi kehendak ini. Saya harus menuruti ke mana kaki melangkah. Apalagi, saya memang sedang butuh penyegaran.

Ya sudah, akhirnya, di awal Februari lalu, tepatnya tanggal 3-5, saya memutuskan pergi bersama teman saya, Yanti. Kami masih bekerja hingga hari Jumat malam, saat kami memutuskan pergi dengan ELF bersama teman-teman dari penyelenggara open trip. Awalnya, saya sempat ingin membatalkan perjalanan itu karena masih ada tugas menulis feature yang belum selesai. Narasumbernya agak susah ditemui karena izin wawancara saya ajukan mendadak. Tapi, di menit-menit terakhir, saya membulatkan tekat untuk berangkat. Toh, wawancara bisa dilakukan lewat email atau whatsapp. Jika bahan kurang, saya masih bisa menelepon orang tersebut. Woles saja lah… 😀

****

Di hari pertama di Dieng, rombongan kami cukup beruntung karena pagi dan siang hari cukup cerah meski berbalut mendung. Sekitar pukul 14.00, kabut gunung sudah mulai turun, mendung cukup tebal memayungi Dieng. Wah, tampaknya sore hari bakalan hujan nih!

Benar saja, di lokasi ketiga, Candi Arjuna, kami kehujanan. Kami hanya sempat berkeliling sebentar di kompleks peninggalan peradaban terbesar Hindu di Jawa itu. Kami lalu harus berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Pilihan jatuh ke kedai kopi kecil di luar kompleks candi. Kami membeli gorengan panas. Ada tempe, cireng, dan jamur goreng untuk menjadi teman kopi lokal Dieng. Kami sangat bersyukur karena teman-teman di kedai kopi itu sangat baik. Mereka menyuguhkan kopi yang enak, cerita tentang kopi yang lengkap dan memikat, serta kehangatan yang luar biasa.

Saya pun sempat meminjam laptop plus sambungan wifinya untuk mengerjakan tugas dan membuka email. Kami berkumpul bersama teman-teman lain, ngejam dan akustikan. Puluhan lagu kami nyanyikan dengan gelak tawa yang membahana. Hujan badai di luar sana sejak sore sampai tengah malam pun terlalui dengan mulus dan bahagia. Teman baru dari Korea Selatan, Kim Junki pun puas tertawa, cerita, dan bernyanyi bersama kami. Kim harus pulang duluan ke home stay karena dia membawa kunci kamar. Teman lain yang tidak ikut ngopi pun keleleran karena tak mendapatkan kunci kamar. Saya, Yanti, dan tour leader, Adhi memutuskan bertahan sampai tengah malam. Pukul 22.30, kami baru beranjak pulang dari kedai kopi. Kami pulang setelah menyantap nasi goreng dan bercerita tentang seluk-beluk kopi.

****

Malam pun kian menua. Teman-teman di home stay sebagian sudah beristirahat karena harus bangun dini hari untuk melihat matahari brojol. Sudah nyaris tengah malam. Air dieng sangat dingin, tapi saya tetap memutuskan untuk mandi. Bau badan kecut sekali karena seharian berkeliling dan belum mandi. Usai mandi, saya pun menggigil kedinginan. Tidur tak nyenyak, berujung demam dan kembung di perut. It’s perfect to ruin the plan!

Jam 3 dini hari, Adhi mulai membangunkan kami. Saya terkesiap, belum begitu siap membuka mata. Tapi, karena memang sudah diniati untuk melihat matahari terbit, saya bangun juga dan mencuci muka. Teman-teman sudah menunggu di luar.

Sampai di titik pendakian, semua orang menggigil kedinginan. Angin berhembus kencang membuat nyali kami menciut. Apalagi si Kim yang hanya membawa jaket tipis dan celana pendek. Beruntung dia gendut dan banyak makan, jadi cadangan lemaknya membantu untuk menghangatkan badannya. Bwahaha!

Saya membeli sarung tangan baru. Teman seperjalanan juga memberikan tolak angin dan koyo untuk ditempel di hidung. Sebenarnya, kami harus mendaki hingga satu jam perjalanan menuju pos tiga. Karena jalan licin, dan kemungkinan melihat sinar matahari kecil, tour leader meminta kami sampai di pos satu saja. Berjalan kaki 20 menit di pagi hari membuat napas saya habis. Saya nyaris tidak kuat dan ingin menyerah. Teman-teman semua sudah di depan. Saya tertinggal jauh. Namun, saya terus meyakinkan pikiran, satu langkah lagi, satu langkah lagi. Akhirnya, saya sampai di pos satu dan bergabung bersama teman-teman. Subhanalove! Takbiir!

Lelah mendaki bukit selama 20 menit pun tidak berbanding lurus dengan nasib baik bisa melihat senyum pagi yang merekah. Pagi tetap saja muram tertutup gumpalan awan-awan putih yang mirip kembang gula. Sudah pukul 05.30, matahari tak juga nampak. Ya sudah, mungkin memang belum berjodoh dengan pagi. Esok akan kita coba kembali di belahan dunia lain yang lebih indah. Tetap bersabar, ini adalah perjuangan. Mungkin memang mengecewakan, tapi ini adalah ujian 🙂

Selamat pagi, pagi. Aku akan bersabar menunggumu tersenyum merekah dan memberikan kehangatan. Semalam, aku meringkuk kedinginan diterpa demam dan gelisah rindu. Tapi, kau masih juga malu-malu. Kau belum berani bertaruh untuk mendekapku penuh. Tidak apa-apa, pelan-pelan aja. Aku pun takut terbakar terik panas cahayamu.

sunrise-dieng-2sunrise-dieng-1

 

Palmerah,

00.40 am